Tentang Pengertian dari Sosiologi Terapan

Tentang Pengertian dari Sosiologi Terapan

Tentang Pengertian dari Sosiologi Terapan

Tentang Pengertian dari Sosiologi Terapan
Tentang Pengertian dari Sosiologi Terapan

Disiplin ilmu yang tidak berupaya untuk menyelesaikan masalah-masalah sosial disebut dengan teori yang bebas nilai. Menurut Lincoln dan Guba, disiplin ilmu yang bebas nilai sudah lama ditinggalkan orang. Tidak ada disiplin ilmu yang bekerja dalam suasana value and moral free. Selama ilmu itu dikembangkan dan terjadi dalam masyarakat manusia, tidak mungkin ilmu bebas dari orang yang mengembang kannya. Sebagai manusia, orang yang mengembangkan nya tidak mungkin melepaskan diri dari nilai dan moral yang berlaku dalam masyarakat. Apalagi sosiologi sebagai salah satu dari disiplin ilmu-ilmu sosial yang berhubungan dengan nilai dan moral yang berlaku pada seseorang dan masyarakat sebagai objek kajiannya, keterkaitan nya dengan nilai dan moral sangat kuat. Peranan sosiologi sangat diharapkan, terutama dalam menghadapi masalah-masalah sosial yang sering muncul sekarang ini di Indonesia. Misalnya, banyak pembangunan yang sudah dilakukan pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat kurang berhasil karena tidak memerhatikan latar belakang dan kondisi sosialnya. Munculnya konflik antarkampung atau perpecahan di daerah, dari yang dilatarbelakangi oleh hal-hal sepele sampai pertentangan karena perbedaan suku, agama, dan ras merupakan akibat dari kurangnya hubungan dan interaksi sosial. Dengan demikian, hal tersebut dapat memicu terjadinya disintegrasi bangsa. Selain itu, banyaknya tindakan di luar aturan nilai dan norma akibat kurangnya pemahaman dan kesadaran terhadap unsur-unsur nilai dan norma pada masyarakat. Menerapkan pengetahuan sosiologi, terutama dalam kehidupan masyarakat di Indonesia yang majemuk sudah menjadi hal yang penting dan mendesak. Hal ini mengingat banyak munculnya masalah-masalah sosial akhir-akhir ini. Sejak awal telah dikemukakan bahwa dilihat dari hakikat keilmuan dan kriteria yang dimiliki, sosiologi merupakan ilmu murni (pure science). Sebagaimana menurut Bertrand, suatu ilmu pengetahuan yang bersifat murni berarti terlepas dari kegunaan praktis secara langsung. Kecenderungan ini dinilainya sebagai usaha untuk menghindarkan penyelewengan ilmiah yang bisa terjadi apabila ilmu-ilmu itu dipakai oleh seseorang untuk mempelajari pemecahan-pemecahan masalah praktis, seperti masalah-masalah sosial. Walaupun demikian, bukan berarti sosiologi tidak dapat menyumbang kan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. Lahirnya sosiologi sebagai ilmu pengetahuan menurut Comte justru diarahkan untuk meneliti gejala-gejala dan masalah-masalah sosial yang muncul saat itu. Bahkan di awal perkem bangannya, banyak kesan yang muncul bahwa sosiologi merupakan ilmu yang abstrak. Sosiologi sebagai ilmu yang mengkaji perilaku manusia dalam kehidupan bermasyarakat memiliki pokok-pokok (intisari) keilmuan yang dikhususkan pada aspek struktur sosial (meliputi kaidahkaidah sosial, lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, dan lapisan-lapisan sosial), dan dinamika sosial. Hal ini meliputi proses sosial dan perubahan-perubahan sosial. Adapun proses sosial diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara berbagai segi kehidupan bersama. Pokok-pokok keilmuan tersebut merupakan pengetahuan praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Menerapkan pengetahuan sosiologi dalam kehidupan bermasyarakat berarti didasarkan pada hubungan antarmanusia, hubungan antarkelompok, serta hubungan antara manusia dan kelompok, di dalam proses kehidupan ber masyarakat. Di dalam pola hubungan-hubungan tersebut, yang lazim disebut interaksi sosial, terdapat hubungan saling memengaruhi sehingga ter bentuk lah kepribadian-kepribadian tertentu sebagai akibatnya. Proses saling memengaruhi melibatkan unsur-unsur yang baik dan benar, serta unsur-unsur lain yang dianggap salah dan buruk, yang lazim disebut kaidah-kaidah sosial (nilai dan norma sosial). Unsur-unsur mana yang lebih berpengaruh biasanya bergantung pada mentalitas individu yang menerima. Artinya, sampai sejauh mana individu tersebut mampu menyaring unsur-unsur luar yang diterimanya melalui proses sosialisasi. Sosialisasi tersebut merupakan suatu kegiatan yang bertujuan agar individu yang dididik atau diajak mau mematuhi kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku dan dianut oleh masyarakat. Tujuan pokok adanya sosialisasi tersebut bukanlah semata-mata agar kaidahkaidah dan nilai-nilai diketahui serta dimengerti. Tujuan akhirnya adalah agar manusia mampu bersikap dan berperilaku sesuai dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku serta agar seseorang mampu menghargainya.

Di dalam proses sosialisasi, khususnya yang tertuju pada anak dan remaja, terdapat berbagai pihak yang mungkin berperan. Pihakpihak tersebut dapat dinamakan sebagai lingkungan-lingkungan sosial tertentu dan pribadi-pribadi tertentu. Tinjauan sosiologis lebih memusat kan perhatian pada lingkungan ini, yang memiliki peranan nyata atau sesungguhnya dalam pembentukan pola perilaku (tindakan sosial) anak dan remaja, tanpa mengabaikan peranan pribadi-pribadi yang tidak mustahil mempunyai pengaruh yang lebih besar. Lingkungan-lingkungan yang dimaksud adalah: 1. keluarga, 2. kelompok sepermainan, dan 3. kelompok pendidik (sekolah). Lingkungan tersebut hanya sebagai lingkungan pokok dalam menerapkan pengetahuan sosiologi, yang sangat dominan dalam memengaruhi pembentukan kepribadian dan pola perilaku anak atau remaja. Tentunya lingkungan-lingkungan tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial yang lebih besar, misalnya lingkungan tetangga, lingkungan bekerja, lingkungan organisasi, lingkungan masyarakat, dan bagian-bagiannya, bahkan negara sebagai lingkungan sosial-ekonomi-politik. Dengan demikian, pengaruhpengaruh tersebut menjadi kajian sosiologi atau dijadikan referensi sebagai teori yang lahir karena kondisi objektif di masyarakat perlu ditinjau kembali untuk diterapkan dalam masyarakat. Sosiologi tidak hanya diketahui dan dipahami sebagai potret ilmu sosial, namun bagaimana kemudian dari potret tersebut mampu ditemukan keadaan yang sebenarnya.

Penerapan Sosiologi dalam Keluarga

Di dalam keadaan normal, lingkungan pertama yang berhubungan dengan anak adalah keluarganya, yang bisa terdiri atas orangtuanya, saudara-saudaranya yang lebih tua, serta mungkin kerabat dekatnya yang tinggal serumah. Melalui lingkungan inilah si anak mengenal dunia sekitarnya dan pola pergaulan hidup yang berlaku sehari-hari. Melalui lingkungan ini juga si anak mengalami proses sosialisasi awal. Orangtua, saudara, ataupun kerabat terdekat lazimnya mencurahkan perhatiannya untuk mendidik anak supaya anak memperoleh dasar-dasar pola pergaulan hidup yang benar dan baik melalui penanaman disiplin dan kebebasan serta penyerasiannya terhadap nilai-nilai dan norma. Pada saat ini, orangtua, saudara, ataupun kerabat (secara sadar atau setengah sadar) melakukan sosialisasi yang biasa diterapkan melalui kasih sayang. Atas dasar kasih sayang itu, anak dididik untuk mengenal nilai-nilai tertentu, seperti nilai ketertiban dan ketenteraman, nilai kebendaan dan keakhlakan, nilai kelestarian dan kebaruan, dan seterusnya. Pada nilai ketertiban dan keten teraman ditanamkan perilaku disiplin dan perilaku bebas yang senantiasa harus diserasikan. Misalnya, si anak yang lapar boleh makan dan minum sampai kenyang, tetapi pada waktu-waktu tertentu; anak boleh bermain sepuas-puasnya, tetapi dia harus berhenti bermain apabila waktu makan telah tiba. Menerapkan nilai kebendaan dan nilai keakhlakan serta penyerasian pada anak, misalnya, dapat ditanamkan dengan jalan membelikan mainan yang diinginkannya, tetapi mainan itu harus dipelihara baikbaik agar tidak cepat rusak. Kalau mainan itu dirusaknya, orangtua harus dapat menahan diri untuk membelikannya segera mainan yang baru. Melalui cara-cara itu pula, nilai kelestarian dan kebaruan dapat ditanamkan melalui perilaku teladan yang sederhana. Contoh lainnya, si anak dibelikan makanan kesukaannya, tetapi dia harus berbagi dengan teman-teman atau saudaranya. Apabila usia anak meningkat remaja, penanaman nilai-nilai tersebut harus tetap dipertahankan. Akan tetapi, hal tersebut diterapkan dengan cara-cara yang lain sesuai dengan pertumbuhan jiwa remaja tersebut. Apabila caranya tidak disesuaikan, yang terjadi bukan penerapan nilai, malah sebaliknya merupakan pemaksaan terhadap kebebasannya yang akan memunculkan penolakanpenolakan. Seorang anak remaja pada umumnya tidak mau diperlakukan seperti anak kecil oleh orangtuanya karena hal itu akan menjadi olokan dan cemoohan teman-temannya. Akibatnya, perkembangan jiwa anak akan terhambat, bahkan bisa menjadi minder dan tidak mau bergaul lagi. Secara fisik dan psikis, usia remaja merupakan masa-masa di mana tingkat pertumbuhan sedang mengalami puncak prosesnya. Untuk bisa mengikuti perkembangan remaja agar bisa berlangsung dengan baik, perlu ada pengawasan dari pihak keluarga. Dalam hal ini, peran orang tua sebagai pengarah dan pembentuk perkembangan kepribadian remaja dituntut memberi perhatian secara intensif. Di dalam sebuah keluarga, yang cenderung terjadi adalah pengawasan dan perhatian yang kurang terhadap sikap dan perilaku seorang anaknya yang menjelang remaja. Hal ini menyebabkan perkembangan jiwa yang masih labil sehingga rentan terhadap perbuatan dan pengaruh dari luar yang cenderung bertentangan dengan nilai dan norma. Misalnya, kenakalan remaja seperti penyalahgunaan obat-obatan, minuman beralkohol, dan narkotika. Memang, kebanyakan orangtua kadang-kadang lebih mementingkan disiplin atau keterikatan daripada kebebasan, sedangkan remaja lebih menyukai kebebasan daripada kedisiplinan. Namun, manusia memerlukan keduanya dalam keadaan yang serasi. Manusia yang terlalu disiplin hanya akan menjadi “robot” yang mati daya kreativitasnya. Adapun manusia yang terlalu bebas akan menjadi makhluk lain (yang bukan manusia). Keberhasilan anak dalam proses sosialisasi ini dapat dilihat dari motivasi dan keberhasilan studinya. Tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi anak justru ditunjang oleh keserasian-keserasian tersebut. Kalau pada anak, orangtualah yang harus menanamkan agar si anak berpengetahuan. Adapun pada remaja, orangtua harus memberikan pengertian melalui cara-cara yang dewasa. Anak atau remaja yang diharuskan belajar terus-menerus atau dibebani dengan kewajiban mengikuti pelajaran tambahan (les) atau keterampilan tertentu akan mengakibatkan kebosanan sehingga pekerjaan tersebut dianggapnya sebagai kegiatan rutin belaka. Dia tidak sempat mengenyam kebebasan berpikir, oleh karena selalu terbebani dengan keterikatan, yang disebabkan orangtua senantiasa memegang peranan yang menentukan di dalam mengambil keputusankeputusan. Anak atau remaja tersebut hanya dilatih untuk berpikir semata-mata, tanpa mendidiknya untuk senantiasa menyerasikan pikiran dengan perasaan.

Membiarkan anak atau remaja untuk bersikap dan berperilaku semaunya juga tidak benar. Mereka memerlukan tuntunan orangtua, saudara-saudara, dan kerabat dekatnya, tetapi tuntunan itu tidak diperolehnya. Lingkungan yang berpola pikiran demikian juga tidak menghasilkan pengaruh yang menunjang tumbuhnya motivasi dan keberhasilan studi karena dilepas begitu saja. Kritik para remaja menurut Soerjono Soekanto biasanya tertuju pada hal-hal sebagai berikut. 1. Orangtua terlalu konservatif atau terlalu liberal. 2. Orangtua hanya memberikan nasihat, tanpa memberikan contoh yang mendukung nasihat tersebut. 3. Orangtua terlalu mementingkan pekerjaan di kantor, organisasi, dan lain sebagainya. 4. Orangtua mengutamakan pemenuhan kebutuhan material belaka. 5. Orangtua lazimnya mau “menangnya” sendiri (artinya, tidak mau menyesuaikan diri dengan kebutuhan dasar remaja yang mungkin berbeda). Suasana keluarga yang positif bagi tumbuhnya motivasi dan keberhasilan pengembangan kepribadian, baik dalam studi maupun aspek kehidupan lainnya, adalah keadaan yang menyebabkan anak atau remaja merasa dirinya aman atau damai apabila berada di tengah keluarga. Suasana tersebut biasanya terganggu apabila terjadi hal-hal berikut.

1. Tidak ada saling pengertian atau pemahaman mengenai dasardasar kehidupan bersama. 2. Terjadinya konflik mengenai otonomi; di satu pihak orangtua ingin agar anaknya disiplin, namun di dalam kenyataan mereka justru mengekangnya. 3. Terjadinya konflik nilai-nilai yang tidak diserasikan. 4. Pengendalian dan pengawasan orangtua yang berlebihan. 5. Tidak adanya rasa kebersamaan dalam keluarga. 6. Terjadinya masalah dalam hubungan antara ayah dan ibu, sebagai suami dan isteri, dan konflik yang tidak mungkin lagi diatasi. 7. Jumlah anak yang banyak dan tidak disertai atau didukung oleh fasilitas yang memadai. 8. Campur tangan pihak luar (baik kerabat maupun tetangga). 9. Status sosial ekonomi yang di bawah standar. 10. Pekerjaan orangtua (misalnya, kedudukan istri lebih tinggi daripada suami, sehingga penghasilannya juga lebih besar. Hal ini tidak mustahil akan mengakibatkan suami merasa rendah diri dan melampiaskan ke arah yang negatif). 11. Aspirasi orangtua yang kadang-kadang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. 12. Konsepsi mengenai peranan keluarga serta anggota keluarga yang meleset dari kenyataan yang ada. 13. Timbulnya favoritisme di kalangan anggota keluarga. 14. Persaingan yang sangat tajam antara anak-anak sehingga menimbulkan pertikaian.

Walaupun demikian, keberhasilan anak atau remaja dalam pergaulan maupun masa depannya tidak sepenuhnya bergantung pada peranan orangtua dalam keluarga. Ini berarti seorang anak tidak boleh terlalu menyalahkan orangtua; dia juga harus mengerti dan memahami keadaan, kedudukan, dan permasalahan orang- tuanya, bahwa apa yang diberikan orangtuanya adalah yang terbaik dan tidak mungkin mencelakakan dirinya

Tentang Pengertian Sikap-Sikap Antisosial

Tentang Pengertian Sikap-Sikap Antisosial

Tentang Pengertian Sikap-Sikap Antisosial

Tentang Pengertian Sikap-Sikap Antisosial
Tentang Pengertian Sikap-Sikap Antisosial

Semua orang lahir sebagai manusia yang hidup di tengahtengah pergaulan manusia. Namun, orang juga tidak mengenal secara terperinci karakter manusia itu. Manusia memang memiliki perbedaan dengan makhluk lainnya. Akan tetapi, ia hidup di tengahtengah manusia lain (lingkungan sosial) dalam konteks budaya (lingkungan budaya) dan alam semesta (lingkungan alam). Selain memiliki sifat-sifat yang berbeda, juga memiliki hal-hal yang sama selaku manusia, makhluk hidup, bagian dari alam, serta sebagai ciptaan Tuhan. Uraian tersebut menerangkan bahwa makhluk yang bernama manusia merupakan makhluk pribadi yang harus mengembangkan diri dan kepribadiannya agar mampu bertahan hidup dan menyesuaikan diri dengan manusia lain dalam kehidupan bermasyarakat sebagai makhluk sosial. Dengan demikian, pada hakikatnya manusia tidak bisa melepaskan dirinya dari manusia lain. Ada pernyataan yang mengungkapkan bahwa “manusia baru dapat dikatakan sebagai manusia yang sebenarnya, apabila ada dalam masyarakat.” Sepanjang hayat dikandung badan, orang tidak akan lepas dari masyarakat, bergaul (sosialisasi), mencari nafkah, serta menerima pengaruh dari lingkungan sosial yang disebut masyarakat. Seseorang akan mengenal orang lain, dan paling utama mengenal diri sendiri selaku anggota masyarakat. Kepentingan yang melekat pada diri seseorang (sebagai pribadi) menjadi dasar interaksi sosial yang mewujudkan masyarakat sebagai wadahnya. Itulah hakikat manusia sebagai makhluk sosial atau dikenal dengan istilah homo socius. Sebagai makhluk sosial, manusia memiliki dan mampu menumbuhkembangkan serta memelihara nilai-nilai yang mencirikan kemanusiaannya. Walaupun secara fisik ia sebagai makhluk manusia, apabila ia tidak memiliki atau tidak mampu menumbuh kembangkan dan memelihara nilai-nilai yang mencirikan kemanusiaannya, dapat dikatakan sebagai manusia yang antikemanusiaan atau disebut juga dengan antisosial. Sosial (socius) menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti “mengenai kemanusiaan.” Dengan demikian, secara sederhana antisosial dapat dikatakan sebagai antikemanusiaan. Ciri-ciri manusia adalah suka bergaul di tengah-tengah manusia lain untuk saling berinteraksi dan bersosialisasi, mulai lingkungan yang terdekat seperti keluarga sampai lingkungan yang lebih luas, yaitu masyarakat umum. Segala tindakan dan perilakunya ditujukan untuk bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia lain. Apabila tindakan dan perilakunya tersebut tidak sesuai dengan nilai dan norma yang tumbuh dan berlaku di masyarakat, dapat dikatakan sebagai sikap-sikap antisosial. Walaupun demikian, dalam mengartikan sikap antisosial tidak boleh secara harfiah yang berarti sikap-sikap yang menentang atau memusuhi sifat-sifat kemanusiaan karena pada hakikatnya manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin dipisahkan dari manusia lainnya. Adapun sikap-sikap antisosial yang muncul pada manusia hanya bersifat insidental yang dihadapkan pada situasi dan kondisi tertentu, seperti halnya yang terjadi pada perilaku menyimpang.

Apabila diartikan secara harfiah, sikap antisosial lebih mengarah kepada arti manusia yang bersifat makro yaitu animal kingdom. Dalam hal ini, manusia diartikan sebagai binatang yang tidak memiliki sifatsifat kemanusiaan. Adapun antara manusia dan makhluk lainnya (binatang) terdapat batas yang membeda kan, yaitu manusia diberikan kemampuan akal untuk berpikir yang melahirkan kebudayaan. Dengan budayanya inilah, makhluk manusia memisahkan diri dari kelompok binatang yang tidak memiliki kemampuan akal untuk berpikir. Sikap antisosial yang dimaksud dalam sosiologi lebih mengarah pada kontradiktif atau menentang kepada aturan-aturan atau norma-norma yang sedang berlaku di masyarakat. Apabila aturanaturan atau norma-norma tersebut telah tersosialisasikan dalam diri manusia, ia tidak akan bersifat antisosial. Agar Anda lebih memahami, sebaiknya mengartikan sikap antisosial sebagai bagian dari perilaku yang menyimpang.

Beberapa perilaku menyimpang yang sudah dipelajari sebelumnya dapat dikatakan sebagai contoh sikap-sikap antisosial. Hal ini disebabkan tindakan dan perilakunya tidak sesuai dengan harapan dan kebiasaan yang ada di masyarakat. Nilai-nilai dan norma yang terdapat dalam masyarakat merupakan ciri kemapanan manusia yang menginginkan keteraturan dalam hidupnya. Adapun orang-orang yang antisosial berarti sebaliknya, yaitu tidak menginginkan kemapanan tersebut. Dengan demikian, segala sikap dan perilakunya selalu bertentangan dan melanggar nilai-nilai dan norma. Contohnya suka memicu atau membuat keributan, berbuat sewenang-wenang, individualis, dan termasuk kejahatan-kejahatan kriminal, seperti pembunuhan. Mengapa pembunuhan dikategori kan sebagai sikap antisosial? Hal ini disebabkan manusia memiliki hak untuk hidup, tumbuh, dan berkembang. Manusia yang me lakukan pembunuhan ataupun menganiaya orang lain berarti tidak menyukai kehidupan. Pada hakikatnya, tidak ada manusia yang terlahir dan menginginkan sikap-sikap antisosial. Sejak dari rahim dan dilahirkannya manusia sudah melalui manusia lain, dalam hal ini ibunya. Kemudian tumbuh dan berkembang melalui interaksi dan sosialisasi dengan keluarganya, teman sebaya, sampai masyarakat yang lebih luas. Munculnya sikap-sikap antisosial sebagaimana perilaku yang menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Dalam pelajaran terdahulu, nilai dan norma adalah suatu pedoman untuk mengatur perilaku manusia. Dalam internalisasi nilai dan norma ini terjadi proses sosialisasi dalam diri seseorang. Ada seseorang yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dan ada pula yang tidak dapat melakukan proses sosialisasi dengan baik. Dengan kata lain, sikap-sikap antisosial merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak baik atau tidak dapat melakukan proses sosialisasi. Secara sederhana, ia tidak bisa bergaul dengan orang lain atau masyarakat. Oleh karena itu, ia tidak bisa mengenal diri dan kepribadiannya karena masyarakat merupakan wadah bagi manusia untuk mengenal dirinya. Terlebih lagi, ia juga tidak bisa mengenal masyarakatnya serta nilai-nilai dan norma-norma yang tumbuh dan berlaku. Akibatnya, sikap dan perilakunya cenderung tidak sesuai atau bertentangan. Sikap antisosial merupakan cerminan dari ketidakpuasan individu dan masyarakat terhadap kondisi sosialnya. Kondisi sosial timbul ketika sebuah sistem yang ditentukan tidak sesuai dengan aspirasi dan representasi masyarakat. Misalnya, kecenderungan yang terjadi pada masa Orde Baru, yang pada masa itu masyarakat hidup dalam kekuasaan yang otoriter.

• Perilaku menyimpang merupakan hasil dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. • Perilaku menyimpang adalah setiap perilaku yang dinyatakan sebagai suatu pelanggaran terhadap normanorma kelompok atau masyarakat. • Macam-macam perilaku menyimpang dalam sosialisasi, yaitu: 1. perilaku menyimpang karena sosialisasi; 2. perilaku menyimpang karena anomi; Rangkuman 3. perilaku menyimpang karena hubungan diferensiasi; 4. perilaku menyimpang karena pemberian julukan. • Konsep perilaku menyimpang 1. Penyimpangan primer 2. Penyimpangan sekunder • Sikap antisosial adalah sikap yang mengarah pada kontradiktif atau menentang kepada aturan-aturan atau norma-norma yang sedang berlaku di masyarakat.

Pilihlah Jawaban Yang Tepat

1. Dua hal penting yang menjadi patokan apakah perilaku seseorang dianggap menyim pang atau tidak adalah …. a. norma-norma umum dan situasi umum yang sedang berlangsung b. nilai-nilai dan norma-norma sosial c. norma-norma umum dan tingkat pendidikan masyarakat d. pola perilaku dan kepribadian masyarakat e. norma-norma umum dan perilaku individu dalam masyarakat 2. Penyimpangan primer adalah penyim pangan sosial yang …. a. hanya merugikan diri sendiri b. bersifat sementara c. terjadi pada masyarakat kelas bawah d. melibatkan orang dalam jumlah banyak e. dilakukan terus-menerus 3. Berikut yang merupakan contoh perilaku menyimpang sekunder adalah …. a. mabuk-mabukan setiap hari tak kenal tempat b. memalsukan laporan pajak perusahaan c. menghentikan bus kota di sembarang tempat d. menimbun minyak pada saat BBM naik e. meludah di depan orang banyak 4. Penyimpangan sosial merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Pendapat ini dikemukakan oleh …. a. Edwin H. Sutherland b. Cesare Lombroso c. Robert L. Merton d. Sigmund Freud e. Getrude Jaeger 5. Berikut yang termasuk contoh perilaku menyim pang berkelompok adalah …. a. menyeberang jalan di sembarang tempat b. mencuri barang dalam jumlah banyak c. kelompok penjahat merampok bank d. minum minuman keras secara berlebihan e. menggelapkan uang yang bukan miliknya 6. Perilaku menyimpang yang dilakukan kelompok adalah penyimpangan yang lebih kompleks. Hal ini disebabkan …. a. kelompok memiliki nilai, norma, sikap, dan tradisi sendiri b. kelompok memiliki jumlah individu yang lebih banyak c. kelompok memiliki kepribadian ber aneka ragam d. kelompok terbentuk secara terencana dan bertahan lama e. kekuatan fisiknya lebih besar daripada individu 7. Penyimpangan kelompok lebih berbahaya daripada penyimpangan sosial yang dilakukan individu sebab …. a. pelakunya banyak b. anggotanya tidak melakukan penyimpangan c. anggotanya juga mengalami konflik d. sukar dikendalikan e. terjadi dalam waktu lama 8. Salah satu sifat tawuran antarpelajar yang sering terjadi adalah …. a. agresivitas direncanakan terlebih dahulu b. tidak memiliki sasaran yang jelas c. adanya sportivitas yang tinggi d. diakibatkan oleh kesenjangan sosial e. pelaku tahu persis akibat hukumnya 9. Prostitusi merupakan bentuk penyim pangan sosial yang ada sejak zaman purba karena pada dasarnya masyarakat telah mengenal nilai sakral pada kebutuhan hubungan …. a. sosial b. seksual c. dalam kelompok d. fisik e. pribadi 10. Tindakan KKN di suatu instansi pemerintah termasuk tipe perilaku menyimpang …. a. primer – individu b. primer – sekunder c. sekunder – individu d. individu – kelompok e. primer – kelompok 11. Perilaku menyimpang yang termasuk dalam tindakan kriminal adalah …. a. kumpul kebo, narkotik, dan pembunuhan b. kumpul kebo, penganiayaan, dan korupsi c. penipuan, pemerkosaan, dan narkotik d. penipuan, kolusi, dan narkotik e. korupsi, arogansi, dan kolusi 12. Contoh penyimpangan dalam bentuk gaya hidup adalah …. a. narkotik dan penipuan b. kolusi dan korupsi c. korupsi dan manipulasi d. arogansi dan eksentrik e. arogansi dan kolusi 13. Banyak kaum wanita yang bekerja di kantor hingga lembur sampai malam. Hal ini menunjukkan penyimpangan yang bersifat …. a. primer b. sekunder c. positif d. langsung e. negatif 14. Contoh dari penyimpangan sebagai hasil sosialisasi yang tidak sempurna adalah …. a. seorang yang tinggal di tempat pelacuran b. anak perempuan yang suka berpakaian laki-laki c. persaingan yang dilakukan di dalam suatu organisasi d. mabuk di diskotik e. memberi uang pada petugas yang korup 15. Apabila tindakan seperti menyogok, menggelapkan uang, dan pelacuran dianggap hal yang biasa sedangkan sebelumnya dianggap hal tercela, fenomena semacam ini dinamakan …. a. penyimpangan karena kesalahan sosialisasi b. perubahan pola hidup masyarakat c. hasil sosialisasi subkebudayaan menyimpang d. destrukturisasi pola kehidupan masyarakat e. penyimpangan sosial secara individual

Pengertian Interaksi Sosial dan Keteraturan 2

Pengertian Interaksi Sosial dan Keteraturan 2

Pengertian Interaksi Sosial dan Keteraturan 2

 

d. Akulturasi Akulturasi (acculturation) adalah berpadunya unsur-unsur kebudayaan yang berbeda dan membentuk suatu kebudayaan baru tanpa menghilangkan kepribadian kebudayaannya yang asli. Lamanya proses akulturasi sangat bergantung pada persepsi masyarakat setempat terhadap budaya asing yang masuk. Akulturasi bisa terjadi dalam waktu yang relatif lama apabila masuknya melalui proses pemaksaaan. Sebaliknya, apabila masuknya melalui proses damai, akulturasi tersebut akan relatif lebih cepat. Contohnya, Candi Borobudur merupakan perpaduan kebudayaan India dengan kebudayaan Indonesia; musik Melayu bertemu dengan musik Spanyol menghasilkan musik keroncong.

2. Proses Disosiatif Dalam interaksi sosial yang terjadi di masyarakat, untuk mencapai tujuan bersama, wujudnya dapat berupa kerja sama ataupun pertentangan atau pertikaian. Kerja sama tidak serta merta selalu baik, tanpa adanya keteraturan sosial di masyarakat, kerja sama pun akan mengalami penyimpangan-penyimpangan atau menjadi tidak sehat dan bukan tidak mungkin dapat menimbulkan permusuhan. Contohnya, jika Anda bekerja sama dalam tugas kelompok dari guru, lalu teman yang Anda pilih selalu teman-teman berprestasi di kelas, tanpa memperhatikan teman atau kesempatan kelompok lainnya, bukan tidak mungkin teman atau kelompok lainnya akan merasakan ketidakadilan dan antipati atau memusuhi Anda atau kelompok Anda. Demikian pula dengan pertentangan, tidak selalu pertentangan itu buruk, jika terjadi dan selalu merujuk pada keteraturan sosial serta tanpa kekerasan dan ancaman, bukan tidak mungkin sebuah pertentangan akan menghasilkan sesuatu yang baik.

Dari uraian tersebut, kiranya perlu untuk Anda ketahui juga mengenai bentuk-bentuk interaksi disosiatif. Walaupun proses sosial ini kurang mendorong terciptanya keteraturan sosial, bahkan cenderung ke arah oposisi yang berarti cara yang bertentangan dengan seseorang ataupun kelompok untuk mencapai tujuan tertentu, ada juga manfaatnya demi tercipta suatu keteraturan sosial. Proses disosiatif dapat dibedakan ke dalam tiga bentuk sebagai berikut.

a. Persaingan Persaingan (competition) merupakan suatu proses sosial ketika berbagai pihak saling berlomba dan berbuat sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu. Persaingan terjadi apabila beberapa pihak menginginkan sesuatu yang jumlahnya sangat terbatas atau sesuatu yang menjadi pusat perhatian umum. Contohnya persaingan 12 besar para penyanyi dalam acara Akademi Fantasi Indonesia (AFI) yang disiarkan salah satu stasiun televisi swasta. Persaingan dilakukan dengan norma dan nilai yang diakui bersama. Kecil kemungkinan persaingan menggunakan kekerasan atau ancaman. Dengan kata lain, persaingan dilakukan secara sehat atau sportif. Misalnya, dalam sepakbola dikenal istilah fair play. Hasil dari suatu persaingan akan diterima dengan kepala dingin oleh berbagai pihak yang bersaing, tanpa ada rasa dendam, karena sejak awal, tiap pihak telah menyadari akan ada yang menang dan kalah. Oleh karena itu, persaingan sangat baik bagi Anda untuk meningkatkan prestasi, misalnya untuk menjadi juara kelas. Persaingan memiliki beberapa fungsi, yaitu sebagai berikut. 1) Menyalurkan keinginan individu atau kelompok yang samasama menuntut dipenuhi, padahal sulit dipenuhi semuanya secara serentak. 2) Menyalurkan kepentingan serta nilai-nilai dalam masyarakat, terutama yang menimbulkan konflik. 3) Menyeleksi individu yang pantas memperoleh status dan peran yang sesuai dengan kemampuannya.

b. Kontravensi Kontravensi (contravention) merupakan proses sosial yang ditandai adanya ketidakpuasan, ketidakpastian, keraguan, penolakan, dan penyangkalan terhadap kepribadian seseorang atau kelompok yang tidak diungkapkan secara terbuka. Kontravensi adalah sikap menentang secara tersembunyi agar tidak sampai terjadi perselisihan secara terbuka. Penyebab kontravensi antara lain perbedaan pendirian antara kalangan tertentu dengan kalangan lain dalam masyarakat, atau bisa juga dan pendirian masyarakat, contoh jenis ini adalah perang dingin. Perang dingin merupakan kontravensi karena tujuannya membuat lawan tidak tenang atau resah. Dalam hal ini, lawan tidak diserang secara fisik, tetapi secara psikologis. Melawan secara psikologis merupakan hal yang tersembunyi (tidak terbuka). Menurut Leopold von Wiese dan Howard Becker, terdapat lima bentuk kontravensi, yaitu sebagai berikut. 1) Kontravensi umum, contohnya penolakan, perlawanan, protes, gangguan, dan mengancam pihak lawan. 2) Kontravensi sederhana, contohnya menyangkal pernyataan orang di depan umum, dan memaki melalui surat selebaran atau mencerca. 3) Kontravensi intensif, contohnya penghasutan, penyebaran desasdesus, dan memfitnah. 4) Kontravensi rahasia, contohnya pembocoran rahasia, khianat, dan subversi. 5) Kontravensi taktis, contohnya mengejutkan pihak lawan, provokasi, dan intimidasi.

Akibat positif dari adanya kontravensi yang mengarah pada terjadinya keteraturan sosial, yaitu sebagai berikut. 1) Dalam diskusi ilmiah, dan seminar-seminar tentang per masalahan tertentu, biasanya perbedaan pendapat justru diharapkan untuk melihat kelemahan-kelemahan suatu pendapat sehingga dapat ditemukan pendapat atau pilihan-pilihan yang lebih kuat sebagai jalan keluar suatu pemecahan masalah yang diseminarkan tersebut. 2) Menambah rasa memiliki atau kesatuan yang kuat (solidaritas) dalam kelompok. Misalnya, dengan adanya pertentangan antara suatu kelompok dan kelompok lainnya, persatuan kelompok akan lebih kuat dari setiap anggotanya, bahkan mereka merasa lebih erat dan siap berkorban demi kelompoknya untuk menghadapi ancaman yang datang dari luar. 3) Mendorong adanya perubahan atau memperbaiki kelemahankelemahan sehingga memiliki sesuatu yang lebih benar dan baik lagi.

c. Pertikaian Pertikaian merupakan bentuk lanjut dari kontravensi. Hal ini disebabkan, di dalam pertikaian, perselisihan sudah bersifat terbuka. Pertikaian terjadi karena semakin tajamnya perbedaan antara kalangan tertentu dalam masyarakat. Semakin tajam perbedaan mengakibat kan amarah dan rasa benci yang mendorong tindakan untuk melukai, menghancurkan, atau menyerang pihak lain. Pertikaian jelas sekali mengarah pada disintegrasi antarindividu ataupun kelompok.

d. Konflik Pertentangan atau konflik (conflict) adalah suatu perjuangan individu atau kelompok sosial untuk memenuhi tujuannya dengan jalan menentang pihak lawan yang disertai ancaman dan kekerasan. Pengertian konflik yang paling sederh asi wajar dalam setiap masyarakat. Bahkan, tidak ada satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik, entah dalam cakupan kecil ataupun besar. Konflik dalam cakupan kecil, misalnya konflik dalam keluarga. Adapun konflik dalam cakupan besar, misalnya konflik antargolongan atau antarkampung. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya konflik adalah sebagai berikut. 1) Perbedaan individu yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. 2) Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda pula. 3) Perbedaan kepentingan antara individu dan kelompok, di antaranya menyangkut bidang ekonomi, politik, dan sosial. 4) Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Konflik memiliki bentuk-bentuk khusus, di antaranya: 1) konflik pribadi, 2) konflik rasial, 3) konflik antarkelas sosial, 4) konflik politik dan konflik internasional.

Konflik kadang-kadang diperlukan dalam suatu kelompok atau organisasi sosial. Adanya pertentangan dalam suatu kelompok atau organisasi sosial merupakan hal biasa. Apabila dari perten tangan tersebut dapat dihasilkan kesepakatan, akan terwujud integrasi yang lebih erat dari sebelumnya. Konflik juga akan membawa akibat positif asalkan masalah yang diper tentangkan dan kalangan yang bertentangan memang konstruktif. Artinya, konflik itu samasama dilandasi kepentingan menjadikan masyarakat lebih baik. Contohnya, konflik mengenai kebebasan informasi. Kalangan yang satu menghendaki bebasnya informasi dengan alasan melatih masyarakat untuk menyaring informasi secara mandiri. Kalangan yang lain menghendaki adanya lembaga sensor karena khawatir adanya informasi yang tidak mendidik. Kedua kalangan sama-masa menginginkan masyarakat yang semakin berkualitas.

Soal Pengayaan Terjadinya konflik antargenerasi sebagai akibat adanya mobilitas sosial, pada umumnya terjadi karena …. a. tidak ada pengertian kelompok lama ke kelompok baru b. kecemburuan sosial terhadap kelompok lain c. orang selalu menuntut kenaikan status sosial d. adanya ketidakpuasan di antara kelas sosial e. merasa gagal mengejar harapan yang didambakan Jawaban: a Konflik yang terjadi antara satu kelompok dengan kelompok lain cenderung terjadi karena tidak adanya komunikasi dan hubungan yang sejalan, sehingga tidak munculnya sikap pengertian antara satu dengan yang lainnya.