Permasalahan Lingkungan Hidup dan Upaya Mengatasinya

Permasalahan Lingkungan Hidup dan Upaya Mengatasinya

Permasalahan Lingkungan Hidup dan Upaya Mengatasinya

Permasalahan Lingkungan Hidup – Masalah-masalah lingkungan sering mengemuka dan menjadi berita hangat dalam keseharian kita. Mungkin kalian pernah mendengar berita kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Atau berita tentang banjir lumpur panas di Sidoarjo yang terjadi pada akhir bulan Mei 2006 yang lalu. Dua contoh tersebut merupakan permasalahan lingkungan yang terjadi akibat perbuatan manusia. Sebagai konsekuensinya, untuk menghindari dampak yang lebih berbahaya, pelestarian lingkungan merupakan upaya yang sangat penting untuk dilakukan. Nah, untuk mempelajarinya kalian bisa menyimak uraian berikut.

Permasalahan Lingkungan Hidup
Permasalahan Lingkungan Hidup

Permasalahan Lingkungan Hidup – Pada bab ini kalian akan mempelajari berbagai kerusakan dan pencemaran yang terjadi di lingkungan, mendiskusikan penyebabnya, serta menemukan alternatif pemecahannya. Kalian juga akan melakukan pengamatan terhadap pengaruh bahan polutan atas kelangsungan hidup suatu organisme. Setelah itu, kalian akan mempelajari upayaupaya pelestarian lingkungan dan etika berlingkungan. Kalian pun akan menganalisis jenis-jenis limbah dan melakukan daur ulang limbah sebagai salah satu usaha mengatasi permasalahan lingkungan. Tujuan pembelajaran ini adalah kalian mampu menemukan faktor-faktor penyebab kerusakan lingkungan dan membuat usulan alternatif pemecahannya. Selain itu, kalian diharapkan mampu mengenali perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan, memberikan contoh bahan-bahan polutan dan dampaknya bagi lingkungan, serta menghayati dan mengamalkan etika lingkungan. Selain itu, kalian juga diharapkan mampu mendata dan mengklasifi kasikan jenis-jenis limbah dan menjelaskan parameter kualitas limbah sebagai polutan, serta mendesain dan membuat produk daur ulang limbah.

Permasalahan Lingkungan Hidup

A. Perubahan Lingkungan

Lingkungan dapat diartikan sebagai suatu kesatuan ruang, dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang memengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sebagai makhluk hi dup, manusia merupakan komponen dalam ekosistem. Dengan begitu, kehidupannya juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat hidupnya. Dalam keadaan normal, lingkungan membentuk suatu keseimbangan yang disebut keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium). Dalam kondisi keseimbangan ini, komponen-komponen yang menyusun ekosistem saling mendukung satu sama lain. Komponenkomponen tersebut terdiri atas komponen biotik dan komponen abiotik atau lingkungan. Komponen biotik terdiri atas makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme.

Permasalahan Lingkungan Hidup – Sedangkan lingkungan abiotik terdiri atas benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, kelembab an, dan suhu atau temperatur. Lingkungan abiotik merupakan faktor penting yang mendukung kehidupan. Contoh lingkungan yang seimbang adalah hutan (Gambar 10.1). Di dalam ekosistem hutan yang masih alami, terdapat pohon-pohon atau tumbuhan lain yang berperan sebagai produsen. Sebagai produsen, tumbuhan merupakan penghasil makanan (energi) dan oksigen, karena mampu melakukan fotosintesis. Fotosintesis menghasilkan karbohidrat sebagai sumber energi bagi konsumennya, termasuk manusia. Tumbuhan juga mempunyai fungsi sebagai tempat berlindung atau tempat tinggal bagi berbagai jenis hewan. Selain untuk makanan, sumber daya hutan juga dimanfaatkan manusia untuk memenuhi keperluan lain, seperti aneka jenis kayu dan rotan yang digunakan untuk bahan bangunan dan peralatan rumah tangga.

Permasalahan Lingkungan Hidup – Dengan kecerdasan yang dimiliki, serta ilmu pengetahuan dan teknologinya, manusia mampu membuat peradaban dan mengubah bentang alam. Semua aktivitas tersebut akhirnya memengaruhi keseimbangan lingkungan, dan seringkali menimbulkan kerusakan lingkungan. Meskipun kerusakan lingkungan dapat disebabkan oleh faktor alam dan manusia, tetapi manusialah yang berperan penting karena pada dasarnya manusia sangat bergantung pada lingkungan. Manusia memelihara dan menjaga lingkungan karena mendapatkan berbagai manfaat. Dari lingkungan, semua kebutuhan manusia dapat terpenuhi. Lingkungan juga merupakan sumber air dan oksigen yang merupakan unsur vital dalam kehidupan. Tetapi ironisnya, dalam usaha memenuhi kesejahteraan hidupnya, perilaku manusia justru seringkali menurunkan kualitas lingkungan dan menimbulkan berbagai kerusakan.

1. Perubahan Lingkungan dan Dampaknya

Permasalahan Lingkungan Hidup – Perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia akan memengaruhi keseimbangan alam. Apabila hal ini terjadi, maka kualitas lingkungan akan menurun, dan pada akhirnya manusia juga yang akan merasakan akibatnya. Berbagai perusakan lingkungan yang sering dilakukan manusia adalah penebangan hutan secara liar, konversi lahan subur menjadi permukiman, serta efek samping intensifi kasi pertanian. Manusia memang bergantung pada alam, sehingga wajar apabila kita meng ambil berba gai sumber daya hutan, seperti menebang pohon untuk diambil kayunya. Penebangan hutan harus memerhatikan kelestarian lingkungan, misalnya dengan sistem tebang pilih dan diikuti reboisasi. Sehingga hutan mampu tumbuh kembali. Namun yang sering dilakukan manusia adalah sebaliknya, yaitu penebangan hutan secara liar (illegal logging). Perhatikan Gambar 10.2. Penebangan liar ini dilakukan oleh oknum-oknum yang hanya berorientasi pada kepenting an pribadi dan mengabaikan kelestarian lingkungan. Eksploitasi alam secara tidak bertanggungjawab ini pada akhirnya akan mengurangi berbagai fungsi hutan, terutama berkurangnya kemampuan hutan sebagai penahan air. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang dan memengaruhi kehidupan satwa liar di dalamnya dan juga kehidupan manusia. Selain itu, akibat penebangan liar, hutan pun menjadi gundul, sehingga apabila musim hujan tiba dapat timbul bencana seperti banjir dan tanah longsor. Selain penebangan hutan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia juga membangun rumah atau permukiman. Karena pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, maka ketersediaan lahan yang terbatas menyebabkan daya tampung lingkungan menurun. Dan pada akhirnya karena kebutuhan yang sangat tinggi akan rumah tinggal, manusia rela melakukan pembangunan rumah di tanah-tanah yang subur, misalnya sawah, ladang, kebun, bahkan membuka hutan. Konversi lahan subur menjadi area permukiman ini menyebabkan berkurangnya lahan pertanian, sehingga mengancam ketahanan pangan nasional. Sebagai makhluk heterotrof, manusia memerlukan makanan dari tumbuhan dan hewan. Untuk mencukupi kebutuhan pangan tersebut, manusia melakukan budidaya tanaman atau pertanian. Namun, karena lahan pertanian berkurang seiring pertambahan penduduk dan konversi lahan pertanian menjadi perumahan, maka untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut kita melakukan berbagai upaya, misalnya dengan menerapkan intensifi kasi pertanian. Tujuannya adalah peningkatan produksi pertanian tanpa harus menambah luas lahan (ekstensifi kasi pertanian).

Penerapan intensifi kasi pertanian dengan Panca Usaha Tani, di satu sisi dapat meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi di sisi lain bisa merugikan manusia sendiri. Pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan untuk meningkatkan hasil produksi dapat menyebabkan terjadinya polusi atau pencemaran. Pemilihan bibit unggul atau mementingkan komoditas tertentu menyebabkan petani hanya menanam satu jenis tanaman dalam satu lahan (pertanian monokultur). Pertanian monokultur akan menurunkan keanekaragaman organisme sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem dan berpotensi menyebabkan terjadinya ledakan hama tertentu. Misalnya hama wereng atau tikus yang menyerang area tanaman padi. Selain akibat ulah manusia, perubahan lingkungan juga terjadi karena peristiwa alam. Contoh peristiwa alam yang mengubah lingkungan tersebut adalah letusan gunung berapi, badai, angin, gempa bumi, musim kemarau yang panjang, kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor. Di antara peristiwa tersebut juga ada yang dipengaruhi oleh campur tangan manusia, misalnya kemarau panjang, kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor yang dipicu oleh penebangan hutan. Perubahan akibat faktor alam bersifat mendadak dan sulit diatasi. Umumnya menimbulkan dampak yang serius bagi lingkungan.

Letusan gunung berapi yang disertai muntahan lahar, awan panas, gas, partikel debu, dan hujan abu (Gambar 10.3), menimbulkan kerusakan berupa rusaknya lingkungan dan matinya tumbuhan, hewan, serta manusia. Kemarau panjang juga merupakan peristiwa alam yang menimbulkan perubahan lingkungan. Kemarau me-nimbulkan kekeringan, sehingga banyak tumbuhan yang mati. Di bidang pertanian timbul dampak negatif berupa gagal panen atau penurunan produksi. Di daerah Jawa Barat, misalnya, areal pertanian seluas 1 hektar yang biasanya menghasilkan 3 ton beras, mengalami penurunan produksi menjadi 9 kwintal beras per hektar akibat keke ringan. Namum demikian, terjadinya kemarau panjang dan perubahan iklim yang ekstrim bisa pula terjadi akibat aktivitas manusia, seperti pemanasan global dan penipisan lapisan ozon.

Kemarau panjang juga bisa memicu kebakaran hutan, seper ti yang terjadi di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi (Gambar 10.4). Dampaknya adalah hilangnya keaneka ragaman hayati, terjadi kabut asap, dan pemanasan global atau global warming. Perlu kalian ketahui, kebakaran hutan di daerah tropis seperti negara kita ini bukan murni terjadi akibat peristiwa alam, tetapi dipicu oleh kegiatan manusia seperti pembukaan hutan dengan pembakaran dan kecerobohan manusia meninggalkan sumber api ketika beraktivitas di dalam hutan. Sedangkan di daerah temperate atau daerah empat musim, kebakaran hutan merupakan salah satu kejadian alami yang merupakan ciri ekosistem tersebut. Di sana, kebakaran merupakan salah satu mekanisme alam untuk menjaga kese imbangan dinamisnya.

Permasalahan Kawasan Pesisir dan Pantai

Permasalahan Kawasan Pesisir dan Pantai

Permasalahan Kawasan Pesisir dan Pantai

Pengertian 

Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat dan laut; ke arah darat meliputi bagian daratan, baik kering maupun terendam air, yang masih dipengaruhi sifat-sifat laut seperti pasang surut, angin laut, dan perembesan air asin; sedangkan ke arah laut meliputi bagian laut yang masih dipengaruhi oleh proses-proses alami yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar, maupun yang disebabkan oleh kegiatan manusia di darat seperti penggundulan hutan dan pencemaran (Soegiarto, 1976; Dahuri et al, 2001). Berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor: KEP.10/MEN/2002 tentang Pedoman Umum Perencanaan Pengelolaan Pesisir Terpadu, wilayah pesisir didefinisikan sebagai wilayah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang saling berinteraksi, dimana ke arah laut 12 mil dari garis pantai untuk propinsi dan sepertiga dari wilayah laut itu (kewenangan propinsi) untuk kabupaten/kota dan ke arah darat batas administrasi kabupaten/kota.

Permasalahan Kawasan Pesisir dan Pantai
Permasalahan Kawasan Pesisir dan Pantai

edua definisi wilayah pesisir tersebut di atas secara umum memberikan gambaran besar, betapa kompleksitas aktivitas ekonomi dan ekologi terjadi di wilayah ini. Kompleksitas aktivitas ekonomi seperti perikanan, pariwisata, pemukiman, perhubungan, dan sebagainya memberikan tekanan yang cukup besar terhadap keberlanjutan ekologi wilayah pesisir seperti ekosistem mangrove, padang lamun dan terumbu karang. Tekanan yang demikian besar tersebut jika tidak dikelola secara baik akan menurunkan kualitas dan kuantitas sumberdaya yang terdapat di wilayah pesisir.

Permasalahan Kawasan Pesisir dan Pantai

Kerusakan hutan mangrove, abrasi dan akresi pantai, perubahan tataguna lahan di wilayah pesisir, intrusi air laut, dan pencemaran air laut. Degradasi lingkungan di kawasan pesisir disebabkan oleh fenomena alam seperti abrasi dan akresi pantai, eksploitasi sumberdaya marine yang berlebih-lebihan, konversi lahan mangrove menjadi tambak, deplesi air tanah tawar, dan tidak berkelanjutannya praktek pengelolaan lahan di daerah hulu DAS.

Kegagalan pengelolaan SDA dan lingkungan hidup ditengarai akibat adanya tiga kegagalan dasar dari komponen perangkat dan pelaku pengelolaan : 1. Akibat adanya kegagalan kebijakan (lag of policy) sebagai bagian dari kegagalan perangkat hukum yang tidak dapat menginternalisasi permasalahan lingkungan yang ada. Kegagalan kebijakan (lag of policy) terindikasi terjadi akibat adanya kesalahan justifikasi para policy maker dalam menentukan kebijakan dengan ragam pasal-pasal yang berkaitan erat dengan keberadaan SDA dan lingkungan. Artinya bahwa, kebijakan tersebut membuat ‘blunder’ sehingga lingkungan hanya menjadi variabel minor. Padahal, dunia internasional saat ini selalu mengaitkan segenap aktivitas ekonomi dengan isu lingkungan hidup, seperti green product, sanitary safety, dan sebagainya.

Selain itu, proses penciptaan dan penentuan kebijakan yang berkenaan dengan Lingkungan ini dilakukan dengan minim sekali melibatkan partisipasi masyarakat dan menjadikan masyarakat sebagai komponen utama sasaran yang harus dilindungi. Contoh menarik adalah kebijakan penambangan pasir laut. Di satu sisi, kebijakan tersebut dibuat untuk membantu menciptakan peluang investasi terlebih pasarnya sudah jelas. Namun di sisi lain telah menimbulkan dampak yang cukup signifikan dan sangat dirasakan langsung oleh nelayan dan pembudidaya ikan di sekitar kegiatan. Bahkan secara tidak langsung dapat dirasakan oleh masyarakat di daerah lain. Misalnya terjadi gerusan/abrasi pantai, karena karakteristik wilayah pesisir yang bersifat dinamis.

2. Adanya kegagalan masyarakat (lag of community) sebagai bagian dari kegagalan pelaku pengelolaan lokal akibat adanya beberapa persoalan mendasar yang menjadi keterbatasan masyarakat. Kegagalan masyarakat (lag of community) terjadi akibat kurangnya kemampuan masyarakat untuk dapat menyelesaikan persoalan lingkungan secara sepihak, disamping kurangnya kapasitas dan kapabilitas masyarakat untuk memberikan pressure kepada pihakpihak yang berkepentingan dan berkewajiban mengelola dan melindungi lingkungan. Ketidakberdayaan masyarakat tersebut semakin memperburuk bargaining position masyarakat sebagai pengelola lokal dan pemanfaat SDA dan lingkungan. Misalnya saja, kegagalan masyarakat melakukan penanggulangan masalah pencemaran yang diakibatkan oleh kurang perdulinya publik swasta untuk melakukan internalisasi eksternalitas dari kegiatan usahanya. Contoh kongkrit adalah banyaknya pabrik-pabrik yang membuang limbah yang tidak diinternalisasi ke DAS yang pasti akan terbuang ke laut atau kebocoran pipa pembuangan residu dari proses ekstrasi minyak yang tersembunyi, dan sebagainya.

3. Adanya kegagalan pemerintah (lag of government) sebagai bagian kegagalan pelaku pengelolaan regional yang diakibatkan oleh kurangnya perhatian pemerintah dalam menanggapi persoalan Lingkungan. Kegagalan pemerintah (lag of government) terjadi akibat kurangnya kepedulian pemerintah untuk mencari alternatif pemecahan persoalan lingkungan yang dihadapi secara menyeluruh dengan melibatkan segenap komponen terkait (stakeholders). Dalam hal ini, seringkali pemerintah melakukan penanggulangan permasalahan Lingkungan yang ada secara parsial dan kurang terkoordinasi. Dampaknya, proses penciptaan co-existence antar variabel lingkungan yang menuju keharmonisan dan keberlanjutan antar variabel menjadi terabaikan. Misalnya saja, solusi pembuatan tanggultanggul penahan abrasi yang dilakukan di beberapa daerah Pantai Utara (Pantura) Jawa, secara jangka pendek mungkin dapat menanggulangi permasalahan yang ada, namun secara jangka panjang persoalan lain yang mungkin sama atau juga mungkin lebih besar akan terjadi di daerah lain karena karakteristik wilayah pesisir dan laut yang bersifat dinamis.

Peranan Manusia dalam Permasalahan Sosial

Peranan Manusia dalam Permasalahan Sosial

Peranan Manusia dalam Permasalahan Sosial

Salah satu permasalahan sosial yang terkait langsung dengan pertumbuhan penduduk yang paling menonjol adalah terjadinya peledakan penduduk, penyebaran penduduk yang tidak merata, dan pada akhirnya terjadinya kemiskinan. Hal semacam itu terjadi karena ledakan penduduk yang terjadi pada wilayah tertentu, sehingga kapasitas kewilayahan tidak seimbang dengan jumlah penduduk. Dengan kata lain, daya dukung wilayah tidak mampu menampung keberadaan penduduk. Faktor-faktor yang membuat terjadinya kemiskinan menurut Soekanto (1990) antara lain sebagai berikut.

Peranan Manusia dalam Permasalahan Sosial
Peranan Manusia dalam Permasalahan Sosial

1. Karena kegagalan mereka untuk dapat memperoleh kesempatan menguasai sesuatu yang lebih dari yang sekarang mereka miliki. 2. Kegagalan untuk memperoleh kesempatan menguasai tersebut adalah akibat dari adanya ketidakadilan yang dirasakan. 3. Karena seseorang merasa tidak cukup terhadap apa yang dimiliki sekarang. 4. Karena tidak atau kurang adanya pembagian kekayaan yang merata di antara individu atau kelompok manusia yang ada dalam kehidupan masyarakat. 5. Tidak adanya kesempatan kerja atau kegagalan dalam mencari pekerjaan, sehingga mereka menjadi tuna karya dan atau tuna susila.

Menurut McHale (1970) yang menyebabkan ketidakberuntungan secara ekonomi bagi seseorang atau sekelompok orang adalah kebutuhan hidup manusia yang tidak atau kurang terpenuhi. Kebutuhan yang tidak/kurang terpenuhi itu meliputi:

1. Untuk memenuhi kekurangan (deficiency needs) yang diperlukan untuk mencapai tingkat tertentu tak tercapai. 2. Keperluan untuk mempertahankan satu tingkat tertentu yang dianggap perlu tapi tidak terpenuhi. 3. Keperluan untuk berkembang (growth needs).

Keperluan untuk masing-masing individu untuk mengembangkan dirinya pada tingkat tertentu tidak terpenuhi atau tidak kesampaian.

Menurut Baldwin dan Meier setidaknya ada enam aspek ekonomi yang dapat digunakan untuk mengukur ketidak beruntungan (kemiskinan) seseorang atau sekelompok orang/masyarakat, yaitu:

1. Suatu negara atau masyarakat yang hanya mampu memproduksi barang-barang primer seperti kayu glondong, berbagai hasil pertanian dan perkebunan yang masih mentah dan belum diolah. 2. Adanya pertambahan penduduk yang tinggi seperti angka kelahiran yang tinggi, penduduk yang berpendidikan dan berketerampilan rendah, dan penduduk yang padat. 3. Sumberdaya alam yang belum banyak diolah, karena keterampilan penduduk yang rendah. 4. Pendapatan penduduk yang masih rendah. 5. Kekurangan kapital atau modal untuk usaha atau pembangunan. 6. Ekspor barang atau penjualan barang yang masih rendah.

Menurut Laeyendeker, berbagai faktor yang mengakibatkan seseorang petani menjadi miskin antara lain sebagai berikut (Amaludin, 1987):

1. Mereka yang memiliki atau menguasai alat-alat produksi adalah tergolong sebagai petani yang kaya. Sedangkan mereka yang tidak memiliki atau tidak dapat menguasai alat-alat produksi adalah sebagai petani miskin. 2. Mereka yang menguasai nilai lebih secara langsung tergolong sebagai petani yang kaya. Sedangkan mereka tidak menguasai nilai lebih secara langsung adalah sebagai petani miskin. 3. Mereka yang sejak semula menjadi kaum miskin (kaum miskin murni). Mereka itu seperti kaum buruh tani dan kaum pengusaha kecil yang memang miskin, karena tidak adanya kecukupan pada kebiatan usahanya atau kerjanya itu.

Menurut Harris (1991) berbagai faktor yang menyebabkan kemiskinan/ketidakberuntungan antara lain adalah sebagai berikut: 1. Eksploitasi terhadap sumberdaya alam yang ada di pedesaan tidak atau kurang menguntungkan secara ekonomi bagi para penduduk. 2. Kekurangberhasilan pembangunan dan investasi di pedesaan yang tidak menyertakan para ahli secara lintas sektoral, karena yang dibutuhkan tidak hanya ahli ekonomi saja. 3. Birokrasi pemerintahan yang terlalu panjang dan berbelit ketika adanya investasi di pedesaan dan banyaknya biaya ektra hingga tidak mengefisiensikan investasi yang dilakukan 4. Pertumbuhan yang tidak konsisten yang terjadi di pedesaan, sehingga petani senantiasa menghadapi hal yang tidak pasti dalam menjalankan dan terutama menjual produksi.