Membaca Sastra dan Wawancara Yang Baik Dan Benar

Membaca Sastra dan Wawancara Yang Baik Dan Benar

Membaca Sastra dan Wawancara Yang Baik Dan Benar

Wawancara Yang Baik

Wawancara Yang Baik
Wawancara Yang Baik

Wawancara Yang Baik – Di bab yang mengangkat topik “Pertanian”, kalian akan diajak untuk berlatih mencari informasi melalui indeks, mengenal cara membuat indeks pada sebuah buku atau karangan, menulis hasil wawancara, serta menganalisis karya sastra Melayu Klasik. Pertama, kalian diajak untuk bisa merangkum seluruh isi teks buku ke dalam beberapa kalimat dengan membaca memindai, membaca informasi yang terdapat dari daftar indeks, mencatat dan merangkum isi informasinya, menjelaskan isi rangkuman di depan kelas, dan menjelaskan kegunaan indeks dalam sebuah buku. Kedua, kalian akan mengidentifikasi karakteristik dan struktur intrinsik sastra Melayu Klasik, menemukan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, dan mengaitkannya dengan kehidupan masa kini. Ketiga, kalian bisa menulis hasil wawancara ke dalam beberapa paragraf dengan menggunakan ejaan yang tepat, menentukan topik, memilih narasumber yang hendak diwawancarai, menyusun daftar pertanyaan, serta mencatat pokok-pokok informasi yang diperoleh dari wawancara. Keempat, kalian diajak untuk bisa memahami penggunaan imbuhan memper-kan dan memper-i. Itu berarti, kalian harus dapat menggunakan imbuhan memper-kan dan memper-i; dan menentukan makna imbuhan memper-kan dan memper-i. Selamat belajar dan sukseslah selalu.

Wawancara Yang Baik

Membaca Sastra

Alkissah Tjetera yang Kedua

Wawancara Yang Baik – Kata sahibu’l-hikayat: ada sebuah negeri di tanah Andelas Perlembang namanya, Demang Lébar Daun nama rajanya, asalnya daripada anak cucu raja Sulan; Muara Tatang nama sungainya. Adapun negeri Perlembang itu, Palembang yang ada sekarang inilah. Maka hulu Muara Tatang itu ada sebuah sungai, Melayu namanya; di dalam sungai itu ada sebuah bukit Siguntang Mahaméru namanya. Dan ada dua orang perempuan berladang, Wan Empuk seorang namanya, dan Wan Malini seorang namanya; dan keduanya itu berhuma di bukit Siguntang itu, terlalu luas humanya itu, syah dan terlalu jadi padinya, tiada dapat terkatakan; telah hampirlah masak padi itu. Maka pada suatu malam itu maka dilihat oleh Wan Empuk dan Wan Malini dari rumahnya, di atas bukit Siguntang itu bernyala-nyala seperti api.

Wawancara Yang Baik – Maka kata Wan Empuk dan Wan Malini, “Cahaya apa gerangan bernyala-nyala itu? Takut pula beta melihat dia.” Maka kata Wan Malini,“Jangan kita ingar-ingar, kalau gemala naga besar gerangan itu.” Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun diamlah dengan takutnya, lalu keduanya tidur. Telah hari siang, maka Wan Empuk dan Wan Malini pun bangun keduanya daripada tidur, lalu basuh muka. Maka kata Wan Malini, “Marilah kita lihat yang bernyala-nyala semalam itu.” Maka keduanya naik ke atas bukit Siguntang itu, maka dilihatnya padinya berbuahkan emas dan berdaunkan perak dan batangnya tembaga suasa. Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun heran melihat hal yang demikian itu, maka katanya, “Inilah yang kita lihat semalam itu”. Maka ia berjalan pula ke bukit Siguntang itu, maka dilihatnya tanah negara bukit itu menjadi seperti warna emas.

Wawancara Yang Baik – Pada suatu ceritera, datang sekarang pun tanah negara bukit itu seperti warna emas juga rupanya. Maka dilihat oleh Wan Empuk dan Wan Malini di atas tanah yang menjadi emas itu tiga orang manusia laki-laki muda, baik paras; yang seorang itu memakai pakaian kerajaan, keinderaannya lembu putih seperti perak rupanya dan yang dua orang itu berdiri di sisinya, seorang memegang pedang kerajaan, seorang memegang lembing. Maka Wan Empuk dan Wan Malinipun heran tercengang-cengang syahdan dengan takjubnya ia melihat rupa orang muda itu; terlalu amat baik parasnya dan sikapnya, dan pakaiannya pun terlalu indahindah, maka ia fikir pada hatinja, “Sebab tiga orang muda inilah gerangan, maka padiku berbuahkan emas dan berdaunkan perak, dan tanah bukit ini pun menjadi seperti warna emas ini.” Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun bertanya kepada orang muda tiga orang itu: “Siapakah tuan-hamba ini, dan dari mana datang tuan hamba ini?

Dan anak jin atau anak perikah tuan hamba ini? Karena berapa lama sudah kami di sini tiada kami melihat seorang pun manusia datang ke mari ini; baharulah pada hari ini kami melihat tuan hamba kemari ini”. Maka menyahut seorang di dalam tiga itu: “Adapun nama kami dan bangsa kami bukannya daripada bangsa jin dan peri. Bahwa kami ini, bangsa manusia; asal kami daripada anak cucu raja Iskandar Dzu’l-Karnain, nisab kami daripada raja Nusirwan raja masyrik dan maghrib, dan pancar kami daripada raja Sulaiman’alaihi‘s-salam dan nama raja ini Bicitram Syah, dan nama seorang ini Nila Pahlawan, dan yang seorang ini Karna Pandita; dan pedang kami ini curik Semandang kini namanya, dan lembing kami ini Lembuara namanya, yang satu ini cap kayu Kempa namanya, dan apabila memberi surat pada raja-raja cap inilah dicapkan”. Maka kata Wan Empuk dan Wan Malini, “Jikalau tuan hamba daripada anak cucu raja Iskandar, apa sebabnya maka tuan-hamba kemari?” Maka oleh Nila Pahlawan segala hikayat raja Iskandar beristrikan anak raja Kida Hindi, dan peri raja Suran masuk ke dalam laut itu semuanya dihikayatkannya pada Wan Empuk dan Wan Malini.

Maka kata Wan Empuk dan Wan Malini, “Apa alamatnya kata tuan hamba ini?” Maka sahut mereka, “Mahkota inilah alamatnya, tanda hamba anak cucu raja Iskandar. Hai embok, jika tuan hamba tiada percaya akan kata hamba ini, itulah tandanya oleh hamba jatuh kemari, maka padi embok berbuahkan emas berdaunkan perak berbatangkan tembaga suasa, dan tanah negara bukit ini menjadi seperti warna emas.” Maka Wan Empuk dan Wan Malini pun percayalah akan kata orang muda itu, maka ia pun terlalu sukacita, maka anak raja itu pun dibawanya kembali ke rumahnya. Maka baginda pun naiklah ke atas keinderaan baginda lembu putih itu. Maka padinya pun dituainya oleh Wan Empuk dan Wan Malini, maka kedua mereka itu pun kayalah sebab mendapat anak raja itu dinamai oleh Wan Empuk dan Wan Malini sang Suparba. Maka dengan takdir Allah ta’ala lembu kenaikan baginda itu pun muntahkan buih, maka keluarlah daripada buih itu seorang manusia laki-laki namai Batdan destarnya terlalu besar. Maka Bat berdiri memuji sang Suparba, maka bunyi pujinya itu serba jenis kata yang mulia-mulia Syahdan maka raja itu digelarnya oleh Bat sang Suparba Taramberi Teribuana. Ada pun Bat itulah daripada anak cucunya asal orang yang membaca ciri dahulu kala. Maka Nila Pahlawan dan Karna Panditapun dikawinkan Bat dengan Wan Empuk dan Wan Malini. Maka daripada anak cucu merekalah digelar oleh sang Suparba, yang laki-laki dinamai baginda Awang, dan yang perempuan dipanggil baginda Dara, itulah asalnya perawangan dan perdaraan.

Hal-hal yang Harus Diperhatikan dalam Wawancara

Kegiatan wawancara sebenarnya menjadi efektif dan efisien apabila Anda mengetahui teknik dan rencana wawancara dengan benar. Teknik wawancara bermacam-macam. Jika Anda melakukan wawancara terhadap seseorang, Anda dapat memakai teknik individual atau perorangan. Kegiatan wawancara ini bisa sedikit berbeda tergantung pada orang, tempat, waktu, dan hal yang dibicarakan. Sebelum melakukan wawancara perhatikan hal berikut. 1. Menghubungi orang yang akan diwawancara, baik langsung maupun tidak langsung dan pastikan kesediaannya untuk diwawancarai. 2. Persiapkan daftar pertanyaan yang sesuai dengan pokok-pokok masalah yang akan ditanyakan dalam wawancara. Persiapkan daftar pertanyaan secara baik dengan memperhatikan 6 unsur berita, yaitu 5W + 1H. Pada saat kegiatan wawancara berlangsung usahakan tidak terlalu bergantung pada pertanyaan yang telah disusun. 3. Berikan kesan yang baik, misalnya datang tepat waktu sesuai perjanjian. 4. Perhatikan cara berpakaian, gaya bicara, dan sikap agar menimbulkan kesan yang simpatik. Pada saat wawancara Anda perlu memperhatikan pegangan umum pelaksanaan wawancara berikut ini. 1. Jelaskan dulu identitas Anda sebelum wawancara dimulai dan kemukakan tujuan wawancara. 2. Mulai wawancara dengan pertanyaan yang ringan dan bersifat umum. Lakukanlah pendekatan tidak langsung pada persoalan, misalnya lebih baik tanyakan dulu soal kesenangan atau hobi tokoh. Jika dia sudah asyik berbicara, baru hubungkan dengan persoalan yang menjadi topik Anda. 3. Sebutkan nama narasumber secara lengkap dan bawalah buku catatan, alat tulis, atau tape recorder saat melakukan wawancara. 4. Dengarkan pendapat dan informasi secara saksama, usahakan tidak menyela agar keterangan tidak terputus. Jangan meminta pengulangan jawaban dari narasumber. 5. Hindari pertanyaan yang berbelit-belit. 6. Harus tetap menjaga suasana agar tetap informatif. Hormati petunjuk narasumber seperti “off the record”, “no comment”, dan lain-lain. Hindari pertanyaan yang menyinggung dan menyudutkan narasumber. 7. Harus pandai mengambil kesimpulan, artinya tidak semua jawaban dicatat. 8. Beri kesan yang baik setelah wawancara. Jangan lupa mohon diri dan ucapkan terima kasih dan mohon maaf! 9. Selain itu, kita harus mengetahui betul apa tujuan wawancara.

Membuat Laporan Hasil Wawancara

Anda telah membaca dua contoh laporan hasil wawancara. Contoh pertama merupakan laporan hasil wawancara dengan penyajian narasi. Contoh kedua merupakan laporan hasil wawancara dengan penyajian dialog. Dari sudut jurnalistik, wawancara merupakan salah satu cara mencari bahan laporan paling menarik dan mengasyikkan. Pembaca mungkin berpikir bahwa wawancara menuntut kecakapan dan keterampilan yang tinggi serta kualitas tertentu dari pewawancara. Hal-hal yang harus diperhatikan agar tulisan hasil wawancara menarik bagi para pembaca. 1. Kata-kata yang diucapkan narasumber hendaknya ditulis apa adanya. Hal ini akan membuat cerita tersebut hidup. Seolaholah narasumber langsung bercerita pada setiap pembaca. Keterangan mengenai keadaan sekitar narasumber membantu pembaca untuk melihat narasumber ketika diwawancarai. 2. Kejadian-kejadian, keterangan-keterangan, dan pendapatpendapat yang diberikan narasumber mempunyai bobot terhadap tulisan, namun usahakanlah agar lebih jeli dalam penyampaiannya. 3. Wawancara menjadi efektif jika tujuan pewawancara jelas, yaitu untuk memberi informasi, hiburan, bimbingan praktis, atau laporan. 4. Penyajian hasil wawancara sebenarnya tergantung pada pewancara, bisa berupa narasi, dialog, esai, deskripsi, dan sebagainya.

Imbuhan memper-kan dan memper-i

Imbuhan memper-kan dan memper-i merupakan dua contoh gabungan afiks. Gabungan afiks adalah penggunaan beberapa imbuhan sekaligus pada kata dasar, dengan tetap mempertahankan indentitasnya masing-masing, baik fungsi maupun maknanya masingmasing.

Imbuhan memper-kan

Fungsi afiks memper-kan adalah membentuk kata kerja. Fungsi ini didukung oleh tiap unsur pembentuknya. Prefiks mengmenyatakan keaktifan, sedangkan sufiks -kan menyatakan kausatif. Makna imbuhan memper-kan ada tiga, yaitu: 1. Sesuai dengan makna yang didukung oleh per- dan -kan maka makna gabungan afiks itu adalah menyatakan kausatif, yaitu menyebabkan terjadinya proses itu, seperti meninggikan, mempertanyakan, memperbantukan. 2. Makna yang lain adalah menyatakan menjadikan sebagai atau menganggap sebagai, seperti memperhambakan. 3. Menyatakan intensitas, yaitu mengeraskan arti yang disebut dalam kata dasar, dan dapat pula berarti menyuruh, seperti memperdengarkan, memperundingkan, mempertahankan.

Imbuhan memper-i

Fungsi afiks memper-i sama dengan fungsi dari unsur-unsur pembentuk gabungan itu. Prefiks meng- menyatakan keaktifan. Makna imbuhan memper-i ada dua, yaitu: 1. Karena adanya prefiks per- maka dapat menyatakan kausatif, seperti memperbaiki, memperbaharui. 2. Menyatakan intensitas, termasuk pengertian perbuatan terjadi berulang-ulang, seperti mempelajari, memperdayai.

Menulis Hasil Wawancara dan Membaca Sastra Melayu Klasik

Menulis Hasil Wawancara dan Membaca Sastra Melayu Klasik

Menulis Hasil Wawancara dan Membaca Sastra Melayu Klasik

Wawancara – Apakah Anda pernah mewawancarai seseorang (narasumber)? Dalam pelajaran ini Anda akan belajar memilih narasumber untuk diwawancarai dan menyusun daftar pertanyaan dengan memerhatikan kelengkapan isi (apa, siapa, di mana, kapan, mengapa dan bagaimana). Selain itu, Anda akan belajar membaca sastra Melayu klasik, terutama untuk menentukan strukturnya, serta menemukan nilai-nilai dalam karya sastra melayu klasik. Anda juga akan belajar mendiskusikan puisi remaja dan membahasnya berkenaan dengan gambaran pengindraan, perasaan, pikiran, dan imajinasi melalui diskusi.

Wawancara

Wawancara
Wawancara

Menulis Hasil Wawancara

Wawancara – Pernahkah Anda menyaksikan kegiatan wawancara? Siapakah yang biasanya melakukan wawancara? Kegiat an wawancara biasanya dilakukan oleh reporter atau wartawan. Wawancara merupakan kegiatan komunikasi lang sung yang umumnya berisi tanya jawab dengan seseorang (narasumber). Misalnya, wawancara seorang wartawan dengan seniman yang telah Anda baca pada teks berita dalam pembelajaran 3A. Berita “Sanggar Musik Septime, Lahirkan Pemusik Profesional” merupakan laporan hasil wawancara dengan narasumber.

Wawancara – Dengan laporan hasil wawancara tersebut, penonton akan mengetahui dengan jelas tentang masalah yang dibahas, yakni mengenai Sanggar Musik Septime. Dari berita itu pun Anda akan mengetahui pokok-pokok informasi yang diperoleh dari hasil wawancara. Ada beberapa macam wawancara yang dapat Anda laku kan, yakni sebagai berikut.

1. Wawancara bebas adalah wawancara yang susunan pertanyaannya tidak ditentukan terlebih dahulu dan pembicaraannya bergantung pada suasana wawancara. 2. Wawancara individual adalah wawancara yang dilakukan oleh seseorang (pewawancara) dengan responden tunggal atau wawancara secara perse orangan. 3. Wawancara konferensi adalah wawancara antara seorang pewawancara dan sejumlah responden atau wawancara antara sejumlah pewawancara dan seorang responden. 4. Wawancara terbuka adalah wawancara berdasarkan pertanyaan yang tidak terbatas (tidak terikat jawaban nya). 5. Wawancara tertutup adalah wawancara berdasarkan pertanyaan yang terbatas jawabannya. Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan pewawancara ketika mewawancarai narasumber. a. Berikanlah kesan yang baik, yaitu datang tepat waktu sesuai perjanjian. b. Mulailah wawancara dengan pertanyaan yang ringan-ringan dan bersifat umum. c. Hindari pertanyaan-pertanyaan yang berbelit-belit. d. Perhatikan gaya berbicara, sikap, cara berpakaian, juga volume suara agar menimbulkan kesan yang simpatik. e. Ajukan pertanyaan-pertanyaan dengan kalimat yang pendek agar yang diwawancarai dapat menangkap apa yang ditanyakan. f. Pewawancara harus pandai mengambil kesimpulan, artinya tidak semua jawaban dicatat. g. Jangan meminta pengulangan jawaban dari orang yang diwawancarai. h. Berikan kesan yang baik setelah selesai melaksanakan wawancara. Sebelum Anda melakukan kegiatan wawancara, Anda harus menentukan terlebih dulu tema wawancara dan nara sumbernya. Misalnya, tema wawancaranya tentang pembentukan Unit Kerja Presiden Pengelolaan Program Kebijakan dan Reformasi (UKP3R). Sementara narasumbernya adalah wakil ketua KPK bidang pencegahan, Erry Ryana Hardjapamekas menteri Negara Komunikasi dan Informasi. Anda juga dapat mewawancara tokoh yang ada di daerah Anda. Agar kegiatan wawancara berjalan lancar, Anda harus menyusun pertanyaan-pertanyaan yang akan disampaikan terlebih dahulu. pertanyaan yang Anda buat dapat menggunakan kata tanya, apa, siapa, mengapa, di mana, kapan, dan bagaimana. Dengan begitu, wawancara akan lebih efektif dan terarah. Selain itu, Anda pun harus menyiapkan alat tulis atau alat rekam untuk mempermudah pencatatan.

Membaca Sastra Melayu Klasik

Kesusastraan Indonesia bertumbuh kembang dari budaya sastra Nusantara. Sastra Nusantara merupakan sastra-sastra daerah yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ada anggapan bahwa sastra Indonesia merupakan hasil pertum buhan sastra Melayu karena akar bahasa Indonesia memang berasal dari bahasa Melayu. Pada kenyataannya, bibit-bibit pertumbuhannya bukan hanya berasal dari bahasa Melayu. Di samping sastra Melayu Klasik, banyak pula sastra daerah klasik lainnya yang tumbuh dan terkenal di kawasan Nusantara ini, misalnya cerita panji. Sastra daerah klasik sangat beraneka ragam, baik yang berbentuk puisi maupun prosa. Di dalamnya terkandung ajaran hidup yang mencerminkan pandangan filosofis yang memancarkan ketinggian moral nenek moyang bangsa Indonesia.

Cerita Raja Ambong Di Tanjung Bima memerintah seorang raja yang masih muda umurnya, yaitu Raja Ambong, dengan bantuan saudaranya perempuan, Bungsu Candra Rupa. Dalam suatu mimpi, seorang tua memberi ia nasihat untuk membuat sebuah kapal dari sebatang kayu merbau yang sakti, dan menamai kapal itu Batara Saludang Mayang. Oleh karena 7 orang tukang yang pertama semua mati, ia meminta pertolongan kepada seorang yang bersaudara ibu dengannya, Tji’ Alang dari Linggi dekat Kuala Sungai Limau Purut. la memberikan kepadanya Tukang Bungkuk Bungsu Bangsawan yang termashur, yang tidurnya terus-menerus 7 hari 7 malam dan yang hanya dapat dibangunkan dengan memutar-mutarkan besi panas dalam telinganya! Kapal itu amat ajaib rupanya, dengan segala upacara diturunkan ke air. Bertentangan dengan larangan saudaranya perempuan, dengan diam-diam pergi Raja Ambong itu sendirinya ber layar. Saudaranya itu mengiringkannya dalam sebuah Lancang Kuning yang telah tua, kepunyaan ayahandanya, tetapi terkejar juga olehnya. Karena tak diindahkan saudaranya itu, ia meloncat ke dalam air dan terjepit antara dua batu karang dan matilah ia.

Tetapi sahabatnya, Cahaya Intan, dikayangan menghidupkannya kembali. Puteri Bungsu Candra Rupa, berpakaian sebagai laki-laki, sekarang mengemudikan kapal itu, ia bertemu dengan suatu angkatan laut yang terdiri dari 100 buah kapal, Kata Tji’ Alang dan Tukang Bungkuk Bungsu Bangsawan adalah kapal yang terbesar kapal kepunyaan Si Dewa Mambang, putera Raja segala Jin. Sauh kapalnya, beserta saudaranya perempuan, Puteri Rinik Jintan, telah 12 tahun lamanya terkandas di atap astana Raja Naga. Si Dewa Mambang tidak diterima oleh Puteri Bungsu Candra Rupa; di dalam suatu peperangan ia tewas beserta orang-orangnya; seluruh angkatan lautnya tenggelam, akan tetapi Puteri Rinik Jintan menjadi permaisuri Raja Ambong. la jatuh cinta dan kawin dengan Puteri Cahaya Intan, anak Raja Naga. Sekarang ia singgah di Campa, Cola, Tanjung Jambu Lipa, Teluk Jambu Air, Dong Sip, Tanjung Camara Bunga dan Pulau Mayang Manggi.

Di sini memerintah Raja Ambong Awan Ungu dan Raja Ambong (Sultan Sakti) membuat perhubungan dengan saudaranya perempuan, Mayang Manggi. Meskipun telah berbalasan pantun, 7 kali diubahnya rupanya supaya dapat lepas. Akhirnya ia menyerahkan dirinya dan dikawinkan. Tunangannya yang dahulu, Mambang Bungsu, putera Raja Pinang Lumut, mendapat kabar di dalam mimpinya, segera ia datang, berperang, dan mati. Setinggi-tingginya terbang bangau, hinggapnya ke kubangan juga, Raja Ambong pun kembali ke negerinya Tanjung Bima beserta per maisuri nya. Puteri Bungsu Candra Rupa dikawinkan dengan Ci’Alang, yang mem bawanya pergi ke negerinya, Linggi, dekat Kuala Sungai Limau Purut. Sumber: Buku Perintis Sastera, karya Dr. C. Hooykaas, 1951

Mendiskusikan Puisi

Anda telah mempelajari puisi pada pelajaran sebelumnya, bukan? Nah, apakah Anda telah memahaminya? Tentu Anda telah memahaminya. Kali ini Anda akan belajar mengenal puisi remaja. Dalam berita di televisi atau radio, tentu Anda sering mendengar mengenai masalah perpuisian, baik itu lomba membaca puisi, menulis puisi, bahkan pembacaan puisi yang dilakukan oleh penyair sekalipun. Oleh karena itu, Anda sebaiknya jangan sampai terlewatkan menyimak berita di televisi atau radio. Berita mengenai puisi tersebut, dapat pula Anda diskusikan bersama teman atau guru Anda. Nah, jika ingin lebih baik, carilah berita tentang puisi remaja yang sesuai dengan kehidupan Anda.

Sebagai salah satu genre sastra Indonesia, puisi dapat diapre siasi dan dikaji dari berbagai aspek. Puisi dapat dioperasi kan dan dikaji dari segi struktur dan unsur-unsurnya, dari segi jenis dan ragamnya, dan dari segi kesejarahannya mengingat bahwa sepanjang sejarahnya, dari waktu ke waktu puisi selalu ditulis dan dibaca orang. Memahami makna puisi tersebut akan lebih mudah jika Andamemparafrasekannya terlebih dahulu. Membuat parafrase berarti mengembalikan unsur-unsur yang sengaja atau tidak sengaja telah dihilangkan oleh penyair. Dengan melengkapi bagian-bagian yang hilang tersebut, Andaakan mudah memahaminya.

Episode Prosa Laramu

Aku adalah satu episode Dalam prosa laramu Datang bukan untuk dikenang Pergi bukan untuk ditangisi Aku adalah satu episode Dalam prosa laramu Akan kutabur senyum di bibirmu Biar jadi manis Akan kucoba meleraikan resahmu Hingga tak ada lagi desah “Aku susah” Aku adalah satu episode Dalam prosa laramu Yang hadir saat tangis menghiasi Dan pergi saat bahagia datang Dan senyum mengembang Karya Erna Sumber: “Sajak Kakilangit” Majalah Horison, September 2004

Puisi tersebut merupakan monolog si aku kepada seseorang atau mungkin kekasihnya. Apa pendapat Anda dengan puisi tersebut? Menarikkah? Puisi tersebut, dapat diparafrasekan ke dalam bentuk prosa. Apakah Anda dapat memparafrasekan puisi tersebut? Nah, berikut ini contoh parafrase dari puisi tersebut. Si aku merasa menjadi bagian kisah lara (sedih) se seorang yang telah dikenalnya atau kekasihnya. Kedatangan si aku dalam kehidupan seseorang itu tidak untuk dikenang dan tidak juga untuk ditangisi ketika pergi. Sebagai bagian dari kisah hidup lara orang yang di kasihinya, si aku akan berusaha menaburkan kegembiraan (se nyum) sehingga wajahnya menjadi terlihat lebih manis. Si aku pun akan mencoba melerai perasaan resah di hati sehingga tidak ada lagi desah dan rintih kesusahan. Sebagai bagian dari kisah hidup lara seseorang, si aku akan berusaha hadir saat seseorang itu (kekasih) dalam kesedihan (tangis menghiasi) dan si aku akan pergi saat seseorang itu sudah merasa bahagia dengan senyum yang mengembang.

Berdasarkan parafrase tersebut, Anda dapat mengetahui makna puisinya. Puisi tersebut mempunyai makna kerendahan hati penyair untuk menjadi bagian hidup seseorang (orang yang dikasihinya) sehingga mampu menjadikan kekasihnya itu bahagia. Ia sendiri tidak mengharapkan pamrih atau balasan atas pengorbanannya itu. Puisi “Episode Prosa Laramu” termasuk puisi remaja.Ditinjau dari isinya, Andadapat menentukan bagaimana karakteristik atau ciri-ciri puisi remaja. Ciri-ciri tersebut adalah sebagai berikut. 1. Tema yang diambil seputar pengalaman pribadinya, terutama tema percintaan. 2. Pilihan kata (diksi) yang digunakan belum banyak meng gunakan majas sehingga puisinya cenderung mudah dipahami. 3. Gejolak emosi menggebu-gebu sesuai dengan jiwa remaja.

Nilai-nilai yang dapat dipahami adalah nilai-nilai hubungan antarsesama, rasa cinta kasih, dan pengorbanan. Hal itu merupakan pengalaman penyairnya, hubungan dengan kehidupannya sangat erat.