Perubahan Iklim Lingkungan dan Faktor Penyebabnya

Perubahan Iklim Lingkungan dan Faktor Penyebabnya

Perubahan Lingkungan dan Faktor Penyebabnya

Perubahan Iklim Lingkungan

Perubahan Lingkungan dan Faktor-Faktor Penyebabnya

Perubahan Iklim Lingkungan – Perubahan lingkungan dapat mengarah kepada perbaikan lingkungan atau kerusakan lingkungan. Perbaikan lingkungan mengarah pada keseimbangan lingkungan. Sekarang ini menjadi hal yang sangat sulit untuk mengembalikan lingkungan kepada keseimbangan lingkungan. Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa kerusakan lingkungan dapat disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam tidak dapat dicegah terjadinya, sedangkan faktor manusia dapat dikurangi dan dikendalikan. Beberapa faktor alam yang dapat merusak lingkungan adalah bencana alam, seperti banjir bandang, gunung meletus, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, kekeringan, kebakaran hutan, angin puting beliung, dan perubahan musim. Meskipun tidak dapat dipungkiri, sering kali bencana seperi banjir dan tanah longsor juga disebabkan oleh kecerobohan manusia. Kegiatan manusia meliputi kegiatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin meningkat, misalnya, kebutuhan pangan, sandang, papan, lahan, dan sarana transportasi. Peningkatan jumlah penduduk yang diikuti dengan kemajuan iptek berakibat pada semakin banyaknya sumber daya alam yang tereksploitasi. Jika tidak dikendalikan, dapat menyebabkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.

Perubahan Iklim Lingkungan

Perubahan Iklim Lingkungan
Perubahan Iklim Lingkungan

Latihan

Perubahan Iklim Lingkungan

1. Bagaimana cara kita untuk menjaga keseimbangan alam? Jelaskan! 2. Mengapa kemajuan iptek berpengaruh pada perubahan lingkungan? Jelaskan! 3. Setujukah kamu dengan pernyataan bahwa bencana alam terjadi karena kurangnya rasa syukur kepada Tuhan yang menciptakan alam? Jelaskan!

Pencemaran Lingkungan

Perubahan Iklim Lingkungan – Keinginan manusia yang selalu ingin meningkatkan kesejahteraannya memaksa manusia untuk mendirikan pabrik-pabrik yang dapat mengolah hasil alam menjadi bahan pangan dan sandang. Pesatnya kemajuan teknologi dan industrialisasi berpengaruh terhadap kualitas lingkungan. Munculnya pabrik-pabrik yang menghasilkan asap dan limbah buangan dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Pencemaran lingkungan merupakan satu dari beberapa faktor yang dapat memengaruhi kualitas lingkungan. Pencemaran lingkungan (environmental pollution) adalah masuknya bahan-bahan ke dalam lingkungan yang dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup di dalamnya.

Perubahan Iklim Lingkungan – Zat yang dapat mencemari lingkungan dan dapat mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup disebut dengan polutan. Polutan ini dapat berupa zat kimia, debu, suara, radiasi, atau panas yang masuk ke dalam lingkungan. Menurut UU RI No.23 tahun 1997, pencemaran lingkungan adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi, dan/atau komponen lain ke dalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya turun sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan peruntukannya. Zat, energi, dan makhluk hidup yang dimasukkan ke dalam lingkungan hidup biasanya berupa sisa usaha atau kegiatan manusia yang disebut dengan limbah.

Sebagian besar pencemaran lingkungan disebabkan oleh adanya limbah yang dibuang ke lingkungan hingga daya dukungnya terlampaui. Indikator yang digunakan untuk mengetahui apakah sudah terjadi kerusakan atau pencemaran lingkungan adalah baku mutu lingkungan hidup atau ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan/atau unsur pencemar yang ditenggang keberadaannya dalam suatu sumber daya tertentu sebagai sumber lingkungan hidup (UU RI No. 23 Tahun 1997). Baku mutu yang dikenal di Indonesia adalah baku mutu air, baku mutu air limbah, baku mutu udara ambien, baku mutu udara emisi, dan baku mutu air laut. Untuk mencegah terjadinya pencemaran, komponen-komponen limbah yang dibuang ke lingkungan tidak diizinkan melebihi ketentuan dalam baku mutu lingkungan hidup. Banyak aspek kesehatan manusia yang dipengaruhi oleh lingkungan dan banyak pula penyakit yang dimulai dan dirangsang oleh faktorfaktor lingkungan.

Contoh yang paling jelas adalah terjadinya keracunan Methyl mercury yang terjadi pada penduduk di sekitar Teluk Minamata (Jepang) akibat mengonsumsi ikan yang berasal dari pantai Minamata yang tercemar merkuri (air raksa). Akibatnya, 41 orang meninggal dan cacat tubuh pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang mengonsumsi ikan yang terkontaminasi merkuri tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ada interaksi yang sangat kuat antara manusia dan lingkungannya. Beberapa gangguan kesehatan, seperti kerusakan organ tubuh, kerusakan tulang, kelumpuhan, bahkan kematian dapat disebabkan oleh pencemaran lingkungan. Secara nyata terlihat bahwa pemenuhan kebutuhan manusia telah menimbulkan pencemaran dan merugikan manusia itu sendiri. Meskipun dengan kemajuan teknologi ini kebutuhan manusia telah tercukupi, mereka selalu mengesampingkan akibat yang merugikan manusia itu sendiri.

1. Sumber dan Penyebaran Bahan Pencemaran

Sumber pencemaran berasal dari alam dan lingkungan. Pencemaran yang berasal dari alam, antara lain, larva gunung berapi, asap karena kebakaran hutan, bunyi petir, dan rusaknya lingkungan karena bencana banjir. Sementara itu, sumber polutan yang berasal dari lingkungan sendiri adalah aktivitas manusia yang menghasilkan limbah yang dibuang ke alam, misalnya, asap kendaraan bermotor, asap pabrik, sisa-sisa oli, zat kimia yang dibuang ke sungai, serta suara bising pesawat dan kendaraan bermotor. Selain itu, sisa-sisa kotoran tubuh makhluk hidup yang dibuang (limbah) tidak pada tempatnya akan menimbulkan bau dan penyakit, misalnya, kotoran kuda, sapi, kambing, ayam, dan manusia itu sendiri. Masuknya bahan-bahan ke dalam lingkungan dapat mengganggu kehidupan makhluk hidup di dalamnya. Zat yang dapat mencemari lingkungan dan dapat mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup disebut dengan polutan. Polutan ini dapat berupa zat kimia, debu, suara, radiasi, atau panas yang masuk ke dalam lingkungan. Polutan dapat berupa racun, kuman penyakit, radioaktif, dan bersifat mudah larut.

Berdasarkan sifat zat pencemarnya, sumber pencemaran lingkungan dapat dibedakan menjadi: a. zat cair, padat, dan gas, contohnya limbah industri rumah tangga, pertanian, pertambangan (cair); sampah (padat); asap kendaraan bermotor atau pabrik (gas). Pencemaran yang disebabkan oleh zat cair, padat, dan gas ini biasa disebut pencemaran fisik; b. zat kimia, beberapa di antaranya dapat menimbulkan gangguan organ tubuh dan kanker, contohnya bahan kimia dari logan, seperti arsenat, kadmium, krom, dan benzena. Pencemaran yang ditimbulkan oleh zat kimia disebut pencemaran kimiawi; c. mikroorganisme penyebab penyakit, contohnya, bakteri E. coli sebagai penyebab penyakit perut, Listeria, dan Salmonella.

Pencemaran yang ditimbulkan oleh mikroorganisme disebut pencemaran biologis. Bahan pencemar atau polutan dapat menyebar ke segala tempat, mengikuti jaring-jaring makanan dan daur biogeokimia. Akibat yang ditimbulkan oleh pencemaran ini dapat muncul setelah waktu yang lama. Contohnya adalah penggunaan pupuk kimia (DDT) dalam pertanian. Pemupukan yang berlebihan dan terbawa aliran air ke sungai akan menyebar ke berbagai tempat menuju danau, waduk, atau laut. Tumbuhan air yang hidup di tempat itu akan terkontaminasi pupuk kimia. Zooplankton dan ikan kecil pun akan terkontiminasi karena telah memakan tumbuhan tersebut. Demikian juga dengan ikan besar dan hewan pemakan ikan besar. Polutan gas dapat terbawa oleh embusan angin mengikuti arah angin, sedangkan bahan pencemar yang dibuang ke tanah, seperti baterai, tidak dapat diurai oleh tanah. Zat kimia yang terkandung di dalamnya akan meresap ke tanah, kemudian diserap oleh tanaman. Tanaman dimakan oleh hewan atau manusia. Kemudian, hewan atau manusia mengeluarkannya dalam bentuk feses. Feses diurai oleh pengurai, diserap lagi oleh tanaman, dan begitu seterusnya mengikuti daur biogeokimia.

Contoh lain, pencemaran air oleh zat kimia dapat menyebabkan matinya makhluk hidup yang hidup di dalam air. Lebih berbahaya lagi jika ikan dan tumbuhan air yang tercemar tadi termakan oleh manusia karena dapat menyebabkan keracunan, bahkan kematian. Penelitian membuktikan bahwa tumbuhan yang tercemar DDT jika dimakan oleh ikan, ikan tersebut akan mengandung DDT yang lebih tinggi konsentrasinya daripada yang terkandung dalam tumbuhan tersebut. Demikian juga jika ikan tersebut dimakan oleh elang, dalam tubuh elang tersebut mengandung DDT yang konsentrasinya lebih tinggi daripada DDT yang terkandung dalam tubuh ikan. Demikian seterusnya, kandungan DDT akan berjalan mengikuti rantai makanan. Semakin tinggi tingkat konsumen, akan semakin tinggi konsentrasinya. Proses ini disebut dengan pemekatan hayati. Jadi, jangan heran jika tiba-tiba elang atau manusia tiba-tiba mati karena di dalam tubuhnya terkandung DDT, padahal mereka tidak meminum DDT.

2. Jenis Pencemaran Lingkungan Berdasarkan lingkungan yang tercemar, pencemaran lingkungan dapat dibedakan menjadi empat macam, yaitu pencemaran air, tanah, udara, dan suara. a. Pencemaran Air Air selalu diperlukan oleh setiap makhluk hidup, apalagi manusia. Air dimanfaatkan oleh manusia untuk minum, memasak, mandi, mencuci, dan lain-lain. Oleh karena itu, diperlukan upaya-upaya untuk memperoleh air yang sehat dan aman dikonsumsi. Coba bayangkan bagaimana jika air yang kalian gunakan untuk minum dan memasak tercemar limbah?

Tentang Pengertian Adapatasi Perubahan Iklim

Tentang Pengertian Adapatasi Perubahan Iklim

Tentang Pengertian Adapatasi Perubahan Iklim

Perubahan Iklim
Perubahan Iklim

Perubahan Iklim – Adaptasi untuk bidang kesehatan Banyak aspek kesehatan manusia dipengaruhi oleh iklim. Dampak itu bisa langsung – suhu tinggi dapat menyebabkan renjatan panas, misalnya, atau banjir dan longsor dapat mengakibatkan kematian atau cedera. Atau bisa juga pengaruh secara tidak langsung – lingkungan yang berubah mempercepat penyebaran penyakit yang disebabkan infeksi , atau kekurangan air dapat mengganggu sistem kebersihan atau mengurangi hasil tanaman pangan yang kemudian dapat mengakibatkan kurang gizi. Untuk mencegah dampak fisik bencana secara langsung, dalam beberapa kasus, risiko dapat dikurangi dengan reforestasi (penghutanan kembali). Misalnya, di Madiun, pemerintah merencanakan untuk menghutankan kembali ratusan hektar lahan pertanian di lereng-lereng gunung berapi Wilis untuk mengurangi risiko longsor yang menyusul curah hujan lebat.17 Bagaimanapun,seluruh masyarakat perlu menetapkan zona-zona yang beresiko terhadap bajir dan longsor dan membuat rencana untuk sistem peringatan dini untuk evakuasi. Banyak tindakan adaptasi untuk kesehatan akan melibatkan penguatan sistem pelayanan dasar kesehatan dan pengobatan yang sudah ada – meluaskan penyebaran kesadaran kesehatan kepada rakyat agar lebih memperhatikan kebersihan dan soal penyimpanan air. Menghambat penyebaran penyakit akan membutuhkan sistem pengawasan pola-pola penyakit lebih ketat.

Pada waktu banjir, pengawasannya antara lain adalah dengan memonitor penyakit kolera. Untuk jangka panjang, pengawasan meliputi memonitor distribusi penyakit-penyakit yang disebarkan oleh nyamuk sambil memastikan rumah tangga mampu melindungi diri sendiri, antara lain, misalnya dengan penggunaan kelambu atau kelambu yang dicelupkan ke dalam larutan insektisida. Adaptasi di wilayah perkotaan Banyak masalah kesehatan yang perlu diberikan perhatian khusus di wilayah perkotaan. Untuk Jakarta, misalnya, Palang Merah Indonesian menjalankan kampanye perubahan iklim dengan memperbaiki penyimpanan air bersih dan mengurangi kerentanan tehadap demam berdarah dengan membudidayakan ikan yang memangsa larva nyamuk.

Aktivitas ini didasarkan pada pembangunan kapasitas lokal dan perencanaan yang partisipatif – menjangkau anak-anak muda dan meningkatkan kesadaran adaptasi di kalangan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat Sebagaimana yang telah terjadi dalam kejadian banjir 2007 di Jakarta, masyarakat perkotaan yang rentan juga perlu disiapkan secara khusus untuk menghadapi banjir – dan harus memiliki rencana kedaruratan yang siap dilaksanakan Adaptasi dalam pengelolaan bencana Dari berbagai sisi, Indonesia merupakan tempat tinggal yang berbahaya – rawan terhadap berbagai macam bencana alam. Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, kebakaran, dan berbagai kejadian cuaca yang ekstrem yang sudah begitu lumrah. Perubahan iklim akan menjadikan semua ini makin parah – terutama bagi masyarakat miskin kota yang hidup seadanya di sepanjang pinggiran sungai atau bagi masyarakat pedesaan yang hidup di bawah ancaman longsor atau ancaman kemarau panjang dan kebakaran hutan. Keniscayaan adaptasi – Seruan untuk bertindak 17 Boks 8:“Seandainya waktu itu

Boks 8:“Seandainya waktu itu kami lebih siap” “Setiap musim hujan, banjir sudah jadi bagian hidup sehari-hari dan biasanya kami tidak pernah mengkhawatirkannya. Namun setelah kekacauan dan panik akibat banjir Februari lalu, saya jadi cemas juga bahwa situasi kelak akan lebih parah. Belum pernah banjir separah ini sebelumnya. Kami tidak sempat menyelamatkan harta benda kami. Tak seorang pun tahu ke mana harus mengungsi” (Ilham, warga Rawa Kepa, Kelurahan Tomang, Jakarta Barat). Seperti Ilham, sebagian besar penduduk di beberapa RW di Kelurahan Tomang sudah membangun pemukiman mereka di sekitar bantaran kanal banjir barat. Bahkan bagian atas kanal sudah dipenuhi rumah dan bangunan semi permanen lain untuk kegiatan ekonomi informal.

Meski tak seorang pun korban tewas di sana akibat banjir Februari 2007, banyak yang kehilangan harta beda, seperti motor dan berbagai peralatan rumah tangga, bahkan bangunan rumah mereka. Hal ini terutama karena tidak adanya peringatan. Berita banjir mulai datang hanya tersebar dari mulut ke mulut saat banjir sudah telanjur masuk. Karena tidak ada rencana evakuasi, banyak yang panik dan hanya berbondong-bondong menuju bangunan komersial terdekat, Roxy Square. Namun di dalam gedung ini mereka terjebak tanpa listrik dan air, dan tidak ada tempat dan sarana untuk memasak. Dengan baterai ponsel yang lemah setelah beberapa lama dan tanpa radio, komunikasi mereka terputus dengan pihak luar. Dari pengalaman pada waktu banjir ini, dalam diskusi yang diorganisasikan oleh Urban Development Institute (URDI), para wakil warga membahas apa yang telah terjadi dan apa yang dapat dilakukan secara lebih baik selanjutnya. Mereka telah sepakat tentang perlunya antisipasi dan kesiapan serta mulai memetakan sumber daya dan fasilitas yang dapat digunakan masyarakat di masa datang. Mereka juga membentuk pokja banjir yang nantinya bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan sistem informasi peringatan dini dan evakuasi saat banjir datang.

Perubahan iklim juga akan membawa bencana yang berlangsung secara perlahan-perlahan seperti kenaikan muka air laut dan intrusi air laut ke delta-delta sungai yang merusak ekosistem pesisir dan menghancurkan mata pencaharian masyarakat. Akibatnya? Lebih banyak korban jiwa, penderitaan, pemiskinan, gangguan pelayanan sosial paling mendasar, porak-porandanya harta benda dan infrastruktur, kemunduran dalam pertumbuhan ekonomi dan pembangunan, serta kerusakan lingkungan hidup. Dengan demikian, yang jauh lebih penting adalah bahwa kita dapat beralih ke pengelolaan yang ‘cermat’. Alih-alih hanya merespon saat bencana terjadi, mestinya yang dituju adalah mengurangi risiko dan melakukan persiapan sebelum bencana itu terjadi. Dalam sejarah, orang-orang di Indonesia sudah melakukan tindakan itu sebagai bagian dari pemikiran sehari-hari – dalam keputusan membangun rumah, misalnya, merancang masjid, atau memekarkan sebuah desa, meskipun kini dalam ketergesaan kehidupan modern, sebagian dari kearifan ini tampaknya sudah dilupakan. Untunglah, mulai ada pergeseran untuk kembali menegakkan pemikiran-pemikiran seperti ini. Dalam beberapa tahun terakhir ini, pemerintah sudah mengambil langkah-langkah ke arah itu. Misalnya, pemerintah sudah mengeluarkan undang-undang baru tentang Pengelolaan Bencana Nasional (Pengurangan Risiko) yang akan mendorong masyarakat berinvetasi bagi keselamatan diri masing-masing dengan mengurangi risiko kerusakan bencana. Pemerintah juga sudah membuat program dialog antar-pemerintahan dan antara umum-swasta, mengenai suatu Rencana Aksi Nasional untuk Mengurangi Risiko Bencana. Beberapa pemerintah daerah bahkan sudah bergerak lebih cepat: pemerintahan lokal Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Maluku, misalnya sudah bergerak lebih jauh dengan menyiapkan Rencana Aksi Daerah untuk Mengurangi Risiko Bencana. Yang menjadi tantangan saat ini adalah membangun kapasitas yang dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan berbagai rencana dan strategi ini, dan yang terpenting, memberdayakan masyarakat agar ikut memikul tanggung jawab sendiri sehingga memastikan setiap orang di Indonesia hidup dalam ‘budaya yang mementingkan keselamatan’ (Boks 9).

Menuju pembangunan yang aman dan berkelanjutan ‘

Di seluruh sektor, berbagai tindakan adaptasi akan menuntut tindakan efektif pemerintah – yang pada tingkat pemerintah daerah akan membutuhkan koordinasi lebih kuat di antara berbagai sektor departemen. Pemerintah sudah menyiapkan Rencana Aksi Nasional untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RANMAPI). RANMAPI ini mengakui bahwa perubahan iklim merupakan ancaman serius terhadap pembangunan sosioekonomi dan lingkungan hidup Indonesia dan bahwa dampak perubahan iklim diperparah oleh pola-pola pembangunan yang tidak berkelanjutan.

Boks 9: Membangun budaya yang mementingkan keselamatan Program PBB untuk Pembangunan (UNDP), dengan dana bantuan dari the United Kingdom’s Department for International Development, sedang berupaya mendatangkan pengalaman dan keahlian internasional ke Indonesia melalui suatu program yang dinamakan, ‘Pengurangan Risiko Bencana dalam Pembangunan yang Menjamin Keselamatan Masyarakat) (‘Safer Communities for Disaster Risk Reduction in Development’). Program yang dilaksanakan melalui Badan Perencana Pembangunan Nasional (BAPPENAS) ini akan membantu menguatkan dan mengembangkan berbagai peraturan dan kebijakan seputar pengurangan risiko bencana yang sedang tumbuh di kalangan individu, bisnis, pemerintah daerah, dan badan-badan pemerintahan pusat. Program ini juga membantu membangun kemitraan untuk mendukung pengambilan keputusan yang terdesentralisasi sambil mengembangkan program pendidikan dan penyadaran masyarakat. Yang terpenting, program ini akan memberikan berbagai peluang kepada pemerintah dan warga daerah untuk melaksanakan serangkaian demonstrasi pengurangan risiko bencana yang inovatif di seluruh negeri. Demonstrasi itu meliputi: • Melaksanakan program pertimbangan risiko dan pengurangan risiko bencana di kalangan masyarakat; • Melatih para tukang bangunan untuk membangung rumah yang tahan banjir; • Mengembangkan dan melaksanakan regulasi pembangunan di daerah; • Mengembangkan program kredit bagi warga yang ingin memperkuat rumah-rumah Mereka; • Membantu orang-orang yang ingin pindah dari wilayah yang rawan banjir; • Membantu masyarakat membuat persiapan menghadapi bencana dan membuat rencana evakuasi; dan • Menghidupkan kembali dan memanfaatkan kearifan, pengetahuan, dan praktik-praktik tradisional. Proyek ini harus mendemonstrasikan bahwa akan lebih baik untuk berinvestasi sedikit di depan ketimbang membuang banyak uang nantinya untuk mengatasi berbagai akibat setelah bencana menghantam – menghindari kesengsaraan yang tidak perlu dan membangun suatu budaya yang mementingkan keselamatan.

Rencana ini merumuskan prinsip-prinsip strategis dan juga merinci rencana aksi mitigasi dan adaptasi jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Rencana aksi ini bertujuan untuk mendukung pencapaian tujuan pembangunan pusat dan daerah. Akhirnya cara terbaik untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim adalah beralih ke bentuk-bentuk pembangunan yang lebih berkelanjutan – belajar untuk hidup dengan cara-cara yang menghargai dan serasi dengan alam. Perubahan iklim merupakan ancaman yang serius – suatu peringatan untuk menyadarkan kita. Namun, kita juga dapat menggunakan kesempatan ini sebagai momentum baru bagi upaya-upaya perlindungan lingkungan hidup kita. Di Indonesia kita beruntung memiliki sumber daya alam yang melimpah ruah dan Indonesia merupakan wilayah yang memiliki keanekargaman hayati yang paling kaya dan paling beragam di dunia. Semua itu sudah sepantasnya kita lestarikan – suatu warisan untuk generasi penerus. Namun, ada juga suatu kepentingan tersendiri yang kuat. Sejauh mana keharusan kita menyelamatkan lingkungan, sedemikian pula kita bergantung pada lingkungan untuk menyelamatkan kita. Dari perspektif ini, mitigasi dan adaptasi mulai bertemu – menanami kembali hutan-hutan kita, misalnya, bukan saja akan meningkatkan penyerapan gas-gas rumah kaca, tetapi juga akan melindungi rakyat dari bencana langsung longsor. Menurunkan konsumsi bahan bakar di perkotaan tidak saja akan mengurangi emisi karbon dioksida, tetapi juga akan memperbaiki kesehatan penduduk kota dan meringankan beban rakyat, terutama yang masih anak-anak dan lansia dalam bertahan pada kondisi cuaca yang ekstrem. Perubahan pelaksanaan-pelaksanaan tersebut akan dapat dibenarkan dalam situasi seperti apa pun, tetapi kebutuhan untuk beradaptasi terhadap perubahan iklim menjadikannya sebagai sesuatu yang lebih mendesak. Sekali lagi kita akan memetik banyak manfaat dengan membangun berdasarkan kearifan tradisional. Banyak masyarakat di Indonesia memang sudah selalu hidup serasi dengan alam, dan bahkan seolah menjadi bagian dari alam. Di berbagai wilayah negeri ini rumah-rumah penduduk tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan – tampak merupakan bagian dari hutan tersendiri. Kita juga selayaknya mengingat dengan bijak bahwa mulai dari pedesaan paling terpencil hingga ke perkotaan yang paling modern, kita semua adalah bagian dari alam – dan bahwa semua keunggulan teknologi kita selalu rentan oleh kekuatan alam yang dasyat. Ketika iklim berubah, selayaknya kita pun berubah – dan berubah dengan segera.

 

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim pada pemukim perkotaan

Dampak perubahan iklim
Dampak perubahan iklim

Dampak perubahan iklim – Kenaikan muka air laut antara 8 hingga 30 centimeter juga akan berdampak parah pada kota-kota pesisir seperti Jakarta dan Surabaya yang akan makin rentan terhadap banjir dan limpasan badai. Masalah ini sudah menjadi makin parah di Jakarta karena bersamaan dengan kenaikan muka air laut, permukaan tanah turun: pendirian bangunan bertingkat dan meningkatnya pengurasan air tanah telah menyebabkan tanah turun. Namun Jakarta memang sudah secara rutin dilanda banjir besar: pada awal Februari, 2007, banjir di

Dampak perubahan iklim – Jakarta menewaskan 57 orang dan memaksa 422.300 meninggalkan rumah, yang 1.500 buah di antaranya rusak atau hanyut. Total kerugian ditaksir sekitar 695 juta dolar.7 Suatu penelitian memperkirakan bahwa paduan kenaikan muka air laut setinggi 0,5 meter dan turunnya tanah yang terus berlanjut dapat menyebabkan enam lokasi terendam secara permanen dengan total populasi sekitar 270,000 jiwa, yakni: tiga di Jakarta – Kosambi, Penjaringan dan Cilincing; dan tiga di Bekasi – Muaragembong, Babelan dan Tarumajaya.8 Banyak wilayah lain di negeri ini juga akhir-akhir ini baru dilanda bencana banjir. Banjir besar di Aceh, misalnya, di penghujung tahun 2006 menewaskan 96 orang dan membuat mengungsi 110,000 orang yang kehilangan sumber penghidupan dan harta benda mereka. Pada tahun 2007 di Sinjai, Sulawesi Selatan banjir yang berlangsung berharihari telah merusak jalan dan memutus jembatan, serta mengucilkan 200.000 penduduk. Selanjutnya masih pada tahun itu, banjir dan longsor yang melanda Morowali, Sulawesi Utara memaksa 3.000 orang mengungsi ke tenda-tenda dan barakbarak darurat.

Dampak perubahan iklim – Beban kumulatif Masyarakat miskin karenanya adalah yang akan paling menderita oleh perubahan iklim. Namun, berbagai dampak ini juga akan menambah berbagai kesengsaraan yang sudah mereka alami. Beban kesengsaraan itu antara lain: Yang miskin makin miskin Bagi rakyat yang hidupnya sudah sengsara, berbagai tambahan beban dari perubahan iklim akan makin menyengsarakan – dan makin menuntut biaya. Kebanyakan petani padi, misalnya, saat ini menggunakan varietas hibrid yang menuntut ketersediaan air yang cukup. Ketika hujan tidak turun pada waktunya, sebagian mereka sudah harus berhutang untuk membeli bahan bakar untuk memompa air tanah. Dengan begitu meski sawah mereka akhirnya dapat menghasilkan panen, sebagian besar hasil panen itu akan digunakan untuk membayar hutang. Suatu ilustrasi nyata pengaruh bencana berkaitan dengan iklim terhadap masyarakat miskin terjadi di Indramayu Jawa Barat – sebuah kabupaten yang pada waktu tahun El Niño biasanya mengalami kemarau panjang.Diagram 5 menunjukkan taraf kemiskinan pada tahun normal 2001, dibandingkan dengan tahun El Niño 2003.9 Ini boleh jadi merupakan akibat perubahan iklim yang disertai kenaikan harga bahan pokok dan BBM.

Dampak perubahan iklim – Selain perikanan, wilayah pesisir Indonesia menawarkan lapangan kerja cukup besar – yaitu menyerap sekitar 15 persen tenaga kerja, yang meliputi eksplorasi minyak dan gas, transportasi, pertanian, dan pariwisata. Aktivitas ekonomi ini menyumbang sekitar 25 persen produk domestik bruto sehingga kenaikan muka air laut akan memberikan dampak besar pada berbagai aktivitas sosioekonomi. Masalah kesehatan tambah parah Pemanasan global juga akan berdampak parah pada masalah kesehatan. Lagi-lagi, dampak paling parah akan dirasakan oleh masyarakat miskin yang paling tidak siap menghadapinya. Curah hujan tinggi dan banjir akan menimbulkan dampak amat parah bagi sistem sanitasi yang masih buruk di wilayah-wilayah kumuh di berbagai daerah dan kota, menyebarkan penyakit-penyakit yang menular lewat air seperti diare dan kolera. Suhu panas berkepanjangan yang disertai oleh kelembapan tinggi juga dapat menyebabkan kelelahan karena kepanasan terutama pada masyarakat miskin kota dan para lansia. Keluarga miskin juga umumnya tinggal di lingkungan yang rawan terhadap perkembangbiakan nyamuk. Masyarakat di Indonesia secara tradisional menganggap peralihan musim dari musim panas ke musim hujan, yaitu musim pancaroba, sebagai musim yang berbahaya dan orang-orang tua mengingatkan yang muda agar lebih berhati-hati pada musim itu. Perubahan iklim ini akan meningkatkan risiko baik bagi yang muda maupun para lansia dengan memungkinkan nyamuk menyebar ke wilayah-wilayah baru. Hal itu sudah terjadi di tahun El Niño 1997 ketika nyamuk berpindah ke dataran tinggi di Papua. Suhu lebih tinggi juga menyebabkan beberapa virus bermutasi – yang tampaknya sudah terjadi pada virus penyebab demam berdarah dengue, yang membuat penyakit ini makin sulit diatasi. Kasus demam berdarah dengue di Indonesia juga sudah ditemukan meningkat secara tajam di tahun-tahun La Niña (Diagram 6).

Masalah kesehatan lainnya muncul akibat kabut asap tebal yang menyebabkan infeksi pernapasan akut, serta iritasi mata dan kulit. Tahun 1997 berbagai kebakaran di delapan provinsi telah menimbulkan sekitar 9 juta kasus infeksi pernapasan Kasus kurang gizi bertambah Wilayah-wilayah paling tertinggal juga adalah wilayah yang cenderung mengalami kelangkaan pangan. Di Nusa Tenggara Timur, Timor Barat, Sumba Timur, dan pulau-pulau di sebelah timur Flores banyak masyarakat yang sudah merasakan dampak parah berubah-ubahnya iklim – dengan menurunnya kesuburan tanah di sana oleh curah hujan yang tidak menentu dan kemarau panjang di tahun-tahun El Niño. Lebih dari sepertiga populasi di berbagai pelosok wilayah ini hidup di bawah garis kemiskinan. Di tahun-tahun El Niño 2002 dan 2005, sekitar 25 persen anak balita mengalami kurang gizi akut. Di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, misalnya, yang mendapat curah hujan paling rendah di Indonesia, kemarau panjang yang diikuti oleh kegagalan panen, telah menimbulkan dampak parah dan kasus kurang gizi merebak di seluruh provinsi ini – antara 32 hingga 50 persen.10 Sumber air berkurang Perubahan pola curah hujan juga menurunkan ketersediaan air untuk irigasi dan sumber air bersih. Di pulau Lombok dan Sumbawa antara tahun 1985 dan 2006, jumlah titik air menurun dari 580 menjadi hanya 180 titik.11 Sementara itu, kepulauan ini juga mengalami ‘jeda musim’- kekeringan panjang selama musim penghujan – yang kini menjadi makin sering, menimbulkan gagal panen. Di seluruh negeri, kini makin banyak saja sungai yang makin dangkal seperti Sungai Ular (Sumatra Utara), Tondano (Sulawesi Utara), Citarum (Jawa Barat), Brantas (Jawa Timur), Ciliwung-Katulampa (Jawa Barat), Barito-Muara Teweh (Kalimantan Tengah), serta Larona-Warau (Sulawesi Selatan).12 Di wilayah pesisir, berkurangnya air tanah disertai kenaikan muka air laut juga telah memicu intrusi air laut ke daratan – mencemari sumber-sumber air untuk keperluan air bersih dan irigasi. Kebakaran tambah sering Kemarau panjang disertai perubahan tata guna lahan sudah menimbulkan peningkatan risiko kebakaran. Di Kalimantan Tengah, misalnya, Proyek Lahan Gambut di tahun 1990 an semula dimaksudkan untuk mengkonversi sejuta hektar lahan gambut menjadi perkebunan sawit. Proyek ini bukan saja gagal, tetapi juga telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang luar biasa sekaligus juga menghancurkan sumber penghidupan masyarakat di wilayah sekitarnya yang bergantung pada kebun karet sebagai sumber utama nafkah mereka. Banyak pohon karet mereka ikut terbakar ketika lahan gambut terbakar. Sejak itu kebakaran menjadi sulit dikendalikan, terutama pada tahun-tahun El Niño dan terutama akibat pembangunan kanal-kanal untuk mengeringkan rawa dan penggunaan api untuk membuka lahan. Di tahun El-Niño 1997 total luas lahan gambut yang rusak karena kebakaran di Indonesia diperkirakan sekitar 6,8 juta hektar.13 Kebakaran yang terjadi berulang kali itu tidak saja menimbulkan masalah kesehatan tetapi juga menghancurkan sumber-sumber nafkah rakyat – meningkatkan angka kemiskinan hingga 30 persen atau lebih.14 Kebakaran pada tahun-tahun El Niño juga menimbulkan berbagai kerusakan di seluruh negeri ini: di tahun 1997 saja biaya kerugian diperkirakan mencapai antara 662 hingga 1056 juta dolar Amerika.15

Keniscayaan adaptasi – Seruan untuk bertindak

Beradaptasi terhadap perubahan iklim merupakan prioritas mendesak bagi Indonesia. Seluruh kementerian dalam pemerintahan dan perencanaan nasional perlu mempertimbangkan perubahan iklim dalam program-program mereka – berkenaan dengan beragam persoalan seperti pengentasan kemiskinan, pemberdayaan masyarakat, keamanan pangan, pengelolaan bencana, pengendalian penyakit, dan perencanaan tata kota. Namun ini bukan merupakan tugas pemerintah pusat belaka, tetapi harus menjadi upaya nasional yang melibatkan pemerintah daerah, masyarakat umum, dan semua organisasi nonpemerintah, serta pihak swasta. Di tahun-tahun belakangan ini masyarakat dunia semakin meresahkan efek pemanasan global dan di awal tahun 1990an telah mengonsep United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCC), yang diberlakukan pada 1994. Di dalam kerangka ini mereka mengajukan dua strategi utama: mitigasi dan adaptasi (Boks 5). Mitigasi meliputi pencarian cara-cara untuk memperlambat emisi gas rumah kaca atau menahannya, atau menyerapnya ke hutan atau ‘penyerap’ karbon lainnya. Sementara itu adaptasi, mencakup cara-cara menghadapi perubahan iklim dengan melakukan penyesuaian yang tepat – bertindak untuk mengurangi berbagai pengaruh negatifnya, atau memanfaatkan efek-efek positifnya.