Pertumbuhan Penduduk dan Faktor-faktornya

Pertumbuhan Penduduk dan Faktor-faktornya

Pertumbuhan Penduduk dan Faktor-faktornya

Pertumbuhan Penduduk
Pertumbuhan Penduduk

Pertumbuhan Penduduk – Penduduk adalah orang-orang yang mendiami suatu tempat (kampung, negeri, pulau, dan sebagainya) dan tercatat sesuai dengan persyaratan dan ketentuan yang berlaku di tempat itu. Adapun penduduk menurut UUD 1945 Bab X Pasal 26 adalah warga negara Indonesia dan orang asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Sampai dengan tahun 2007 penduduk Indonesia berjumlah 220.953.634 jiwa dan berada pada peringkat ke empat setelah

Pertumbuhan Penduduk

Cina, India, Amerika Serikat Untuk mengetahui jumlah penduduk, biasanya dilakukan sensus penduduk. Tahukah kamu apa itu sensus penduduk? Sensus penduduk adalah keseluruhan proses pengumpulan, pengolahan, dan publikasi data demografis di suatu negara untuk seluruh penduduk pada periode waktu tertentu. Jumlah penduduk suatu daerah selalu mengalami perubahan. Perubahan jumlah penduduk tersebut disebabkan adanya pertumbuhan penduduk, baik pertumbuhan penduduk positif maupun pertumbuhan negatif. Apabila terjadi pertumbuhan penduduk yang positif, jumlah penduduk akan bertambah, sebaliknya apabila pertumbuhan penduduk negatif, akan mengakibatkan jumlah penduduk mengalami penurunan. Perubahan jumlah penduduk di suatu daerah dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu kelahiran, kematian, dan migrasi.

Pertumbuhan Penduduk

1) Fertilitas (kelahiran) adalah tingkat kelahiran hidup dari seorang wanita selama masa reproduksinya, maksudnya masa seorang wanita siap untuk melahirkan keturunan. 2) Mortalitas (kematian) adalah meninggalnya seorang penduduk menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk. 3) Migrasi adalah berpindahnya seorang penduduk dari suatu tempat ke tempat lain yang menyebabkan berkurang atau bertambahnya jumlah penduduk.

Pertumbuhan Penduduk – Bentuk migrasi di antaranya, imigrasi (pindahnya penduduk ke negara lain), emigrasi (masuknya penduduk dari negara lain), transmigrasi (pindahnya penduduk ke pulau lain dalam suatu negara), dan urbanisasi (pindahnya penduduk dari desa ke kota). Adapun pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut.

1. Pertumbuhan Penduduk Alami Pertumbuhan penduduk alami adalah pertumbuhan yang diperhitungkan dari selisih kelahiran dan kematian.

P = pertumbuhan penduduk yang dicari L = jumlah kelahiran M = jumlah kematian Kriteria yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya angka kelahiran dan kematian adalah sebagai berikut. a) Penggolongan angka kelahiran: 1) angka kelahiran rendah, jika angka kelahiran kurang dari 30; 2) angka kelahiran sedang, jika angka kelahiran antara 30-40; 3) angka kelahiran tinggi, jika angka kelahiran lebih dari 40. b) Penggolongan angka kematian: 1) angka kematian rendah, jika angka kematian kurang dari 10; 2) angka kematian sedang, jika angka kematian antara 10-20; 3) angka kematian tinggi, jika angka kematian lebih dari 20.

2. Pertumbuhan Penduduk Migrasi Pertumbuhan penduduk migrasi adalah pertumbuhan penduduk yang disebabkan oleh perbedaan antara jumlah migrasi masuk (imigrasi) dan migrasi keluar (emigrasi). Jumlah imigrasi yang melebihi jumlah emigrasi akan menambah jumlah penduduk di negara yang bersangkutan. Sebaliknya, jika emigrasi lebih besar dari imigrasi, jumlah penduduknya akan mengalami penurunan. Adapun rumus pertumbuhan penduduk migrasi adalah: PM = I – E PM = jumlah penduduk migrasi I = jumlah imigrasi (penduduk yang masuk) E = jumlah emigrasi (penduduk yang keluar) Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik benang merahnya bahwa pertumbuhan penduduk di suatu negara ditentukan oleh pertumbuhan penduduk alami dan migrasi yang disebut dengan pertumbuhan penduduk total. Pertumbuhan penduduk total biasanya disingkat dengan pertumbuhan penduduk. Adapun rumus pertumbuhan penduduk adalah: P = ( L – M ) + ( I – E ) P = pertumbuhan penduduk yang dicari L = jumlah kelahiran M = jumlah kematian

I = jumlah penduduk yang masuk E = jumlah penduduk yang keluar Klasifikasi pertumbuhan penduduk yang digunakan adalah: a) Pertumbuhan penduduk rendah, jika berada pada kisaran 0 – 1 % b) Pertumbuhan penduduk sedang, jika berada pada kisaran 1 – 2 % c) Pertumbuhan penduduk tinggi, jika di atas 2 %

Sebagai pembanding, berikut adalah peringkat negara-negara di dunia berdasarkan jumlah penduduk pada tahun 2007: 1. Republik Rakyat Cina (1.306.313.812 jiwa) 2. India (1.103.600.000 jiwa) 3. Amerika Serikat (298.186.698 jiwa) 4. Indonesia (220.953.634 jiwa) 5. Brasil (186.112.794 jiwa) 6. Pakistan (162.419.946 jiwa) 7. Bangladesh (144.319.628 jiwa) 8. Rusia (143.420.309 jiwa) 9. Nigeria (128.771.988 jiwa) 10. Jepang (127.417.244 jiwa)

Angka Kelahiran dan Kematian Penduduk 

Kamu sudah mengetahuinya dari pembahasan di atas bahwa kelahiran atau yang biasa disebut dengan natalitas adalah tingkat kelahiran hidup dari seorang wanita selama masa reproduksinya. Maksudnya masa seorang wanita siap untuk melahirkan keturunan. Natalitas dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut.

1) Angka kelahiran kasar, yaitu banyaknya bayi yang lahir hidup setiap 1.000 penduduk selama 1 tahun. CBR = B P × 1.000 CBR (crude birth rate) = angka kelahiran kasar B (birth) = jumlah kelahiran P (population) = jumlah penduduk 2) Angka kelahiran khusus, yaitu banyaknya bayi yang lahir hidup setiap 1.000 penduduk wanita usia tertentu (usia subur) selama satu tahun. Usia subur atau usia melahirkan seorang wanita adalah umur antara 15 – 49 tahun. Setiap tahun angka kelahiran dapat bertambah ataupun berkurang. Adapun faktorfaktor yang dapat mendorong angka kelahiran di antaranya sebagai berikut:

1) kawin usia muda; 2) adanya beberapa anggapan di masyarakat, seperti: a) anak sebagai penentu status sosial; b) punya banyak anak merasa terpandang di mata masyarakat; c) anak sebagai penerus keturunan; d) banyak anak banyak rezeki. Selain faktor pendorong di atas, terdapat pula faktor-faktor penghambat angka kelahiran, di antaranya yaitu:

1) pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB);

2) alasan ekonomi atau pendidikan, orang menunda perkawinan;

3) wanita karier, merasa repot jika mempunyai anak banyak;

4) karena suatu penyakit tertentu yang diderita perempuan, seperti kangker rahim, atau keguguran ketika melahirkan; 5) adanya ketentuan Undang-Undang Pokok Perkawinan No.1 Tahun 1974 yang menentukan umur minimal kawin seorang laki-laki 19 tahun dan wanita 16 tahun. Selain kelahiran, hal yang berpengaruh terhadap tingkat pertumbuhan penduduk adalah kematian atau mortalitas.

Kematian adalah waktu ketika seseorang diambil nyawanya oleh sang Pencipta sehingga ia tidak dapat melangsungkan kehidupanya di dunia atau meninggalnya seorang penduduk menyebabkan berkurangnya jumlah penduduk. Kematian dapat dibedakan menjadi sebagai berikut.

1) Angka kelahiran kasar adalah banyaknya orang yang mati setiap 1.000 penduduk per tahun. CDR = × 1.000 D P CDR (crude death rate) = angka kematian kasar D (death) = jumlah kematian P (population) = jumlah penduduk 2) Angka kematian khusus adalah banyaknya orang yang mati setiap 1.000 penduduk usia tertentu per tahun. Sama halnya seperti angka kelahiran, angka kematian dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut: 1) Faktor-faktor penunjang kematian: a) adanya bencana alam dan wabah penyakit; b) fasilitas kesehatan yang kurang; c) tingkat kesehatan masyarakat yang rendah; d) makanan kurang bergizi; e) kecelakaan lalu lintas; f) adanya peperangan. 2) Faktor-faktor penghambat kematian: a) fasilitas kesehatan yang lengkap; b) kemajuan pendidikan dan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan; c) larangan agama membunuh orang; d) makanan cukup bergizi; e) lingkungan yang bersih dan teratur .

Ledakan Penduduk dan Upaya Mengatasinya 

Tahukah kamu apa artinya ledakan penduduk? Bagaimana ledakan penduduk di perkotaan dengan di pedesaan? Ledakan penduduk dapat diartikan suatu keadaan kependudukan yang memperlihatkan pertumbuhan yang melonjak cepat dalam jangka waktu yang relatif pendek. Ledakan penduduk biasanya terjadi karena angka kelahiran sangat tinggi, sedangkan angka kematian mengalami penurunan yang drastis. Penurunan angka kematian yang drastis ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain karena membaiknya kondisi kesehatan dan perbaikan gizi masyarakat. Pada umumnya, ledakan penduduk terjadi pada negara-negara yang sedang berkembang, termasuk di Indonesia. Pertambahan penduduk Indonesia dalam kurun waktu hanya 40 tahun meningkat lebih dari 100%. Pada tahun 1961, jumlah penduduk Indonesia hanya 97.985.000 jiwa, tetapi pada tahun 2000 telah meningkat menjadi 203.456.000 jiwa.

Ledakan penduduk sebagai akibat pertumbuhaan penduduk yang cepat seperti itu memberikan dampak yang buruk bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Beberapa dampak negatif yang timbul sebagai akibat terjadinva ledakan penduduk di antaranya sebagai berikut.

1) Tingkat kemiskinan semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk yang cepat biasanya tidak serta merta diikuti oleh pertumbuhan ekonomi yang cepat. 2) Pertumbuhan penduduk yang cepat tidak seimbang dengan peningkatan produksi pangan dapat mendorong kekurangan pangan. 3) Timbulnya permukiman atau daerah kumuh di perkotaan sebagai akibat mahalnya harga tanah dan rumah. 4) Pemerintah mengalami kesulitan menyediakan sarana kebutuhan masyarakat seperti sarana pendidikan dan kesehatan, perumaham, dan lain-lain disebabkan memerlukan dana yang besar dan lokasinya padat oleh permukiman penduduk. Jika dampak dari ledakan penduduk tidak segera diatasi, dapat mengakibatkan suatu negara mengalami kesulitan dalam mempercepat proses pembangunannya.

Terdapat beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi dampak ledakan penduduk, di antaranya:

1) melaksanakan program Keluarga Berencana (KB), yaitu mengendalikan pertumbuhan penduduk melalui cara pengendalian kelahiran; 2) menggalakan program transmigrasi; 3) meningkatkan kualitas sumber daya manusia sehingga kemampuannya bekerja untuk membangun dirinya menjadi lebih baik; 4) memperluas lapangan kerja; 5) pengiriman tenaga kerja ke negara tetangga.

 

Indentifikasi Pusat-Pusat Pertumbuhan

Indentifikasi Pusat-Pusat Pertumbuhan

Indentifikasi Pusat-Pusat Pertumbuhan

Pusat Pertumbuhan
Pusat Pertumbuhan

Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, bahwa yang dimaksud dengan pusat pertumbuhan adalah suatu kawasan yang perkembangannya lebih cepat dibandingkan dengan perkembangan wilayah sekitarnya.

Beberapa pendekatan dalam mengindentifikasi pusat-pusat pertumbuhan, yaitu berdasarkan potensi daerah setempat, berdasarkan teori tempat yang sentral (central place theory), teori kutub pertumbuhan, dan konsep agropolitan.

Berdasarkan Teori Tempat yang Sentral (Central Place Theory)

Teori ini kali pertama dikemukakan oleh Walter Christaller (1933), seorang ahli geografi berkebangsaan Jerman. Teori ini berasumsi bahwa suatu lokasi pusat aktivitas yang melayani berbagai kebutuhan penduduk harus terletak pada suatu tempat yang sentral (misalnya kota). Berdasarkan teori ini dapat mengindentifikasi dan menentukan banyaknya kota, besarnya kota, dan persebaran kota. Konsep Christalleler dalam mengindentifikasi pertumbuhan kota antara lain adanya konsep range (jangkauan) dan threshold (ambang).

Range adalah jarak yang perlu ditempuh orang mendapatkan barang kebutuhannya hanya kadang-kadang saja. Adapun threshold adalah jumlah minimal penduduk yang diperlukan untuk kelancaran dan keseimbangan suplai barang. Supaya konsep Christaller ini terealisasi dengan baik maka diperlukan penyimpanan pusat aktivitas ekonomi dan harus berada pada tempat yang strategis, sehingga setiap orang dapat mencapainya dengan mudah. Pembangunan berbagai pusat pelayanan dijadikan titik simpul bentuk heksagonal atau segi enam.

Segi enam utama berada di pusat yang dikelilingi oleh enam segi enam lagi. Jadi, segi enam utama itu harus mempengaruhi segi enam yang mengelilinginya.

Untuk melihat berapa besar pengaruh segi enam utama terhadap segi enam yang mengelilinginya timbul tingkatan pengaruh hirarki 3, 4, dan 7.

a. Tempat sentral berhirarki 3 (K = 3) Tempat sentral berhirarki 3 merupakan pusat pelayanan berupa pasar yang senantiasa menyediakan barang-barang bagi daerah sekitarnya, atau sering disebut sebagai kasus pasar optimal. Segi enam utama dapat mempengaruhi sepertiga dari daerah segi enam yang mengelilinginya. K = 3 didapat dari 6 x ( 1 3 ) + 1 = 3 b. Tempat sentral berhirarki 4 (K = 4) Tempat ini artinya segi enam utama mempengaruhi setengah wilayah dari daerah segi enam di sekitarnya. Kawasan ini memberikan kemungkinan rute lalu lintas yang paling efisien dan situasi lalu lintas yang optimum. Angka K = 4 itu didapat dari perhitungan K = 6 ( 1 2 ) + 1 = 4 c. Tempat sentral berhirarki 7 (K = 7) Tempat ini artinya segi enam utama mempengaruhi seluruh wilayah dari daerah segi enam di sekitarnya. Kawasan ini disebut kawasan yang memiliki situasi administrasi yang optimum, biasanya adalah pusat pemerintahan. Angka K = 7 itu didapat dari perhitungan K = 6 (1) + 1 = 7 2.

Berdasarkan Potensi Daerah Setempat

Model potensi daerah setempat yaitu suatu model yang didasari oleh anggapan bahwa setiap daerah memiliki potensi untuk dikembangkan, baik alam maupun manusianya. Luas lahan yang terdapat di suatu daerah merupakan potensi untuk dikembangkan, baik untuk pertanian, perkebunan, peternakan, pertambangan maupun usaha lainnya. Unsur yang dapat di indentifikasi antara lain dari kegiatan ekonomi penduduk dan tata guna lahan. Pengembangan potensi itu akan memperlihatkan corak yang berbeda antardaerah yang satu dan yang lain. Misalnya pusat pertumbuhan yang diawali dari pengembangan potensi pertanian menunjukan pola yang berbeda dengan wilayah yang mulanya dikembankan dari potensi industri atau perikanan.

Berdasarkan Teori Kutub Pertumbuhan (Growth Poles Theory)

Teori ini dikemukakan oleh Perroux tahun 1955 yang menyatakan bahwa pembangunan kota atau wilayah merupakan proses yang terjadi tidak secara serentak, tetapi muncul di tempat-tempat tertentu dengan kecepatan dan intesitas yang berbeda-beda. Tempat atau kawasan yang menjadi pusat pembangunan dinamakan pusat atau kutub-kutub pertumbuhan. Kota yang berkembang dari pusat pertumbuhan tampak menjalar perkembangannya ke sekelilingnya atau ke pusat-pusat yang lebih rendah. Dalam konsep ini terdapat istilah spread dan trickling down (penjalaran dan penetesan) serta back wash dan polarization (penarikan dan pemusatan).

Konsep ini berasal dari pengembangan industri untuk meningkatkan Gross National Product (GNP) setelah kemunduran ekonomi akibat perang Dunia II. Strategi pengembangan wilayah adalah dengan memberikan investasi kepada kota-kota besar. Dengan harapan, jika kegiatan terkonsentrasi dalam suatu ruang, mengakibatkan bertambahnya kegiatan baru di kawasan kota itu, sehingga banyak kegiatan yang melibatkan banyak penduduk, dan pada akhirnya semakin banyak barang dan jasa yang dibutuhkan. Pada kenyataannya, konsep ini menimbulkan urbanisasi yang merugikan desa-desa dan menambah situasi kemiskinan di kota.

Berdasarkan Konsep Agropolitan

Konsep Agropolitan
Konsep Agropolitan

Konsep ini dikembangkan oleh Frirdman sejak 1975 dengan memperhatikan prinsip kemandirian dan berdikari. Kerjasama dan gotong royong dalam masyarakat adalah kunci bagi suksesnya pendekatan agropolitan. Agropolitan merupakan konsep proses difusi dalam ruang yang memiliki prinsip desentralisasi dan mengikut sertakan sebagian besar penduduk pedesaan dalam pembangunan. Dalam konsep ini, pedesaan yang tadinya tertutup diusahakan supaya lebih terbuka. Misalnya dengan menyebarkan berbagai industri kecil di wilayah-wilayah pedesaan dan pengembangan rekreasi sehingga diharapkan terjadi beberapa “kota” di daerah pertanian (agropolis). Penduduk pedesaan diharapkan dapat meningkatkan pendapatannya serta mendapat prasarana sosial ekonomi. Dengan demikian, urbanisasi dapat dikembalikan dan dikurangi.

Sejalan dengan konsep pusat pertumbuhan, batas wilayah pembangunan dapat ditentukan dalam lingkup luasan negara atau lebih kecil. Misalnya ditingkat provinsi dan tingkat kota/kabupaten. Penentuan batas pengembangan wilayah pembangunan dapat disusun dalam suatu rencana tata ruang. Batas-batas wilayah pembangunan secara nasional yang dirumuskan sejak rencana pembangunan lima tahun (REPELITA) II tahun1974 – 1978, yaitu pada masa orde baru, pengembangan wilayah Indonesia dilaksanakan melalui perwilayahan dengan kitakota tertentu sebagai kutub pertumbuhan nasional. Kota tersebut, yaitu Medan, Jakarta, Surabaya, dan Ujung Pandang (Makassar). Dari empat region pertama dibagi lagi atas wilayah-wilayah pembangunan dengan pusat pusat kota terdekat. Berikut ditampilkan gambar dan tabel tentang pembagian wilayah pembangunan.

 

Menentukan Batas Wilayah  Pertumbuhan

Menentukan Batas Wilayah Pertumbuhan

Menentukan Batas Wilayah  Pertumbuhan

Menentukan Batas Wilayah  Pertumbuhan
Menentukan Batas Wilayah Pertumbuhan

Tentunya kalian sering melihat adanya wilayah yang sudah maju baik dari segi sarana fisik ataupun cara hidup penduduknya. Di tempat lain, kalian juga tentunya sering melihat wilayah yang penduduk serta sarana dan prasarana fisiknya masih sederhana.

Hal ini disebabkan oleh perbedaan sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki oleh wilayah-wilayah tersebut. Dari adanya perbedaan tersebut, wilayah yang memiliki percepatan pembangunan yang tinggi sering dijadikan sebagai pusat pertumbuhan. Pusat pertumbuhan adalah suatu wilayah atau kawasan yang pertumbuhannya sangat pesat sehingga dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan yang dapat dijadikan sebagai pusat pembangunan yang dapat mempengaruhi perkembangan kawasan lain di sekitarnya. Dalam geografi di kenal dua istilah pertumbuhan yang artinya hampir sama, yaitu kutub pertumbuhan (growth pole) dan pusat pertumbuhan (growth center).

Kutub pertumbuhan berkaitan dengan konsep ekonomi, sedangkan pusat pertumbuhan sangat berkaitan dengan konsep keruangan. Dalam geografi, yang dimaksud pertumbuhan adalah pengembangan atau pembangunan wilayah, baik pembangunan fisik maupun pembangunan sosial budaya. Konsep pertumbuhan dikemukakan oleh Francois Perroux. Kutub pertumbuhan ditandai oleh adanya industri penggerak berskala besar dan cenderung mendominasi industri lain.

Industri tersebut mempunyai fungsi kaitan pengaruh antarindustri yang kuat dan menunjukkan kemampuan berkembang yang besar. Konsep kutub pertumbuhan Perroux tidak berkaitan dengan ruang, namun hanya mengacu pada industri atau kelompok industri yang mampu menggerakkan kegiatan ekonomi di wilayah yang bersangkutan. Namun sebaliknya, konsep pusat pertumbuhan berkaitan dengan lokasi keruangan. Suatu wilayah akan lebih maju dan berkembang jika pada wilayah tersebut didirikan industri dan berbagai kegiatan ekonomi lainnya secara terus menerus. Jika akan membangun industri baru, maka sebaiknya didirikan pada tempat yang berdekatan dengan lokasi industri yang telah ada. Mengapa demikian? Karena pada lokasi tersebut sudah tersedia berbagai fasilitas, seperti listrik, air bersih, dan prasarana jalan.

Akibatnya daerah yang sudah maju akan semakin maju, sedangkan daerah yang terbelakang akan tetap terbelakang. Gejala ini akan hilang bila terjadi pembagian atau penyaluran bawah (trickle down effect) dari faktor-faktor yang menyebabkan kemajuan di wilayah pusat pertumbuhan menuju ke daerah pinggiran yang belum maju.

Gejala ketidakseimbangan antara pusat pertumbuhan dan daerah pinggiran akan hilang bila terjadi dua mekanisme pokok, yaitu spread effect dan backwash effect. Contoh dari spread effect, misalnya pertumbuhan atau pembangunan di suatu kota juga mendorong pertumbuhan kegiatan dalam bidang pertanian di pedesaan sekitarnya. Backwash effect adalah pertumbuhan suatu kota yang mengakibatkan perpindahan modal dan sumber lain, seperti tenaga ahli, listrik dan transportasi ke daerah lain yang berdekatan. Dengan demikian, pusat-pusat pertumbuhan tersebut makin lama akan menyebar ke berbagai wilayah. Menentukan batas wilayah pertumbuhan dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut.

1. Analisis wilayah, yaitu melakukan studi kebijakan nasional tentang wilayah, kependudukan, perekonomian, potensi, dan daya dukung lingkungan, struktur tata ruang, penguasaan, peruntukkan dan penggunaan lahan. 2. Perumusan masalah sebagai acuan dalam proses penyusunan rencana tata ruang wilayah. 3. Perumusan konsep yang mengacu pada kehendak untuk pemerintahan, pertumbuhan dan daya dukung lingkungan. Perumusan melalui pendekatan konseptual dan strategi pengembangannya. 4. Perumusan tata ruang melalui langkah-langkah berikut: a. Menetapkan kawasan lindung, seperti: – menetapakan kawasan lindung (hutan lindung, penyangga, dan resapan air). – menetapkan kawasan perlindungan setempat (sempadan pantai, sungai, waduk, dan mata air). – menetapkan kawasan suaka alam. – menetapkan kawasan rawan bencana alam. b. Mengembangkan kawasan budidaya, meliputi kawasan hutan produksi, pertanian, pertambangan, perindustrian, pariwisata, dan pemukiman. c. Pengembangan sistem kota dan pusat-pusat pertumbuhan yang akan dipilih. d. Pengembangan sistem prasarana wilayah, yaitu mengembangkan infrastruktur yang diperlukan. e. Pengembangan wilayah prioritas, seperti kawasan tumbuh cepat, prioritas penanganan masalah. f. Kebijaksanaan penunjang penataan ruang.