Menemukan Nilai-nilai Cerita Pendek dan nilai moral dalam cerpen

Menemukan Nilai-nilai Cerita Pendek dan nilai moral dalam cerpen

Menemukan Nilai-nilai Cerita Pendek dan nilai moral dalam cerpen

nilai moral dalam cerpen
nilai moral dalam cerpen

Labirin Cahaya Detti Febrina

nilai moral dalam cerpen

nilai moral dalam cerpen Rona-rona lembut menyapa. Merah muda, biru, hijau pupus, kuning yang teduh, ungu lembut. Indah semata membuai mata dan jiwa. Kurasakan jasad ini melayang-layang. Lambat, namun terus beranjak sesenti demi sesenti. Seakan ada energi yang menarik-narik untuk mendekat. Jangan-jangan, aku tak lagi berpijak di bumi. Jangan-jangan. … Tempat apa ini gerangan? Begitu damai dan menenangkan. Lorongnya panjang berkelok-kelok. Cahaya berpendar dari dinding, langit-langit bahkan lantai yang tak tersentuh oleh kaki telanjangku. Menentramkan, bak tersimpan beribu neon di baliknya. Benderang namun tak menyilaukan.

nilai moral dalam cerpen Lalu ketentraman menyergap sekujur pori. Perlahan menyelusup hingga sumsum dan jantung. Bagaimana bisa kujelaskan keindahannya. Sungguh aneh, aku tak merasakan sebersit pun rasa takut di tempat seasing ini. Aku masih bergerak melayanglayang. Tak ada ke siapa pun, maka kucoba bersuara, “Hei!” Entah mengapa yang terdengar hanya desau. Aku coba teriak. “Di mana aku berada?!” Entah mengapa yang tertangkap telinga hanya bisikan. Di sebuah kelok, pendarnya menguat. Masih menentramkan. Dan, hatiku tercekat saat paras indah itu menghadang. Senyumnya begitu menawan. Alhamdulillah, akhirnya, kujumpa makhluk lain di labirin ini. Manusiakah ia, atau bidadari surga? Bidadari itu tersenyum. Binar matanya bagai kejora. Wajahnya begitu putih dan teduh. tercium wangi seribu bunga ketika tangannya merengkuh badan gemetarku. “Siapa kau?” Bibir nan serupa kelopak mawar itu bergerak. Namun tiada terdengar suara. Lalu kurasakan bibirku bergerak mengikuti gerak bibirnya, “A-isyah?” Mataku menghangat. Bulir beningnya mengalir tak tertahankan.“Aisyah radhiallahu anha?” Dia mengangguk. “Aiyah kekasih Baginda Muham-mad? Istri Rasulullah?”Dia mengangguk lagi. Masih tersenyum. Bulir bening dari mataku menetes perlahan saat ia lepaskan rengkuhannya. Lalu tangan kanannya mengembang seperti mempersilakanku melanjutkan perjalanan. Aku kembali beringsut, melayang sesenti demi sesenti tanpa sekejap pun kulepaskan pandang darinya. Bahagia bertalu-talu menyesaki ruang hati. “Ibunda Aisyah…,” suaraku kembali hanya berupa lirih angin. Sampai akhirnya senyum indah itu hilang ditelan kelokan. Pendar cahaya masih membimbingku. Masih menentramkan. Lalu kurasakan lorong warna-warni lembut berakhir di sebuah ruangan yang dari dinding ke dindingnya berjarak ribuan meter. Mungkinkah ini akhir dari labirin penuh cahaya? Aku tiba di hadapan beberapa pintu raksasa yang juga berpendar cahaya. Dan aneh, semua berbisik, “Bukalah… bukalah… bukalah….” Bulir-bulir bening kian deras mengalir. Lalu sebuah pintu terbuka sebelum sempat tersentuh tangan. Lagilagi kekuatan asing menghisapku untuk perlahan mendekat ke tengah pendar cahaya putih yang bergelinyaran dari segala penjuru. Ruang bagai tak berbatas. Semua hanya cahaya. Cahaya-cahaya warna putih yang lembut dan bertumpuk-tumpuk. Belulangku melemas bagai tersiram asam sulfat, ketika pendar-pendar cahaya itu perlahan kian menampakkan bentuk. Melebihi perjumpaan dengan Ibunda Aisyah, kali ini dadaku begitu sesak oleh kebahagiaan. Kebahagiaan yang bahkan menjalar mengikuti aliran darah dan terus mengalir tanpa henti. Oh, sungguh sempurna keindahan ini. Mas Awan, andai kau di sini. Subhanallah, Mas, di sini indah sekali. Terasa tubuhku bagai dipeluk jutaan bintang. Aku merintih, “Allah, Engkaukah itu, Allah?” Air mataku tak tertahankan. Subhanallah. Maha Suci Allah yang mengizinkanku mendapati perjalanan ini. Dan, semua cahaya yang memenuhi ruang dan waktu bagai berebut memelukku.“Ya, Allah, ampuni aku. Ampuni aku,” rintihku tanpa henti. Segenap khilaf dan kesalahan berkelebatan di pelupuk mataku yang basah. Cahaya-cahaya masih bersiar-siur. Cahaya di atas segala rupa cahaya. “Ampuni seluruh dosaku, Ya Robb.” Kakiku lemas. Aku ingin bersimpuh, namun tak jua kumampu melakukan apapun. Aku hanya terpaku seraya merintih, memohon, menghiba. Lalu, di bawah tahta bercahaya itu, sesosok tegap dan rupawan perlahan menampakkan diri. Sambil mengulurkan tangan, senyumnya menyongsongku. “Kau…,” suaraku nyaris hilang. Wajah rupawan itu bagai membelaiku. Suaranya indah melebihi suara terindah yang pernah kudengar. “Ya, ibundaku sayang.” Aku bergerak ingin meraih tangannya, namun tak terraih. “Aku putramu yang belum sempat kau lahirkan ke dunia.” Tangisku pecah menjadi isakan hebat. Belum habis takjubku, tiba-tiba kekuatan itu kurasakan tak lagi menghisap.

nilai moral dalam cerpen –  Perlahan ia malah mendorongku keluar menuju pintu raksasa. “Ya Allah, jangan tinggalkan aku.” Namun, cahaya itu kurasakan kian jauh. Wajah rupawan itu juga perlahan memudar di balik lapisan-lapisan kabut. “Peluk aku, ya Allah. Jangan tinggalkan aku.” Aku tersedu-sedu saat lorong bercahaya warna merah muda, biru, hijau, kuning lembut menyambutku kembali. Kelokan demi kelokan membawa tangisku bagai gerimis pagi. Aku merasa tercerabut. Masih melayang-layang. Bibirku hanya menyebut Allah dan Allah. Diselimuti kabut, eternit putih serta dua lampu neon di kanan-kiri menyergap pandangan. Samar-samar kulihat gorden hijau, juga tercium bau obat-obatan. Apakah benar itu suara sedu sedan? Kurasakan kemudian genggaman erat di jemariku yang masih lemas. Dan, suara yang kukenal itu. “Alhamdulillah, ” bisiknya. Tanganku perlahan dibimbing ke dadanya. Genggamannya makin erat. Masih samar, kudapati wajah tirus yang begitu kukenal itu, Mas Awan, suamiku. “Semua sudah selesai, sayang. Kuretnya sudah selesai,” bisiknya lagi. Kulihat ia berusaha sekuat tenaga menyembunyikan kesedihan. Namun, sungguh kau pemain sandiwara yang buruk, Mas. Segalanya kemudian berkumpul menjadi potonganpotongan peristiwa. Saat tepat tengah malam, saat gumpalan merah segar pertama jatuh di lantai kamar mandi. Lalu gumpalan merah segar yang kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya. Dan, satu gumpal kecil seukuran jempol kaki kemudian begitu menyita perhatianku. Gumpal kecil yang selanjutnya kuraih dengan tangan bergetar. Ia tampak menonjol, karena berwarna putih di antara gumpalan-gumpalan segar merah darah. Ada sepasang mata berbentuk bintik di kanan dan kiri. Sepasang bakal tangan dan sepasang bakal kaki, serta seutas tali pusar yang juga berwarna putih. “Kamu mengigau menyebut Allah dan surga.” Kurasakan air mataku masih meleleh. “Benarkah?” Berulangkali ia menyeka air di pipiku. Dan berulangkali pula air itu menganak sungai. “Belum saatnya kamu berjumpa surga, Jeng,” katakata Mas Awan kudengar tercekat di tenggorokan. “Ina dan Rayya masih butuh ibunya.” Ina dan Rayya? Aku masih menangis. Namun, kali ini terbayang wajah kedua bidadari kecil itu. Ya, aku memang kehilangan sesuatu yang telah melekat selama tiga bulan dalam rahimku. Tapi kau benar, Mas. Masih ada dua makhluk Allah yang hidup dan sehat yang butuh tanggung jawabku. Masih nanar pandanganku menatap lelaki yang tengah sibuk mengusapi air di sudut matanya itu. Mas Awan, suamiku, kau juga amanahku. Bandar Lampung, Januari 2008. Sumber: Republika, Minggu, 09 Maret 2008

nilai moral dalam cerpen

Latihan 1 1. Bentuklah kelompok diskusi beranggotakan 5 siswa! 2. Diskusikan hal-hal berikut ini! a. Analisislah unsur-unsur cerita pendek, seperti tema, tokoh, watak tokoh, alur, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa dalam cerpen “Labirin Cahaya”! b. Temukan nilai-nilai yang ada dalam cerpen dan kutiplah kalimat cerpen yang mendukung nilai-nilai yang Anda temukan! 3. Bacakan hasil diskusi Anda di depan temanteman Anda!

Menunggu Saat Bintang Jatuh Emi Teja K.D.

nilai moral dalam cerpen – LANGIT indah bertabur temaram bintang malam ini. Sang dewi malam dengan anggun menebar senyumnya yang merekah. Seperti bibir bidadari surga. Lama rasanya aku melupakan atap dunia itu. Aku terlalu sibuk berada di bumi hingga tak sempat menengok langit. Bintang, benda langit itu berkerlap-kerlip seakan menggodaku. Bagai tangan malaikat yang melambai agar aku menghampirinya. Ia mengingatkanku pada mitos bintang jatuh. Kata orang, bintang jatuh dapat mengabulkan permintaan manusia. Benarkah? Jika iya, aku rela menunggu benda langit itu tertarik gravitasi bumi, meski harus menantinya tiap malam, hanya untuk satu permintaan. Ah, kenapa pula aku jadi seperti bocah. Mana mungkin benda langit yang tak mampu melawan takdir untuk dirinya sendiri tersebut mampu mengabulkan keinginan makhuk lain? Seandainya bintang jatuh mampu mengabulkan keinginan, pasti dia akan meminta sendiri kepada Tuhan agar kontraknya di atap dunia diperpanjang. Buktinya, ia memilih menuruti kehendak alam. Menunggu Saat Bintang Jatuh Emi Teja K.D. Sayang, saat ini, aku yang sedang sentimentil merasa bintang yang menggoda itu seakan seperti pantulan cermin atas diriku sendiri. Awalnya begitu indah, tinggi di awang-awang namun tak terjamah, jauh, dan jika Tuhan menghendakinya jatuh, ia tak mampu melawan. Aku terlahir sebagai bocah desa biasa, anak buruh tani. Kedua orang tuaku tak lulus SD, begitu juga kedua kakak perempuanku. Mereka menikah di usia yang masih sangat belia, menjadi ibu rumah tangga, mengurusi anak, suami, dan dapur. Status yang menurutku benar-benar rendah dan aku tak mau seperti mereka. Adalah Pak Ahmad, kepala desaku yang menjadi kepanjangan tangan Tuhan mengubah seluruh duniaku. Beliau mengangkatku menjadi anak asuhnya sejak aku SD karena terkesan dengan prestasi belajarku saat aku menjadi juara 1 lomba cerdas cermat sekecamatan. Sejak saat itu, beliau menanggung semua biaya pendidikan, termasuk semua keperluanku.

Selengkapnya Penulis adalah pelajar Universitas Brawijaya Sumber:Dikutip dari Jawa Pos, Senin, 02 Juni 2008

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Menemukan Nilai dalam Contoh Cerita Pendek

Contoh Cerita Pendek
Contoh Cerita Pendek

Contoh Cerita Pendek – Tentu kalian pernah membaca cerpen. Siapa pengarang cerpen, yang karya-karyanya kalian sukai? Kalian barangkali mengenal namanama, seperti Ahmad Tohari, Nh. Dini, Seno Gumira Ajidarma, dan Jenar Mahesa Ayu. Mereka adalah pengarang-pengarang cerpen yang namanya sudah terkenal. Apakah kalian ingin terkenal seperti mereka? Kalian dapat menjadi cerpenis terkenal jika rajin dan tekun berlatih. Dengan terus berlatih menulis cerpen, kalian akan makin terampil sehingga harapan kalian untuk bisa terkenal seperti mereka akan dapat terwujud. Di bawah ini, disajikan sebuah cerpen karya temanmu, Rina Lizza R. Silakan kalian baca cerpen itu di dalam hati! Sambil membaca, buatlah catatan di buku tulis kalian, tentang nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sekarang, silakan kalian mulai membaca cerpen ini!

Contoh Cerita Pendek – Pak Tua Rina Lizza Tubuhku menciut diselimuti udara yang dingin pagi itu. Kugosok-gosokkan jemariku dan kurapatkan dekapan mantel bututku. Tadi malam hujan cukup deras. Pantas, udara pagi ini jadi begitu dingin. Kulihat beberapa orang berjalan tergesa-gesa, berusaha mengusir hawa dingin di tubuhnya. Seorang ibu melilitkan syal hangat berwarna merah jambu di leher anaknya. Terlintas perasaan iri di benakku: Aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. ”Hei, jangan melamun! Pikirkan akan ke mana kita hari ini.” Sebuah suara mengusik lamunanku. Dengan enggan kuangkat badanku dan berjalan terseok-seok mengikuti langkah pria yang tadi membentakku. Kata orang, dia bekas konglomerat, tak ada yang tahu nama aslinya. Hanya saja, orang-orang memanggilnya dengan sebutan Pak Tua. ”Pak, memangnya kita mau ke mana sekarang?” suaraku terdengar parau, seperti habis dicekik, aku nyaris tak mengenali suaraku sendiri. Kutunggu jawaban Pak Tua, tapi yang kudengar hanya helaan napasnya, ”Aku tak tahu,” ujarnya enggan. Kutatap punggungnya dari belakang, dekat, tetapi terasa amat jauh. Aku selalu merasa ia adalah orang tua yang kesepian. Di balik asap rokoknya kutemukan tatapan kosong dan raut penuh kesedihan. Walau begitu, aku tak pernah berani bertanya masa lalunya sebab aku pun punya masa lalu yang tak bisa kujelaskan. Akhir-akhir ini, kami selalu bangun lebih awal, kata Pak Tua, sekarang ini jika tidak rajin kita akan tersikut pendatang baru.

Contoh Cerita Pendek – Selain itu, kami sengaja berlatih beberapa bait puisi dan lagu baru yang sedang in. Untuk anak tujuh tahun sepertiku, bukan hal sulit untuk menghafal beberapa lagu sekaligus. Lagi pula selagi aku masih balita, ibu selalu mengajariku menghafal ayat-ayat kitab suci sehingga aku telah terbiasa menghafal. ”Hei, sudah berapa kali aku bilang? Jangan melamun! Lihat, antrean sudah panjang,” suaranya lebih mirip ancaman di telingaku. Karena tiga kali teguran berarti

jatah makan hari ini berkurang. Deretan mobil-mobil seperti tak ada ujungnya, kami menghampiri satu per satu. Jika beruntung, kami mendapat lebih dari sepuluh ribu rupiah seharinya. Begitulah rutinitas kami setiap hari, bangun, bekerja lalu saat malam menjemput, kami kembali ke tempat Pak Tua. Sungguh harihari yang berat. Peluh di tubuhku adalah lapisan kulitku yang kedua. ”Kau tahu? Aku tak suka melihatmu melamun begitu. Wajahmu saat melamun, selalu mengingatkan aku akan anakku, aku sangat merindukannya,” ujarnya sendu, matanya terus menerawang entah ke mana, sedangkan tangannya tak pernah lepas dari rokok kreteknya. ”Sudahlah, cepat makan, kalau sudah dingin, lauknya tak enak.” ”Bapak juga jangan melamun karena wajah Bapak saat melamun mirip wajah ayahku.” Ah, apa yang aku katakan? Sekilas kulihat Pak Tua terkejut mendengar ucapanku barusan. Padahal aku hanya bermaksud menghiburnya, tapi sepertinya ia tak suka mendengarnya. ”Nama anakku sama dengan namamu, Henry. Ia juga seusia denganmu. Bedanya, sekarang ini mungkin ia sedang makan enak di rumah orang kaya. Ia anak yang baik dan pintar, tapi sayang ibunya gila.” ”Maksud Bapak, ibunya kurang waras? Dia istri Bapak, lantas kenapa sekarang Bapak di sini, tidak bersama anak dan istri Bapak?” ”Kau masih kecil, tak akan mengerti. Di dunia ini seringkali uang menjadikan seseorang gelap mata, lupa segalanya. Perempuan itu gila, bukan otaknya yang terganggu, tapi nuraninya. Ia gila harta. Bapak di sini karena Bapak bukan hamba uang, mungkin pekerjaan Bapak sebagai seorang seniman telah membuat Bapak kehilangan anak dan istri Bapak. Sudahlah hari sudah larut, besok kita harus bekerja lagi.” Ia mengakhiri ceritanya dengan desahan panjang seperti biasa, namun kali ini desahannya terasa lebih pilu. Kata-katanya tadi sedikit pun tidak aku pahami. Aku sendiri merupakan anak terbuang. Ibu tak menginginkan aku dan membuangku saat masih balita ke panti asuhan. Aku tak suka tempat itu karena itulah aku ada di sini sekarang. Aku terus berpikir tentang kata-kata Pak Tua yang tak aku pahami, hingga tak terasa aku tertidur dan saat kubuka mataku, matahari sudah tinggi di ujung cakrawala. Aneh, hari ini tak ada suara Pak Tua yang membangunkanku, mungkin ia kelelahan semalam. Kubuka mataku perlahan, berusaha menyambut pagi dengan semangat yang baru. Tapi, apa yang kutemukan justru membuat semangatku rontok. Orang banyak berkerumun di sampingku, suara mereka berisik sekali, ada apa ini? ”Adik kenal dengan Bapak ini?” Petugas polisi berseragam lengkap menanyaiku dengan wajah serius. ”Ya, memangnya ada apa dengannya? Mengapa orang-orang mengerumuninya?

Contoh Cerita Pendek – ”Ia ditemukan meninggal semalam. Mungkin adik tahu penyebabnya?” Apa? Tak mungkin. Ia masih bercakap-cakap denganku tadi malam. Polisi tadi pasti sedang bergurau. Aku menerobos kerumunan orang yang mengelilingi Pak Tua. Apa yang aku lihat membuatku tak ingin mempercayai mata kepalaku sendiri. Ia tergeletak, ia telah tiada. Aku menangis sejadi-jadinya. Ia adalah orang yang selama ini telah menggantikan posisi ayah di hatiku. Di sampingnya, berlutut seorang wanita muda yang cantik. Sepertinya ia sudah menangis sedari tadi. Ingatanku mengatakan bahwa aku mengenalinya. ”Ibu?” kataku perlahan. ”Nak, itukah kau? Ke mana saja kau selama ini? Mengapa kau lari dari panti asuhan? Ibu mencarimu, Nak!” ”Bohong! Untuk apa ibu ada di sini? Untuk mengajakku kembali ke panti asuhan lagi?” ”Ini ayahmu, Nak. Yang terbaring di sini adalah ayah kandungmu. Ibu bersalah, ibu khilaf. Tapi, semua sepertinya sudah terlambat.” Aku tak mengerti ucapan ibu, tapi hanya satu yang aku pahami, Pak Tua ternyata adalah ayahku. Mengapa ia harus bersusah payah mencari dan merindukan anaknya? Padahal Henry yang selama ini ia cari selalu berada di sampingnya. Ayah, ini anakmu, bangunlah, Ayah! Jangan mati, ini anakmu! Oh, Tuhan berikan kami kesempatan sekali lagi. Ayah, aku selama ini pun telah menganggap engkau sebagai ayahku. Sumber: Pikiran Rakyat, 17 Juli 2005

Bagaimana pendapatmu tentang cerita ”Pak Tua” tersebut? Apakah kalian dapat menceritakan kembali cerpen tersebut? Hal yang perlu kalian lakukan agar kalian dapat menceritakan kembali isi cerpen tersebut adalah sebagai berikut. 1. Tulislah pokok-pokok peristiwa pada cerpen tersebut! 2. Tuliskan siapa yang mengalami peristiwa-peristiwa tersebut! 3. Ceritakan peristiwa-peristiwa tersebut secara urut! 4. Jika diperlukan, kalian dapat menambahkan petikan dialog tokoh-tokohnya.

Contoh Cerita Pendek

1. Ceritakan kembali isi cerpen ”Pak Tua” dengan menggunakan kalimatmu sendiri! 2. Dapatkah kalian menyebutkan tokoh-tokoh pada cerpen itu? a. Siapakah yang berkedudukan sebagai tokoh protagonis? b. Siapakah yang berkedudukan sebagai tokoh antagonis? c. Adakah tokoh yang berkedudukan sebagai tokoh tritagonis? Jika ada, sebutkan! 3. Di manakah peristiwa-peristiwa pada cerpen itu terjadi? Kapan peristiwa-peristiwa itu terjadi? 4. Temukan keterkaitan unsur intrinsik dalam cerpen tersebut terhadap kehidupan sehari-hari. Tunjukkan dengan teks yang mendukung dan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikan pendapatmu tentang masalah ini! 1. Diskusikan nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen tersebut! 2. Di dalam cerpen tersebut dikisahkan tentang seorang anak yang ”dititipkan” oleh ibunya di panti asuhan. Bagaimana pendapatmu tentang peristiwa tersebut? Mungkinkah hal seperti itu terjadi saat ini? 3. Jika kalian mengalami kejadian yang dialami tokoh ”Aku”, apa yang akan kamu lakukan? 1. Bersama teman sebangkumu, silakan kamu tirukan adegan dalam cerpen itu! a. Anak laki-laki berjalan mengikuti laki-laki tua dengan langkah pelan. b. Seorang anak mengamen di jalan-jalan. c. Seorang wanita menangis melihat jenazah suaminya. 2. Ucapkan petikan dialog di bawah ini dengan suara yang jelas! a. ”Hei, jangan melamun!” b. ”Pak, memangnya kita mau ke mana sekarang?” c. ”Hei, sudah berapa kali aku bilang? Jangan melamun! Lihat, antrean sudah panjang!” d. ”Kau tahu? Aku tak suka melihatmu melamun begitu. Wajahmu saat melamun selalu mengingatkan aku akan anakku, aku sangat merindukannya.” e. ”Bapak juga jangan melamun karena wajah Bapak saat melamun mirip wajah ayahku.” f. ”Maksud Bapak, ibunya kurang waras?”

Contoh Cerita Pendek

 

Mendeskripsikan Isi Cerita Pendek dan Contoh Cerpen

Mendeskripsikan Isi Cerita Pendek dan Contoh Cerpen

Mendeskripsikan Isi Cerita Pendek dan Contoh Cerpen

Isi Cerita Pendek
Isi Cerita Pendek

Isi Cerita Pendek – Cerpen ditulis pengarangnya tentu memiliki tujuan, yaitu untuk menghibur dan memberi kesan kepada pembacanya. Kesan yang ditangkap berupa kesan estetis, etis, dan sosial. Kesan estetis yaitu kesan keindahan atau nilai seni karena cerpen merupakan karya seni. Kesan etis, yaitu kesan etika dan moral. Biasanya, seorang pengarang selalu memberi gambaran moral dan etika tokoh-tokohnya, melalui pengkarakterannya. Dalam cerpen moral dan etika yang digambarkan melalui tokoh-tokohnya, dan pesan sosial digambarkan melalui latar cerita, peristiwa yang terjadi, serta konflik yang dibangun pengarang. Pesan sosial pun bisa terlihat dalam pengembangan karakter tokoh dan sudut pandang pengarang. Baca cerpen di bawah ini! Tandai hal-hal yang menarik pada teks cerpen di bawah ini!

Rindu Ibu pada Bumi Cerpen: Ida Ahdiah 

Isi Cerita Pendek – Di awal musim gugur itu Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan daun-daun lepas dari tangkainya. Daun-daun yang telah berubah warnanya, kuning, merah, dan tembaga itu mendarat di atas rumput yang mengerut kedinginan. Bumi telah kehabisan kehangatannya. Sebentar lagi pohon-pohon itu kesepian, ditinggalkan daun-daun. Angin yang menderu-deru bersekutu dengan angkasa yang buram, tak bercahaya. Kulihat dua titik air bening di kedua sudut mata Ibu. ”Apakah Ibu tidak bahagia?” tanyaku. Ia membawa telapak tanganku ke pipinya yang basah dan hangat oleh air mata. ”Ibu hanya rindu pada bumi tempat ari-ari Ibu dikubur. Bumi yang sudah berulang-ulang kuceritakan padamu.

Isi Cerita Pendek – Tidakkah kamu bosan, anak perempuanku?” Aku menggeleng. Aku senang melihat Ibu bahagia saat menceritakannya. Ibu rindu pada sebuah desa dengan sawah membentang, sambungmenyambung, menyundul bukit dan gunung. Harum padi yang siap dipanen, di bawah gerimis senja, kata Ibu, tak bisa dimasukkan ke dalam botol atau menjadi aroma tisu basah. Hanya bisa dinikmati masa lalunya, kala Ibu berjalan di pematang sawah dengan kaki telanjang, bertudung daun pisang. Lalu lembayung muncul di sela dua bukit, di langit sebelah selatan. Ibu rindu pada rumah masa kecilnya yang bau asap kayu bakar dari dapur yang berjelaga. Ada kolam ikan di belakang rumah yang tepinya ditanami pohon jarak, leunca, daun bawang, dan seledri. Lalu kandang ayam tempat si Burik dan Jago ayam Ibu menghabiskan malam bersama ayam lain milik kedua adik dan kedua kakak Ibu. Pagi, Ibu mencampur dedak dengan air panas dibuat sarapan kedua ayamnya.

Isi Cerita Pendek – ”Burik beranak-pinak dan seekor anaknya adalah bebek, yang Burik sayang dan dilindungi seperti anaknya sendiri. Tiap kali orang mendekati bebek, tiap kali pula Burik menaikkan sayapnya dan berlari siap mencengkeram,” kata Ibu. ”Ayam beranak bebek!” ”Kakek menaruh sebutir telur bebek untuk dierami Burik,” kata Ibu. ”Ibu rindu Burik?” ”Burik disembelih. Dagingnya Nenek buat opor untuk lauk makan kami.” ”Bu, ceritakan tentang sumber air panas di kaki gunung,” pintaku. Sumber air panas bau belerang itu menyumur di kaki gunung di bawah pohon beringin. Ibu dan teman-teman menemukannya secara kebetulan, sepulang mencari mangga yang jatuh dari pohonnya. Mereka memagari sumber air panas yang dalamnya setinggi dengkul itu dengan daun kelapa agar bisa mandi leluasa. Temuan itu beredar dari mulut ke mulut. Sumber air panas berbau belerang itu kemudian ramai dikunjungi karena dipercaya bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit. Kepala desa kemudian memperbaiki, mengangkat juru kunci dan menetapkan tarif bagi siapa saja yang mandi. ”Ibu masih menyimpan foto-foto masa kecil Ibu?” Pertanyaanku mengagetkan Ibu yang kembali sedang memandangi daun-daun lepas dari tangkainya. ”Saat itu kamera masih langka. Semuanya Ibu abadikan di sini.” Ibu menunjuk dadanya. ”Dengarkan saja cerita-cerita Ibu. Mintalah Ibu bercerita jika kamu ingin.” *** Di awal musim dingin Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan serpih-serpih salju melayang, berkejaran, sebagian menyangkut di ranting-ranting kosong yang ditinggalkan daun-daun di musim gugur. Sebagian salju mendarat di mana saja, di bumi yang beku, yang berselimut putih sejauh mata memandang, yang seolah tak mampu menopang kehidupan. Padalah waktu tetap berisi gerak dan langkah seperti musim-musim terdahulu dan yang akan tiba. Orang-orang tetap bekerja dan berkarya. Kulihat dua titik bening di kedua sudut mata Ibu. ”Apakah Ibu tidak bahagia?” tanyaku. Ibu meraih tanganku tanpa melepas pandangan dari luar jendela. Menempelkan telapak tanganku ke pipinya yang hangat dan basah. Ibu tidak menjawab, ia malah bertanya, ”Maukah kau menemai Ibu ke bumi tempat ari-ari Ibu dikuburkan?” Untuk sebuah liburan, napak tilas di bumi tempat ari-ari Ibu dikubur, amat kuimpikan. Ingin aku berjalan di pematang sawah dengan kaki telanjang di bawah hujan gerimis bertudung daun pisang. Menengok Nenek, Kakek, dan saudara-saudara yang kerap Ibu sebut

Isi Cerita Pendek – dalam cerita-ceritanya, yang tak kuhafal nama-namanya. Betapa nyamannya membayangkan mandi air panas di kaki gunung. ”Ibu, Papa, dan aku?” Ibu menggeleng. ”Hanya Ibu dan kamu.” Sudah lama Ibu dan Papa tak banyak berkata-kata. Jika mereka bicara suara mereka kencang dan bahasa mereka kasar. Lama sekali tak pernah kulihat Papa mencium pipi Ibu. Sudah lama tak kudengar Ibu memanggil Papa, Darling. ”Papa menyakiti hati Ibu?” ”Kami saling menyakiti.” ”Sudah habiskan cinta Ibu buat Papa?” ”Ibu pernah menjatuhkan seluruh perasaan dan harapan hanya untukku. Ibu ikhlas diusir dari bumi tempat ari-ari Ibu dikubur karena mereka tidak setuju Ibu menikah dengan pria asing, beda keyakinan.” Aku terkesima, tak menyangka. ”Maukah Ibu bercerita tentang perempuan muda yang pemberani itu.” Perempuan muda itu, kata Ibu, ingin melihat bumi di balik gunung, di seberang sungai, di langit berbeda, di seberang samudra, di mana saja asal bukan di bumi tempat ari-ari Ibu dikubur. Ia jenuh melihat sawah, padi, gunung, lenguh kerbau, dan bau lumpur. Ia tak ingin lagi malam-malamnya terus diganggu oleh suara jangkrik atau katak seusai hujan. Ia muak dengan bau taik ayam dan asap kayu bakar. Perempuan muda itu akhirya meninggalkan desa. Ia pindah ke kota yang bertabur cahaya, masuk sekolah menengah pemandu wisata. Lulus sekolah ia bekerja di sebuah biro perjalanan, menemani palancong, mengulang-ulang cerita tentang riwayat sebuah tempat. ”Ibu tabung sisa penghasilan yang tak seberapa, siapa tahu Ibu bisa melancong ke bumi lain,” kata Ibu. Sampai pada kala seorang turis meminta tour yang tidak biasa. Ia ingin pergi ke desa. Ibu mengajak turis pria itu menyaksikan petani membajak sawah dengan kerbau. Ibu membawanya ke pasar yang hanya buka pagi, di hari Sabtu. Ia terbeliak melihat kerbau, ayam, dan kambing dijual hidup-hidup. Saat makan tiba Ibu membawa turis itu ke rumah nenek, yang memasak nasi dan sayur dengan kayu bakar dan tungku tanah. ”Kami saling jatuh cinta. Kami saling tergila-gila. Kebesaran cinta itulah yang membawa Ibu ke negeri ini,” tutur Ibu. Larangan Kakek dan Nenek untuk tidak menikah dengan pria asing tak Ibu indahkan. Ibu diusir. ”Kakek bilang, Ibu boleh pulang kalau Ibu sudah bercerai dengan Papamu.” ”Aku tak mengerti mengapa Nenek dan Kakek sekejam itu. Bukankah Papa juga manusia?” ”Nenek dan Kakek menganggap aib besar anak gadisnya menikah dengan pria asing, berlainan keyakinan.”

Isi Cerita Pendek – Untuk memahaminya aku mungkin perlu menemani Ibu, menengok bumi tempat ari-ari Ibu dikubur. Buminya yang memiliki suhu, warna kulit, makanan, dan cara pandang yang berbeda. ”Bu, apakah Nenek dan Kakek akan menerima kehadiran Ibu? Kehadiranku?” Ibu menggeleng. ”Tidak, sebelum Ibu dan Papa bercerai.” *** Di awal musim semi Ibu duduk di tepi jendela, menyaksikan dahan-dahan yang mulai berputik. Panas matahari melepaskan kepengapan rumput-rumput yang selama musim dingin bertahan hidup di bawah timbunan salju. Lembar-lembar daun tulip dan dafodil mencuat dari tanah. Sebentar lagi bunganya yang berwarna-warni memenuhi taman, dikunjungi serombongan burung yang baru kembali dari negeri hangat, tempat mereka tinggal selama musim dingin. Kulihat dua titik bening di kedua sudut matanya, ”Apakah Ibu tidak bahagia?” Entah mengapa aku kembali mengulang pertanyaan bodoh, yang sebenarnya aku tahu jawabnya dengan melihat air mata di pipinya. Ibu membawa telapak tanganku ke pipinya yang hangat dan basah oleh air mata. ”Ibu bahagia memilikimu. Bahagia melewati musim demi musim bersamamu. Bahagia melihatmu tumbuh dewasa. Musim panas nanti, maukah menemani Ibu pulang ke bumi tempat ari-ari Ibu dikubur?” Ini ajakan kesekian kalinya setelah Papa dan Ibu bercerai. Pengadilan menyerahkan segala keputusan padaku untuk ikut Papa, Ibu, atau memilih tidak ikut siapa-siapa. Di usiaku, secara hukum aku berhak menentukan pilihan. ”Di sana aku akan menikmati musim panas sepanjang tahun,” kata Ibu. ” Tapi aku akan kehilangan musim semi seperti ini.” ”Kau akan bertemu dengan Nenek, Kakek, dan saudarasaudaramu.” ”Aku tak akan tertemu Papa dan teman-teman.” ”Kau bisa mencari teman baru.” ”Aku suka teman baru, tetapi berat hati meninggalkan teman lama.” ”Kau bisa jadi pemain sinetron, muncul di televisi, dan populer,” canda Ibu yang tahu itu bukan pilihanku. Teman-teman Ibu juga bilang wajah indoku bakal laku keras untuk diangkat jadi bintang sinetron. ”Tinggallah di sini bersamaku. Aku akan menjaga Ibu seperti orang di negeri Ibu menjaga orang tuanya.”

Isi Cerita Pendek – Ibu menolehku, lemah. Matanya berkaca-kaca. Susah payah ia menelan ludahnya. ”Kau memilih tinggal bersama Papa?” Aku menggeleng. ”Ke mana kau akan pergi?” ”Aku belum tahu?” Ibu membawaku ke pelukannya. ”Kembalilah ke bumi tempat ari-ari ibu dikubur jika itu membuat Ibu bahagia. Aku berjanji akan mengunjungi Ibu.” ”Begitu cepat waktu membawamu dewasa,” bisik Ibu. *** Di musim panas Ibu membawaku duduk di taman, di tepi sungai dengan kapal-kapal pesiar lalu lalang di sekitarnya. Pohon-pohon rindang, rumput-rumput hijau dan air mengalir di bawah panas matahari yang lengket. Burung camar saling berganti menukik ke permukaan sungai, menangkap ikan. Besok Ibu akan kembali ke bumi tempat ari-arinya dikubur. Tak ada dua titik bening di kedua sudut matanya. ”Mintalah Ibu bercerita jika kamu ingin, sebelum Ibu pergi,” kata Ibu. ”Ibu dan Papa berjanji akan menyimpannya hanya untuk kami berdua.” ”Mengapa cinta Ibu dan Papa yang semula mendasar, mendalam, hilang ….” ”Lebih baik kau mencari tahu bagaimana orang lain sukses memelihara cinta dan kesetiaan.” ”Bu, di mana ari-ariku dikubur?” ”Ibu tidak mengubur ari-arimu.” ”Mengapa?” ”Ibu menghanyutkan ari-arimu di sungai ini. Membungkusnya dengan dua bendera negara.” ”Ibu ….” ”Ari-arimu mungkin singgah di berbagai benua. Mungkin kini menetap di bawah laut atau Alien telah membawa ari-arimu ke luar angkasa.” ”Ibu ….” ”Harapan Ibu kau bisa pergi ke mana pun. Kau bisa membawa diri di bumi dan angkasa mana pun kau menginjakkan kaki ….” Ibu telah melapangkan jalanku untuk merdeka! Sejak lama! *** * Montreal, musim gugur 2006. Sumber: Suara Karya, 20 Oktober 2007