Pengertian Pendapatan PerKapita dan Inflasi Serta Indek Harga

Pengertian Pendapatan PerKapita dan Inflasi Serta Indek Harga

Pengertian Pendapatan PerKapita dan Inflasi Serta Indek Harga

Pengertian Pendapatan PerKapita
Pengertian Pendapatan PerKapita

Pengertian Pendapatan PerKapita – Pendapatan Per Kapita (Income Per Capita/ IPC)

1. Pengertian Pendapatan Per Kapita Pendapatan per kapita adalah jumlah (nilai) barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu negara pada suatu periode tertentu.

Pendapatan per kapita dapat digunakan untuk membandingkan kesejahteraan atau standar hidup suatu negara dari tahun ke tahun. Dengan melakukan perbandingan seperti itu, kita dapat mengamati apakah kesejahteraan masyarakat pada suatu negara secara rata-rata telah meningkat. Pendapatan per kapita yang meningkat merupakan salah satu tanda bahwa rata-rata kesejahteraan penduduk telah meningkat. Pendapatan per kapita menunjukkan pula apakah pembangunan yang telah dilaksanakan oleh pemerintah telah berhasil, berapa besar keberhasilan tersebut, dan akibat apa yang timbul oleh peningkatan tersebut.

Pengertian Pendapatan PerKapita

2. Hubungan Pendapatan Nasional, Jumlah Penduduk, dan Pendapatan Per Kapita Pendapatan per kapita diperoleh dari pendapatan nasional pada tahun tertentu dibagi jumlah penduduk suatu negara pada tahun tersebut. Pendapatan nasional dapat dilihat dari beberapa pendekatan.

Pengertian Per Kapita – Konsep pendapatan nasional yang bisa dipakai dalam menghitung pendapatan per kapita oleh pemerintah suatu negara umumnya adalah Produk Domestik Bruto (PDB) atau Produk Nasional Bruto (PNB). Dengan demikian, pendapatan per kapita dapat dihitung dengan menggunakan salah satu rumus berikut.

IPCn = GNPn Pn

Keterangan: IPCn = Income Per Capita (Pendapatan Per kapita) tahun n GNPn = Gross National Product (Produk Nasional Bruto) tahun n Pn = Population (Jumlah Penduduk) tahun n

Pengertian Pendapatan PerKapita

3. Perbandingan Pendapatan Per Kapita Indonesia dengan Negara Lain Bank Dunia telah mengelompokkan seluruh negara di dunia ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat pendapatan per kapita mereka pada tahun 2004, yaitu sebagai berikut. 1. Kelompok negara berpendapatan rendah (low income economies), yaitu negara-negara yang memiliki PDB per kapita sekitar $765 atau kurang. 2. Kelompok negara yang berpendapatan menengah bawah (lower-middle income economies), yaitu negara-negara yang mempunyai PNB per kapita sekitar US $766–US $3,035. 3. Kelompok negara yang berpendapatan menengah atas (upper-middle income economies), yaitu negara-negara yang memiliki PNB per kapita sekitar US $3,036–US $9,385. 4. Kelompok negara yang berpendapatan tinggi (high income economies), yaitu negara-negara yang mempunyai PNB per kapita sekitar $9,386 ke atas.

Pengertian Pendapatan PerKapita – Pengelompokan itu tidaklah bersifat tetap, namun akan terus berubah setiap tahun sesuai dengan kemajuan perekonomian yang dicapai oleh negara masing-masing. Jika kita terus giat membangun, tidak mustahil bahwa negara kita suatu saat bisa beralih ke kelompok negara berpendapatan menengah atas atau bahkan kelompok negara berpendapatan tinggi.

Inflasi dan Indeks Harga

1. Pengertian Inflasi Dalam ekonomi, inflasi memiliki pengertian suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (kontinu). Dengan kata lain, inflasi merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara kontinu. Inflasi merupakan proses suatu peristiwa dan bukan tinggi-rendahnya tingkat harga. Artinya, tingkat harga yang dianggap tinggi belum tentu menunjukkan inflasi. Dianggap inflasi jika terjadi proses kenaikan harga yang terus-menerus dan saling memengaruhi. Penggunaan inflasi digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang, yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga.

2. Penyebab Inflasi a. Tarikan permintaan arikan permintaan (Demand pull inflation) (Demand pull inflation) Bertambahnya permintaan terhadap barang dan jasa menyebabkan bertambahnya permintaan faktor-faktor produksi. Meningkatnya permintaan terhadap produksi menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Jadi, inflasi terjadi karena kenaikan dalam permintaan total sewaktu perekonomian yang bersangkutan dalam situasi full employment. Inflasi yang ditimbulkan oleh permintaan total yang berlebihan sehingga terjadi perubahan pada tingkat harga dikenal dengan istilah demand pull inflation. b. Desakan biaya Desakan biaya (Cost push inflation) (Cost push inflation) Inflasi ini terjadi akibat meningkatnya biaya produksi (input) sehingga mengakibatkan harga produk-produk (output) yang dihasilkan ikut naik.

3. Teori-teori Infasi a. Teori Kuantitas (Irving Fisher) eori Kuantitas (Irving Fisher) Inflasi diakibatkan oleh dua faktor, yaitu 1. jumlah uang yang beredar; 2. psikologi (harapan) masyarakat mengenai kenaikan harga di masa mendatang.

Pengertian Pendapatan PerKapita

b. Teori Keynes Inflasi terjadi karena: 1. keinginan masyarakat untuk hidup di luar batas kemampuan ekonominya; 2. adanya perebutan rezeki antarkelompok. c. Teori Strukturalis Penyebab inflasi ialah: 1. kekakuan (ketidakelastisan) penerimaan ekspor; 2. kekakuan (ketidakelastisan) penawaran bahan makanan.

Pengertian Pendapatan PerKapita

4. Cara Menghitung Laju Inflasi Untuk menghitung besarnya laju inflasi dapat digunakan Indeks Harga, sebagai berikut.

Laju inflasi = x 100%

Keterangan: IHt = Indeks Harga tahun tertentu (dihitung) IHt–1 = Indeks Harga tahun sebelumnya

Contoh Diketahui: Indeks Harga Konsumen bulan Maret 2005 = 150,65 Indeks Harga Konsumen bulan Februari 2005 = 145,15 Besarnya laju inflasi bulan Maret 2005 adalah: Laju Inflasi = 150,65 – 145,15 145,15 x 100% = 3,79% Termasuk inflasi ringan. Mengenai Indeks Harga dijelaskan di akhir Bab ini.

Pengertian PerKapita

5. Penggolongan Inflasi a. Berdasarkan asal timbulnya inflasi Berdasarkan asal timbulnya inflasi

1. Inflasi berasal dari dalam negeri, misalnya sebagai akibat terjadinya defisit anggaran belanja yang dibiayai dengan cara mencetak uang baru dan gagalnya pasar yang berakibat harga bahan makanan menjadi mahal. 2. Inflasi yang berasal dari luar negeri, yaitu inflasi sebagai akibat naiknya harga barang impor. Hal ini terjadi akibat biaya produksi barang di luar negeri tinggi atau adanya kenaikan tarif impor barang.

b. Berdasarkan cakupan pengaruh kenaikan harga Jika kenaikan harga secara umum hanya berkaitan dengan beberapa barang tertentu secara kontinu disebut inflasi tertutup inflasi tertutup (closed inflation), dan apabila kenaikan harga terjadi secara keseluruhan disebut inflasi terbuka inflasi terbuka (open inflation), sedangkan apabila serangan inflasi demikian hebatnya dan setiap saat harga-harga terus berubah dan meningkat sehingga orang tidak dapat menahan uang lebih lama disebabkan nilai uang terus merosot disebut inflasi yang tak terkendali inflasi yang tak terkendali (hyperinflation).

Pengertian PerKapita

c. Berdasarkan parah atau tidaknya inflasi Berdasarkan parah atau tidaknya inflasi Berdasarkan parah atau tidaknya, inflasi dapat digolongkan:

1. inflasi ringan (di bawah 10% setahun), 2. inflasi sedang (antara 10%–30% setahun), 3. inflasi berat (antara 30%–100% setahun), dan 4. inflasi tak terkendali (di atas 100% setahun)

6. Dampak Inflasi Secara umum, inflasi memiliki dampak positif dan dampak negatif, tergantung parah atau tidaknya inflasi. Apabila inflasi itu ringan, justru mempunyai pengaruh yang positif dalam arti dapat mendorong perekonomian lebih baik, yaitu meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang bergairah untuk bekerja, menabung, dan mengadakan investasi. Sebaliknya, dalam masa inflasi yang parah, yaitu pada saat terjadi inflasi tak terkendali (hiperinflasi) keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu, orang menjadi tidak bersemangat kerja, menabung, atau mengadakan investasi dan produksi karena harga meningkat dengan cepat, para penerima pendapatan tetap, seperti pegawai negeri atau karyawan swasta, serta kaum buruh akan kewalahan menanggung dan mengimbangi harga sehingga hidup mereka menjadi semakin merosot dan terpuruk dari waktu ke waktu.

a. Bagi pemilik pendapatan tetap dan tidak tetap Bagi masyarakat yang memiliki pendapatan tetap, inflasi sangat merugikan. Kita ambil contoh seorang pensiunan pegawai negeri tahun 1990. Pada tahun 1990, uang pensiunnya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Namun, di tahun 2003 atau tiga belas tahun kemudian, daya beli uangnya mungkin hanya tinggal setengah. Artinya, uang pensiunnya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sebaliknya, orang yang mengandalkan pendapatan berdasarkan keuntungan, seperti pengusaha, tidak dirugikan dengan adanya inflasi. Begitu juga dengan pegawai yang bekerja di perusahaan dengan gaji mengikuti tingkat inflasi.

b. Bagi para penabung Inflasi menyebabkan orang enggan untuk menabung karena nilai mata uang semakin menurun. Memang tabungan menghasilkan bunga, tetapi jika tingkat inflasi di atas bunga, nilai uang tetap menurun. Jika orang tidak menabung, dunia usaha dan investasi akan sulit berkembang karena untuk berkembang dunia usaha membutuhkan dana dari bank yang diperoleh dari tabungan masyarakat.

c. Bagi debitur dan kreditur Bagi orang yang meminjam uang kepada bank (debitur), inflasi menguntungkan karena pada saat pembayaran utang kepada kreditur, nilai uang lebih rendah dibandingkan pada saat meminjam. Sebaliknya, kreditur atau pihak yang meminjamkan uang akan mengalami kerugian karena nilai uang pengembalian lebih rendah jika dibandingkan pada saat peminjaman.

d. Bagi produsen Bagi produsen, inflasi dapat menguntungkan Jika pendapatan yang diperoleh lebih tinggi daripada kenaikan biaya produksi. Jika hal ini terjadi, produsen terdorong untuk melipatgandakan produksinya (biasanya terjadi pada pengusaha besar). Namun, jika inflasi menyebabkan naiknya biaya produksi hingga pada akhirnya merugikan produsen, produsen enggan untuk meneruskan produksinya. Produsen dapat menghentikan produksinya untuk sementara waktu, bahkan jika tidak sanggup mengikuti laju inflasi, dapat gulung tikar (biasanya terjadi pada pengusaha kecil).

e. Bagi perekonomian nasional Bagi perekonomian nasional 1. Investasi berkurang. 2. Mendorong tingkat bunga. 3. Mendorong penanam modal yang bersifat spekulatif. 4. Menimbulkan kegagalan pelaksanaan pembangunan. 5. Menimbulkan ketidakpastian keadaan ekonomi pada masa yang akan datang. 6. Menyebabkan daya saing produk nasional berkurang. 7. Menimbulkan defisit neraca pembayaran. 8. Merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat.

7. Peran Bank Sentral Bank sentral memainkan peranan penting dalam mengendalikan inflasi.

Bank sentral suatu negara pada umumnya berusaha mengendalikan tingkat inflasi pada tingkat yang wajar. Beberapa bank sentral bahkan memiliki kewenangan yang independen dalam artian bahwa kebijakannya tidak boleh diintervensi oleh pihak di luar bank sentral, termasuk pemerintah. Hal ini disebabkan sejumlah studi menunjukkan bahwa bank sentral yang kurang independen—salah satunya disebabkan intervensi pemerintah yang bertujuan menggunakan kebijakan moneter untuk mendorong perekonomian—akan mendorong tingkat inflasi yang lebih tinggi. Bank sentral umumnya mengandalkan jumlah uang beredar dan/atau tingkat suku bunga sebagai instrumen dalam mengendalikan harga. Selain itu, bank sentral juga berkewajiban mengendalikan tingkat nilai tukar mata uang domestik. Hal ini disebabkan nilai sebuah mata uang dapat bersifat internal (dicerminkan oleh tingkat inflasi) ataupun eksternal (kurs). Saat ini pola inflation targeting banyak diterapkan oleh bank sentral di seluruh dunia, tidak kecuali Bank Indonesia.

Perhitungan Pendapatan Nasional dan Pendapatan Perkapita

Perhitungan Pendapatan Nasional dan Pendapatan Perkapita

Perhitungan Pendapatan Nasional dan Pendapatan Perkapita

Pendapatan Perkapita
Pendapatan Perkapita

Pendapatan Perkapita

5. Manfaat Penghitungan Pendapatan Nasional Penghitungan pendapatan nasional dapat digunakan untuk mengukur dan mengetahui perkembangan perekonomian dari waktu ke waktu.Tujuan penghitungan pendapatan nasional adalah sebagai alat ukur tingkat kemakmuran rakyat. Semakin tinggi nilai pendapatan nasional suatu negara maka semakin tinggi pula kemakmuran negara. Adapun manfaat dari penghitungan pendapatan nasional, antara lain:

Pendapatan Perkapita

a. Untuk Mengetahui Struktur Perekonomian Negara Dengan penghitungan pendapatan nasional akan diketahui struktur perekonomian suatu negara. Hal ini dapat dilihat dari seberapa besar kontribusi dari sektor-sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional. Jika sektor agraris yang lebih dominan dalam pendapatan nasional maka struktur ekonomi negara tersebut agraris. Namun jika pendapatan nasional dominan berasal dari sektor industri maka struktur ekonomi negara tersebut adalah industri, dan sebagainya.

Pendapatan Perkapita

b. Untuk Mengetahui Tingkat Pertumbuhan Perekonomian Setiap tahun dilakukan penghitungan pendapatan nasional dengan tujuan untuk membandingkan perekonomian dari tahun ke tahun sehingga dapat diketahui tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Pertumbuhan ekonomi diukur dari pertambahan yang sebenarnya dalam barang dan jasa yang diproduksi, sehingga barang dan jasa tersebut harus dihitung berdasarkan harga tetap. Artinya harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang seterusnya digunakan untuk menghitung barang dan jasa yang dihasilkan pada tahun-tahun yang lain. Dengan demikian akan dihasilkan pendapatan nasional riil (sebenarnya).

Pendapatan Perkapita

c. Untuk Membandingkan Perekonomian Antardaerah Maupun Antarnegara Apabila dasar penghitungan pendapatan adalah masyarakat seluruh daerah/provinsi maka disebut pendapatan regional. Dengan mengetahui besarnya pendapatan regional maka dapat diketahui struktur perekonomian dan tingkat kemakmuran suatu daerah. Dengan demikian perekonomian suatu daerah dapat dibandingkan dengan perekonomian daerah lain. Selain untuk mengukur perekonomian antardaerah, penghitungan pendapatan nasional dapat digunakan untuk membandingkan perekonomian suatu negara dengan negara lain. Sehingga dapat diketahui apakah negara tersebut termasuk negara maju atau negara berkembang atau bahkan negara yang masih terbelakang.

Pendapatan Perkapita

d. Untuk Membantu Merumuskan Kebijakan Pemerintah Hasil penghitungan pendapatan nasional dapat digunakan oleh pemerintah untuk menilai efektifitas kebijakan-kebijakan yang telah diambil. Selain itu dengan mengetahui perkembangan pendapatan nasional pemerintah dapat mengidentifikasikan masalah-masalah ekonomi yang baru muncul dan merencanakan program-program baru untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Pendapatan Perkapita

B. Pendapatan Perkapita Selain menggunakan pendapatan nasional, tingkat kemakmuran rakyat dapat diukur dari pendapatan perkapita. Besarnya pendapatan perkapita, sangat erat kaitannya dengan pertambahan penduduk. Pendapatan perkapita menunjukkan kemampuan yang nyata dari suatu bangsa dalam menghasilkan barang dan jasa dan kenikmatan yang diperoleh setiap penduduk. Hasil penghitungan pendapatan perkapita sebenarnya tidak dapat secara langsung digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran dan kesejahteraan suatu negara. Hal ini disebabkan pendapatan perkapita kurang memerhatikan aspek distribusi pendapatan.

Pendapatan Perkapita – Misalnya dua negara mempunyai pendapatan nasional yang sama besarnya, namun belum tentu kesejahteraan penduduk negara-negara tersebut sama. Misalkan pada tahun tertentu diketahui bahwa pendapatan nasional negara A dan pendapatan nasional negara B sama, yaitu Rp200 juta. Jumlah penduduk negara A adalah 200 jiwa sedangkan jumlah penduduk negara B adalah 400 jiwa. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pendapatan rata-rata penduduk negara A adalah Rp200 juta dibagi 200 maka hasilnya Rp1.000.000,00 sedangkan pendapatan rata-rata penduduk B adalah Rp200 juta dibagi 400 adalah Rp500.000,00. Dengan demikian terlihat bahwa pendapatan rata-rata penduduk di negara A lebih besar dibandingkan di negara B. Namun, apakah penduduk di negara A lebih makmur dari negara B? Jawabnya, belum tentu! Karena bagaimana pendistribusian pendapatan di negara A atau B belum diketahui. Berdasarkan contoh di atas, pendapatan rata-rata penduduk negara A sebesar Rp1.000.000,00, artinya nilai barang dan jasa yang dapat diperoleh masing-masing penduduk sebesar Rp1.000.000,00. Jadi apa yang dimaksud pendapatan perkapita? Pendapatan perkapita adalah pendapatan rata-rata penduduk suatu negara selama satu periode tertentu. Atau pendapatan perkapita dapat juga diartikan sebagai nilai atau jumlah suatu barang dan jasa rata-rata yang tersedia bagi setiap penduduk suatu negara selama satu periode tertentu. Secara matematis, besarnya pendapatan perkapita dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Pendapatan perkapita (PDB) = Pendapatan Nasional Bruto (PNB) Jumlah penduduk atau Pendapatan perkapita (PDB) = Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Jumlah penduduk

Adapun Bank Dunia mengelompokkan negara-negara di dunia berdasarkan pendapatan perkapitanya menjadi lima kelompok. 1. Kelompok negara berpendapatan rendah (law income economies), yaitu negara-negara yang memiliki PNB perkapita lebih kecil dari US $ 520 2. Kelompok negara berpendapatan menengah bawah (low middle income economies), yaitu negara yang memiliki PNB perkapita sekitar US $ 1740. 3. Kelompok negara berpendapatan menengah (middle income economies) yaitu negara yang memiliki PNB berkapita sekitar US $ 2990. 4. Kelompok negara berpendapatan menengah atas (upper-middle income economies) yaitu negara yang mempunyai PNB perkapita sekitar US $ 4870. 5. Kelompok negara berpendapatan tinggi (high income economies), yaitu negara yang memiliki PNB perkapita sekitar US $ 25.480.

D. Indeks Harga dan Inflasi Kenaikan harga-harga yang berlaku dari satu waktu ke waktu lainnya tidak berlaku secara seragam. Kenaikan tersebut biasanya berlaku atas kebanyakan barang, tetapi kenaikannya berbeda. Ada yang tinggi persentasenya dan ada yang rendah. Selain itu sebagian barang tidak mengalami kenaikan. Berlakunya tingkat perubahan harga yang berbeda tersebut menyebabkan indeks harga perlu dibentuk untuk menggambarkan tingkat perubahan harga-harga yang berlaku dalam suatu negara. Adapun untuk mengukur tingkat inflasi, indeks harga yang selalu digunakan adalah indeks harga konsumen yaitu indek harga dari barang-barang yang selalu digunakan para konsumen.

1. Pengertian dan Cara Perhitungan Secara konseptual indeks berarti urutan data atau angka-angka. Indeks harga dapat diartikan sebagai kumpulan data berupa harga-harga secara berurutan, yang berfungsi untuk menentukan perubahan harga rata-rata yang berlaku pada suatu periode tertentu. Saat ini terdapat tiga indeks harga, yaitu indeks harga konsumen (Customer Price Index = CPI), indeks harga produsen (Producer Price Index = PPI) dan Pedeflasi GDP (GDP Deflator). Ketiga indeks ini dapat digunakan untuk menunjukkan tingkat inflasi pada satu periode tertentu. Pada pembahasan ini hanya akan difokuskan pada indeks harga konsumen (IHK). IHK mengubah harga berbagai barang dan jasa menjadi sebuah indeks tunggal yang mengukur seluruh tingkat pembelian. Berikut ini ciri-ciri IHK. a. Hanya mengukur harga barang dan jasa yang dibeli konsumen. b. IHK mencakup barang dan jasa yang domestik dan barang-barang impor. c. Dalam IHK, komponen biaya-biaya bunga mewakili biaya perumahan.

IHK dihitung dengan menggunakan data harga konsumen. Harga konsumen adalah harga barang-barang yang diperdagangkan dalam eceran untuk dikonsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Harga konsumen diambil dari data empat kelompok, yaitu kelompok makanan, sandang, perumahan, dan aneka barang dan jasa. IHK dapat dihitung dengan menggunakan formula indeks harga Laspeyres dan indeks harga Paasche (IP).

2. Pengertian Inflasi Inflasi adalah merosotnya nilai uang karena banyaknya uang yang beredar, sehingga menyebabkan kenaikan harga-harga barang yang bersifat umum dan berlangsung terus menerus. Ada tiga komponen untuk menentukan terjadinya inflasi.

a. Kenaikan Harga Harga suatu komoditas dikatakan naik jika harga menjadi lebih tinggi daripada periode sebelumnya. Misalnya, harga 1 buku tulis yang berisi 50 lembar sebesar Rp2.500,00. Beberapa hari kemudian naik menjadi Rp3.000,00. Hal ini berarti telah terjadi kenaikan harga buku tulis. Perbandingan tingkat harga bisa dilakukan pada periode yang lebih panjang yaitu seminggu, sebulan, triwulan, dan setahun.

b. Bersifat umum Kenaikan harga suatu komoditas belum dapat dikatakan terjadi inflasi jika kenaikan tersebut tidak menyebabkan harga-harga komoditas lainnya secara umum naik. Misalnya kenaikan harga 1 buku tulis yang berisi 50 lembar terjadi pada saat tahun ajaran baru, sehingga permintaan terhadap buku tulis meningkat. Tetapi apabila kenaikan harga buku tulis tersebut tidak menimbulkan kenaikan-kenaikan harga komoditas lain, maka tidak terjadi inflasi.

c. Berlangsungnya Terus Menerus Kenaikan harga-harga yang bersifat umum, apabila terjadinya hanya sesaat, belum dikategorikan terjadi inflasi. Sehingga perhitungan inflasi dilakukan dalam rentang waktu minimal bulanan. Jika pemerintah melaporkan bahwa inflasi tahun ini sebesar 8% per tahun, berarti akumulasi inflasi adalah 8% per tahun. Inflasi triwulan ratarata 2% (8% : 4) dan inflasi bulanan rata-rata 0,66% (8% : 12).

3. Penyebab Inflasi Telah disebutkan di atas, bahwa terjadinya inflasi dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Berikut ini faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya inflasi.

a. Kenaikan Permintaan Agregate (Demand-Pull Inflation) Demand-pull inflation mengatakan bahwa perubahan tingkat harga disebabkan oleh perubahan permintaan. Kenaikan dalam permintaan yang lebih besar dari penawaran akan menyebabkan kelebihan permintaan. Akibatnya terjadi peningkatan harga. Untuk lebih jelasnya, perhatikan kurva di samping. 1) Gambar tersebut menunjukkan perubahan D barang dari AD0 ke AD1 . Dengan jumlah S total tetap pada AS0 . 2) Adanya kenaikan permintaan menyebabkan kenaikan tingkat P dari P0 ke P1 3) Kenaikan harga ini menunjukkan terjadinya inflasi. b. Kenaikan Biaya Produksi (Cost-Push Inflation) Inflasi ini terjadi karena adanya kenaikan biaya produksi. Naiknya biaya produksi karena terjadi kenaikan harga faktor-faktor produksi. Misalnya adanya tuntutan serikat pekerja untuk menaikkan upah dan perusahaan menerima tuntutan tersebut. Peningkatan upah pekerja mengakibatkan biaya produksi meningkat. Akibatnya perusahaan membebankan kenaikan biaya produksi kepada konsumen melalui harga yang lebih tinggi. Proses terjadinya inflasi karena kenaikan biaya produksi dapat dilihat pada kurva di samping. Keseimbangan awal berada di titik E0. Apabila biaya produksi meningkat, akan menggeser kurva AS dari AS0 ke AS1, sementara Q tetap. Akibatnya jumlah produksi akan turun, namun harga barang meningkat dari P0 ke P1. Dengan demikian inflasi akan terjadi.

4. Laju Inflasi Laju inflasi adalah tingkat persentase kenaikan dalam beberapa indeks harga dari satu periode ke periode lainnya. Menghitung laju inflasi merupakan salah satu topik yang penting dalam pembahasan inflasi. Angka inflasi dihitung oleh Badan Pusat Statistik dari persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada periode tertentu dibandingkan dengan IHK pada periode sebelumnya. Dalam masa inflasi kenaikan harga untuk bermacam-macam barang tidak berjalan dengan laju yang sama. Ada tiga cara untuk mengukur laju inflasi yaitu: a. membandingkan rata-rata tahunan, b. membandingkan bulan ini dengan bulan yang sama pada tahun lalu, dan c. membandingkan bulan ini dengan bulan yang lalu.

5. Jenis-Jenis Inflasi Inflasi yang terjadi pada suatu negara dapat dibedakan berdasarkan tingkat keparahannya, penyebabnya dan berdasarkan asal terjadinya. a. Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya 1) Inflasi rendah Inflasi dikatakan rendah jika kenaikan harga berjalan sangat lambat dengan persentase kecil, yaitu di bawah 10% setahun. 2) Inflasi sedang Suatu negara dikatakan mengalami inflasi sedang, jika persentase laju inflasinya sebesar 10% – 30% setahun. 3) Inflasi tinggi. Inflasi dikatakan tinggi jika laju inflasinya berkisar 30% – 100% setahun. 4) Hiperinflasi Hiperinflasi dapat terjadi jika laju inflasinya di atas 100% setahun. Apabila suatu negara mengalami hiperinflasi, maka masyarakat tidak lagi memiliki kepercayaan terhadap uang, mereka lebih memilih menukarkannya dengan barang tertentu. b. Inflasi Berdasarkan Penyebabnya Inflasi dapat pula dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu: 1) Demand-pull inflation 2) Cost-push inflation Jenis inflasi berdasarkan penyebabnya akan dibahas lebih lanjut pada subbab berikutnya. c. Inflasi Berdasarkan Asalnya Berdasarkan asalnya inflasi dibedakan menjadi berikut ini. 1) Inflasi karena defisit APBN. Inflasi jenis ini terjadi sebagai akibat adanya pertumbuhan jumlah uang yang beredar melebihi permintaan akan uang. 2) Imported inflation, yaitu inflasi yang terjadi di suatu negara, misalnya beberapa barang di luar negeri yang menjadi faktor produksi di suatu negara, harganya meningkat, maka kenaikan harga tersebut mengakibatkan meningkatnya harga barang di negara tersebut.

E. Hubungan Inflasi dan Indeks Harga Konsumen Data indeks harga konsumen yang telah kalian pelajari tersebut, memiliki hubungan dengan tingkat inflasi. Data indeks harga konsumen (IHK) dalam periode tertentu dapat digunakan untuk menghitung tingkat inflasi. Perhitungan tingkat inflasi dapat secara bulanan maupun tahunan. Semakin tinggi laju IHK akan semakin tinggi pula laju inflasi.

 

Pengertian Pendapatan Nasional dan Komponen Komponennya

Pengertian Pendapatan Nasional dan Komponen Komponennya

Pengertian Pendapatan Nasional dan Komponen Komponennya

Pendapatan Nasional
Pendapatan Nasional

Pendapatan Nasional

A. Pendapatan Nasional

1. Pengertian Pendapatan Nasional Coba perhatikan kegiatan ekonomi keluarga kalian! Untuk apa orang tua kalian setiap hari pergi ke kantor, ke pasar untuk berdagang, ke sawah untuk bercocok tanam, dan lain-lain? Tentu saja mereka berusaha untuk memperoleh pendapatan guna memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Pendapatan tersebut diperoleh sebagai balas jasa atas tenaga yang ia sumbangkan, tanah atau sawah yang ia sewakan, keuntungan dari berdagang, dan lain-lain. Besarnya pendapatan yang mereka peroleh menunjukkan makmur tidaknya sebuah keluarga.

Pendapatan Nasional – Jadi, apa yang dimaksud pendapatan? Pendapatan menurut KBBI adalah hasil kerja (usaha). Bila dihubungkan dengan ilmu ekonomi, pendapatan adalah sesuatu yang diterima seseorang sebagai hasil kerja (usaha) dan imbalan atas penyediaan faktor-faktor produksi yang dapat berupa gaji, upah, sewa, bunga, atau laba. Bila setiap individu, keluarga atau perusahaan mempunyai pendapatan, bagaimana dengan negara? Negara juga memiliki pendapatan, yang dikenal dengan istilah pendapatan nasional. Besarnya pendapatan nasional yang diperoleh pemerintah digunakan sebagai alat ukur kemakmuran negara tersebut dari waktu ke waktu. Selain itu, pendapatan nasional juga dapat digunakan sebagai pembanding tingkat perekonomian dengan negara lain.

Pendapatan nasional menggambarkan tingkat produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam kurun waktu satu tahun tertentu. Dengan demikian pendapatan nasional mempunyai peran penting dalam menggambarkan tingkat kegiatan ekonomi yang dicapai serta perubahan dan pertumbuhannya dari tahun ke tahun. Kegiatan perekonomian negara dalam menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat, merupakan upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.

Pendapatan Nasional – Aktivitas tersebut melibatkan individu, keseluruhan masyarakat baik pemerintah, swasta, dan rumah tangga. Setiap negara akan mengumpulkan berbagai informasi mengenai kegiatan ekonominya agar secara kontinyu dapat diperhatikan perubahan-perubahan tingkat dan corak kegiatan ekonomi yang berlaku. Salah satu informasi penting yang akan dikumpulkan adalah data mengenai pendapatan nasionalnya. Setiap negara akan mewujudkan suatu sistem penghitungan pendapatan nasional yang dinamakan national income accounting system atau sistem penghitungan pendapatan nasional. Pada hakikatnya sistem tersebut adalah suatu cara pengumpulan informasi mengenai perhitungan:

Pendapatan Nasional

a. nilai barang-barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara; b. nilai berbagai jenis pengeluaran atas produk nasional yang diciptakan; dan c. jumlah pendapatan yang diterima oleh berbagai faktor produksi yang digunakan untuk menciptakan produksi nasional. Untuk menghitung nilai barang-barang dan jasa yang diciptakan oleh suatu perekonomian, ada tiga cara atau metode pendekatan. Berikut ini metode pendekatan yang digunakan.

Pendapatan Nasional

a. Metode Pendekatan Produksi Penghitungan pendapatan nasional menggunakan metode pendekatan produksi, yaitu dengan menjumlahkan nilai produksi masing-masing sektor ekonomi atau dengan menjumlahkan secara keseluruhan nilai tambah (value added) dari semua kegiatan ekonomi yang dihasilkan perusahaan-perusahaan. Penggunaan cara ini dalam menghitung pendapatan nasional mempunyai dua tujuan penting, yaitu: 1) untuk mengetahui besarnya sumbangan berbagai sektor ekonomi di dalam mewujudkan pendapatan nasional; 2) sebagai salah satu cara untuk menghindari penghitungan dua kali yaitu dengan hanya menghitung nilai produksi netto yang diwujudkan pada berbagai tahap proses produksi Sektor ekonomi di Indonesia dibedakan menjadi 9 (sembilan) macam, yaitu: a. pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan; b. pertambangan dan penggalian; c. industri pengolahan; d. listrik, gas, dan air bersih; e. konstruksi; f. perdagangan, hotel dan restoran; g. pengangkutan dan komunikasi; h. keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan; dan i. jasa-jasa. Sebelum penghitungan pendapatan nasional dengan cara pendekatan produksi terlebih dahulu perlu diketahui suatu contoh sederhana untuk menghitung nilai tambah. Contoh sederhana penghitungan pendapatan nasional dengan menjumlahkan nilai tambah (value added) sebagai berikut: Sebuah baju sebelum diproduksi tentu harus dicari bahan bakunya dulu, yaitu kapas, kemudian memproduksi benang dan kain. Apabila penghitungan nilai produk didasarkan pada nilai akhir dari baju, kain, benang, dan kapas maka akan terjadi penghitungan ganda atau double counting. Karena nilai akhir baju sudah mengandung sebagian nilai akhir kain dan nilai akhir kain juga mengandung sebagian nilai akhir benang.

b. Metode Pendekatan Pengeluaran Pendapatan nasional jika dihitung dengan metode pendekatan pengeluaran maka penghitungannya dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang dilakukan oleh seluruh masyarakat. Pengeluaran masyarakat dapat dibedakan menjadi berikut ini. 1) Pengeluaran konsumsi baik oleh perorangan atau perusahaan. 2) Pengeluaran konsumsi pemerintah baik pusat maupun daerah. 3) Investasi domestik bruto seperti persediaan barang-barang dan alatalat produksi tahan lama dan perubahan stok. 4) Pembelian barang dan jasa ekspor oleh masyarakat luar negeri (nilai ekspor dikurangi nilai impor).

c. Metode Pendekatan Pendapatan Berdasarkan metode pendekatan pendapatan, besarnya pendapatan nasional dihitung dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diterima oleh faktor-faktor produksi yang digunakan dalam menghasilkan barang dan jasa yang diproduksi di suatu negara selama satu tahun. Pendapatan dari faktor produksi meliputi upah dan gaji, sewa tanah, bunga modal dan laba. Dalam penghitungan pendapatan nasional yang sebenarnya, penggolongan pendapatan faktor-faktor produksi seperti yang dinyatakan di atas. Dengan perkataan lain, pendapatan nasional tidak ditentukan dengan menghitung dan menjumlahkan seluruh gaji dan upah, sewa, bunga, dan keuntungan yang diterima oleh seluruh faktor-faktor produksi dalam satu tahun tertentu. Hal ini dikarenakan dalam perekonomian terdapat banyak kegiatan di mana pendapatannya merupakan gabungan dari gaji atau upah, sewa bunga, dan keuntungan. Contoh dari bentuk pendapatan yang demikian adalah pendapatan yang diperoleh perusahaan-perusahaan perorangan.Untuk suatu perusahaan perorangan (misalnya restoran yang dikelola anggota keluarga) yang dimaksud keuntungan usaha adalah gabungan dari gaji, upah, bunga, sewa, dan keuntungan yang sebenarnya dari usaha yang dilakukan oleh keluarga. Oleh karenanya, penghitungan pendapatan nasional dengan cara pendapatan pada umumnya menggolongkan pendapatan yang diterima faktor-faktor produksi sebagai berikut: 1) pendapatan para pekerja, yaitu gaji dan upah; 2) pendapatan dari usaha perorangan; 3) pendapatan dari sewa; 4) bunga netto; dan 5) keuntungan perusahaan.

2. Komponen-Komponen Pendapatan Nasional

Berikut ini ada beberapa komponen dalam penghitungan pendapatan nasional. a. Produk Domestik Bruto (PDB) Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) adalah nilai seluruh produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di suatu negara selama satu tahun, baik oleh perusahaan nasional maupun perusahaan asing yang berada di negara tersebut. Dengan demikian, pendapatan yang diperoleh dari produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara yang berada di luar negeri tidak turut diperhitungkan. Namun penerimaan produksi dari warga negara asing yang berada di luar negeri justru ikut diperhitungkan. PDB dapat dihitung dengan tiga cara berikut ini. 1) PDB dihitung berdasarkan unit-unit produksi yang terdiri atas sektorsektor ekonomi. 2) PDB dihitung berdasarkan jumlah balas jasa yang diterima oleh faktorfaktor produksi yang turut serta dalam proses produksi. 3) PDB dihitung berdasarkan jumlah seluruh komponen permintaan akhir, yang terdiri atas pengeluaran konsumsi RT, pembentukan modal tetap domestik bruto dan perubahan stok, pengeluaran konsumsi pemerintah dan ekspor bersih.

b. Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP) Produk Nasional Bruto (PNB) adalah jumlah seluruh produk barang dan jasa suatu negara dalam satu tahun, yang meliputi barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh warga negara (nasional) baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam pengertian ini, barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan asing yang berada di dalam negeri tidak diperhitungkan. Ada dua aliran pembayaran penggunaan jasa faktor produksi. 1) Apabila hasil produksi perusahaan asing yang berada di dalam negeri lebih besar dari hasil produksi perusahaan nasional di luar negeri, maka akan terjadi pembayaran penggunaan jasa faktor produksi ke luar negeri. Selisih tersebut dinamakan pendapatan netto terhadap luar negeri dari faktor produksi atau net factor income to abroad. 2) Apabila hasil produksi perusahaan asing yang berada di dalam negeri lebih kecil daripada produksi di perusahaan nasional di luar negeri maka akan terjadi pembayaran ke dalam negeri. Selisihnya dinamakan pendapatan netto ke dalam negeri dari faktor produksi atau net factor.

c. Produk Nasional Netto atau Net National Product (NNP) Produk Nasional Netto atau Net National Product (NNP) adalah nilai pasar barang dan jasa yang dihasilkan dalam satu tahun. Untuk menghitung NNP adalah Produk Nasional Bruto (PNB) dikurangi dengan penyusutan (depreciation). Penyusutan di sini artinya penyusutan barang-barang yang digunakan dalam proses produksi atau barang modal. NNP = PNB – penyusutan

d. Pendapatan Nasional Bersih atau Net National Income (NNI) Pendapatan nasional bersih atau net national income (NNI) dapat dilihat dari dua sisi. 1) Dari sisi pendapatan, yaitu pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. 2) Dari sisi produksi, yaitu sejumlah nilai bersih barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara. Untuk mengetahui besarnya NNI yaitu NNP dikurangi dengan pajak tidak langsung. Pajak tidak langsung adalah pajak yang pembebanannya dapat dilimpahkan kepada pihak lain, misalnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). NNI = NNP – Pajak Tidak Langsung

e. Pendapatan Perorangan atau Personal Income (PI) Pendapatan perorangan adalah seluruh pendapatan yang benar-benar diterima oleh masyarakat. Jenis pendapatan yang tidak termasuk dalam pendapatan nasional, merupakan pendapatan pribadi. Berikut ini pendapatan yang tergolong dalam pendapatan nasional tetapi tidak termasuk sebagai pendapatan pribadi. 1) Keuntungan perusahaan yang tidak dibagikan. 2) Pajak yang dikenakan pemerintah atas keuntungan perusahaan. 3) Kontribusi yang dilakukan oleh perusahaan dan para pekerja pada dana pensiun.

Untuk menghitung pendapatan perorangan adalah: PI = NNI – (laba ditahan + iuran jaminan sosial + asuransi) + transfer payment Keterangan: 1) Laba ditahan adalah keuntungan yang tidak dibagikan atau keuntungan yang ditujukan untuk: a) cadangan perluasan perusahaan, b) menjaga agar modal pokok besarnya tetap, dan c) cadangan untuk membayar utang-utang. 2) Iuran jaminan sosial atau social security dari perusahaan. Misalnya tunjangan pendidikan, tunjangan kesehatan, dan lain-lain. 3) Transfer payment (Tr) atau pembayaran pindahan adalah pendapatan yang diterima bukan sebagai balas jasa atas faktor-faktor produksi melainkan hanya pemindahan pendapatan. Contohnya: pembayaran uang pensiun kepada veteran, pemberian uang saku dari orang tua kepada anaknya.

f. Pendapatan Bebas atau Disposible Income (DI) Pajak Penghasilan (PPh) Apabila pendapatan pribadi dikurangi oleh pajak yang harus dibayar oleh para penerima pendapatan, nilai yang tersisa dinamakan pendapatan disposibel. Dengan demikian, pada hakikatnya pendapatan disposibel adalah pendapatan yang dapat digunakan oleh penerimanya, yaitu semua rumah tangga yang ada dalam perekonomian, untuk membeli barang-barang dan jasa yang mereka inginkan. DI = PI – Pajak langsung .

4. Faktor-Faktor yang Memengaruhi Komponen Pendapatan Nasional

Faktor-faktor yang memengaruhi komponen pendapatan nasional adalah konsumsi dan tabungan; investasi; serta permintaan dan penawaran agregat. Faktor-faktor berikut ini perlu diketahui, agar pemerintah tidak salah dalam mengambil dan menetapkan kebijakan ekonomi.

a. Konsumsi dan Tabungan Pendapatan nasional merupakan faktor penting yang menentukan tingkat konsumsi dan tabungan suatu negara. Dari data pendapatan nasional di berbagai negara termasuk di Indonesia, pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga sekitar 60 – 70% dari pendapatan nasional. Besarnya jumlah pengeluaran untuk konsumsi keluarga tergantung dari banyak faktor, antara lain: 1) besarnya pendapatan bersih keluarga, 2) jumlah anggota keluarga, 3) tingkat pendidikan, 4) lingkungan sosial ekonomi, dan 5) agama dan adat kebiasaan.

b. Konsumsi dan Investasi Penghasilan yang tidak dibelanjakan, namun ditabung dapat digunakan untuk investasi. Investasi dapat diartikan sebagai pengeluaran untuk membeli barang-barang modal dan perlengkapan-perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi barang-barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian. Investasi yang dimaksud berupa investasi fisik dan investasi keuangan. Investasi fisik, misalnya penambahan kapasitas produksi dengan menambah jumlah mesin. Adapun investasi keuangan dapat dilakukan dengan pembelian saham-saham perusahaan yang berfungsi menambah modal bagi perusahaan. Peningkatan investasi yang diikuti dengan peningkatan kapasitas produksi serta jumlah produksi akan memperluas kesempatan kerja. Sehingga jumlah produksi barang dan jasa meningkat, yang pada akhirnya akan meningkatkan pendapatan nasional. Faktor-faktor utama yang menentukan tingkat investasi, antara lain: 1) tingkat keuntungan investasi yang diramalkan akan diperoleh, 2) tingkat bunga, 3) ramalan mengenai keadaan ekonomi di masa depan, dan 4) kemajuan teknologi. Adapun hubungan pendapatan, konsumsi, dan investasi dapat dinyatakan dengan rumus: Y = C + S —> I = S Y = C + I

c. Permintaan dan Penawaran Agregat Sesuai dengan persamaan pendapatan nasional: Y = C + I + G + (X – M), menunjukkan bahwa meningkatkan permintaan agregat yang berupa konsumsi dan pengeluaran pemerintah (C dan G) akan meningkatkan pendapatan nasional (Y). Meningkatnya permintaan agregat, akan diikuti oleh meningkatnya penawaran agregat, sehingga investasi (I) meningkat. Peningkatan investasi tersebut karena penawaran yang tinggi sehingga perusahaan atau produsen akan menambah kapasitas produksi, sehingga pendapatan nasional akan meningkat.