Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Indonesia

Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Indonesia

Faktor Penyebab Keberagaman Masyarakat Indonesia

Masyarakat Indonesia -Amatilah sekeliling tempat tinggal dan lingkungan sekolahm kalian adakah terdapat keberagaman orang yang menghuninya? Misalnya dilihat dari suku, agama, ras, budaya, dan gender. Kemudian kemukakan hasil pengamatan kalian melalui pertanyaan tentang keberagaman tersebut. Masyarakat yang tinggal di daerah kalian merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari bangsa Indonesia.

Masyarakat Indonesia

Masyarakat Indonesia
Masyarakat Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Indonesia terdiri atas 34 provinsi dengan ribuan pulau yang ada di dalamnya. Luas dan besarnya wilayah Indonesia berpengaruh terhadap banyaknya keberagaman yang dimiliki bangsa Indonesia. Keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak perbedaan dalam berbagai bidang. Perbedaan tersebut terutama dalam hal suku bangsa, ras, agama, keyakinan, ideologi politik, sosial-budaya, ekonomi, dan jenis kelamin. Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan bangsa.

Orang mengatakan, bahwa keberagaman itu indah. Contoh indahnya keberagaman dapat kita lihat dari pemandangan di dalam laut. Pemandangan dalam laut menampilkan berbagai jenis ikan dan karang. Perbedaan itu menampilkan pemandangan yang sangat indah. Kalian juga akan merasa lebih senang menonton televisi berwarna jika dibandingkan dengan televisi hitam putih. Pemandangan bawah laut menggambarkan bahwa bangsa Indonesia yang beragam akan lebih indah daripada yang seragam. Pemerintah dan seluruh warga negara Indonesia sebaiknya mendorong keragaman itu menjadi sebuah kekuatan guna mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional.

Keberagaman dalam masyarakat dapat menjadi tantangan karena orang yang berbeda pendapat yang lepas kendali. Tumbuhnya perasaan kedaerahan dan kesukuan dapat berlebihan dan diiringi tindakan yang merusak persatuan dapat mengancam keutuhan bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kerukunan antarsuku, pemeluk agama, dan kelompok-kelompok sosial lainnya perlu dilaksanakan. Upaya mewujudkan kerukunan dapat dilakukan melalui dialog dan kerja sama dengan prinsip kebersamaan, kesetaraan, toleransi, dan saling menghormati.

Kebaragaman masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang datang dari dalam maupun luar masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor alam, diri sendiri, dan masyarakat .

Secara umum keberagaman masyarakat Indonesia disebabkan oleh:

1. Letak strategis wilayah Indonesia Coba kalian amati letak geogarfi Indonesia dalam peta dunia. Letak Indonsia yang stategis yaitu di antara dua Samudera Pasific dan Samudera Indonesia, serta dua benua Asia dan Australia mengakibatkan wilayah kita menjadi jalur perdagangan internasional. Lalu lintas perdangangan tidak hanya membawa komoditas dagang, namun juga pengaruh kebudayaan mereka terhadap budaya Indonesia. Kedatangan bangsa asing yang berbeda ras, kemudian menetap di Indonesia mengakibatkan perbedaan ras. Juga agama dan kepercayaan mereka.

2. Kondisi negara kepulauan Negara Indonesia terdiri beribu-ribu pulau yang secara fisik terpisah-pisah. Keadaan ini menghambat hubungan antarmasyarakat dari pulau yang berbeda-beda. Setiap masyarakat di kepulauan mengembangkan budaya mereka masing-masing, sesuai dengan tingkat kemajuan dan lingkungan masing-masing. Hal ini mengakibatkan perbedaan suku bangsa, bahasa, budaya, peran laki-laki dan perempuan, dan kepercayaan atau agama.

3. Perbedaan kondisi alam Kondisi alam yang berbeda seperti daerah pantai, pegunungan, daerah subur, padang rumput, pegunungan, dataran rendah, rawa, laut mengakibatkan perbedaan masyarakat. Juga kondisi kekayaan alam, tanaman yang dapat tumbuh, hewan yang hidup di sekitarnya. Masyarakat di daerah pantai berbeda dengan masyarakat pegunungan, seperti perbedaan bentuk rumah, mata pencaharian, makanan pokok, pakaian, kesenian, bahkan kepercayaan.

4. Keadaan transportasi dan komunikasi Kemajuan sarana transportasi dan komunikasi juga mempengaruhi perbedaan masyarakat Indonesia. Kemudahan sarana ini membawa masyarakat mudah berhubungan dengan masyarakat lain, meskipun jarak dan kondisi alam yang sulit. Sebaliknya sarana yang terbatas juga memjadi penyebab keberagaman masyarakat Indonesia.

5. Penerimaan masyarakat terhadap perubahan Sikap masyarakat terhadap sesuatu yang baru baik yang datang dari dalam maupun luar masyarakat membawa pengaruh terhadap perbedaan masyarakat Indonesia. Ada masyarakat yang mudah menerima orang asing atau budaya lain, seperti masyarakat perkotaan. Namun ada juga sebagian masyarakat yang tetap bertahan pada budaya sendiri, tidak mau menerima budaya luar.

 

Pelajaran Tentang Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Pelajaran Tentang Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Tingkat-tingkat Perkembangan Desa
Tingkat-tingkat Perkembangan Desa

Berdasarkan tingkat perkembangannya, desa dibedakan atas desa swadaya, swakarya, dan swasembada.

1. Desa Swadaya (desa terbelakang)

Desa swadaya adalah suatu wilayah desa yang memenuhi kebutuhan masyarakatnya dengan hasil kerja masyarakatnya itu sendiri. Desa ini umumnya terpencil dan masyarakatnya jarang berhubungan dengan masyarakat luar sehingga proses kemajuannya sangat lamban karena kurang berinteraksi dengan wilayah lain atau bahkan tidak sama sekali.

2. Desa Swakarya (desa sedang berkembang)

Desa swakarya adalah desa yang keadaannya sudah lebih maju dibandingkan desa swadaya karena telah mampu mengembangkan potensi desanya sehingga mampu menjual kelebihan hasil produksi ke daerah lain di samping untuk memenuhi kebutuhan sendiri.

Semangat gotong royong masih melekat walaupun sudah mulai memudar dan sudah mulai sadar akan pentingnya pendidikan dan keterampilan. Masyarakat pada desa ini telah menunjukkan interaksi dengan wilayah lain, walaupun intensitasnya belum terlalu sering.

3. Desa Swasembada (desa maju)

Desa swasembada merupakan desa yang lebih maju daripada desa-desa sebelumnya, karena sudah mampu mengembangkan semua potensi yang dimiliki secara optimal. Hal ini ditandai oleh kemampuan masyarakatnya untuk mengadakan interaksi dengan masyarakat luar,

melakukan tukar-menukar barang dengan wilayah lain (fungsi perdagangan), dan kemampuan untuk saling memengaruhi dengan penduduk di wilayah lain. Dari hasil interaksi tersebut, masyarakat dapat menyerap teknologi baru untuk memanfaatkan sumber dayanya sehingga proses pembangunan berjalan dengan baik.

Faktor-faktor lain yang mempengaruhi perkembangan desa, diantaranya adalah faktor interaksi (hubungan) dan lokasi desa. Desa-desa yang berdekatan dengan kota akan mengalami perkembangan yang lebih cepat dibandingkan desa lainnya sebagai akibat pengaruh kota. Daerah pedesaan diperbatasan kota yang mudah dipengaruhi oleh tata kehidupan kota disebut dengan urban area atau daerah desa-kota.

Daerah desa-kota juga merupakan sub urban fringe, yaitu suatu area yang melingkari kota sebagai daerah peralihan antara desa dan kota. Kaitannya dengan pembangunan desa-kota, desa memiliki fungsi sebagai hinterland atau daerah dukung bagi daerah kota. Fungsi hinterland antara lain sebagai suatu daerah pemberi bahan makanan pokok, seperti padi, ketela, jagung, palawija,

dan buah-buahan. Selain itu, desa yang asri dan dengan potensi keindahannya dapat menjadi daya tarik di sektor industri pariwisata. Sehingga dari sudut potensi ekonomi, desa berfungsi sebagai lumbung bahan mentah dan tenaga kerja. Oleh karena itu, perhatian pembangunan desa sudah dimulai di akhir tahun 1990-an.

Hal ini merupakan respon terhadap tahannya sektor pertanian di pedesaan untuk mendudukung pembangunan desa-kota. Misalnya melalui proyek seperti Poverty Alleviation for Rural Urban Linkages untuk menggerakkan sektor ekonomi produktif di pedesaan dengan pendekatan endogenous atau pengembangan kemampuan internal pedesaan. Proyek ini dilanjutkan menjadi pengembangan proyek Kawasan Pengembangan Ekonomi Lokal yang mengidentifikasi sektor ekonomi yang dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi terutama di areal yang terpencil.

Keberpihakan pada pembangunan perdesaan pada masa reformasi ditingkatkan menjadi bagian dari program pembangunan nasional. Keberpihakan ini dirumuskan secara sektoral, sebagai pengembangan sektor pertanian, baik pertanian lahan basah dan lahan kering, dan perikanan yang umumnya berlokasi di perdesaan. Konseptualisasi pembangunan pedesaan ini terutama dengan program agropolitan. Program agropolitan yaitu suatu program pengembangan ekonomi sektor pertanian, terutama pemasaran dan aliran informasi. Program ini bertujuan untuk dapat memberdayakan petani sebagai produsen sekaligus pemasar produk, sehingga nilai tambah dari program ini lebih banyak dirasakan oleh petani.

Hal ini juga akan berimplikasi terhadap perkembangan desa-kota. Sedangkan agenda pembangunan pada tingkat propinsi dan kota atau kabupaten, sebagian besar berkenaan dengan peningkatan akses pada pelayanan umum sebagai pendukung kesejahteraan rakyat, pengurangan kesenjangan antardesa, desa-kota dan antar kota. Program agropolitan dimulai pada tahun 2002. Pada program ini, Departemen Pertanian menjadi motor penggeraknya dan melibatkan sekitar delapan departemen dengan pilot project agropolitan yang ditempatkan di delapan provinsi yang potential. Kedelapan provinsi tersebut adalah sebagai berikut.

a. Sumatra Barat (Agam dengan sentra peternakan),

b. Bengkulu (Kabupaten Rejang Lebong dengan basis sayuran),

c. Jawa Barat (Kabupaten Cianjur dengan basis sayuran),

d. Di Yogyakarta (Kabupaten Kulon Progo dengan basis perkebunan),

e. Bali (Kabupaten Bangli dengan basis perkebunan),

f. Sulawesi Selatan (Kabupaten Barru dengan sentra tanaman peternakan),

g. Kalimantan Timur (kabupaten Kutai Timur berbasis tanaman pangan),

h. Gorontalo (kabupaten Boalemo berbasis tanaman pangan).

Pada saat yang sama, telah dibuat Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) yang sebagian besar lingkup wilayah kerjanya meliputi sebagian areal perikanan dan kelautan. Areal ini sebagian besar berlokasi di wilayah pesisir, pulau kecil, dan wilayah perbatasan yang sebagian besar merupakan wilayah pedesaan nelayan.