Kebutuhan Manusia Dan Kelangkaan Sumber Daya

Kebutuhan Manusia Dan Kelangkaan Sumber Daya

Kebutuhan Manusia Dan Kelangkaan Sumber DayaKebutuhan Manusia Dan Kelangkaan Sumber Daya – Penebangan dan pembakaran hutan secara liar semakin merajalela, mengikis cadangan kekayaan hutan yang kita miliki. Entah untuk diambil kayunya atau untuk membuka lahan pertanian baru. Semua itu pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan manusia yang beragam. Tidak heran, jika kita banyak menuai bencana seperti banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau. Udara bersih dan ketersediaan air menjadi barang yang langka. Tanpa kita sadari, keinginan kita untuk memenuhi kebutuhan justru menciptakan kelangkaan-kelangkaan baru. Lalu, bagaimana cara kita mengelola sumber daya yang ada saat ini
dengan tetap menjaga pemenuhan kebutuhan di masa depan?

A. Kebutuhan Manusia

Selama hidupnya manusia mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Makanan, pakaian, rumah, sepeda, sepeda motor, mobil bahkan rumah merupakan contoh kebutuhan manusia. Selain itu, masih banyak kebutuhan manusia yang lain, baik yang berupa barang maupun jasa. Beragamnya barang dan jasa itu merupakan bukti bahwa kebutuhan manusia sangat bervariasi. Bahkan mungkin Anda akan kesulitan menyebutkan satu per satu. Di sisi lain, sumber daya untuk memenuhi kebutuhan manusia bersifat langka (scarce). Di sinilah ilmu ekonomi memegang peranannya, yaitu menentukan pilihan penggunaan sumber daya yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan.

Kebutuhan manusia merupakan faktor utama yang menggerakkan perekonomian masyarakat. Coba Anda pikirkan sejenak! Untuk memenuhi kebutuhan akan rumah, kita memerlukan tenaga insinyur, tukang bangunan, dan bahan bangunan. Setelah bangunannya selesai, kita membutuhkan berbagai pelengkapan rumah maupun alat rumah tangga. Adanya kebutuhan akan mendorong manusia melakukan kegiatan produksi dan distribusi. Dengan demikian, selama ada kebutuhan, selama itu pula ada kegiatan ekonomi untuk memenuhinya.

Mengapa kebutuhan manusia harus dipenuhi? Dengan memper- oleh makanan kita akan kenyang. Dengan memakai pakaian kita terhindar dari udara panas dan dingin serta terlihat sopan. Berkat alat transportasi, mobilitas kita lebih mudah. Semua contoh tersebut membuktikan bahwa karena kebutuhannya terpenuhi, hidup manusia bisa terus berlangsung. Bisa berarti dengan terpenuhinya kebutuhan manusia maka manusia menjadi sejahtera.

Dari uraian di atas, maka bisa disimpulkan bahwa kebutuhan merupakan segala sesuatu yang diperlukan manusia dalam rangka menyejahterakan hidupnya. Kebutuhan mencerminkan adanya perasaan ketidakpuasan atau kekurangan dalam diri manusia yang ingin dipuaskan. Orang membutuhkan sesuatu karena tanpa sesuatu itu ia merasa ada yang kurang dalam dirinya.

1. Kebutuhan Manusia yang Tidak Terbatas

Sebagai manusia, Anda memiliki kebutuhan. Apabila satu kebutuhan telah terpenuhi, kebutuhan lain akan muncul. Mengapa demikian? Sifat kebutuhan manusia adalah tidak terbatas. Pada dasarnya, manusia tidak pernah puas. Konsep ini sudah dijelaskan oleh para pemikir mazhab klasik seperti Adam Smith. Menurutnya, setiap kegiatan ekonomi masyarakat didorong oleh prinsip-prinsip mendahulukan kepentingan (kebutuhan) diri sendiri. Kebutuhan manusia sendiri terus meningkat dan berubah karena berbagai macam faktor, yaitu:

a. Usia

Anda tentu masih ingat apa kebutuhan Anda ketika masih bayi. Ketika baru lahir kebutuhan kita yang utama adalah susu dan popok bayi. Menginjak usia empat bulan kita sudah membutuhkan makanan lumat seperti bubur. Beberapa bulan kemudian kita sudah makan makanan yang lebih bervariasi. Setelah masuk usia sekolah, Anda membutuhkan pendidikan formal. Mulai dari SD, SMP, dan SMA. Selama masa sekolah, kebutuhan Anda juga bertambah seperti alat-alat tulis, buku pelajaran, transportasi, dan sebagainya. Demikian pula ketika Anda menikah dan berkeluarga, kebutuhan Anda terus bertambah. Hal ini menunjukkan jenis atau jumlah kebutuhan selalu meningkat seiring perkembang- an usia.

b. Pendidikan

Kebutuhan manusia juga berkembang seiring dengan tingkat pendidikannya. Ketika Anda duduk di bangku SD, kebutuhan Anda tentu tidak sebanyak ketika Anda duduk di bangku SMP. Misalnya untuk alat-alat sekolah, ketika di SD buku yang Anda perlukan tidak sebanyak ketika di SMP. Ketika di SMA seperti sekarang, kebutuhan buku Anda lebih banyak lagi. Itu baru dalam hal peralatan sekolah. Apakah kebutuhan uang saku Anda juga meningkat?

c. Teknologi

Perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan. Sekarang Anda sudah biasa melihat orang berbicara lewat telepon sambil jalan-jalan. Ini adalah akibat dari perkembangan teknologi komunikasi yang menghasilkan handphone (telepon genggam). Dengan memiliki handphone, orang menjadi lebih mudah berkomunikasi, lebih gaya, dan tidak dianggap gagap teknologi. Orang pun merasa bahwa handphone adalah kebutuhan yang tidak kalah penting dari makanan atau pakaian, maka tidak jarang Anda melihat orang yang selalu berganti-ganti handphone demi mengikuti perkembangan teknologi tersebut. Coba Anda temukan lagi peningkatan kebutuhan akibat perkembangan teknologi yang ada di lingkungan sekitar Anda!

d. Pendapatan

Coba perhatikan orang-orang di sekitar tempat tinggal Anda. Tentu Anda dapat membedakan mana yang berpendapatan tinggi dan mana yang berpendapatan rendah. Apakah kebutuhan mereka berbeda? Coba lihat, mengapa tetangga Anda ada yang menggunakan mobil ketika bepergian, sementara ada pula yang hanya mengayuh sepeda. Ini membuktikan bahwa tinggi rendahnya pendapatan berpengaruh terhadap kebutuhan. Mungkin tetangga Anda yang hanya mengayuh sepeda itu kelak akan berganti motor ketika pendapatannya meningkat.

e. Jumlah Penduduk

Kebutuhan akan semakin besar seiring dengan pertambahan penduduk. Hal ini tentu mudah Anda pahami. Perhatikanlah keluarga Anda. Setiap anggota keluarga pasti memiliki kebutuhan sendiri. Misalnya, Anda membutuhkan makanan untuk tiga kali sehari, tiga pasang baju seragam, dua pasang sepatu, dan seterusnya. Semakin banyak jumlah anggota keluarga, semakin besar dan beragam pula kebutuhannya. Demikian juga dalam lingkup yang lebih luas seperti negara. Ini bisa Anda lihat dari besarnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.

f. Iklan atau Promosi Produk

Dalam kehidupan modern, kebutuhan manusia juga banyak dipenga- ruhi oleh perkembangan produk-produk baru dan promosi produk melalui berbagai media massa. Sebagai contoh, sering kita membeli suatu produk hanya karena iklan produk tersebut sering muncul di televisi. Iklan memang dirancang untuk memengaruhi persepsi konsumen bahwa produk tersebut sesuai dengan kebutuhan calon konsumen.

TUGAS KELOMPOK

Selain bersifat tidak terbatas, kebutuhan antarorang per orang dan antarmasyarakat satu dengan lainnya berbeda-beda. Bahkan, antara Anda dan teman sebangku Anda dapat berbeda-beda. Coba diskusikan dengan teman kelompok Anda, faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan kebutuhan tersebut. Tulislah hasilnya dalam tabel seperti contoh berikut ini. Tukarkan hasilnya dengan kelompok lain dan buatlah kesimpulannya.

Baca selanjutnya : 2. Macam-Macam Kebutuhan

Tentang Materi Evaluasi Pembelajaran Media Pendidikan

Tentang Materi Evaluasi Pembelajaran Media Pendidikan

Tentang Materi Evaluasi Pembelajaran Media Pendidikan

Evaluasi Pembelajaran
Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi Pembelajaran – Media pendidikan sebelum digunakan secara luas perlu dievaluasi terlebih dahulu, baik dari segi isi materi, segi edukatif, maupun segi teknis permediaan, sehingga media tersebut memenuhi persyaratan sebagai media pendidikan. Evaluasi media dimaksudkan untuk mengetahui apakah media yang dibuat/ dipproduksi dapat mencapai tujuan yang ditetapkan atau tidak. Hal ini penting untuk diperhatikan dan dilakukan karena banyak orang yang beranggapan bahwa sekali mereka membuat media pasti baik. Untuk itu perlu dibutuhkan dengan cara menguji.

Evaluasi Pembelajaran

a. Tujuan Evaluasi Media Pendidikan Dalam buku pedoman evaluasi media pendidikan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (1988/1989) dinyatakan bahwa evaluasi media mempunyai tujuan sebagai berikut: 1. Memberikan pedoman kepada instansi pemerintah dalam mengadakan media pendidikan yang bermutu. 2. Memberikan pedomam kepada guru dalam membuat media pendidikan yang bermutu. 3. Memberikan pedoman kepada produsen dalam memproduksi media pendidikan yang bermutu. 4. Melindungi sekolah dari penggunaan media pendidikan yang tidak dapat 5. dipertanggungjawabkan dari segi teknis kependidikan.

Evaluasi Pembelajaran

b. Macam Evaluasi Media Evaluasi media pendidikan dapat dikelompokkan menjadi dua macam yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif adalah proses yang dimaksudkan untuk mengumpulkan data tentang efektivitas dan efisiensi media untuk mencapai tujuan yang ditetapkan. Data tersebut dimaksudkan untuk memperbaiki dan menyempurnakan media yang bersangkutan agar lebih efektif dan efisien. Evaluasi sumatif adalah proses pengumpulan data untuk menentukan apakah media yang dibuat patut digunakan dalam situasi-situasi tertentu atau apakah media tersebut benar-benar efektif atau tidak, setelah media tersebut diperbaiki dan disempurnakan.

Evaluasi Pembelajaran

Evaluasi dalam pembahasan ini difokuskan pada evaluasi formatif. Evaluasi formatif terdiri dari tiga tahapan yaitu: evaluasi satu lawan satu (one to one), evaluasi kelompok kecil (small group evaluation), dan evaluasi lapangan (field evaluation).

Evaluasi Pembelajaran

1. Evaluasi Satu lawan Satu (one to one)

Pada tahap ini pilihlah dua orang sasaran/siswa yang dapat mewakili populasi target dari media yang telah dibuat. Kedua orang tersebut hendaknya satu orang diambil dari populasi yang kemampuannya di atas rata-rata, sedangkan yang satu orang lagi kemampuannya di bawah rata-rata. Sajikan media tersebut kepada mereka secara individual. Kalau media itu didesain untuk belajar mandiri, maka biarkanlah dia mempelajarinya, sementara itu kita mengamatinya. Dari kegiatan ini sebenatrnya ada beberapa informasi yang dapat diperoleh diantaranya : kesalahan pemilihan kata atau uraian-uraian tak jelas, kesalahan dalam memilih lambang-lambang visual, kurangnya contoh, terlalu banyak atau sedikitnya materi, urutan/sequence yang keliru, pertanyaan atau petunjuk yang kurang jelas, materi tidak sesuai dengan tujuan.

Evaluasi Pembelajaran

2. Evaluasi Kelompok Kecil (small group evaluation) Pada tahap ini media diujicobakan kepada sasaran/siswa kurang lebih 10 – 20 siswa yang dapat mewakili populasi target. Siswa/sasaran yang dipilih untuk uji coba ini hendaknya mencerminkan karakteristik populasi. Usahakan sampel tersebut terdiri dari siswa/sasaran berbagai tingkat kemampuan (pandai, sedang, kurang pandai), jenis kelamin berbeda-beda (laki-laki, dan perempuan), berbagai usia, latar belakang.

3. Evaluasi Lapangan (field evaluation) Evaluasi lapangan (field evaluation) adalah tahap akhir dari evaluasi formatif yang perlu dilakukan. Evaluasi lapangan dilakukan kepada sekitar 30 orang dengan berbagai karakteristik seperti tingkat kepandaiannya, kelas, latar be;akang , jenis kelamin, usia, sesuai dengan karakteristik populasi. Satu hal yang perlu dihindari baik pada dua tahap evaluasi terdahulu maupun evaluasi lapangan ini yaitu efek halo (hallo effect) . Hallo effect muncul apabila media yang dicobakan pada responden yang salah. Maksudnya apabila kita mencobakan media kepada mereka yang belum pernah melihat media tersebut. Jika demikian maka informasi yang diperoleh banyak dipengaruhi oleh sifat kebaruan tersebut sehingga kurang dapat dipercaya. Disamping melakukan kegiatan seperti di atas, dalam mengevaluasi media dapat juga dilakukan dengan cara berkonsultasi/mencobakannya kepada ahli bidang studi (content expert) dan ahli media/pengkaji media (media expert). Ahli bidang studi diharapkan akan banyak memberikan masukan kepada pembuat media dari sisi software terutama mengenai iisi/materi program. Konsultasi kepada ahli media diharapkan akan banyak memberikan masukan tentang software, misalnya dalam media auido kaset berkaitan dengan narasi, musik, dan efek suara.

c. Kriteria Penilaian

Ahli bidang studi dan ahli media dalam melakukan evaluasi perlu mempertimbangkan kriteria penilaian/evaluasi. Kriteria penilaian dimaksud merupakan pedoman penilai dalam melaksanakan penilaian media pendidikan baik yang berkait dengan software (perangkat lunak) maupun hardware (perangkat keras).

1. Kriteria Penilaian Perangkat Lunak (software) Kriteria penilaian perangklat lunak (software) media pendidikan dibagi menjadi dua bagian yaitu kriteria penilaian yang menyangkut fisik perangkat lunak dan kriteria penilaian yang menyangkut isi perangkat lunak. Contoh kriteria: A. Kriteria Fisik Perangkat Lunak 1). Kriteria penilaian fisik program kaset audio a. Setiap program kaset audio disertai buku penyerta/petunjuk pemaikaian. b. Menggunakan pita (kaset) standar/bermutu c. Menggunakan pita (kaset) ukuran C 60 atau C 90 d. Disertai lembar evaluasi e. Memiliki kantong (wadah) untuk melindungi buku penyerta, pita (kaset audio), dan lembar evaluasi. f. Kaset dan kantong diberi label yang memuat judul, sasaran, bidang studi, dan durasi/lama putar.

2). Kriteria Penilaian Fisik Program Slide b. Setiap program slide disertai buku penyerta/petunjuk pemakaian. c. Menggunakan film positif berwarna ukuran 35 mm (standar) d. Menggunakan bingkai (frame) standar dan bermutu e. Setiap bingkai diberi judul program dan nomor urut dari program tsb. f. Setiap frame dimasukkan ke dalam slide file. g. Disertai dengan lembar evaluasi h. Memiliki kantong untuk melindungi buku penyerta, slide, dan lembar evaluasi. i. Kantong program memiliki label yang memuat judul, sasaran, bidang studi, dan durasi.

3). Kriteria Penilaian Fisik Program Video/VCD a. Setiap program video disertai dewngan buku petunjuk pemaikaian/ penyerta. b. Menggunakan pita (kaset) video yang standar dan bermutu c. Pada setiap pita (kaset) video dicantumkan judul program, bidang studi, dan sasaran. d. Pada setiap pita (kaset) video disertai dengan tanda lolos sensor e. Disertai dengan lembar evaluasi f. Memiliki kantong untuk tempat untuik melindungi buku penyerta, pita (kaset) video, lembar evaluasi. g. Setiap kantong program memiliki label yang memuat judul, sasaran, bidang studi, dan durasi. 2. Kriteria Penilaian Isi Perangkat Lunak (Kriteria Khusus) 1). Kaset Audio a. Segi materi 1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan 2) mudah dimengerti 3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa 4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit 5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit b. Segi Narasi 1) Volume suara cukup baik 2) intonasi suara cukup baik 3) gaya bahasa 4) Kejelasan ucapan 5) Tempo ucapan c. Segi Musik/Efek suara 1) Ilustrasi musik mendukung program 2) Efek suara mendukung program 3) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras 4) Slide Suara d. Segi materi 1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan 2) mudah dimengerti 3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa 4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit 5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit e. Segi Narasi 1) Volume suara cukup baik 2) intonasi suara cukup baik 3) gaya bahasa 4) Kejelasan ucapan  5) Tempo ucapan f. Segi Visualisasi 1) ukuran gambar 2) komposisi gambar 3) warna gambar 4) ketajaman gambar 5) Pencahayaan gambar 6) ilustrasi mendukung gambar 7) huruf mudah digambar 8) caption/grafis menarik g. Segi Musik/Efek suara 1) Ilustrasi musik mendukung program 2) Efek suara mendukung program 3) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras h. Segi Penyajian 1) sistematis 2) Pergantian gambar tidak terlalu cepat 1) 3. Kaset Video/VCD i. Segi materi 1) sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan 2) mudah dimengerti 3) sesuai dengan tingkat kemampuan siswa 4) Bahan disajikan dari yang mudah menuju sulit 5) Tidak banyak menggunakan kata-kata sulit j. Segi Narasi 1) Volume suara cukup baik 2) intonasi suara cukup baik 3) gaya bahasa 4) Kejelasan ucapan 5) Tempo ucapan k. Segi Visualisasi 1) ukuran gambar 2) komposisi gambar 3) warna gambar 4) ketajaman gambar  5) Pencahayaan gambar 6) ilustrasi mendukung gambar 7) huruf mudah digambar 8) caption/grafis menarik l. Segi Musik/Efek suara 2) Ilustrasi musik mendukung program 3) Efek suara mendukung program 4) Ilustrasi musik/efek suara tidak terlalu keras m. Segi Penyajian 1) sistematis 2) Pergantian gambar tidak terlalu cepat 2. Kriteria Penilaian Perangkat Keras (hardware) Media Pendidikan Kriteria penilaian perangkat keras (hardware) media pendidikan dibagi menjadi dua bagian yaitu kriteria yang bersifat umum dan kriteria penilaian yang bersifat khusus. Kriteria umum berlaku untuk semua jenis perangkat keras media pendidikan, seperti: 1. Praktis, kuat, dan mudah dioperasikan 2. Suku cadang mudah didapat 3. memberikan perlindungan keamanan bagi pemakai. 4. standar untuk digunakan di Indonesia Kriteria khusus perangkat media pendidikan yang bersifat khusus berlaku hanya untuk jenis perangkat keras yang yang bersangkutan. Kriteria ini merupakan pedoman bagi penilai media pendidikan dalam menilai spesifikasi teknis yang dimiliki oleh setiap perangkat keras yang akan dinilai.

 

Perkembangan Pendidikan Barat dan Islam

Perkembangan Pendidikan Barat dan Islam

Perkembangan Pendidikan Barat dan Islam

Dalam bidang politik, pemerintah kolonial Belanda pernah menerapkan politik etis yang mulai dilaksanakan lebih intensif pada saat Hindia Belanda (Indonesia) berada di bawah Gubernur Jenderal Idenburg tahun 1899-1906. Politik ini difokuskan pada pengembangan edukasi atau pendidikan, migrasi atau kependudukan, dan irigasi atau pengairan. Edukasi dimaksudkan untuk mendidik warga pribumi agar memiliki keterampilanketerampilan yang diperlukan untuk mendukung birokrasi dan administrasi kolonial Belanda. Pemerintah kolonial mendirikan sekolah bagi para pamongpraja (para pegawai) yang kelak lulusannya dapat dipekerjakan di kantor pemerintah. Adapun irigasi dimaksudkan untuk meningkatkan produksi pertanian dan perkebunan rakyat. Sementara migrasi merupakan program pemindahan penduduk dari daerah padat di Jawa ke daerah yang masih jarang penduduknya di luar Jawa.

Perkembangan Pendidikan Barat dan Islam
Perkembangan Pendidikan Barat dan Islam

Prinsip edukasi dalam pelaksanaanya dikembangkan lebih baik dari yang lainya, penduduk pribumi diberi kesempatan yang secara terbuka untuk masuk ke sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Namun demikian terdapat perbedaan pendekatan pelaksanaanya. Pendekatan pertama dikemukakan oleh Snouck Hurgronje. Dia berpendapat bahwa pendidikan model Barat ialah yang paling tepat diterapkan bagi penduduk pribumi sehingga kesempatan harus dibuka terutama bagi warga pribumi dari kalangan yang mampu dan memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Warga pribumi harus dididik dengan cara Barat dan menggunakan bahasa Belanda sebagai bahasa pengantarnya. Pendekatan ini bertujuan untuk mendidik warga pribumi sehingga memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk memperkuat pemerintahan jajahan di Indonesia.

Pendekatan kedua dikemukakan oleh Idenburg dan van Heutsz yang menjadi gubemur jenderal pada 1904–1909. Pendekatan ini menginginkan bahwa edukasi yang diterapkan menekankan kepada pendekatan praktis dan sifatnya mendasar bagi masyarakat pribumi. Pada akhirnya, konsep Idenburg dan van Heutsz lebih diterima dan dikembangkan. Karena, konsep ini lebih mengarah kepada budaya lokal dan lebih menekankan kepada peningkatan kesejahteraan pribumi. Dalam rangka melaksanakan politik etis, pemerintah kolonial melakukan penataan sistem pendidikan yang sudah ada. Tiga sekolah praja Qwofdenschool di Bandung, Magelang, dan Probolinggo yang didirikan pada akhir abad ke-19 melakukan upaya penataan ulang. Sekolah tersebut bertujuan untuk melahirkan para birokrat yang dapat bekerja pada pemerintah kolonial. Disekolah tersebut diajarkan pendidikan umum dan berbagai pengetahuan dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa Belanda pemerintah kolonial Belanda.

Selain sekolah pamongpraja, terdapat sekolah lain yaitu sekolah dokter Jawa atau School tot Opieiding van Inlandische Arisen (STOVIA) yang diperuntukkan bagi pribumi untuk menjadi dokter. Kemudian pemerintah kolonial juga mendirikan sekolah guru atau kweekschool yang bertujuan mendidik kaum pribumi untuk menjadi guru yang berpendidikan Belanda. Pemerintah kolonial juga melakukan penataan ulang sekolah untuk tingkat dasar dan menengah yang mulai di buka sejak 1892-1893.

Sekolah tersebut dibagi menjadi dua, yaitu: 1) sekolah kelas satu (eerste klasse) dibuka untuk anak-anak priyayi atau keturunan bangsawan pribumi dengan bahasa pengantar bahasa Belanda; 2) sekolah kelas dua atau (tweede klasse) adalah sekolah untuk rakyat biasa dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah atau bahasa Melayu dan tanpa pelajaran bahasa Belanda. Sekolah kelas satu diubah pada 1914 menjadi Holandsch-Indische Scholen (HIS). Sekolah ini merupakan sekolah Belanda-pribumi yang setingkat Sekolah Dasar dengan sistem pendidikan model Eropa. Lulusan dari sekolah itu dapat meneruskan ke jenjang SLTP yang disebut Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) yang sudah didirikan pada 1914. Sekolah ini didirikan hanya untuk kalangan priyayi atau bangsawan.

Lulusan dari MULO dapat meneruskan ke Algemeene Middlebare School (AMS) setingkat SMU yang sudah didirikan pada 1919. Sekolah ini menyiapkan para siswa untuk memasuki perguruan tinggi di Negeri Belanda. Jumlah penduduk pribumi yang memasuki sekolah Belanda atau sekolah priyayi hanya sedikit sekali. Hal ini disebabkan pemerintah kolonial membatasi kesempatan tersebut yang didasarkan atas kedudukan ekonomi keluarga serta asal-usul keturunan. Hanya anak kaum priyayi atau bangsawan yang diberi kesempatan untuk masuk ke sekolah HIS, MULO, atau AMS. Oleh karena itu, pada 1905 hanya terdapat 36 orang Indonesia yang dapat meneruskan sekolah ke universitas di Negeri Belanda.

Salah seorang Indonesia yang memperoleh gelar doktor (S-3) dari universitas di negeri Belanda adalah Husein Djajadiningrat, seorang keluarga Bupati di Jawa Barat. la menulis disertasi berjudul Tinjauan Kritis tentang Sejarah Banten (Cristische Beschouwing van de Sedjarah Banten) dan menyelesaikan doktornya dari Universitas Leiden pada 1913. Dalam perkembanganya, tepatnya pada 1920, pemerintah kolonial Belanda mulai menghapuskan diskriminasi dalam sistem pendidikan. Semua penduduk pribumi diperbolehkan memasuki sekolah apa saja, asal memiliki uang untuk membayar biayanya. Pada 1920, dibuka Technische Hooge School (Sekolah Tinggi Teknik) yang kelak menjadi ITB di Bandung. Pada l924, dibuka Rechtskundige Hooge School (Sekolah Hakim Tinggi) di Batavia (Jakarta) dan tahun 1927, STOVIA diubah menjadi Geneeskundige Hoogeschool (Sekolah Tinggi Kedokteran). Semua sekolah tersebut terbuka untuk semua golongan.

Penghapusan perbedaan ras atau asal-usul keturunan terlihat dalam pembukaan sekolah-sekolah di desa (desascholen atau volksscholen). Sekolah-sekolah yang menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah tersebut dibiayai oleh penduduk dengan bantuan pemerintah kolonial. Jumlah peminatnya cukup tinggi dan tersebar di berbagai desa. Pada 1912, telah berdiri sejumlah 2500 sekolah desa dan pada 1930 meningkat menjadi 9600 sekolah. Lebih dari 40 persen anak-anak pribumi usia SD memasuki sekolah desa dan sebagian di antaranya masuk ke sekolah sambungan (Schakelschool) sebelum memasuki HIS atau MULO. Di samping pendidikan umum, politik etis juga mendorong lahirnya pendidikan keterampilan. Pendidikan ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja bagi keperluan kedinasan yang semakin bertambah. Sekolah-sekolah kejuruan yang didirikan meliputi sekolah teknik, pertanian, perternakan, kehutanan, perdagangan, hukum, dan guru. Kebijakan politik etis berpengaruh luas terhadap peningkatan pendidikan bangsa Indonesia. Hal ini tampak dari lahirnya banyak sekolah, baik yang didirikan oleh pemerintah kolonial, sekolah-sekolah Islam yang dikelola pesantren, misi-misi Kristen, serta pendidikan perempuan, seperti R.A.

Kartini di Jawa Tengah dan Raden Dewi Sartika di Jawa Barat, serta sekolah-sekolah perempuan lainnya di berbagai daerah. Perkembangan sampai 1900, jumlah orang Indonesia yang memasuki sekolah formal berjumlah 265.940 siswa dan tiga puluh tahun kemudian jumlah itu meningkat lagi menjadi 1,7 juta penduduk. Adapun yang dapat bersekolah di sekolah Belanda mulai dari HIS, MULO, AMS, yaitu 84.609. Sebagian kecil dari lulusan AMS atau sejumlah 178 orang menjadi mahasiswa di berbagai perguruan tinggi. Jumlah kelompok terdidik itulah yang kelak menjadi kelompok masyarakat yang pertama menyadari bahwa penjajahan Belanda harus diakhiri. Mereka juga menginginkan agar mendirikan negara merdeka dengan pemerintahan sendiri. Hal ini menjadi tujuan utama perjuangan mereka. Selain pendidikan yang dimotori oleh pemerintah kolonial, peran pendidikan Islam dalam melahirkan nasionalisme juga sangat penting.

Golongan terpelajar Islam lahir karena pendidikan pesantren. Pendidikan ini memiliki tradisi yang panjang dan bahkan lahir sebelum pemerintah kolonial Belanda menyelenggarakan pendidikan Barat. Sebagian penduduk Indonesia yang mulai menyadari bahwa pendidikan itu adalah penting mulai menyekolahkan anak- anaknya ke pesantren. Dengan bekal pendidikan agama serta pendidikan umum, banyak di antara alumni pesantren yang menjadi tokoh masyarakat.

Banyak di antara lulusan pesantren yang mampu melaksanakan ibadah haji ke Mekkah. Setelah melalui perjalanan panjang dari tempat asal mereka ke Mekkah dan lamanya tinggal di negeri Arab, banyak jemaah haji Indonesia yang bergaul dengan umat Islam dari seluruh dunia. Melalui pergaulan dan pertukaran pengetahuan dan pengalaman itu, pandangan jemaah haji Indonesia tentang dirinya, agama yang dianut serta keadaan negaranya semakin terbuka. Mereka juga mulai menyadari bahwa penjajahan Belanda sangat merugikan mereka dan kepentingan umat Islam. Kesadaran tersebut kemudian disebarkan ke lingkungan pesantren mereka setelah tiba di tanah air.

Adanya pendidikan Islam serta banyaknya umat Islam yang melaksanakan ibadah haji pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, lahir pula kelompok umat Islam Indonesia yang berpandangan modern. Mereka disebut sebagai golongan Islam modernis. Kelompok ini menyadari bahwa sebagian besar orang Indonesia adalah sangat miskin dan terbelakang.

Mereka menghendaki bahwa untuk mengatasi hal itu diperlukan perjuangan di berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, dan politik. Dalam bidang pendidikan, sebagian kaum Islam modernis juga menghendaki didirikannya pendidikan Islam yang modern, baik berbentuk pesantren maupun pendidikan umum. Organisasi-organisasi seperti Muhammadiyah dan lainnya merupakan organisasi yang menyadari betapa pentingnya aspek pendidikan untuk meningkatkan harkat dan derajat warga pribumi yang masih dijajah.