Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan 2

Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan 2

Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan 2

Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan 2
Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan 2

Sugesti dapat dibedakan atas tiga jenis, yaitu sebagai berikut. 1) Sugesti kerumunan (crowd suggestion) adalah penerimaan yang bukan didasarkan pada penalaran, melainkan karena keanggotaan atau kerumunan. Contohnya, adanya tawuran antarpelajar. Siswa-siswa yang terlibat dalam tawuran pada umumnya dilakukan atas dasar rasa setia kawan. 2) Sugesti negatif (negative suggestion) ditujukan untuk menghasilkan tekanan-tekanan atau pembatasan tertentu. Contohnya, seorang pemuda akan mengancam kekasihnya apabila cintanya berpaling kepada pemuda lain sehingga kekasih pemuda tersebut akan menurut. 3) Sugesti prestise (prestige suggestion) adalah sugesti yang muncul sebagai akibat adanya prestise orang lain. Contohnya, tokoh masyarakat menganjurkan agar semua warganya melakukan kerja bakti membersihkan lingkungan maka anjuran tersebut akan dilaksanakan tanpa didahului dengan proses berpikir.

c. Identifikasi Identifikasi adalah kecenderungan dalam diri seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain. Identifikasi merupakan bentuk lebih lanjut dari proses imitasi dan proses sugesti yang pengaruhnya cukup kuat. Orang lain yang menjadi sasaran identifikasi dinamakan idola. Contohnya seorang remaja mengidentifikasikan dirinya dengan seorang penyanyi terkenal yang ia kagumi. Kemudian, ia akan berusaha mengubah penampilan dirinya agar sama dengan penyanyi idolanya, mulai dari model rambut, pakaian, gaya bicara, bahkan sampai makanan kesukaan. Sikap, perilaku, keyakinan, dan pola hidup yang menjadi idola akan melembaga bahkan menjiwai para pelaku identifikasi sehingga sangat berpengaruh terhadap pembentukan dan perkem bangan kepribadiannya.

d. Simpati Simpati merupakan faktor yang sangat penting dalam proses interaksi sosial, yang menentukan proses selanjutnya. Simpati merupakan proses yang menjadikan seseorang merasa tertarik kepada orang lain. Rasa tertarik ini didasari oleh keinginan untuk memahami pihak lain dan memahami perasaannya ataupun bekerja sama dengannya. Dengan demikian, simpati timbul tidak atas dasar logis rasional, tetapi berdasarkan penilaian perasaan semata-mata, seperti pada proses identifikasi. Contohnya, ucapan turut sedih dan rasa bela sungkawa kepada teman yang tertimpa musibah; mengucapkan selamat dan turut bergembira kepada orang lain yang menerima kebahagiaan. Dibandingkan ketiga faktor interaksi sosial sebelumnya, simpati terjadi melalui proses yang relatif lambat, namun pengaruh simpati lebih mendalam dan tahan lama. Agar simpati dapat berlangsung, diperlukan adanya saling pengertian antara kedua belah pihak. Pihak yang satu terbuka mengungkapkan pikiran ataupun isi hatinya. Adapun pihak yang lain mau menerimanya. Itulah sebabnya, simpati dapat menjadi dasar terjalinnya hubungan persahabatan.

3. Pola Interaksi Sosial Bentuk jalinan interaksi yang terjadi antara individu dan individu, individu dan kelompok, dan kelompok dan kelompok bersifat dinamis dan mempunyai pola tertentu. Apabila interaksi sosial tersebut diulang menurut pola yang sama dan bertahan untuk jangka waktu yang lama, akan terwujud hubungan sosial yang relatif mapan.

Pola interaksi sosial memiliki ciri-ciri sebagai berikut. a. Berdasarkan kedudukan sosial (status) dan peranannya. Contohnya, seorang guru yang berhubungan dengan muridnya harus mencermin kan perilaku seorang guru. Sebaliknya, siswa harus menaati gurunya. b. Merupakan suatu kegiatan yang terus berlanjut dan berakhir pada suatu titik yang merupakan hasil dari kegiatan tadi. Contohnya, dari adanya interaksi, seseorang melakukan penyesuaian, pembauran, terjalin kerja sama, adanya per-saingan, muncul suatu pertentangan, dan seterusnya. c. Mengandung dinamika. Artinya, dalam proses interaksi sosial terdapat berbagai keadaan nilai sosial yang diproses, baik yang mengarah pada kesempurnaan maupun kehancuran. Contohnya, penerapan nilai-nilai agama dalam kehidupan masyarakat dapat menciptakan keteraturan sosial. d. Tidak mengenal waktu, tempat, dan keadaan tertentu. Berarti interaksi sosial dapat terjadi kapan dan di manapun, dan dapat berakibat positif atau negatif terhadap kehidupan masyarakat. Contohnya, sebuah sekolah yang terkenal memiliki disiplin dan tata tertib yang ketat dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, pada suatu ketika menjadi tercemar karena ada siswanya yang melakukan tindakan amoral. Klasifikasi interaksi sosial. Berdasarkan bentuknya, interaksi sosial dapat diklasifikasikan menjadi tiga pola, yaitu sebagai berikut.

a. Pola Interaksi Individu dengan Individu Dalam mekanismenya, interaksi ini dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan yang mengakibatkan munculnya beberapa fenomena, seperti jarak sosial, perasaan simpati dan antipati, intensitas, dan frekuensi interaksi. Jarak sosial sangat dipengaruhi oleh status dan peranan sosial. Artinya, semakin besar perbedaan status sosial, semakin besar pula jarak sosialnya, dan sebaliknya. Anda mungkin pernah menyaksikan “si kaya” (bersifat superior) yang suka menjaga jarak dengan “si miskin” (bersifat inferior) dalam pergaulan sehari-hari karena adanya perbedaan status sosial di antara mereka. Apabila jarak sosial relatif besar, pola interaksi yang terjadi cenderung bersifat vertikal, sebaliknya apabila jarak sosialnya kecil (tidak tampak), hubungan sosialnya akan berlangsung secara horizontal. Simpati seseorang didasari oleh adanya kesamaan perasaan dalam berbagai aspek kehidupan. Sikap ini dapat pula diartikan sebagai perasaan kagum atau senang terhadap orang lain ketika salah satu pihak melakukan sebuah tindakan ataupun terjadi interaksi di antara keduanya. Adapun antipati muncul karena adanya perbedaan penafsiran terhadap sesuatu sehingga menimbulkan perasaan yang berbeda dengan pihak lain.

Dua orang saudara bisa saja tidak saling mengenal akibat intensitas dan frekuensi interaksi di antara keduanya tidak ada atau jarang sekali terjadi. Akan tetapi, dua orang yang baru berkenalan bisa saja menjadi sahabat bahkan saudara karena intensitas dan frekuensi interaksinya yang sering. Pola interaksi individu dengan individu ditekankan pada aspekaspek individual, yang setiap perilaku didasarkan pada keinginan dan tujuan pribadi, dipengaruhi oleh sosio-psikis pribadi, dan akibat dari hubungan menjadi tanggung jawabnya. Contohnya, seseorang sedang tawar menawar barang dengan pedagang di kaki lima; dua insan sedang berkasih-kasihan; orang-orang bertemu di jalan dan saling menyapa.

b. Pola Interaksi Individu dengan Kelompok Pola ini merupakan bentuk hubungan antara individu dan individu sebagai anggota suatu kelompok yang menggambarkan mekanisme kegiatan kelompoknya. Dalam hal ini, setiap perilaku didasari kepentingan kelompok, diatur dengan tata cara yang ditentukan kelompoknya, dan segala akibat dari hubungan merupakan tanggung jawab bersama. Contohnya, hubungan antara ketua dengan anggotanya pada karang taruna tidak dikatakan sebagai hubungan antarindividu, tetapi hubungan antarindividu dengan kelompok sebab menggambarkan mekanisme kelompoknya. Pola interaksi individu dengan kelompok memiliki beberapa bentuk ideal yang merupakan deskripsi atau gambaran dari pola interaksi yang ada di masyarakat. Harold Leavitt, menggambarkan terdapat empat pola interaksi ideal, yaitu pola lingkaran, pola huruf X, pola huruf Y, dan pola garis lurus.

Pola lingkaran merupakan pola interaksi yang menunjukkan adanya kebebasan dari setiap anggota untuk berhubungan dengan pihak manapun dalam kelompoknya (bersifat demokratis), baik secara vertikal maupun horizontal. Akan tetapi, pola ini sulit dalam menentukan keputusan karena harus ditetapkan bersama. Pola huruf X dan Y ditandai dengan terbatasnya hubungan antaranggota kelompok sebab hubungan harus dilakukan melalui birokrasi yang kaku, tetapi mekanisme kelompok mudah terkendali karena adanya pemimpin yang dapat menguasai dan mengatur anggotanya walaupun dipaksakan. Pola garis lurus hampir sama dengan pola huruf X dan Y, yang di dalamnya hubungan antaranggota tidak dilakukan secara langsung atau melalui titik sentral. Akan tetapi, pihak yang akan menjadi mediator dalam hubungan tersebut, bergantung pada individu-individu yang akan berhubungan seperti pada pola lingkaran. Terbatasnya hubungan antaranggota pada pola ini bukan karena otoritas pemimpin, melainkan keterbatasan wawasan setiap anggota dalam berhubungan karena adat istiadat dalam masya rakat. Oleh karena itu, pola garis lurus biasanya menyangkut aspek-aspek kehidupan yang khusus.

c. Pola Interaksi Kelompok dengan Kelompok Hubungan ini mempunyai ciri-ciri khusus berdasarkan pola yang tampak. Pola interaksi antarkelompok dapat terjadi karena aspek etnis, ras, dan agama, termasuk juga di dalamnya perbedaan jenis kelamin dan usia, institusi, partai, organisasi, dan lainnya. Misalnya, kehidupan dalam masyarakat yang saling berbaur walaupun mereka berbeda agama, etnis atau ras; rapat antarfraksi di DPR yang membahas tentang RUU.

3. Tahapan dalam Interaksi Sosial Interaksi sosial merupakan suatu proses sosial. Dalam hal ini, terdapat tahapan yang bisa mendekatkan dan tahapan yang bisa merenggangkan orang-orang yang saling berinteraksi. Tahap yang mendekatkan diawali dari tahap memulai (initiating), menjajaki (experimenting), meningkatkan (intensifying), menyatupadukan (integrating), dan mempertalikan (bonding). Contohnya, pada saat Anda memulai masuk sekolah, kemudian menjajaki hubungan dengan orang lain melalui tegur sapa, saling berkenalan, dan bercerita. Hasil penjajakan ini dapat menjadi dasar untuk memutuskan apakah hubungan Anda akan ditingkatkan atau tidak dilanjutkan. Jika hubungan sudah semakin meningkat, biasanya muncul perasaan yang sama atau menyatu untuk kemudian menjalin tali persahabatan. Pada tahap yang meregangkan, dimulai tahap membeda-bedakan (differentiating), membatasi (circumscribing), menahan (stagnating), menghindari (avoiding), dan memutuskan (terminating). Contohnya, di antara dua orang yang dahulunya selalu bersama. Kemudian, mulai melakukan kegiatan sendiri-sendiri. Oleh karena sering tidak bersama lagi, pembicaraan di antara mereka pun mulai dibatasi. Dalam hal ini, antarindividu mulai saling menahan sehingga tidak terjadi lagi komunikasi. Hubungan lebih mengarah pada terjadinya konflik sehingga walaupun ada komunikasi hanya dilakukan secara terpaksa.

 

Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan

Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan

Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan

Pernahkah Anda membayangkan jika harus hidup tanpa ada orang lain? Mungkin Anda tidak akan dapat hidup seperti sekarang ini. Suatu penelitian pernah dilakukan terhadap seorang anak yang diisolasi dari manusia lain. Anak tersebut disekap dalam suatu ruangan tanpa dikenalkan dengan dunia luar, dan hanya diberi makan minum. Ternyata dalam waktu yang cukup lama, si anak tersebut tidak tahu cara untuk makan, berbicara, dan menyapa. Akibatnya anak tersebut tidak berperilaku seperti manusia. Lama kelamaan karena anak tersebut tidak mampu beradaptasi dalam memper tahankan hidupnya, anak tersebut kemudian meninggal. Pada bab ini Anda akan mempelajari interaksi kehidupan manusia yang senantiasa menyukai dan membutuhkan kehadiran sesamanya. Hal ini membuktikan hakikatnya sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dengan manusia lain. Hubungan yang berlangsung tersebut menghasilkan keteraturan dan dinamika sosial.

Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan
Interaksi Sosial dalam Pengembangan Keteraturan

Interaksi Sosial

Manusia memiliki keinginan untuk bergaul, dan dalam pergaulannya terdapat suatu hubungan saling memengaruhi sehingga cenderung menimbulkan sikap saling membutuhkan. Terdapat beberapa perilaku yang berhubungan dengan interaksi sosial sebagai jalan untuk mencapai tujuan manusia sebagai makhluk sosial. Sebelum membahas tentang interaksi sosial, terlebih dahulu Anda harus mengenal tindakan sosial yang berasal dari tindakan setiap individu. Hal ini dapat memberikan corak terhadap tindakan sosial itu sendiri ataupun interaksi sosial yang terjadi. Tindakan sosial merupakan tindakan individu yang memiliki arti bagi dirinya yang diarahkan pada tindakan orang lain. Tindakan sosial yang dimulai dari tindakan individu-individu memiliki keunikan atau ciri tersendiri. Namun, sebagai makhluk sosial, tindakan manusia seunik apapun tidak terlepas dari pengaruh lingkungan sosialnya. Tindakan apapun yang kita lakukan bisa jadi memengaruhi atau dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di sekitar kita. Mengacu pada panduan Max Weber (1864–1920), tindakan sosial dibedakan menjadi empat tipe tindakan, yaitu sebagai berikut. 1. Rasionalitas Instrumental Tindakan ini merupakan tindakan sosial murni, yang menunjukkan bahwa tindakan dilakukan dengan memperhitungkan kesesuaian antara cara yang digunakan dan tujuan yang akan dicapai (bersifat rasional). Contohnya, seorang siswa memutuskan untuk membeli komputer daripada sepeda motor. Alasannya, komputer lebih menunjang kegiatan belajarnya. Kemudian, ia memilih jenis dan spesifikasi komputer yang harganya terjangkau, sesuai dengan uang yang dimilikinya. Contoh lain, seorang penyanyi yang beraksi di hadapan penggemarnya. Dengan berbagai aksinya tersebut diharapkan penonton dapat puas melihatnya. 2. Rasionalitas Berorientasi Nilai Tindakan ini dilakukan dengan memperhitungkan manfaatnya, tetapi tujuan yang dicapai tidak terlalu dipertimbangkan, yang penting tindakan tersebut baik dan benar menurut penilaian masyarakat. Contohnya, Anda menolong teman yang sedang kesusahan, dan tujuan menolong jelas bukan untuk Anda, tetapi manfaatnya dapat dirasakan jika Anda sedang merasakan kesusahan dan mendapatkan pertolongan orang lain. Tolong-menolong merupakan nilai yang baik dalam masyarakat. Contoh lainnya, orang yang sedang beribadah hanya akan memikirkan tujuan, yaitu agar ibadahnya dapat diterima oleh Tuhan Yang Mahakuasa. 3. Tindakan Afektif Tindakan ini dilakukan dengan dibuat-buat dan didasari oleh perasaan atau emosi dan kepura-puraan seseorang. Tindakan ini tidak dapat dipahami atau irrasional. Contohnya, seseorang mendapat tawaran untuk melakukan pekerjaan, karena orang tersebut ingin mendapat perhatian (pujian) orang lain, ia menyanggupi pekerjaan tersebut yang sebetulnya ia tidak dapat melakukannya. Contoh lain, seorang siswa berteriak sambil melompat-lompat dengan tangan ke atas saat diketahui dirinya lulus masuk perguruan tinggi yang diinginkannya. 4. Tindakan Tradisional Tindakan ini didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan orang-orang terdahulu, tanpa per hitungan secara matang, dan sama sekali tidak rasional. Contohnya, seorang pedagang untuk menjaga uang hasil dagangannya disimpan bersama-sama dengan bawang putih, bawang merah, kemenyan, dan lainnya dengan maksud agar uangnya tidak hilang karena diambil makhluk halus. Contoh lain, misalnya upacara tradisional seringkali tidak dapat diterima secara logika, tetapi masyarakat tetap melakukannya. Tindakan sosial pada diri seseorang baru terjadi apabila tindakan tersebut dihubungkan dengan orang lain. Tindakan seseorang kadangkala tidak digolongkan ke dalam tindakan sosial. Misalnya, seseorang yang sedang melamun dengan mem bayangkan dirinya sebagai seorang artis. Ia tersenyum karena dalam bayangannya banyak sekali hal yang ia lakukan. Walaupun demikian, tindakan orang tersebut bukan merupakan tindakan sosial.

1. Pengertian Interaksi Sosial Dalam kehidupan sehari-hari, manusia selalu berhubungan antara yang satu dan yang lainnya, sejak bangun pagi hingga tidur malam. Hubungan antarmanusia sebagai makhluk sosial dapat dicirikan dengan adanya tindakan untuk berhubungan. Tindakan nya tersebut dapat memengaruhi, mengubah, atau memperbaiki perilaku individu lain, atau sebaliknya. Tindakan seperti ini dinamakan interaksi sosial. Interaksi sosial akan menyebabkan kegiatan hidup seseorang semakin bervariasi dan kompleks. Interaksi sosial merupakan intisari kehidupan sosial. Artinya, kehidupan sosial dapat terwujud dalam berbagai bentuk pergaulan. Melakukan bersalaman, menyapa, berbicara dengan orang lain, sampai perdebatan yang terjadi di sekolah merupakan contoh interaksi sosial. Pada gejala seperti itulah, kita menyaksikan salah satu bentuk kehidupan sosial. Sejak kapan manusia melakukan interaksi sosial? Sejak manusia lahir ke dunia, proses interaksi sudah mulai dilakukan walaupun terbatas pada hubungan yang dilakukan seorang bayi terhadap ibunya. Interaksi sosial erat kaitannya dengan naluri manusia untuk selalu hidup bersama dengan orang lain dan ingin bersatu dengan lingkungan sosialnya. Naluri ini dinamakan gregariousness. Interaksi dapat terjadi apabila salah seorang (individu) melakukan aksi terhadap orang lain dan kemudian mendapatkan balasan sebagai reaksinya. Jika salah satu pihak melakukan aksi dan pihak yang lain tidak melakukan reaksi, interaksi tidak akan terjadi. Misalnya, seseorang berbicara dengan patung atau gambar maka tidak akan menimbulkan reaksi apapun. Oleh karena itu, interaksi sosial dapat terjadi apabila dua belah pihak saling berhubungan dan melakukan tindakan timbal balik (aksi-reaksi). Dari pengertian tersebut, dapat digarisbawahi bahwa interaksi sosial memiliki dua syarat utama, yaitu: a. adanya kontak sosial, aksi-reaksi yang meliputi kontak primer melalui berhadapan langsung (face to face) dan kontak sekunder, yaitu kontak sosial yang dilakukan melalui perantara, seperti melalui telepon, orang lain, dan surat kabar; b. adanya komunikasi sosial, baik langsung (tanpa perantara) maupun tidak langsung, yaitu melalui media komunikasi. Tidak selamanya kontak diikuti oleh komunikasi. Contohnya ketika akan bicara maka seseorang akan bertemu dengan lawan bicaranya. Berarti untuk berkomunikasi, seseorang harus melakukan kontak terlebih dulu.

2. Faktor-Faktor Interaksi Sosial Pernahkah Anda bertemu dengan orang yang juga sedang menatap Anda, tetapi kemudian berlalu begitu saja? Tentu pernah. Pada kejadian tersebut terjadi peristiwa kontak (saling memandang), tetapi tidak terjadi komunikasi. Adapun yang mendorong ter jadinya interaksi sosial dipengaruhi (digerakkan) oleh faktor-faktor dari luar individu. Terdapat empat faktor yang menjadi dasar proses interaksi sosial, yaitu sebagai berikut. a. Imitasi Berarti meniru perilaku dan tindakan orang lain. Sebagai suatu proses, imitasi dapat berarti positif apabila yang ditiru tersebut adalah perilaku individu yang baik sesuai nilai dan norma masyarakat. Akan tetapi, imitasi bisa juga berarti negatif apabila sosok individu yang ditiru adalah perilaku yang tidak baik atau menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Contohnya sebagai berikut. 1) Seorang siswa meniru penampilan selebritis yang ada di televisi, seperti rambut gondrong (panjang), memakai anting, memakai gelang dan kalung secara berlebihan. Tindakan seperti itu dapat mengundang reaksi dari masyarakat yang menilai penampilan itu sebagai urakan ataupun tidak sopan. 2) Seorang balita mulai mengucapkan kata-kata yang diajari ayah atau ibunya. Terdapat beberapa syarat bagi seseorang sebelum melakukan imitasi, yaitu: 1) adanya minat dan perhatian yang cukup besar terhadap hal yang akan ditiru; 2) adanya sikap mengagumi hal-hal yang diimitasi; 3) hal yang akan ditiru cenderung mempunyai penghargaan sosial yang tinggi. b. Sugesti Sugesti merupakan suatu proses yang menjadikan seorang individu menerima suatu cara atau tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. Akibatnya, pihak yang dipengaruhi akan tergerak mengikuti pandangan itu dan menerimanya secara sadar atau tidak sadar tanpa berpikir panjang. Misalnya, seorang siswa bolos sekolah karena diajak temannya bermain. Tanpa diamati manfaat nya, ajakan tersebut diterima dan dilaksanakannya. Sugesti biasanya dilakukan oleh orang-orang yang berwibawa atau memiliki pengaruh besar di lingkungan sosialnya. Akan tetapi, sugesti dapat pula berasal dari kelompok besar (mayoritas) terhadap kelompok kecil (minoritas) ataupun orang dewasa terhadap anakanak. Cepat atau lambatnya proses sugesti ini sangat bergantung pada usia, kepribadian, kemampuan intelektual, dan keadaan fisik seseorang. Misalnya, seorang kakak akan lebih mudah mengan jurkan adiknya untuk rajin belajar agar menjadi anak yang pintar, daripada sebaliknya.

Soal-Soal B.Indonesia Pengembangan Kompetensi

Soal-Soal B.Indonesia Pengembangan Kompetensi

Soal-Soal B.Indonesia Pengembangan Kompetensi

Soal-Soal B.Indonesia
Soal-Soal B.Indonesia

Soal-Soal B.Indonesia

1. Bacalah teks berikut! Sambil membaca, temukan pokok-pokok masalah sebagai bahan diskusi kalian! ODHA Masih Saja Diperlakukan Tidak Adil Sebut saja namanya Yona (35 tahun). Tahun 2003, Yona dikeluarkan dari tempatnya bekerja di sebuah perusahaan penyuplai barang-barang kimia. Yona, ODHA (orang dengan HIV/AIDS), dikeluarkan setelah teman-teman sekerjanya mengajukan usul kepada atasannya. ”Mereka takut tertular,’’ tutur Yona kepada Republika. Peristiwa itu bermula ketika ada seorang rekan sekerjanya meninggal, diduga karena AIDS. Suami Yona juga meninggal beberapa saat kemudian. Itulah yang memicu rekan sekerjanya ketakutan dan mengumpulkan tanda tangan menolak Yona bekerja di tempat itu. Yona yang mempunyai dua orang anak itu mengaku sebelum ada keputusan itu, sudah ada perlakuan yang tidak biasanya. Kendati begitu, menurutnya, teman-temannya itu tidak berani berterus terang. ”Saya kadang melihat, kalau saya habis pakai telepon pasti mereka lap dengan tisu. Tapi, saya tidak bisa salahkan mereka karena memang belum banyak tahu tentang HIV/AIDS,’’ tutur Yona yang sekarang jadi relawan AIDS di Jakarta. Kisah Yona menunjukkan bahwa perlakukan diskriminatif masih terjadi terhadap ODHA.

Soal-Soal B.Indonesia – Sebuah studi yang dilakukan Yayasan Spritia pada tahun 2002 menunjukkan banyak terjadi stigma (cap buruk) dan diskriminasi di sektor perawatan kesehatan termasuk di dalamnya konseling dan tes HIV. Ipung Purwanto, seorang pengurus YPI mengatakan, diskriminasi terhadap ODHA juga terjadi di dalam keluarga. Dia bercerita, banyak ODHA yang dikirim ke YPI sudah dalam kondisi full blown (hancurnya kekebalan tubuh). ”Pihak keluarga tidak mau tahu lagi. Umumnya mereka takut tertular,’’ katanya. Wakil Ketua YPI, Prof. dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD, KHOM, mengatakan stigma (cap buruk) dan diskriminasi terhadap ODHA banyak dipengaruhi oleh salah informasi. ”Penularan AIDS itu tidak mudah. AIDS tidak menular karena bersalaman atau bersin,’’ tuturnya. Zubairi menjelaskan, yang pasti HIV/AIDS bisa menular melalui darah, air mani, atau ibu pengidap AIDS kepada anak yang dikandungnya. Penularan bisa terjadi melalui jarum suntik, hubungan seks, atau transfusi darah yang sudah tercemar HIV. 72 Komp Bahasa SMA 1 ”AIDS tidak menular melalui rokok, handuk, sabun, batuk, dan pilek. Gigitan nyamuk demam berdarah juga tidak bisa menularkan,’’ tegasnya. Media, kata Zubairi selain bisa memperbesar stigma (pandangan negatif) terhadap ODHA, juga bisa berperan sebaliknya. Media menurutnya harus mengembangkan jurnalisme empati yang tidak sekadar menjadikan ODHA sebagai objek berita. Sumber: www.infeksi.com dengan pengubahan Teks di atas menggambarkan bagaimana orang dengan penyakit HIV/AIDS sering memperoleh perlakuan diskriminatif. Cobalah kalian tuliskan pokok-pokok isi teks tersebut! Dalam meringkas, pergunakan bantuan pertanyaan berikut! a. Siapa ODHA yang pernah mengalami perlakukan buruk? b. Perlakuan buruk apa yang mereka alami? c. Di mana saja ODHA memperoleh perlakukan buruk dan diskriminatif? d. Mengapa masyarakat sering merasa takut dengan ODHA? e. Cara apa yang harus dilakukan agar tidak ada perlakukan buruk dan diskriminatif terhadap ODHA? f. Menurut kalian, perlukah ODHA dijauhi? Mengapa?

Soal-Soal B.Indonesia

2. Bacalah teks tentang kesehatan berikut, kemudian buatlah ringkasannya! Terjadi Peningkatan Jumlah Penderita yang Luar Biasa Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, Burizal Bakrie, selaku ketua komisi penanggulangan AIDS nasional telah mengeluarkan peraturan tentang kebijakan nasional penanggulangan HIV dan AIDS melalui pengurangan dampak buruk penggunaan narkotika psikotropika dan zat aditif suntik. Peraturan yang ditandangani oleh Menko Kesra pada tanggal 19 Januari 2007 itu dikeluarkan dengan pertimbangan penularan HIV dalam kurun waktu lima tahun terakhir telah terjadi peningkatan jumlah yang luar biasa. Jika pada tahun 1987 penderita AIDS di Indonesia hanya 5 orang, maka pada tahun 2006 jumalah penderita telah meningkat secara signifikan dengan penyebaran virus HIV hampir di sekitar 33 provinsi di Indonesia. Saat ini jumpal penderita HIV/AIDS tercatat 6.987 orang, tetapi estimasi sementara jumlah tersebut bisa mencapai 193.000 orang. Ini karena kemungkinan basar banyak dari penderita yang tidak tahu kalau mereka sudah terjangkit virus HIV. Penularan pertama di kalangan pengguna napza suntik dan sekaligus juga mengubah jalannya epidemi AIDS di Indonesia,” kata sekretaris komisi penanggulangan AIDS/HIV nasional Dr. Nafsiah Mboi SpA MPH, dalam konferensi pers di kantor Menko Kesra, Jumat pekan lalu.

Menurut Nafsiah, program penanggulangan HIV dan AIDS, terutama di kalangan pengguna narkotika suntik, perlu dilaksanakan secara intensif, menyeluruh, terpadu, efektif, dan terkodonasi. Peratutan Menko Kesra No. 2/Kep/Menko/Kesra/I/2007 ini bertujuan untuk mencegah penyebaran virus HIV dan AIDS di kalangan pengguna jarum suntik dan pasangannya, mencegah penyebaran HIV dari penasun dan pasangannya ke masyarakat luar, serta mengintegrasikan pengurangan dampak buruk penggunaan napza suntik ke dalam sistem kesehatan masyarakat dalam layanan pencegahan, perawatan, dukungan, dan pengobatan HIV dan AIDS serta pemulihan ketergantungan. Sasaran yang hendak dicapai adalah menjangku dan melayani sedikitnya 80% penasun sampai tahun 2010 dan dilaksanakan secara bertahap, menyediakan paket komprehensif pencegahan dan perawatan untuk menjamin perawatan berkelanjutan, selain menyediakan akses pengobatan yang terjangkau oleh seluruh penasun.

Soal-Soal B.Indonesia – Untuk menjalankan tugas ini dengan baik, perlu kelompom kerja pengurangan dampak buruk penggunaan napza suntik yang pada prinsipnya bertugas membentuk KPA dalam pengembangan kebijakan, advokasi dan sosialisasi serta membantu KPA dalam pengembangan program, peningkatan kapasitas, pendanaan, pemantauan, dan evaluasi. Sebelum peraturan materi ini dikeluarkan, Badan Narkotika Nasional (BNN) tidak setuju penggunaan narkotika psikotropika seperti metazon dan adiktif suntik dalam pengomatan pasien AIDS yang tertular karena penggunaan jarum suntik. Dengan masuknya BNN dalam KPA, maka kebijakan baru dapat dikeluarkan. Melalui peraturan menteri ini, beberapa puskesmas rujukan di wilayah yang diperkirakan terjadia penyebaran IIDS dapat memberikan pengobatan kepada pasien AIDS yang bergantung pada narkotika dengan penggunaan narkotika psikotropika dan zat adiktif lainnya. Orang yang sering berganti pasangan dalam hal hubungan seks dan menggunakan napza suntik dalam kehidupan seharihari, dianjurkan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit atau puskesmas rujukan terdekat agar bisa mengetahui apakah virus HIV sudah ada pada diri mereka. ”Apabila pada pengecekan awal virus HIV bisa diketahui, dengan sendirinya pengobatan terhadap penyakit ini akan lebih mudah,” kata Nafsiah. Sumber: Suara Karya, 22 Januari 2007

Soal-Soal B.Indonesia

3. Diskusikan persolan-persoalan yang telah kalian catat dalam diskusi kelas! Yang akan bertindak sebagai moderator adalah guru kalian. a. Kemukakan pertanyaan atau pernyataan untuk ditanggapi teman kalian! b. Berikan sanggahan untuk pernyataan yang kalian setujui! c. Rangkumlah kesimpulan hasil diskusi kalian! 4. Tulislah sebuah paragraf naratif yang bertema kesehatan! 5. Bacalah puisi berikut dan ungkapkan isinya!

Bunda 2 M. Jafar Hafsah Telah tiga tahun Secara lahiriyah kita tidak bersama Tetapi bunda tidak sekejap pun berbicara Di hati kami, di pikiran kami seluruh denyut nadi kehidupan kami Ketika kami berkumpul Bunda tersenyum manis Menyapa dengan ramah Menasehati kami dengan arif Bertanya dengan bijak Saya menggosok mata, mencubit tangan Apa nyata, mimpi atau ilustrasi Ketiga-tiganya betul, nyata Ibunda bukan hanya melahirkan kami Tetapi bunda mengukir kenangan Membekali ilmu kearifan duniawi Membelai dengan keikhlasan penuh Tetapi sejatinya Ketulusan dan keikhlasan tidak bertepi Sebagai totalitas Cinta abadi

Kurang arif badan celaka, amat arif badan binasa. Kalau kurang hati-hati kita berbuat sesuatu, badan kita bisa celaka, tetapi kalau terlalu hati-hati, mungkin pula kita juga binasa.

Pengalaman

Pengalaman itu penting untuk menambah wawasan. Pembelajaran ini akan mengajak kalian menimba pengalaman dari mendengarkan cerita pendek yang dibacakan guru atau teman kalian. Kalian mengingat kembali isi cerita untuk diceritakan kembali isi cerita, menyebutkan unsur-unsur intrinsiknya, dan unsur ekstrinsiknya. Kalian akan diajak untuk menceritakan berbagai pengalaman dengan ekspresi yang benar. Pengalaman yang diceritakan, pengalaman lucu, mengharukan, atau yang menarik untuk didengar. Kalian akan diajak berlatih mengidentifikasi isi informasi, ide pokok, dan meringkas sebuah teks setelah teks tersebut dibaca secara ekstensif. Kalian pun akan belajar menulis pengalaman atau observasi dalam bentuk paragraf deskriptif. Di akhir pembelajaran kalian belajar membacakan puisi dengan ekspresi dan intonasi yang benar.

Soal-Soal B.Indonesia

Rangkuman

1. Mendengarkan pembacaan puisi remaja merupakan kegiatan yang bermanfaat. Kalian dapat memahami ciri puisi remaja dan nilai-nilai yang terkandung dalam puisi remaja. Untuk mempermudah pemahaman tentang puisi remaja, kalian dapat mengubah bentuk puisi ke dalam bentuk paragraf narasi (memparafrasakan puisi tersebut). 2. Kegiatan diskusi dapat membahas dan mencari jalan keluar tentang berbagai masalah. Misalnya, kalian dapat mengajukan saran atau pendapat tentang permasalahan dalam ringkasan isi teks bacaan. Kalian dapat menemukan makna dari kata-kata sukar yang terdapat dalam sebuah teks bacaan. 3. Membaca ekstensif bertujuan untuk menemukan ide pokok sebuah bacaan. Kalian dapat menulis kembali bacaan tersebut dengan mengacu pada ide pokok yang sudah kamu temukan. 4. Mengungkapkan ide/gagasan secara runtut adalah suatu kegiatan yang menyenangkan. Kalian dapat menulisnya ke dalam bentuk paragraf naratif. 5. Kalian dapat membaca sebuah cerpen untuk mengisi waktu luang. Selain itu, kalian dapat menambah pengetahuan tentang cerita sebuah cerpen. Membaca sebuah cerpen dapat membantu kalian menentukan ide pokok cerpen dan dapat meringkas/menulis kembali cerpen yang sudah kalian baca.