Menulis Paragraf Ekspositif dan Contoh Wacana Ekspositif

Menulis Paragraf Ekspositif dan Contoh Wacana Ekspositif

Menulis Paragraf Ekspositif dan Contoh Wacana Ekspositif

Contoh Wacana Ekspositif
Contoh Wacana Ekspositif

Contoh Wacana Ekspositif  – Mendengarkan Informasi dari Media Elektronik

Contoh Wacana Ekspositif  – Pada pelajaran sebelumnya, kalian telah belajar mendengarkan berita dari media elektronik. Ada beberapa jenis produk berita. Salah satunya adalah talk show atau wawancara. Dalam keadaan mendesak, narasumber dapat dihadirkan secara langsung ke studio untuk diwawancarai oleh pembawa acara atau reporter. Kadang penonton/pendengar dapat juga terlibat dalam wawancara dengan menggunakan telepon. Marilah kita mendengarkan wawancara antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan presenter berita SCTV, Rosianna Silalahi berikut! 1. Wawancara ini akan diperankan oleh dua orang teman kalian! 2. Sambil mendengarkan wawancara tersebut, catatlah pokokpokok penting isi wawancara tersebut!

Contoh Wacana Ekspositif  – Wawancara merupakan suatu ajang untuk bertukar pandangan antara pewawancara dan narasumber. Oleh karena itu, di dalam suatu wawancara, tentulah ada butir-butir yang merupakan opini (pendapat) dan fakta (kenyataan). Di bawah ini disampaikan beberapa pernyataan yang diambil dari wawancara antara Rosianna Silalahi dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Cobalah kalian beri tanda O jika pernyataan tersebut merupakan opini dan F jika pernyataan itu merupakan fakta. Tulislah di buku tulismu! 1. Langkah-langkah penanganan Aceh pascabencana berjalan dengan baik. ( … ) 2. Presiden sudah mengunjungi Lhokseumawe dan Banda Aceh dan belum sempat melihat Meulaboh. ( … ) 3. Salah satu problem yang mengemuka beberapa hari terakhir ini adalah tidak lagi soal pasokan. ( … ) 4. Dengan minimnya angkutan darat waktu itu, dengan menumpuknya bantuan, termasuk sukarelawan di bandar udara Medan maupun di Banda Aceh maka ada masalah-masalah untuk kelancaran kerja sama distribusi logistik yang ada. ( … ) 5. Dengan struktur organisasi, dengan pejabat-pejabat langsung berada di lapangan dan 24 jam mereka bekerja maka koordinasi diharapkan lebih baik. ( … ) Adakah opini dan fakta lain yang kalian temukan pada wawancara di atas? Coba kalian sebutkan!

Contoh Wacana Ekspositif  – Menceritakan dan Menyimak Pengalaman Lucu

Contoh Wacana Ekspositif  – Menceritakan pengalaman lucu di muka umum memang gampanggampang susah. Gampang, jika kita ingin sekali menyampaikan cerita itu spontan dan di hadapan orang-orang yang ingin mendengar cerita tersebut. Kegiatan itu menjadi terasa sulit ketika tidak ada dorongan dari dalam diri sendiri, suasananya tidak spontan, dan tidak yakin orang lain mau mendengar cerita itu. Agar dapat bercerita tentang pengalaman lucu kepada orang lain dengan maksud menghibur, diperlukan pengetahuan dan pelatihan. Menurut Jalaludin Rachmat, sebuah cerita akan terasa lucu dan menyenangkan orang lain yang mendengarnya jika memenuhi salah satu dari tiga teori berikut. 1. Teori pertama diberi nama teori superioritas degradasi, yaitu seseorang akan merasa senang dan lucu jika ia ditempatkan sebagai seseorang yang lebih tinggi kedudukannya (superior) dibanding sesuatu yang diceritakan (degradasi). Misalnya, cerita tentang orang-orang bodoh, dungu, bahkan cacat. 2. Teori kedua diberi nama teori bisosiasi, yaitu rasa lucu akan muncul ketika menyadari ketidaksesuaian antara konsep dengan realitas yang sebenarnya. Perhatikan kiat berhenti merokok yang diajarkan majalah Humor (22 Juli–11 Agustus 1992) berikut. ”1. Olahraga secara rutin. Pagi lari maraton, siang angkat besi, sore tinju, malam yoga, pagi-pagi lari lagi. Begitu seterusnya, dijamin tidak ada waktu untuk merokok. 2. Buang semua peralatan merokok seperti pipa, asbak, dan kios penjual rokok yang mangkal di depan rumah Anda.” Secara teoretis, konsep yang diajukan majalah itu tepat, tetapi secara realitas apakah hal itu dapat dilakukan? 3. Teori ketiga diberi nama teori inhibisi, pada intinya, teori ini menyatakan bahwa secara alamiah kita akan tertawa jika ketidakenakan kita terlampiaskan. Pelampiasan itu antara lain dengan cara melihat ’kekerasan’ yang masih dalam ambang batas wajar. Misalnya, kalian punya pengalaman kepala benjol terantuk daun pintu dan celana sobek terkena paku ketika lari menghindari razia rokok yang dilakukan guru. Benjolnya kepala dan sobeknya celana merupakan cerita lucu bagi orang lain karena itu menjadi sarana melampiaskan ketidakenakan yang terpendam. Bagi kalian yang mengalami, cerita itu tidak ada lucunya sama sekali.

Membaca Cepat Teks Nonsastra

Contoh Wacana Ekspositif  – Pada Bab I, kalian telah belajar membaca cepat. Tahukah kalian cara membaca cepat yang efektif? Agar kalian dapat membaca dengan cepat, ikutilah petunjuk berikut! 1. Gerakkan pandangan mata kalian dari atas ke bawah, hindari menggerakkan pandangan ke samping. 2. Fokuskan pandangan pada beberapa kata sekaligus, jangan memfokuskan pandangan hanya pada satu kata. 3. Jangan biasakan membaca dengan menggerakkan mulut. 4. Hindari pula kebiasaan membaca dengan bersuara. Agar makin mahir membaca cepat sebuah teks, kalian perlu terus berlatih. Selain itu, kalian perlu meningkatkan kuantitas teks yang kalian baca. Makin lama, kalian perlu membaca teks yang makin panjang. Jika pada Bab I kalian membaca teks yang panjangnya ± 400 kata, kali ini kalian akan membaca teks yang panjangnya + 500 kata

Menulis Paragraf Ekspositif

Contoh Wacana Ekspositif – Sering kali, ketika menulis karangan, kalian tidak tahu jenis karangan apa yang akan ditulis. Kalian hanya sekadar menuangkan gagasan dalam sebuah karangan tanpa mengetahui arah tulisan kalian. Kebiasaan mengarang seperti itu, sebenarnya kurang baik. Sebaiknya, ketika kalian hendak menulis karangan, kalian harus mengetahui terlebih dahulu jenis karangan yang akan kalian tulis. Baru kemudian, kalian menuangkan gagasan kalian sesuai jenis karangan yang telah kalian tentukan. Akan tetapi, kadang kala orang menentukan tema atau topik terlebih dahulu. Dari topik tersebut, secara tidak langsung sudah diketahui jenis karangan yang akan ditulis. Misalnya, kalian hendak menulis karangan tentang proses pembuatan tempe maka secara otomatis kalian akan menulis karangan ekspositif. Pada pelajaran kali ini, kalian akan belajar menulis paragraf ekspositif (paparan). Tahukah kalian apakah yang dimaksud paragraf ekspositif? Memaparkan sebuah peristiwa, pengalaman, kegiatan, pengamatan, penemuan di lapangan merupakan kegiatan penulisan paragraf ekspositif.

Kalian telah memahami pengertian dan contoh wacana ekspositif. Sekarang, cobalah kalian kerjakan pelatihan berikut!

1. Sebutkan ciri-ciri paragraf ekspositif! 2. Tuliskan lima contoh topik yang dapat dikembangkan menjadi paragraf ekspositif! 3. Pilihlah salah satu topik dan kembangkan menjadi paragraf ekspositif berdasarkan pola yang telah kalian tentukan! 4. Tulislah satu paragraf ekspositif dengan tema yang kalian tentukan sendiri! 5. Bacakan paragraf yang telah kalian tulis untuk ditanggapi teman kalian! Tanggapan itu berupa: a. kesesuaian isi dengan jenis paragraf, b. keruntutan gagasan, dan c. penggunaan bahasa.

Kebiasaan Menulis yang Baik 1. Menentukan tema terlebih dahulu; 2. Menentukan jenis karangan; 3. Menentukan butir-butir yang akan ditulis dalam bentuk kerangka karangan; 4. Mencari referensi terlebih dahulu sebelum menulis; 5. Mengembangkan karangan secara runtut; 6. Tidak melupakan menulis sumber rujukan; 7. Menyunting karangan.

Di dalam teks ” Peristiwa Umbal Balik yang Mematikan Ikan” dapat ditemukan beberapa istilah. Apakah yang dimaksud istilah? Apa perbedaannya dengan kata? Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa istilah adalah kata atau gabungan kata yang dengan cermat mengungkapkan makna suatu konsep, proses, keadaan, atau sifat yang khas dalam bidang tertentu. Sementara itu, kata adalah satuan bahasa terkecil yang dapat diujarkan dalam bentuk bebas. Dari pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa istilah memiliki makna lebih khusus dibanding kata. Di dalam teks ” Peristiwa Umbal Balik yang Mematikan Ikan” kalian menjumpai istilah umbal balik, jaring apung, massa air. Dapatkah kalian menjelaskan arti istilah-istilah tersebut? Kata apa yang memiliki pengertian lebih umum dari istilah tersebut? Cobalah kalian membuat kalimat dengan menggunakan kata dan istilah tersebut!

Rangkuman 

1. Mendengarkan informasi dapat menambah pengetahuan, dan dapat mengerti informasi terbaru yang sedang terjadi. Hal-hal yang dapat kamu lakukan dalam mendengarkan informasi adalah sebagai berikut: – mencatat pokok-pokok informasi; – menentukan butir-butir mengenai fakta dan pendapat; – mengajukan pertanyaan/tanggapan sesuai dengan informasi yang telah kamu dengarkan.

2. Selain mendengarkan informasi, hal menarik yang dapat kamu lakukan adalah menceritakan dan menyimak pengalaman lucu. Kamu dapat menyampaikan secara lisan pengalaman lucu yang pernah kamu alami. Sampaikan dengan runtut dan dengan bahasa yang mudah dipahami, supaya orang yang mendengar dapat mengerti dan menikmati kelucuan yang ada. Selain itu, dalam mengajukan pertanyaan tentang temanmu gunakan kalimat yang jelas dan santun. 3. Membaca cepat teks adalah membaca teks secara sekilas untuk memperoleh pemahaman isi sebanyak-banyaknya. Kamu dapat menyerap informasi dalam teks bacaan dengan cepat. Selain, kamu dapat menentukan ide pokok tiap paragraf dalam bacaan. Dalam menjawab pertanyaan tentang bacaan. Usahakan menjawab dengan singkat, jelas, dan benar. Rangkuman bacaan harus dibuat dengan singkat dan jelas serta tidak menyimpang dari ide pokok bacaan. 4. Sebelum menulis sebuah paragraf eksposisi, hal-hal yang dapat kamu lakukan adalah sebagai berikut: – menentukan ciri-ciri paragraf eksposisi; – mendata topik-topik yang akan ditulis; – menentukan jenis pengembangan paragraf eksposisi; – menentukan gagasan pendukung dalam paragraf. Setelah kamu lakukan hal-hal di atas, kamu dapat menulis sebuah paragraf eksposisi dengan baik. Untuk menyempurnakan paragraf yang sudah dibuat, kamu dapat menyunting paragraf tersebut.

 

Menemukan Unsur Teks Eksposisi dan Contoh Teks Eksposisi

Menemukan Unsur Teks Eksposisi dan Contoh Teks Eksposisi

Menemukan Unsur Teks Eksposisi dan Contoh Teks Eksposisi

Unsur Teks Eksposisi
Unsur Teks Eksposisi

Unsur Teks Eksposisi –  Bacalah teks “Integrasi Asean dalam Plurilingualisme” tersebut sekali lagi.
Setelah itu, kerjakan tugas-tugas berikut ini dan simaklah penjelas pendukung yang
diberikan!
Unsur Teks Eksposisi (1) Teks eksposisi tersebut dapat dikatakan sebagai teks ilmiah. Dalam teks tersebut
terkandung pronomina atau kata ganti saya dan kita. Bolehkah pronomina
seperti itu digunakan dalam teks ilmiah?

Memang betul kita boleh menggunakan pronomina kita atau saya dalam teks
ilmiah. Akan tetapi, kita tidak boleh meletakkan pronomina itu di sembarang tempat.
Cermati lagi teks eksposisi itu. Ternyata, pronomina kita atau saya ditemukan
hanya pada paragraf 1 dan 5. Inilah kalimat-kalimat dari teks yang terdapat pronomina
itu.
Unsur Teks Eksposisi (a) Warga komunitas, termasuk kita semua sebagai rakyat Indonesia akan
dituntut plurilingual untuk memiliki kompetensi berbahasa negara lain.
(paragraf 1)
Unsur Teks Eksposisi (b) Jika penghuni kawasan Asean dituntut hanya berbahasa Inggris, saya
percaya bahwa posisi bahasa Indonesia akan bergeser di negeri kita
sendiri. (paragraf 5)
Unsur Teks Eksposisi

Tahukah kalian mengapa pronomina kita atau saya tidak ditemukan pada
paragraf-paragraf lain? Telah kalian eksplorasi bahwa paragraf 1 merupakan tahap
pernyataan pendapat, tempat gagasan pribadi disampaikan, dan pada paragraf 5 yang
merupakan tahap penegasan ulang pendapat, gagasan itu dinyatakan kembali. Jadi,
pronomina atau kata ganti kita, kami, atau saya dapat digunakan, terutama pada saat
pernyataan pendapat pribadi (klaim) diungkapkan. Hal itu sejalan dengan fungsi sosial
teks eksposisi itu sendiri, yaitu teks yang digunakan untuk mengusulkan pendapat
pribadi mengenai sesuatu.

Unsur Teks Eksposisi

Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean

Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean

Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean

Memahami Teks Eksposisi INTEGRASI ASEAN DALAM PLURILINGUALISME
1 Bangsa-bangsa Asia Tenggara segera berintegrasi. Organisasi Association of Memahami Teks Eksposisi tentang Politik Bahasa Asean
Memahami Teks Eksposisi  Southeast Asian Nations (Asean) telah merancang bentuk komunitas sosial budaya.
Komunitas Asean mulai berlaku pada tahun 2015. Warga komunitas, termasuk
kita semua sebagai rakyat Indonesia akan dituntut plurilingual untuk memiliki
kompetensi berbahasa negara lain.

Memahami Teks Eksposisi
2 Komunitas sosial budaya Asean dibentuk dengan semangat persatuan dalam
keanekaragaman. Pada kenyataannya, semangat Komunitas Asean sama dengan
masyarakat Uni Eropa (Europeans United in Diversity). Di Uni Eropa untuk memasuki
pintu gerbang budaya setiap negara, semua orang tentu telah mengenal kebijakan
Europass Language Passport yang dikeluarkan oleh the Council of Europe dengan  dokumen teknis Common European Framework of Reference (CEFR) for
Languages. Kebijakan bahasa itu mendorong warga masyarakat Uni Eropa
menjadi plurilingual sehingga semua bahasa Eropa dapat duduk pada posisi
yang sama, misalnya di parlemen Uni Eropa.

Memahami Teks Eksposisi
3 Lebih lanjut, keanekaragaman bahasa Eropa dikelola dalam satu model
kompetensi berbahasa Eropa. Model CEFR itu ditetapkan berisi enam
peringkat kompetensi, yaitu A1, A2, B1, B2, C1, dan C2. Europass Language
Passport sudah menetapkan C2 sebagai peringkat tertinggi dan A1 terendah.
Menurut pengalaman seorang warga Uni Eropa, sebagai contoh penerapan
kebijakan ini, siapa pun yang berasal dari luar Jerman (bukan warga negara
Jerman)–ketika hendak menikah dengan pasangannya di negara ini–wajib
memiliki paspor bahasa Jerman dengan lulus uji bahasa Jerman sekurangkurangnya peringkat kompetensi A1.
4 Jika skema “paspor bahasa” seperti yang berlaku di Uni Eropa itu diadopsi oleh
bangsa-bangsa Asia Tenggara dalam kerangka Komunitas Asean, yakinlah
kebijakan bahasa ini akan multiguna. Selain berguna untuk penghormatan atas
adanya perbedaan bahasa kebangsaan negara anggota Asean, sebagaimana
disebutkan dalam Cetak Biru Komunitas Sosial Budaya Asean, kebijakan ini juga
memberikan kegunaan praktis bagi rakyat Asean untuk saling berkomunikasi
sesuai dengan latar bahasa dan budaya setiap warga Asean.

Memahami Teks Eksposisi
5 Sebagai organisasi yang berbasis kerakyatan (people-centered organization),
Asean tentu tidak boleh bermain ”pukul rata” agar semua rakyat Asean saling
berkomunikasi dalam bahasa Inggris. Apabila Komunitas Asean dibentuk
tanpa kebijakan plurilingualisme, agaknya rakyat Indonesia pun akan sulit
bernasib mujur. Jika penghuni kawasan Asean dituntut hanya berbahasa
Inggris, saya percaya bahwa posisi bahasa Indonesia akan bergeser di negeri
kita sendiri. Ketika itu, bangsa Indonesia bukanlah pemenang, melainkan
pecundang!

Memahami Teks Eksposisi
(Diadaptasi dari artikel pendapat yang ditulis oleh Maryanto, pemerhati politik bahasa,
di Koran Tempo, 13 Desember 2010)