Makalah Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi 3

Makalah Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi 3

Makalah Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi 3

Makalah Kognitif
Makalah Kognitif

Makalah Kognitif – Teori Belajar Pemrosesan Informasi

Makalah Kognitif – Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah

sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Makalah Kognitif – Menurut Teori Robert. M. Gagne, belajar merupakan perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja, Gagne juga menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi). Seperangkat proses yang bersifat internal yang dimaksud oleh Gagne adalah kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan terjadinya proses kognitif dalam diri individu Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

Makalah Kognitif – Berdasarkan kondisi internal dan eksternal ini, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut :

  1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
  2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
  3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan.

Makalah Kognitif – Pengetahuan yang diproses dan dimaknai dalam memori kerja disimpan pada memori panjang dalam bentuk skema-skema teratur secara tersusun. Tahapan pemahaman dalam pemrosesan informasi dalam memori kerja berfokus pada bagaimana pengatahuan baru yang dimodifikasi.

Urutan dari penerimaan informasi dalam diri manusia dijelaskan sebagai berikut: manusia menangkap informasi dari lingkungan melalui organ-organ sensorisnya Beberapa informasi disaring pada tingkat sensoris, kemudian sisanya dimasukkan dalam ingatan jangka pendek.

Makalah Kognitif – Tingkat pemrosesan stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses dari pada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yamg menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam dari pada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya.

Makalah Kognitif – Pengulangan memegang peranan penting dalam pendekatan model. Penyimpanan juga dianggap penting dalam pendekatan model tingkat pemrosesan. Pendekatan pemrosesan informasi adalah pendekatan kognitif di mana anak mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan informasi tersebut. Inti dari pendekatan ini adalah proses memori dan proses berpikir . Menurut pendekatan ini, anak secara bertahap mengembangkan kapasitas untuk memproses informasi, dan karenanya secara bertahap pula mereka bisa mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang kompleks.

Secara sederhana analogi sistem pemrosesan informasi aktif yang dikemukakan oleh psikologi kognitif, untuk menggambarkan hubungan antara kognisi dengan otak adalah dengan melihat sistem kerja komputer yang seakan-akan menjelaskan bagaimana kognisi manusia bekerja dengan menganalogikan hardware sebagai otak fisik dan software sebagai kognisi.

Teori pemrosesan informasi adalah teori yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak. Dimulai dari input dalam hal ini stimulus yang diberikan pendidik, kepada output dalam bentuk respon yang ditunjukkan oleh peserta didik.

Menurut Robert S. Siegler karakteristik utama pendekatan pemrosesan informasi, yaitu :

  1. Proses Berpikir

Siegler berpendapat bahwa berpikir adalah pemrosesan informasi, dengan penjelasan ketika anak merasakan, kemudian melakukan penyandian, merepresentasikan, dan menyimpan informasi, maka proses inilah yang disebut dengan proses berpikir. Walaupun kecepatan dalam memproses dan menyimpan informasi terbatas pada satu waktu.

  1. Mekanisme Pengubah

Siegler berpendapat dalam pemrosesan infromasi fokus utamanya adalah pada peran mekanisme pengubah dalam perkembangan. Ada empat mekanisme yang bekerja untuk menciptakan perubahan dalam ketrampilan kognitif anak.

  1. Encoding (penyandian)

Encoding adalah proses memasukkan informasi ke dalam memori. Dalam encoding untuk memecahkan suatu problem dengan menyandikan informasi yang relevan dengan mengabaikan informasi yang tidak relevan. Namun, anak membutuhkan waktu dan usaha untuk melatih encoding ini, agar dapat menyandi secara otomatis. Ada enam konsep yang dikenal dalam encoding, yaitu :

  1. Atensi yaitu mengkonsentrasikan dan memfokuskan sumber daya mental.
  2. Pengulangan yaitu repetisi informasi dari waktu ke waktu agar informasi lebih lama berada dalam memori.
  3. Pemrosesan mendalam, pada bagian ini Fergus Craik dan Robert Lockhart mengatakan bahwa kita dapat memproses informasi pada berbagai level.
  4. Elaborasi

Elaborasi adalah ekstensivitas pemrosesan informasi dalam penyandian. Jadi, saat pendidik menyajikan konsep demokrasi pada peserta didik, maka mereka akan mengingatnya dengan lebih baik jika diberikan contoh yang bagus tentang demokrasi.

  1. Mengkonstruksi citra

Allan Paivio percaya bahwa memori disimpan melalui satu atau dua cara yaitu sebagai kode verbal atau kode citra/imaji dan menggunakan kode mental.

  1. Penataan

Penataan atau pengorganisasian informasi dalam kaitannya dengan penyandian pada memori, maka hal ini akan membawa pengaruh terhadap pemahaman, dengan kata lain, semakin baik seorang pendidik menata informasi dalam menyajikan materi pelajaran, maka semakin mudah peserta didik untuk memahami dan mengingatnya dalam memori.

Pada proses penyimpanan ada tiga simpanan utama yang erat kaitannya dengan tiga kerangka waktu yang berbeda, yaitu :

  1. Memori sensoris: berfungsi mempertahankan informasi dari dunia, dalam bentuk sensoris aslinya hanya selama beberapa saat, tidak lebih lama ketimbang waktu murid menerima sensasi visual, suara, dan sensasi lainnya.
  2. Memori jangka pendek (working memory) : adalah system memori berkapasitas terbatas dimana informasi dipertahankan sekitar 30 detik, kecuali informasi itu diulang atau diproses lebih lanjut. Trianto mengutip dari Nur, menurut Miller memori jangka pendek mempunyai kapasitas 5-9 bits informasi. Lebih lanjutnya Trianto menjelaskan bahwa untuk mempertahankan informasi pada memori jangka pendek maka harus melakukan pengulangan dengan cara menghafal.
  3. Memori jangka panjang : adalah tipe memori yang menyimpan banyak informasi selama periode waktu yang lama secara relative permanen. Kapasitas yang dimiliki memori ini menurut ilmuan computer Jhon Von Neumann tidak terbatas.

Ketiga konsep di atas dikembangkan oleh Atkinson dan Shiffrin, mereka mengatakan bahwa semakin lama informasi dipertahankan dalam memori jangka pendek dengan bantuan pengulangan, semakin besar kemungkinannya untuk masuk ke memori jangka.

Pemrosesan informasi terakhir dalam memori adalah pengambilan kembali dan melupakan. Ketika seseorang mengambil informasi dari gudang data, maka ia melakukan penelusuran untuk mencari informasi yang relevan, pengambilan informasi ini bisa dilakukan secara otomatis, bisa juga harus memerlukan usaha.

Aplikasi Teori Belajar terhadap pembelajaran

  1. Teori Belajar Kognitif
  • Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak.
  • Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
  • Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.
  • Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.
  • Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
  1. Teori Sosial Kognitif

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori belajar sosial adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:

  1. Mementingkan pengaruh lingkungan.
  2. Mementingkan bagian-bagian.
  3. Mementingkan peranan reaksi.
  4. Mengutamakan mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur  stimulus respon.
  5. Mementingkan peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya.
  6. Mementingkan pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan.
  7. Hasil belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.

Sebagai konsekuensi teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme (teori belajar sosial) akan menyusun bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks.

  1. Teori Pemrosesan Informasi

Dalam aplikasi teori pemrosesan informasi dalam pembelajaran, kita dapat mengambil teori yang disampaikan oleh Gagne tentang tahapan belajar dari fakta sampai pemecahan masalah, serta tahapan tujuan dari yang rendah sampai ke tinggi, dapat kita lihat pada keterangan yang dituliskan Harjanto tentang pelajaran melukis, seperti berikut ini :

  1. Siswa dapat menyebutkan beberapa alat yang dipergunakan untuk mengambar berwarna (fakta).
  2. Siswa dapat mengidentifikasi warna panas dan warna dingin (konsep).
  3. Siswa dapat menyatakan bahwa penempatan atau pemakaian kedua jenis warna tersebut akan saling berpengaruh (prinsip).
  4. Siswa dapat melukis dengan komposisi warna yang harmonis (pemecahan masalah.
Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi

Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi

Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi

Teori Belajar Kognitif
Teori Belajar Kognitif

Teori Belajar Kognitif – Teori Belajar menurut Ausubel

Teori Belajar Kognitif – Advance organizers yang oleh Ausubel merupakan penerapan konsepsi tentang struktur kognitif di dalam merancang pembelajaran. Penggunaan advance organizers sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru, maka advance organizers akan memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang telah dipelajarinya.

  1. Teori Belajar menurut Gagné

Teori Belajar Kognitif – Menurut Robert M. Gagné belajar adalah seperangkat proses kognitif yang mengubah sifat stimulasi lingkungan, melewati pengolahan informasi, dan menjadi kapabilitas baru. Gagné berpendapat bahwa belajar bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja, namun juga disebabkan oleh perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah belajar secara terus menerus. Gagné berkeyakinan bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan faktor luar diri dimana keduanya saling berinteraksi. Komponen-komponen belajar dalam proses belajar menurut Gagné merupakan situasi yang memberi stimulus yang menghasilkan respon, namun di antara stimulus dan respon tersebut terdapat hubungan yang terjadi dalam diri seseorang yang tidak dapat diamati. Menurut Gagné ada tiga tahap dalam belajar, yaitu:

  1. Persiapan untuk belajar dengan melakukan tindakan mengarahkan perhatian.
  2. Pemerolehan dan unjuk perbuatan untuk pembangkitan kembali, respon dan penguatan.
  3. Alih belajar yaitu pengisyaratan untuk memberlakukan secara umum.
    Gagné mengemukakan pendapat mengenai delapan tipe belajar dari yang paling sederhana sampai paling kompleks yang disebut dengan Hirarkhi Belajar. Delapan tipe tersebut adalah :
  4. Signal learning : merupakan tipe belajar dalam bentuk pemberian respon terhadap tanda-tanda.
  5. Stimulus response learning : Dalam tipe ini respon diperkuat dengan adanya imbalan. Dengan belajar tipe ini, seseorang belajar mengucapkan kata-kata dan dalam bahasa asing.
  6. Chaining learning : terjadi jika terbentuk hubungan antara beberapa stimulus-respon. Sebab yang satu terjadi setelah yang satu lagi. Sebagai contohnya adalah setelah pulang kantor, ganti baju, makan, dan sebagainya.
  7. Verbal association : Tipe ini bersifat asosiatif tingkat tinggi karena fungsi nalar yang menentukan. Sebagai contohnya bila anak melihat gambar bentuk bujur sangkar dan dia bisa mengatakan bahwa gambar tersebut adalah bujur sangkar.
  8. Discrimination learning : Tipe ini menghasilkan kemampuan membeda-bedakan berbagai gejala seperti siswa bisa membedakan manusia satu dengan yang lain.
  9. Concept learning : Belajar konsep adalah corak belajar yang dilakukan dengan menentukan ciri-ciri yang khas yang ada dan memberikan sifat tertentu pada berbagai objek. Dengan menguasai konsep, ia dapat menggolongkan manusia menurut hubungan kekeluargaan, dll.
  10. Rule learning : Tipe belajar ini terjadi dengan cara mengumpulkan sejumlah sifat kejadian yang kemudian tersusun dalam macam-macam aturan. Misalnya, aturan seperti logam jika dipanaskan akan memuai, angin berhembus dari daerah maksimum ke daerah minimum.
  11. Problem solving : Tipe belajar ini adalah yang paling kompleks. Dalam tipe belajar ini diperlukan proses penalaran yang kadang-kadang memerlukan waktu yang lama.
  12. Teori Belajar menurut Gestalt

Teori Belajar Kognitif – Teori Gestalt ini memandang belajar adalah proses yang didasarkan pada pemahaman (insight). Karena pada dasarnya setiap tingkah laku seseorang selalu didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi di mana tingkah laku tersebut terjadi. Dengan kata lain, teori Gestalt ini menyatakan bahwa yang paling penting dalam proses belajar individu adalah dimengertinya apa yang dipelajari oleh tersebut. Oleh karena itu, teori belajar Gestalt ini disebut teori insight.

Teori Belajar Kognitif – Proses belajar yang menggunakan insight mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Insight tergantung pada kemampuan dasar.
  2. Insight tergantung kepada pengalaman masa lampau yang relevan.
  3. Insight tergantung kepada pengaturan situasi yang dihadapi.
  4. Insight didahului dengan periode mencari dan mecoba-coba.
  5. Solusi problem dengan menggunakan insight dapat diulangi dengan mudah, dan akan berlaku secara berlangsung.
  6. Jika insight telah terbentuk, maka problem pada situasi-situasi yang lain akan dapat dipecahkan.

2.2     Teori Belajar Sosial Kognitif

Teori Belajar Kognitif – Teori kognitif sosial (Social cognitive theory) menyatakan bahwa sosial dan kognitif serta faktor pelaku memainkan peran penting dalam pembelajaran. Faktor kognitif merupakan ekspetasi siswa untuk meraih keberhasilan, faktor sosial mencakup pengamatan siswa terhadap perilaku orang tuanya.

Albert Bandura merupakan salah satu yang merancang teori kognitif sosial. Albert Bandura mengembangkan Model Deterministic Reprical. Model Deterministic Reprical adalah perilaku lingkungan dan orang (keyakinannya) semua berinteraksi dan interaksi ketiganya itu harus dipahami dahulu sebelum kita bisa memahami fungsi psikologis dan perilaku manusia.

Model Deterministic Reprical terdiri dari 3 faktor utama yaitu: Perilaku, Person/kognitif, Lingkungan

Menurut Albert Bandura Teori kognitif sosial menyatakan bahwa faktor sosial dan kognitif,dan juga faktor perilaku memainkan peranan penting dalam pembelajaran. Bandura mengembangkan model determinisme respirokalyang terdiri dari tiga faktor utama : perilaku, person / kognitif danlingkungan yang mana ketiganya saling mempengaruhi.Dalam model pembelajaran Bandura, faktor person ( kognitif )memainkan peranan penting yang mana ia tekankan pada self efficacy,yakni keyakinan bahwa seseorang bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif.

  1. Pembelajaran observasional

Pembelajaran ini disebut juga imitasi atau modeling, yaitupembelajaran yang dilakukan ketika seseorang mengamati dan meniruperilaku orang lain.Hal ini dituangkan dalam penelitian yang dilakukan Bandura padapenelitian studi boneka bobo klasik yang menjelaskan bagaimanapembelajaran dapat dilakukan hanya dengan mengamati model yangbukan sebgai penguat atau penghukum. Eksperimen ini jugamengilustrasikan perbedaan antara pembelajaran dan kinerja (performance ). Penjelasan pada slide.

  1. Model Kontemporer Observasional Bandura.

Bandura memfokuskan pada proses spesifik yang terlibat dalampembelajaran observasioanal, dimana proses itu ialah: Atensi (Memperhatikan apa yang dikatakan dan dilakukan oleh model. Dipengaruhi oleh sejumlah karakteristik, misal nya orang nyahangat, kuat dan ramah akan lebih diperhatikan ketimbangorang yang dingin, lemah dan kaku, Murid lebih mungkin melihat model berstatus tinggi ketimbangmodel berstatus rendah), Retensi : Bagaimana murid mengkodekan dan menyimpan informasidalam ingatan memori sehingga informasi itu dapat diambilkembali), Produksi (Ketidakmampuan dan keterbatasan yang dimilki anak muriddalam modeling, dapat dilakukan dengan cara belajar, berlatih,dan berusaha yang dapat membantu murid untuk meningkatkankinerja motor mereka), Motivasi (Penguat tidak selalu dibutuhkan agar pembelajaranoberservasional terjadi.Jika anak tidak termotivasi berperilaku, ada 3 jenis penguat, yaitu :memberi imbalan pada model, memberi imbalan pada anak,memerintahkan anak untuk membuat pernyataan untuk memperkuat diri)

  1. Menggunakan Pembelajaran Observasional Secara efektif.
  2. Pikirkan tentang model tipe apa yang akan Anda hadirkan untuk murid.
  3. Tunjukkan dan ajari perilaku baru.
  4. Pikirkan cara menggunakan teman sebaya sebagai model yang efektif.
  5. Pikirkan cara agar mentor dapat digunakan sebagai model.
  6. Cari tamu kelas yang akan memberikan model yang baik bagi muridanda.
  7. Pertimbangkan model yang dilihat anak dari televisi, video, dankomputer.
  8. Vygotsky mengenai teori belajar kognitif dalam hal ini Kognisi Sosial, mendasari pemikiran bahwa budaya berperan penting dalam belajar seseorang. Konsep dasar teori ini diringkas sebagai berikut:
  9. Budaya memberi sumbangan perkembangan intelektual individu melalui 2 cara, yaitu melalui (i) budaya dan (ii) lingkungan budaya. Melalui budaya banyak isi pikiran (pengetahuan) individu diperoleh seseorang, dan melalui lingkungan budaya sarana adaptasi intelektual bagi individu berupa proses dan sarana berpikir bagi individu dapat tersedia.
  10. Perkembangan kognitif dihasilkan dari proses dialektis (proses percakapan) dengan cara berbagi pengalaman belajar dan pemecahan masalah bersama orang lain, terutama orangtua, guru, saudara sekandung dan teman sebaya.
  11. Awalnya orang yang berinteraksi dengan individu memikul tanggung jawab membimbing pemecahan masalah lambat-laun tanggung jawab itu diambil alih sendiri oleh individu yang bersangkutan.
  12. Bahasa adalah sarana primer interaksi orang dewasa untuk menyalurkan sebagian besar perbendaharaan pengetahuan yang hidup dalam budayanya.
  13. Seraya bertumbuh kembang, bahasa individu sendiri adalah sarana primer adaptasi intelektual; ia berbahasa batiniah ( internal language) untuk mengendalikan perilaku.
  14. Internalisasi merujuk pada proses belajar. Menginternalisasikan pengetahuan dan alat berpikir adalah hal yang pertama kali hadir ke kehidupan individu melalui bahasa.
  15. Terjadi zone of proximal development atau kesenjangan antara yang sanggup dilakukan individu sendiri dengan yang dapat dilakukan dengan bantuan orang dewasa.
  16. Karena apa yang dipelajari individu berasal dari budaya dan banyak di antara pemecahan masalahanya ditopang orang dewasa, maka pendidikan hendaknya tidak berpusat pada individu dalam isolasi dari budayanya.
  17. Interaksi dengan budaya sekeliling dan lembaga-lembaga sosial sebagaimana orangtua, saudara sekandung, individu dan teman sebaya yang lebih cakap sangat memberi sumbangan secara nyata pada perkembangan intelektual individu.

Untuk Kelanjutan makalahnya silahkan buka page yang berikutnya

 

Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi

Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi

Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif Pemrosesan Informasi

Teori Belajar
Teori Belajar

Teori Belajar

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Teori Belajar – Peningkatan sumber daya manusia haruslah segera dibangun di Indonesia. Menciptakan manusia-manusia yang unggul harus diadakan sejak dini melalui pendidikan formal mapun non formal. Dengan diberlakukannya pandidikan sejak usia dini diharapkan akan mampu membentuk fondasi dasar sebelum memperoleh ilmu pengetahuan umum, sehingga ilmu yang akan diperoleh nantinya akan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya tanpa adanya pihak lain yang dirugikan.
Banyak Negara mengakui bahwa persoalan pendidikan merupakan persoalan yang pelik. Negara sebagai lembaga yang mengupayakan kecerdaskan kehidupan bangsa merupakan tugas negara yang amat penting. Namun, di negara-negara berkembang adopsi system pendidikan sering mengalami kesulitan untuk berkembang. Cara dan system pendidikannya sering menjadi kritik dan kecaman. Adanya perubahan sistem pendidikan setiap adanya perubahan mentri pendidikan juga turut mempengaruhi kualitas pendidikan yang ada di Indonesia.

Pada makalah ini akan dikaji tentang pandangan kognitif, sosial kognitif dan pemrosesan informasi dalam kegiatan pembelajaran. Teori Kognitif, sosial kognitif dan pemrosesan informasi lebih menekankan bahwa belajar lebih banyak ditentukan karena adanya usaha dari setiap individu dalam upaya menggali ilmu pengetahuan melalui dunia pendidikan. Penataan kondisi tersebut bukan sebagai penyebab terjadinnya proses belajar bagi anak didik, tetapi melalui penggalian ilmu pengetahuan secara pribadi ini diarahkan untuk memudahkan anak didik dalam proses belajar. Keaktifan siswa menjadi unsur yang amat penting dalam menentukan kesuksesan belajar. Aktivitas mandiri merupakan salah satu faktor untuk mencapai hasil yang maksimal dalam proses belajar dan pembelajaran. Para pendidik (Guru) dan para perancang pendidikan serta pengembang program-program pembelajaran perlu menyadari akan pentingnya pemahaman terhadap hakikat belajar dan pembelajaran. Teori belajar dan pembelajaran seperti teori kognitif, sosial kognitif dan pemrosesan informasi penting untuk dimengerti dan diterapkan sesuai dengan kondisi dan konteks pembelajaran yang dihadapi.
Pada bagian ini dikaji tentang pandangan kognitif, sosial kognitif dan pemrosesan informasi terhadap proses belajar dan aplikasi teori kognitif, sosial kognitif dan pemrosesan informasi dalam rangka meningkatkan prestasi anak didik. Masing-masing teori pendidikan memilki kelemahan dan kelebihan. Pendidik/pengajar yang professional akan dapat memilih teori mana yang tepat untuk tujuan tertentu, karakteristik materi pelajaran tertentu, dengan ciri-ciri siswa yang dihadapi, dan dengan kondisi lingkungan serta sarana dan prasarana yang tersedia.

1.2 Rumusan Masalah
a. Apa yang dimaksud Teori Belajar Kognitif ?
b. Apa yang dimaksud Teori Belajar Sosial Kognitif ?
c. Apa yang dimaksud Teori Belajar Pemrosesan Informasi ?
d. Bagaimana Aplikasi Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif dan Pemrosesan
Informasi ?
e. Apa manfaat Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif dan Pemrosesan
Informasi ?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Untuk mengetahui Teori Belajar Kognitif .
b. Untuk mengetahui Teori Belajar Sosial Kognitif .
c. Untuk mengetahui Teori Belajar Pemrosesan Informasi.
d. Untuk mengetahui Aplikasi Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif dan Pemrosesan Informasi.
e. Untuk mengetahui manfaat Teori Belajar Kognitif, Sosial Kognitif dan Pemrosesan
Informasi

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1     Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses.

Banyak ahli telah memberikan pandangan menganai Teori Kognitif. Berikut ini beberapa pengertian teori belajar menurut para tokoh aliran kognitif

  1. Teori Belajar menurut Piaget

Piaget adalah tokoh psikologi kognitif yang besar pengaruhnya terhadap perkembangan pemikiran para pakar kognitif lainnya. Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Semakin bertambah umur pebelajar, semakin kompleks susunan sel syarafnya dan makin meningkat kemampuannya. Proses peningkatan kemampuan tersebut melalui proses yang disebut adaptasi. Proses adaptasi mempunyai dua bentuk dan terjadi secara stimulan, yaitu Tahap asimilasi (proses penerimaan informasi baru dan kemudian disesuaikan dengan struktur kognitif yang sudah ada dalam diri masing-masing pebelajar), Proses akomodasi (proses memodifikasi struktur kognitif yang sudah dimiliki dengan informasi yang diterima). Proses asimilasi dan akomodasi akan menimbulkan ketidakseimbangan antara yang telah diketahui dengan apa yang dilihat atau dialaminya sekarang. Proses ketidakseimbangan ini harus disesuaikan melalui proses ekuilibrasi( merupakan proses yang berkesinambungan antara proses similasi dan akomodasi). Proses ini akan menjaga stabilitas mental dalam diri pelajar dan pelajar akan dapat terus mengembangkan dan menambah pengetahuannya.

            Perubahan struktur kognitif yang dipengaruhi oleh proses adaptasi tersebut melalui tahap-tahap perkembangan tertentu sesuai dengan umurnya dan bersifat hirarkhis. Piaget membagi tahap-tahap perkembangan kognitif ini menjadi empat yaitu:

  1. Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)

Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motorik dan persepsinya yang sederhana seperti:

  1. mencari rangsanganmelalui sinar lampu
  2. suka memperhatikan sesuatu lebih lama
  3. memperhatikan objek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
  4. Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)

Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu Preoperasional : umur 2-4 tahun (anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsepnya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami obyek), Tahap intuitif : umur 4-7 atau 8 tahun (anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang sudah abstrak. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Oleh sebab itu, pada usia ini anak telah dapat mengungkapkan isi hatinya secara simbolik terutama bagi mereka yang memiliki pengalaman yang luas).

  1. Tahap operasional konkrit (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun)

Anak telah memiliki kecapakan berpikir logis, akan tetapi hanya dengan benda-benda yang bersifat konkrit. Operation adalah suatu tipe tindakan untuk memanipulasi obyek atau gambaran yang ada di dalam dirinya. Dalam tahap ini, anak tidak perlu coba-coba dan membuat kesalahan, karena anak sudah dapat berpikir dengan menggunakan model “kemungkinan” dalam melakukan kegiatan.

  1. Tahap Operasional formal (umur 11/12-18 tahun)

Anak mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-deductive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Semakin tinggi tahap perkembangan kognitif seseorang, akan semakin teratur dan semakin abstrak cara berpikirnya. Guru seharusnya memahami tahap-tahap perkembangan kognitif murid-muridnya agar dapat merancang dan melaksanakan proses pembelajaran yang sesuai.

  1. Teori Belajar menurut Bruner

Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Dengan teorinya yang di sebut free discovery learning, ia mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Bruner berpendapat bahwa perkembangan bahasa seseorang besar pengaruhnya terhadap perkembangan kognitif.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan oleh caranya melihat lingkungan, yaitu:

  1. Tahap enaktif, yaitu seseorang melakukan aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan.
  2. Tahap ikonik, seseorang memahami objek melalui gambar dan visualisasi verbal.
  3. Tahap simbolik, seseorang mampu memiliki ide-ide atau gagasan abstrak yang dipengaruhi oleh kemampuan dalam berbahasa dan logika.

Gagasan yang terkenal dari Bruner adalah spiral curriculum, yaitu cara mengorganisasikan materi pelajaran dari tingkat makro (secara umum) kemudian mulai mengajarkan materi yang sama dengan cakupan yang lebih rinci. Selain itu juga, Bruner menjelaskan bahwa pembentukan konsep dan pemahaman konsep merupakan dua kegiatan yang berbeda. Dalam pemahaman konsep, konsep-konsep sudah ada sebelumnya. Sedangkan dalam pembentukan konsep tindakan dilakukan untuk membentuk kategori-kategori baru. Bruner memandang bahwa suatu konsep memiliki lima unsur, dan seseorang dikatakan memahami suatu konsep apabila ia mengetahui semua unsur dari konsep itu, meliputi :Nama, Contoh-contoh baik yang positif maupun yang negatif, Karakteristik, baik yang pokok maupun tidak, Rentangan karakteristik, Kaidah

Menurut Bruner, pembelajaran yang selama ini diberikan di sekolah lebih banyak menekankan pada perkembangan kemampuan analisis, kurang mengembangkan kemampuan berpikir intuitif. Cara yang baik untuk belajar adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (discovery learning).