Tentang Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

Tentang Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

Tentang Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

Tentang Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian
Tentang Faktor-Faktor Pembentuk Kepribadian

Adanya perbedaan kepribadian setiap individu sangatlah bergantung pada faktor-faktor yang memengaruhinya. Kepribadian terbentuk, berkembang, dan berubah seiring dengan proses sosialisasi yang dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut.

a. Faktor Biologis Beberapa pendapat menyatakan bahwa bawaan biologis berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian. Semua manusia yang normal dan sehat memiliki persamaan biologis tertentu, seperti memiliki dua tangan, panca indera, kelenjar seksual, dan otak yang rumit. Persamaan biologis ini membantu menjelaskan beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku semua orang. Namun setiap warisan biologis seseorang bersifat unik. Artinya, tidak seorang pun yang mempunyai karakteristik fisik yang sama, seperti ukuran tubuh, kekuatan fisik, atau kecantikan. Bahkan, anak kembar sekali pun pasti ada perbedaan itu. Perhatikan teman di sekelilingmu, adakah di antara mereka yang memiliki kesamaan karakteristik fisik? Faktor biologis yang paling berpengaruh dalam pembentukan kepribadian adalah jika terdapat karakteristik fisik unik yang dimiliki oleh seseorang. Contohnya, kalau orang bertubuh tegap diharapkan untuk selalu memimpin dan dibenarkan kalau bersikap seperti pemimpin, tidak aneh jika orang tersebut akan selalu bertindak seperti pemimpin. Jadi, orang menanggapi harapan perilaku dari orang lain dan cenderung menjadi berperilaku seperti yang diharapkan oleh orang lain itu. Ini berarti tidak semua faktor karakteristik fisik menggambarkan kepribadian seseorang. Sama halnya dengan anggapan orang gemuk adalah periang, orang yang keningnya lebar berpikir cerdas, orang yang berambut merah wataknya mudah marah, atau orang yang cacat fisik mempunyai sifat rendah diri. Anggapan seperti itu lebih banyak disebabkan apriori masyarakat yang dilatarbelakangi kondisi budaya setempat. Perlu dipahami bahwa faktor biologis yang dimaksudkan dapat membentuk kepribadian seseorang adalah faktor fisiknya dan bukan warisan genetik. Kepribadian seorang anak bisa saja berbeda dengan orangtua kandungnya bergantung pada pengalaman sosialisasinya. Contohnya, seorang bapak yang dihormati di masyarakat karena kebaikannya, sebaliknya bisa saja mempunyai anak yang justru meresahkan masyarakat akibat salah pergaulan. Akan tetapi, seorang yang cacat tubuh banyak yang berhasil dalam hidupnya dibandingkan orang normal karena memiliki semangat dan kemauan yang keras. Dari contoh tersebut dapat berarti bahwa kepribadian tidak diturunkan secara genetik, tetapi melalui proses sosialisasi yang panjang. Salah apabila banyak pendapat yang mengatakan bahwa faktor genetik sangat menentukan pembentukan kepribadian.

b. Faktor Geografis Faktor lingkungan menjadi sangat dominan dalam meme ngaruhi kepribadian seseorang. Faktor geografis yang dimaksud adalah keadaan lingkungan fisik (iklim, topografi, sumberdaya alam) dan lingkungan sosialnya. Keadaan lingkungan fisik atau lingkungan sosial tertentu memengaruhi kepribadian individu atau kelompok karena manusia harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Contohnya, orang-orang Aborigin harus berjuang lebih gigih untuk dapat bertahan hidup karena kondisi alamnya yang kering dan tandus, sementara, bangsa Indonesia hanya memerlukan sedikit waktunya untuk mendapatkan makanan yang akan mereka makan sehari-hari karena tanahnya yang subur. Suku “Ik” di Uganda mengalami kelaparan berkepanjangan. karena lingkungan alam tempat mereka mencari nafkah telah banyak yang rusak. Mereka menjadi orang-orang yang paling tamak, rakus, dan perkelahian antara mereka sering terjadi semata-mata mempe rebutkan makanan untuk sekadar mempertahankan hidup. Contoh lain, orang-orang yang tinggal di daerah pantai memiliki ke pribadian yang lebih keras dan kuat jika dibandingkan dengan mereka yang tinggal di pegunungan. Masyarakat di pedesaan penuh dengan kesederhanaan dibandingkan masyarakat kota. Dari uraian tersebut jelaslah bahwa faktor geografis sangat memengaruhi perkembangan kepribadian seseorang, tetapi banyak pula ahli yang tidak menganggap hal ini sebagai faktor yang cukup penting dibandingkan dengan unsur-unsur lainnya.

c. Faktor Kebudayaan Kebudayaan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku dan kepribadian seseorang, terutama unsur-unsur kebudayaan yang secara langsung memengaruhi individu. Kebudayaan dapat menjadi pedoman hidup manusia dan alat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Oleh karena itu, unsur-unsur kebudayaan yang berkembang di masyarakat dipelajari oleh individu agar menjadi bagian dari dirinya dan ia dapat bertahan hidup. Proses mem pelajari unsur-unsur kebudayaan sudah dimulai sejak kecil sehingga terbentuklah kepribadian-kepribadian yang berbeda antarindividu ataupun antarkelompok kebudayaan satu dengan lainnya. Contohnya, orang Bugis memiliki budaya merantau dan mengarungi lautan. Budaya ini telah membuat orang-orang Bugis menjadi keras dan pemberani.

Walaupun perbedaan kebudayaan dalam setiap masyarakat dapat memengaruhi kepribadian seseorang, para sosiolog ada yang menyarankan untuk tidak terlalu membesar-besarkannya karena kepribadian individu bisa saja berbeda dengan kepribadian kelompok kebudayaannya. Misalnya, kebudayaan petani, kebudayaan kota, dan kebudayaan industri tentu memperlihatkan corak kepribadian yang berbeda-beda. Memang terdapat karak teristik kepribadian umum dari suatu masyarakat. Sejalan dengan itu, ketika membahas bangsa-bangsa, suku bangsa, kelas sosial, dan kelompok-kelompok berdasarkan pekerjaan, daerah, ataupun kelompok sosial lainnya, terdapat kepribadian umum yang merupakan serangkaian ciri kepribadian yang dimiliki oleh sebagian besar anggota kelompok sosial bersangkutan. Namun, tidak berarti bahwa semua anggota termasuk di dalamnya. Artinya, kepribadian individu bisa saja berbeda dengan kepribadian masyarakatnya.

d. Faktor Pengalaman Kelompok Pengalaman kelompok yang dilalui seseorang dalam sosialisasi cukup penting perannya dalam mengembangkan kepribadian. Kelompok yang sangat berpengaruh dalam perkembangan kepribadian seseorang dibedakan menjadi dua sebagai berikut. 1) Kelompok Acuan (Kelompok Referensi) Sepanjang hidup seseorang, kelompok-kelompok tertentu dijadikan model yang penting bagi gagasan atau norma-norma perilaku. Dalam hal ini, pembentukan kepribadian seseorang sangat ditentukan oleh pola hubungan dengan kelompok referensinya. Pada mulanya, keluarga adalah kelompok yang dijadikan acuan seorang bayi selama masa-masa yang paling peka. Setelah keluarga, kelompok referensi lainnya adalah teman-teman sebaya. Peran kelompok sepermainan ini dalam perkembangan kepribadian seorang anak akan semakin berkurang dengan semakin terpencar nya mereka setelah menamatkan sekolah dan memasuki kelompok lain yang lebih majemuk (kompleks). 2) Kelompok Majemuk Kelompok majemuk menunjuk pada kenyataan masyarakat yang lebih beraneka ragam. Dengan kata lain, masyarakat majemuk memiliki kelompok-kelompok dengan budaya dan ukuran moral yang berbeda-beda. Dalam keadaan seperti ini, hendaknya seseorang berusaha dengan keras mempertahankan haknya untuk menentukan sendiri hal yang dianggapnya baik dan bermanfaat bagi diri dan kepribadiannya sehingga tidak hanyut dalam arus perbedaan dalam kelompok majemuk tempatnya berada. Artinya, dari pengalaman ini seseorang harus mau dan mampu untuk memilah-milahkannya.

e. Faktor Pengalaman Unik Pengalaman unik akan memengaruhi kepribadian seseorang. Kepribadian itu berbeda-beda antara satu dan lainnya karena pengalaman yang dialami seseorang itu unik dan tidak seorang pun mengalami serangkaian pengalaman yang persis sama. Sekalipun dalam lingkungan keluarga yang sama, tetapi tidak ada individu yang memiliki kepribadian yang sama, karena meskipun berada dalam satu, setiap individu keluarga tidak mendapatkan pengalaman yang sama. Begitu juga dengan pengalaman yang dialami oleh orang yang lahir kembar, tidak akan sama. Sebagai mana menurut Paul B. Horton, kepribadian tidak dibangun dengan menyusun peristiwa di atas peristiwa lainnya. Arti dan pengaruh suatu pengalaman bergantung pada pengalaman-pengalaman yang mendahuluinya.

Tentang hubungan kepribadian dengan kebudayaan, sebagaimana menurut Ralph Linton bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan, sikap, dan pola perilaku. Adapun kepribadian menurut Yinger adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecenderungan tertentu. Dengan demikian, antara kepribadian dan kebudayaan terdapat hubungan sebagai hasil dari suatu proses sosial yang panjang. Dalam proses yang disebut sosialisasi itu, kepribadian atau watak tiap-tiap individu pasti mempunyai pengaruh terhadap per kembangan kebudayaan itu secara keseluruhan. Gagasan-gagasan, tingkah laku, atau tindakan manusia itu ditata, dikendalikan, dan dimantapkan pola-polanya oleh berbagai sistem nilai dan norma yang hidup di masyarakatnya. Sebaliknya, kebudayaan suatu masyarakat turut memberikan sumbangan pada pembentukan kepribadian seseorang. Kepribadian suatu individu dalam suatu masyarakat walaupun berbeda-beda satu sama lain, dirangsang dan dipengaruhi oleh nilai dan norma dalam sistem budaya dan juga oleh sistem sosial yang telah diinternalisasi melalui proses sosialisasi dan proses pembudayaan selama hidup, sejak masa kecilnya.

Havilland (1988) mengatakan bahwa praktik pendidikan anak bersumber dalam adat kebiasaan pokok masyarakat yang berhubungan dengan pangan, tempat berteduh dan perlindungan, dan bahwa praktik pendidikan anak pada gilirannya menghasilkan kepribadian tertentu pada masa dewasa. Dari pernyataan tersebut, terlihat bagaimana kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat memberikan pengaruh terhadap pembentukan kepribadian anggota masyarakatnya. Selain kebudayaan sendiri menanamkan pengaruhnya terhadap individu, di sisi lain individu juga mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya terhadap adat istiadat, sistem norma, dan peraturan-peraturan yang berlaku dalam lingkungan budayanya, yang dinamakan enkulturasi. Contohnya seorang anak menyesuaikan diri dengan waktu makan dan tidur secara teratur sesuai dengan kebiasaan yang berlaku dalam keluarganya. Sebagai hasil mempelajari dan menyesuaikan pola pikirnya dengan unsur-unsur budaya secara berkelanjutan, terbentuklah kepribadian individu yang sesuai dengan lingkungan budayanya. Semua individu yang hidup dalam lingkungan masyarakat tertentu mengalami pengaruh lingkungan kebudayaan yang sama selama pertumbuhan. Oleh karena itu, individu-individu tersebut akan menampilkan suatu watak atau kepribadian yang seragam atau dinamakan juga dengan kepribadian umum. Dalam studi Abraham Kardinar tentang hubungan kepribadian umum dengan kebudayaan, mengutarakan bahwa, semua warga dari suatu masyarakat memiliki struktur kepribadian dasar yang sama. Alasannya, karena warga masyarakat dari suatu lingkungan tertentu cenderung menjalani latihan bersama mengenai cara buang air kecil/ besar, menjalani cara menertibkan yang sama dalam masa kanakkanak, cara menyapih yang sama, dan sebagainya. Sebagai orang dewasa, mereka cenderung mempunyai unsur-unsur kepribadian tertentu yang sama.

Dari konsep kepribadian umum, makin dipertajam lagi dalam antropologi sehingga melahirkan konsep baru yang dinamakan basic personality structure atau kepribadian dasar, yaitu semua unsur kepribadian yang dimiliki sebagian besar warga suatu masyarakat. Misalnya, “kepribadian Barat” memiliki ciri individualis, adapun “kepribadian Timur” lebih bersifat gotong royong .

Soerjono Soekanto (1977) mencoba melihat adanya keterkaitan antara kebudayaan dan kepribadian dalam ruang lingkup yang lebih sempit, yaitu “kebudayaan khusus” (sub culture). Menurutnya, ada beberapa tipe kebudayaan khusus yang memengaruhi kepribadian sebagai berikut. 1. Kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan. Contohnya, “jiwa berdagang” identik dengan ciri khusus orang Minangkabau, “berlaut” merupakan ciri orang Bugis. 2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda. Contohnya, masyarakat kota cenderung individualistis dibanding kan masyarakat desa yang kekeluargaan dan gotong royong. 3. Kebudayaan khusus kelas sosial. Contohnya, cara berpakaian orang kaya berbeda dengan orang miskin. 4. Kebudayaan khusus atas dasar agama. Contohnya, adanya berbagai mazhab melahirkan kepribadian yang berbeda-beda di kalangan umatnya. 5. Kebudayaan khusus berdasarkan profesi. Contohnya, kepribadian seorang guru sangat berbeda dengan politikus.

Proses Eksogen Pembentuk Muka Bumi

Proses Eksogen Pembentuk Muka Bumi

Air, angin, organisme, sinar matahari, dan es dapat menjadi satu
kesatuan tenaga yang mampu mengubah raut muka Bumi. Proses
pengubahan muka Bumi ini membutuhkan waktu yang tidak pendek,
di antaranya melalui proses pelapukan, pengikisan, pengendapan,
dan denudasi.
a. Pelapukan
Ketika lapisan Bumi maupun batuan mengalami proses
pengelupasan oleh tenaga eksogen, itulah yang disebut pelapukan.
Proses ini mampu mengubah bentuk muka Bumi. Pengelupasan
ini terjadi karena beberapa faktor. Perbedaan faktor yang dominan
dalam suatu pelapukan akan memberikan proses dan dampak yang
berbeda. Oleh karenanya, pelapukan bisa dibedakan menjadi
beberapa jenis.
1) Pelapukan Fisik/Mekanik
Pelapukan ini ditandai dengan adanya perubahan fisik
batuan. Batuan pecah menjadi bagian yang lebih kecil dan
masih membawa karakteristik asli batuan asalnya. Dalam
keadaan alami, tiga faktor fisik bisa mendorong terjadinya
pelapukan jenis ini.

Pertama, pembekuan air di dalam batuan
mampu merusak batuan. Air yang menyusup ke
dalam batuan, mengalami pembekuan. Akibat
tekanan air yang membeku, batuan tersebut pecah.
Proses ini seperti yang terjadi ketika air laut
menyusup dalam batu karang. Kristal garam yang
terbentuk di dalam batuan mampu menghancurkan
batuan.
Kedua, ketika terjadi perbedaan temperatur
yang mengakibatkan batuan mengembang saat suhu
tinggi, dan mengerut saat suhu rendah. Apabila
hal ini terjadi terus-menerus akan menyebabkan
permukaan batuan retak kemudian pecah. Proses Eksogen Pembentuk Muka Bumi

Ketiga, curah hujan yang tinggi disertai dengan intensitas
sinar matahari yang tinggi secara bergantian, membuat batuan
mengerut dan mengembang hingga akhirnya terlapuk.
2) Pelapukan Kimia
Pelapukan ini merupakan pelapukan dengan proses yang
lebih kompleks karena disertai dengan penambahan maupun
pengurangan unsur kimia pada batuan. Sehingga komposisinya tidak lagi seperti batuan asal. Peristiwa seperti pelarutan
batuan oleh air, oksidasi, dan hidrolisis mengakibatkan
terjadinya pelapukan secara kimiawi.
Bentuk kenampakan alam hasil pelapukan kimia salah
satunya terlihat jelas di wilayah karst. Gua, uvala, dolina,
dan aliran sungai bawah tanah misalnya, terjadi karena
pelarutan tanah kapur melalui retakan-retakan (diaklas).  Retakan akan semakin membesar dan bisa membentuk gua atau lubang-lubang. Jika lubang-lubang
saling berhubungan maka sungai bawah tanah bisa
terbentuk. Kenampakan yang lain seperti adanya
stalakmit, stalagtit, dan danau yang dikenal dengan
dolina. Nah, temukanlah kenampakan alam
lainnya di kawasan karst yang terbentuk karena
pelapukan kimia.
3) Pelapukan Biologis/Organik
Pelapukan ini terjadi dengan bantuan tumbuhan,
hewan, dan manusia. Pelapukan biologis bisa
dikatakan lanjutan dari kedua proses pelapukan
sebelumnya. Jika lanjutan dari pelapukan fisik,
maka disebut biofisik. Apabila kelanjutan dari
pelapukan kimia, maka disebut pelapukan biokimia
b. Pengikisan
Salah satu proses pengubahan muka Bumi secara alami adalah
melalui pengikisan. Pada proses ini massa tanah atau batuan diuraikan dan dipindahkan.
Apa sajakah kenampakan alam yang diukir oleh proses ini?
Mari kita cermati satu per satu.
1) Akibat Pengikisan oleh Air Sungai
Air yang mengalir selalu ada kontak dengan media yang
dialirinya. Bentuk kontak yang dihasilkan sangat tergantung
pada kekuatan air dan kekuatan media yang dilaluinya. Air
mengalir dengan tenang hanya akan menimbulkan tingkat
pengikisan yang rendah. Di saat air sungai mengalir maka
akan ada kontak dengan tebing dan pinggir sungai. Keduanya
akan menghasilkan dua tipe pengikisan yang berbeda. Gesekan dengan tebing sungai akan menimbulkan erosi horizontal.
Sebaliknya, gesekan dengan dasar sungai mengakibatkan erosi
vertikal. Coba temukan di mana kedua tipe erosi tersebut
berlangsung
a) Lembah
Kenampakan alam ini terbentuk dari erosi dasar sungai
(erosi vertikal). Dalam waktu yang lama, erosi vertikal
akan menggerus dasar sungai hingga makin dalam.
Akibatnya, terbentuk lembah dengan berbagai bentuk.
Lembah dengan lereng curam menyerupai huruf V
mengindikasikan tenaga pengikisannya adalah aliran air
yang deras. Bentang alam seperti ini banyak sekali
terdapat di hulu sungai.
b) Jurang
Proses terbentuknya jurang pada dasarnya mirip dengan
terbentuknya lembah. Hanya saja pada lembah materi
tebing sungai kurang resisten dibandingkan pada jurang.
Tingkat resistensi tebing sungai pada jurang yang lebih,
mengakibatkan sulit terkikis. Akibatnya akan terbentuk
dinding sungai yang vertikal dan dasar sungai yang dalam.
c) Potholes
Potholes adalah lubang-lubang di dasar sungai. Photoles
mempunyai berbagai ukuran diameter. Kenampakan ini
dibentuk oleh sejenis pusaran di dasar sungai yang di
dalamnya terkandung batu-batu kerikil. Lama-kelamaan
potholes akan bertambah lebar dan menyatu dengan
potholes lainnya, hingga dasar sungai bisa menjadi dalam.
d) Aliran Deras (Rapid)
Pada satu aliran sungai bisa saja terdapat perbedaan material dasar sungai. Selang-seling antara jenis batuan yang
resisten dan tidak resisten menimbulkan kenampakan
aliran deras. Ketika air melewati batuan yang resisten,
tingkat pengikisannya akan rendah, akibatnya dasar
sungai tidak rata. Saat air melintasi batuan yang tidak
resisten akan terjadi turbulensi hingga terbentuk
menyerupai air terjun yang pendek.
e) Air Terjun
Proses terjadinya air terjun hampir sama dengan terjadinya aliran deras.
f) Gorges
Gorges berasal dari bahasa Prancis yang berarti leher atau
kerongkongan. Gorges dibentuk ketika terjadi erosi vertikal
secara terus-menerus pada batuan sungai yang bersifat
resistan. Saat erosi tidak aktif lagi, sisi dari lembah tinggal
lereng curam.
g) Kanyon
Kanyon merupakan lembah yang luas sebagai akibat proses
pengikisan oleh air dalam waktu yang sangat lama. Bentuk
kanyon ini sangat jelas terlihat pada aliran Sungai
Colorado Amerika Serikat yang terkenal dengan nama
Grand Canyon.