Tentang Manfaat dari Pertanian Organik

Tentang Manfaat dari Pertanian Organik

Tentang Manfaat dari Pertanian Organik

Tentang Manfaat dari Pertanian Organik
Tentang Manfaat dari Pertanian Organik

Pertanian Organik – : Pertanian organik – lebih mudah, murah, dan tangguh terhadap kesulitan air ”Semua orang, termasuk istri saya menentang ketika saya memutuskan untuk bertani organik. Namun, nyatanya setelah 18 musim panen, praktik ini jauh lebih unggul. Saya tidak harus terlalu mencemaskan mengenai kekurangan air atau kenaikan harga pestisida dan pupuk kimia” (Ade Saeful Komar, Desa Sukahaji Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang). Ade memulai bertani organik sejak 1998 setelah berdiskusi dengan pendamping lapangan petani dari yayasan Nastari. Istrinya yang sangat tidak yakin, risau cara baru itu akan mengurangi hasil tani mereka. Istrinya benar – panen mereka menurun dari semula 6 ton menjadi hanya 4 ton saja. Namun, Ade bersikukuh untuk melanjutkan dengan terus belajar, dan setelah empat musim panen, hasil taninya kembali ke normal. “Saya membuat kekeliruan di awal, saya tidak memproses kotoran sapi dengan mengkomposnya. Setelah saya melakukannya, hasil sawah saya menjadi makin baik dan makin baik.”

Pertanian Organik – Salah satu keuntungan bertani organik adalah cara ini tidak terlalu bergantung pada air seperti cara-cara nonorganik yang lebih banyak membutuhkan air. Dan ketika tanah diberi pupuk kandang dan bukan pupuk kimia, strukturnya menjadi lebih kuat dan lebih tahan terhadap kekeringan. Ade juga membuat sendiri pestisida alamiahnya. Dia mencampur daun nimbung/mindi dengan bawang putih dan menghaluskannya dengan blender. Atau kadang-kadang dia menggunakan brotowali, dicampur dengan daun sirsak dan daun jaringan. “Murah. Mudah. Saya hanya perlu membeli setengah kilo bawang putih seharga Rp 4.000,”katanya. Dia juga mempraktikkan legowo, yaitu merenggangkan jarak tanam antara rumpun batang padi satu dan yang lainnya untuk membiarkan sinar matahari masuk menembus ke akar-akar padi karena serangga tidak menyukai sinar matahari. Hasilnya, sawahnya lebih aman dari serangan hama ketimbang sebelumnya. Sukses Ade ini belum memberikan inspirasi bagi petani sebelah menyebelah sawahnya untuk menerapkan praktik serupa. Sudah begitu terbiasanya para petani ini dengan pupuk kimia dan pestisida sehingga mereka tidak meyakini metode lain. Bagaimanapun, ada beberapa petani kenalan Ade yang sudah mulai menggunakan lebih sedikit pestisida dan pupuk kimia.

Pertanian Organik – Prioritas lainnya adalah pengelolaan air yang lebih baik. Caranya mungkin adalah dengan lebih banyak berinvestasi untuk irigasi dan juga dalam menampung dan menyimpan air – untuk menyeimbangkan peningkatan curah hujan di bulan April, Mei dan Juni, dengan penurunan curah hujan di bulan Juli, Agustus, dan September. Para petani mungkin akan lebih tangguh menghadapi perubahan iklim bila mereka memiliki perkiraan cuaca yang akurat dan tahu bagaimana harus merespon perubahan itu. Jika, misalnya, mereka dapat menyesuaikan waktu tanam dengan turun hujan pertama, mereka akan dapat memanen hasil yang lebih baik karena tanaman pangan mereka memperoleh lebih banyak unsur penyubur. Atau jika mereka tahu tahun itu akan menjadi tahun kemarau, maka mereka dapat mengganti tanaman pangan – mungkin dengan menanam kacang hijau, dan bukan padi. Mereka juga dapat beralih ke tanaman pangan yang lebih tinggi nilai jualnya meski hal ini bergantung pada kualitas benih dan masukan serta berbagai bantuan tambahan. Sementara itu mereka juga dapat melakukan penyesuaian antara menanam tanaman pangan dan memelihara ternak. Akhirnya, para petani yang tengah menghadapi atau sudah mengalami tahun gagal panen, dapat beradaptasi dengan bekerja di bidang non-tani, mungkin dengan bermigrasi sementara ke daerah lain atau ke kota lain. Saat ini meski para petani ini sudah mendapatkan informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika, mereka mungkin tidak tahu bagaimana menginterpretasikan informasi itu.

Pertanian Organik – Suatu prakarasa untuk menjembatani hal ini adalah Sekolah Lapang Iklim seperti yang diadakan di Indramayu yang bertujuan menerjemahkan perkiraan ilmiah iklim ke dalam bahasa petani yang lebih sederhana dan melatih para petani untuk merespon. Haji Sartim dari desa Sukamandi, Ciasem, Subang, misalnya mengatakan bahwa karena kini mereka memahami data tentang curah hujan “para petani jadi tahu kapan waktu yang tepat untuk menanam sehingga pada saat musim hujan tiba, tanaman mereka sudah cukup kuat untuk menahan genangan banjir.” Sekolah Lapang Iklim ini merupakan proyek kerja sama antara Asian Disaster Preparedness Center dan Institut Pertanian Bogor, Dinas Pertanian Indramayu, dan Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).

Jika para petani memiliki akses ke informasi dan sarana yang tepat mereka akan dapat melakukan sendiri adaptasi yang dibutuhkan. Namun, sebagian dari mereka akan lebih sulit melakukan adaptasi, entah itu karena tanah garapan mereka tidak subur, misalnya, atau karena pasokan air tidak memadai, atau karena mereka tidak memiliki modal. Selain itu, mereka juga mungkin menghadapi berbagai kendala kelembagaan atau kultural. Dalam berbagai kasus seperti ini, pemerintah bisa membantu melalui intervensi yang langsung dan terencana, dengan menyediakan pengetahuan baru atau peralatan baru atau mencarikan teknologi-teknologi baru. Sementara tindakan-tindakan adaptasi seperti mengubah pola tanam bisa dilaksanakan segera, berbagai tindakan adaptasi lainnya, seperti penanaman kembali hutan atau pengalihan air antar waduk, merupakan tindakan adaptasi jangka panjang (Diagram 7). 16

Adaptasi di wilayah pesisir Lingkungan pesisir tertentu dapat ditimpa ancaman lebih berat, yaitu wilayah delta pasang-surut dan pantai-pantai berpasir di pesisir yang rendah letaknya, serta pulau-pulau penyangga, wilayah rawa pesisir, muara, laguna, dan wilayah terumbu karang dan atol. Seluruh lingkungan ini akan terancam oleh naiknya muka air laut. Dihadapkan pada berbagai efek perubahan iklim ini, masyarakat di wilayah pesisir memiliki tiga strategi dasar: ‘berlindung’, ‘mundur’, atau ‘melakukan penyesuaian’. • Membuat perlindungan – Untuk perlindungan, pilihan yang tampaknya paling meyakinkan barangkali adalah mendirikan bangunan yang kukuh seperti tanggul di laut, namun selain sangat mahal tindakan ini dapat memberikan efek samping seperti erosi dan sedimentasi. Karena itu, umumnya ada berbagai pilihan yang lebih ‘lunak’ seperti menciptakan atau memulihkan wilayah rawa pesisir dan menanam berbagai varietas mangrove dan vegetasi yang dapat mengatasi perubahan salinitas yang ekstrem • Mundur – Mundur hanya soal pindah tempat saja. Kebanyakan para pemilik rumah dan bisnis dapat melakukannya dengan upaya mereka sendiri, meski pemerintah setempat juga akan berperan dalam menetapkan ‘wilayah untuk mundur’ yang mempersyaratkan pembangunan baru dilakukan dalam jarak tertentu dari sisi laut. • Melakukan penyesuaian – Melakukan penyesuaian dapat dilakukan dengan berbagai cara. Barangkali, misalnya, dengan membiakkan berbagai jenis ikan ke muara, wilayah mulut sungai dan laguna, serta mengembangkan berbagai bentuk akuakultur yang baru. Masyarakat pesisir juga akan membutuhkan sistem peringatan yang lebih baik untuk berbagai peristiwa cuaca ekstrem disertai rencana evakuasi kedaruratan untuk relokasi bila terjadi kedaruratan mendadak.

Sebagian besar aktivitas ini menjadi tanggung jawab pemerintah daerah dan pusat. Kendati demikian, di semua tahapannya diperlukan konsultasi langsung dengan masyarakat, karena pelaksanaan seluruh tindakan itu akan bergantung pada keahlian lokal. Untuk kasus tertentu, dapat diberikan insentif bagi sektor-sektor swasta, seperti dalam kasus untuk mengatasi erosi pantai di resor-resor pariwisata. Selain itu, berbagai lembaga swadaya masyarakat dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat dan bertindak sebagai perantara – dengan mengidentifikasi berbagai teknologi, memfasilitasi investasi, dan menyediakan bantuan pengelolaan, teknis, dan bantuan lainnya Adaptasi untuk penyediaan air Perubahan iklim kemungkinan memberikan dampak berat pada pelayanan penyediaan air – baik terhadap pasokan maupun permintaan. Dalam hal pasokan, sudah ada kecenderungan perubahan pola curah hujan dengan implikasi terhadap produksi pangan, transportasi air, dan berbagai sumber mata pencarian yang mengandalkan air. Dalam soal permintaan, pemanasan global akan meningkatkan kebutuhan air masyarakat dan mempercepat penguapan dari permukaan tanaman dan dari sumber-sumber air seperti kolam dan danau. 16

Suatu pendekatan yang paling menyeluruh adalah dengan memelihara berbagai sarana pemasok air yang disebut dengan istilah ‘pengelolaan air secara terpadu’ yang menekankan pentingnya memelihara kelestarian ekosistem. Pendekatan ini perlu mempertimbangkan berbagai persoalan seperti penggundulan hutan, pengelolaan air untuk irigasi dan hubungan keduanya, serta pengurasan air tanah untuk keperluan rumah tangga, bisnis, dan pertanian. Beberapa pilihan untuk menjamin pasokan air antara lain adalah dengan meningkatkan pasokan – memperbaiki waduk, misalnya, menambal saluran, atau menampung air hujan. Pilihan lain adalah dengan mengurangi kebutuhan – antara lain dengan mengurangi kebocoran dari pipa-pipa atau melakukan lebih banyak upaya untuk memproses air limbah menggunakan ‘infrastruktur ramah lingkungan’ seperti saringan pasir dan pengelolaan air limbah dengan tanaman rawa (wetlands). Di Indonesia banyak waduk menampung air lebih banyak daripada yang dibutuhkan untuk kebutuhan manusia, sementara di tempat lain mengalami kekurangan yang parah, terutama waduk-waduk di Jawa dan Nusa Tenggara. Dalam kasuskasus seperti ini,‘pengalihan air antarwaduk’ akan dapat menyeimbangkan distribusi air dari wilayah yang berkelebihan ke daerah yang mengalami defisit.

Menentukan Lokasi Pertanian Yang Baik

Menentukan Lokasi Pertanian Yang Baik

Menentukan Lokasi Pertanian Yang Baik

Lokasi Pertanian – Di daerah pedesaan, manajemen tataguna lahan lebih banyak mengarah ke sektor pertanian.

Bagaimana penentuan lokasi tanaman? Jenis pupuk apa yang cocok untuk dipakai? Dan bagaimana proses pengolahan lahannya? Maka untuk menentukan lokasi pertanian tersebut dapat dilakukan dengan cara koleksi peta dan pemetaan beberapa unsur yang penting untuk pertanian dan data sekunder lainnya baik berupa peta atau data yang dapat dipetakan.

Misalnya peta yang diperlukan adalah peta curah hujan, kondisi tanah, ketinggian, dan keadaan alam. Walaupun data sekunder tentang kriteria tersebut di atas sudah di dapat, pengecekan lapangan dan pengambilan sampel dan uji laboratorium tetap harus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengup-date data, sehingga didapat data dan peta yang aktual serta akan didapat pola-polanya seperti dari data curah hujan dari tahun ke tahun.

Dari peta-peta tematik yang dibuat kita dapat mengoverlaykannya (tumpang susun) dan memberikan skor sehingga didapat peta arahan pemanfaatan lahan yang diinginkan. Dari peta tersebut kita dapat menentukan daerah mana yang cocok untuk dibuat sebagai lahan pertanian. Kita juga dapat menentukan jenis tanaman dan pupuk yang dipakai serta penanganannya.

Menentukan Lokasi Pertanian Yang Baik
Menentukan Lokasi Pertanian Yang Baik

RANGKUMAN

• Industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku, barang setengah jadi dan atau barang jadi menjadi barang yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomis yang lebih tinggi.

• Penggolongan tipe atau jenis industri dapat didasarkan pada kriteria-kriteria tertentu. Salah satunya klasifikasi industri menurut Departemen Perindustrian dan Perdagangan RI (SK Menteri Perindustrian no. 19/m/i/1986. Klasifikasi tersebut berdasarkan pada bahan mentah, bahan baku, tenaga kerja, asosiasi di antara kesatuan-kesatuannya, orientasi lokasinya, tahapan produksi, hasil produksinya, pengelolanya, asal modal, dan bahan dasar industri.

• Faktor-faktor penyebab aglomerasi industri antara lain adalah karena adanya kesamaan lokasi usaha yang didasarkan pada salah satu faktor produksi, terkonsentrasinya beberapa faktor produksi pada suatu lokasi, adanya kerja sama dalam menghasilkan suatu produk, kebutuhan sarana prasarana dan bidang pelayanan lainnya yang lengkap, adanya wilayah pusat pertumbuhan industri yang sesuai dengan tata ruang dan fungsi wilayah.

• Hubungan antara transportasi dengan aglomerasi industri adalah untuk memperhitungkan biaya transportasi minimum agar dapat menekan biaya produksi yang harus dikeluarkan.

• Sistem transportasi yang baik dan mudah di suatu wilayah merupakan salah satu terjadinya aglomerasi industri pada wilayah tersebut.

• Penentuan lokasi industri dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti bahan baku, pasar, tenaga kerja, sumber energi, transportasi serta faktor-faktor pendukung lainnya.

G LO S A R I U M

Aglomerasi industri : Gejala terkonsentrasinya industri pada suatu wilayah tertentu

Bahan baku industri : Bahan mentah yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana produksi

Industri : aktivitas manusia dalam bidang ekonomi yang menghasilkan sesuatu barang atau jasa

Bahan mentah : Semua bahan yang didapat dari sumber daya alam Industri fasilitatif : Industri yang menjual jasa untuk keperluan orang lain

Industri hilir : Industri yang mengolah bahan setengah jadi menjadi barang jadi sehingga barang yang dihasilkan dapat langsung dipakai konsumen,

Industri hulu : Industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi.

Industri kecil : Industri yang bergerak dengan jumlah pekerja sedikit, modal kecil, dan teknologi sederhana Industri manufaktur : Industri yang mengolah bahan baku yang hasilnya untuk keperluan seharihari atau digunakan industri lain

Kawasan berikat : Suatu kawasan dengan batas tertentu di wilayah pabean yang di dalamnya diberlakukan ketentuan khusus di bidang pabean

Kawasan industri : Kawasan atau tempat pemusatan kegiatan industri yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana, seperti lahan dan lokasi yang strategis