Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan  Contoh Puisi Lama

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan Contoh Puisi Lama

Mengembangkan Ide dg Menulis Puisi Lama dan Contoh Puisi Lama

Menulis Puisi Lama
Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama  – Pasti, Anda pernah membaca puisi! Senang, bukan? Bagaimana kalau kita mencoba lagi? Selain itu, kita juga berlatih menulis puisi. Pernahkah Anda menulis puisi? Mari kita mulai belajar menulis puisi! Secara etimologi, istilah puisi berasal dari bahasa Yunani, poeima, “membuat’, atau poeisis, “pembuatan”. Dalam bahasa Inggris disebut poem atau poetry (Aminuddin, 1995: 134). Menurut Pradopo (2002: 7), puisi merupakan ekspresi pemikiran yang membangkitkan perasaan dan merangsang imajinasi pancaindra dalam susunan yang berirama. Tambahnya lagi, puisi merupakan rekaman dan interpretasi pengalaman manusia yang penting, digubah dalam wujud yang paling berkesan. Esensi puisi merupakan perwujudan pikiran, perasaan, dan pengalaman intelektual seorang penyair yang bersifat imajinatif, yang diungkapkan melalui bahasa yang memikat secara jujur dan sungguh-sungguh. Menurut Richard (dalam Situmorang, 1983: 12) terdapat dua unsur penting yang membangun puisi, yakni metode puisi dan hakikat puisi. Metode puisi disebut juga struktur fisik puisi yang terdiri atas diksi. Metode puisi disebut juga struktur fisik puisi yang terdiri atas diksi, pengimajian, kata konkret, bahasa figuratif, serta ritma dan rima. Adapun hakikat puisi disebut juga struktur batin puisi yang terdiri atas tema, perasaan, nada, dan amanat. Puisi lama merupakan puisi yang terikat oleh syarat-syarat, seperti jumlah larik dalam setiap bait, jumlah suku kata dalam setiap larik, pola rima dan irama, serta muatan setiap bait. Yang termasuk puisi lama adalah bidal, gazal, gurindam, mantra, masnawi, nazam, kith’ah, rubai, pantun, seloka, syair, talibun, dan teromba.

Menulis Puisi Lama  – Meskipun bentuk puisi lama cukup banyak, kita akan menekuninya sebagian saja, terutama yang masih memengaruhi penulisan puisi modern, yaitu pantun, syair, dan mantra.

1. Pantun Pantun merupakan ragam puisi lama yang tiap baitnya terdiri atas empat larik dengan rima akhir a-b-a-b. Setiap larik biasanya terdiri atas empat kata atau delapan sampai dengan 12 suku kata dan dengan ketentuan bahwa dua larik pertama selalu merupakan kiasan atau sampiran, sementara isi atau maksud sesungguhnya terdapat pada larik ketiga dan keempat. Berdasarkan struktur dan persyaratannya, pantun dapat terbagi ke dalam pantun biasa, pantun kilat atau karmina, dan pantun berkait.

Pantun biasa adalah pantun seperti kita kenal lazimnya dan rincian persyaratannya telah kita singgung di atas, namun dengan tambahan, isinya curahan perasaan, sindiran, nasihat, dan peribahasa. Pantun biasa pun dapat selesai hanya dengan satu bait. Perhatikanlah pantun yang cukup populer berikut ini! Pantun kilat atau karmina memiliki syarat-syarat serupa dengan pantun biasa. Perbedaan terjadi karena karmina sangat singkat, yaitu baitnya hanya terdiri atas dua larik, sehingga sampiran dan isi terletak pada larik pertama dan kedua. Perhatikanlah beberapa karmina berikut!

Pantun berkait kadang-kadang juga disebut dengan pantun berantai, merupakan pantun yang bersambung antara bait satu dan bait berikutnya. Dengan catatan, larik kedua dan keempat setiap bait pantun akan muncul kembali pada larik pertama dan ketiga pada bait berikutnya. Perhatikanlah pantun berkait berikut ini!

2. Syair Syair bersumber dari kesusastraan Arab dan tumbuh memasyarakat sekitar abad ke-13, seiring dengan masuknya agama Islam ke Nusantara. Seperti halnya pantun, syair memiliki empat larik dalam setiap baitnya; setiap larik terdiri atas empat kata atau antara delapan sampai dengan dua belas suku kata. Akan tetapi, syair tidak pernah menggunakan sampiran. Dengan kata lain, larik-larik yang terdapat dalam syair memuat isi syair tersebut. Perbedaan pantun dan syair terletak juga pada pola rima. Apabila pantun berpola a-b-a-b, maka syair berpola a-a-a-a. Karena bait syair terdiri atas isi semata, antara bait yang satu dengan bait lainnya biasanya terangkai sebuah cerita. Jadi, apabila orang akan bercerita, syair adalah pilihan yang tepat. Cerita yang dikemas dalam bentuk syair biasanya bersumber dari mitologi, religi, sejarah, atau dapat juga rekaan semata dari pengarangnya. Syair yang cukup terkenal yang merupakan khazanah sastra Nusantara, misalnya Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, Syair Singapura Dimakan Api karya Abdullah bin Abdulkadir Munsyi, Syair Bidasari, Syair Abdul Muluk, Syair Ken Tambunan, Syair Burung Pungguk, dan Syair Yatim Nestapa. Marilah kita sejenak memerhatikan beberapa bait pengantar Syair Burung Pungguk:

3. Mantra Mantra adalah rangkaian kata yang mengandung rima dan irama yang dianggap mengandung kekuatan gaib. Mantra biasanya diucapkan oleh seorang dukun atau pawang untuk melawan atau menandingi kekuatan gaib lainnya. Namun, hakikat mantra itu sendiri adalah doa yang diucapkan oleh seorang pawang dalam keadaan trance ‘kerasukan’. Di dalam mantra yang penting bukan makna kata demi kata, melainkan kekuatan bunyi yang bersifat sugestif. Karakteristik mantra sangat unik. Menurut Umar Junus (1983: 135), ciri-ciri mantra adalah sebagai berikut. 1. Di dalam mantra terdapat rayuan dan perintah. 2. Mantra mementingkan keindahan bunyi atau permainan bunyi. 3. Mantra menggunakan kesatuan pengucapan. 4. Mantra merupakan sesuatu yang utuh, yang tidak dapat dipahami melalui bagian-bagiannya. 5. Mantra sesuatu yang tidak dipahami oleh manusia karena merupakan sesuatu yang serius. 6. Dalam mantra terdapat kecenderungan esoteris (khusus) dari kata-katanya.

Menulis Puisi Lama  – Sebagai contoh marilah kita perhatikan mantra berikut ini, yang biasa diucapkan pawang ketika mengusir anjing galak

Pulanglah engkau kepada rimba sekampung, Pulanglah engkau kepada rimba yang besar, Pulanglah engkau kepada gunung guntung, Pulanglah engkau kepada sungai yang tiada berhulu, Pulanglah engkau kepada kolam yang tiada berorang, Pulanglah engkau kepada mata air yang tiada kering, Jikalau kau tiada mau kembali, matilah engkau.

Kita memahami dan belajar membuat mantra bukan karena kemanjuran daya gaibnya sebab anggapan seperti itu terdapat dalam keyakinan dan kepercayaan nenek moyang kita dahulu. Kini kita mempelajarinya sebagai kegiatan kreatif dalam penulisan puisi. Terlebih-lebih, puisi modern yang akan kita bicarakan pada pelajaran berikutnya.

Menulis Puisi Lama  – Latihan

1. Carilah informasi mengenai karakteristik puisi-puisi lama selain pantun, syair, dan mantra untuk memperkaya wawasan Anda! Pelajarilah sebaik-baiknya agar Anda dapat membandingkan dan memahami berbagai jenis puisi lama tersebut! 2. Buatlah beberapa jenis puisi lama! (minimal tiga buah)

Rangkuman

1. Pokok-pokok isi berita dapat ditemukan dengan menggunakan 6 pertanyaan pokok (rumus 5W + 1H), yaitu who (siapa), where (di mana), why (mengapa), when (kapan), dan how (bagaimana). 2. Berbicara di depan forum resmi sebaiknya menggunakan bahasa yang komunikatif, dengan intonasi yang jelas dan tidak monoton. 3. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat memperkenalkan diri, yaitu: (1) tidak merendahkan diri secara berlebihan, (2) menggunakan bahasa yang sopan dan resmi, (3) nada bicara tidak tinggi/keras, (4) menjelaskan identitas diri secukupnya. 4. Membaca cepat artinya membaca dengan mengutamakan kecepatan tanpa mengabaikan pemahamannya. 5. Puisi merupakan perwujudan pikiran, perasaan, dan pengalaman intelektual seorang penyair yang bersifat imajinatif, yang diungkapkan dengan bahasa yang memikat, jujur, dan bersungguh-sungguh.

Menulis Puisi Lama – Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Lingkungan Sehat”. Kemampuan Anda dalam memberikan tanggapan isi berita atau nonberita dapat Anda praktikkan dalam keseharian untuk mengomentari hal-hal yang sedang terjadi. Tetapi tentu saja komentar Anda itu harus relevan dengan topik yang dibicarakan. Kompetensi lain yang Anda pelajari adalah teknik membaca cepat. Kompetensi ini juga dapat Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk mendapatkan informasi secara tepat dan cepat.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Sekitar 300 dari 400-an kios dan jongko (los) di Pasar Inpres Sayati, Kota Bandung, Sabtu (26/8) dini hari, musnah terbahar. Dalam peristiwa itu seirang perempuan pedagang ayam potong, Fatimah bin Yusuf (50-an), tewas terbakar karena terkurung api dalam kiosnya. Keterangan yang dihimpun Sabtu siang menyebutkan, api mulai berkobar sekitar pukul 02.30 ketika para pedagang masih tertidur lelap. Karena kencangnya tiupan angin kemarau dan terbakarnya tenda-tenda plastik, api dengan cepat menjalar ke hampir semua bagian pasar yang terletak di Jalan Kopo itu. Api baru berhasil diatasi sekitar pukul 07.30, setelah sekitar sepuluh mobil pemadam kebakaran dari kota dan Kabupaten Bandung dikerahkan ke lokasi kejadian. Namun, akibat luapan massa, Jalan Poros Kopo Soreang sempat macet total selama beberapa jam.

Menulis Puisi Lama – Pertanyaan yang sesuai dengan isi teks berita tersebut adalah … a. Berapa rupiah kerugian atas kebakaran Pasar Inpres Sayati? b. Di manakah Fatimah, korban kebakaran tersebut dimakamkan? c. Siapa yang menjadi korban kebakaran Pasar Inpres? d. Dari mana datangnya tiupan angin kencang ke lokasi kebakaran? e. Mengapa para pedagang terlelap tidur ketika terjadi kebakaran?

Menghubungkan Contoh Isi Puisi dengan Kenyataan

Menghubungkan Contoh Isi Puisi dengan Kenyataan

Menghubungkan Contoh Isi Puisi dengan Kenyataan

Contoh Isi Puisi
Contoh Isi Puisi

Contoh Isi Puisi – Setiap hari kemerdekaan, Anda tentu sering mendengar teks Proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno. Inginkah Anda menjadi pembicara andal seperti beliau? Melalui pidato ataupun tulisannya, beliau mampu membuat banyak perubahan. Anda juga berkesempatan untuk melakukan hal itu. Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda tentu sering mengikuti berbagai kegiatan. Di antara sekian banyak kegiatan tersebut, ada beberapa kegiatan yang memerlukan pidato. Oleh karena itulah, dalam pelajaran ini Anda akan memahami pidato agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Jadi, Anda telah memiliki bekal berpidato. Kehidupan bermasyarakat pun merupakan salah satu unsur yang dapat dihubungkan dengan puisi karena puisi merepresentasikan hidup masyarakat. Di samping kehidupan masyarakat, ada hal lain yang terkandung dalam puisi, yakni realitas alam dan sosial budaya. Ketiga hal tersebut dapat disarikan menjadi pengalaman hidup yang akan dituangkan ke dalam suatu karangan. Dengan demikian, Anda dapat membuat karangan berdasarkan pengalaman hidup orang lain. Mungkin saja suatu saat nanti karangan tersebut dapat menjadi buku yang memberikan inspirasi bagi orang lain.

Contoh Isi Puisi

Menghubungkan Isi Puisi dengan Kenyataan

Dalam subbagian 11A, Anda telah belajar membahas puisi. Dalam membahas puisi, sebaiknya Anda juga memperhatikan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat yang menjadi konteks penulisan puisi tersebut. Oleh karena itu, kali ini belajar menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat. Dengan demikian, Anda akan mampu memaknai puisi dengan lebih luas. Akhirnya, Anda pun akan lebih menghayati setiap puisi.

Latar Belakang Sosial-Budaya Pemahaman puisi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kemasyarakatan dan budayanya. Untuk dapat memberikan makna sepenuhnya kepada sebuah sajak, selain dianalisis struktur intrinsiknya (secara struktural) dan dihubungkan dengan kerangka kesejarahannya, analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosialbudayanya (Teeuw, 1983: 61–62). Karya sastra mencerminkan masyarakatnya dan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zaman tertentu (Abrams, 1981:178) mengingat bahwa sastrawan itu adalah anggota masyarakat. Seorang penyair tidak dapat lepas dari pengaruh sosial-budaya masyarakatnya. Latar sosial-budaya itu terwujud dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat-istiadat, pandangan masyarakat, kesenian, dan benda-benda kebudayaan yang terungkap dalam suatu karya sastra. Penyair Indonesia berasal dari bermacam-macam, sesuai dengan jumlah suku bangsa Indonesia. Dengan demikian, ada latar sosialbudaya Sulawesi, Kalimantan, Aceh, Batak, Minangkabau, Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan sebagainya. Untuk memahami dan memberi makna sajak yang ditulis oleh penyair Sunda, Bali, Jawa, dan sebagainya diperlukan pengetahuan tentang latar sosialbudaya yang melatarinya. Misalnya, untuk memahami sajak-sajak Linus Suryadi yang berlatar budaya wayang, begitu juga sebagian sajak Subagio Sastrowardojo, pembaca harus memiliki pengetahuan tentang wayang. Beberapa sajak Subagio Sastrowardojo yang termuat dalam Keroncong Motinggo, adalah “Kayon”, “Wayang”, “Bima”, “Kayal Arjuna”, dan “Asmaradana”. Dalam pembuatannya, diperlukan pengetahuan tentang wayang dan cerita wayang. Dalam “Asmaradana” diceritakan episode cerita Ramayana. Asmaradana adalah nama sebuah tembang Jawa yang dipergunakan untuk menceritakan percintaan atau berisi percintaan. Sita dibakar untuk membuktikan kesuciannya. Ia belum terjamah oleh Rahwana yang menculiknya dari Rama. Namun, dalam sajak “Asmaradana” ini cerita diubah oleh Subagio, yaitu Sita memang melakukan sanggama dengan raksasa (Rahwana) yang melarikannya. Hal ini dilakukan untuk mengemukakan pandangan atau pendapat penyair sendiri bahwa manusia itu tidak dapat terlepas dari nalurinya. Dalam cerita Ramayana (wayang), Sita tidak terbakar di api suci. Ini membuktikan kesuciannya. Perhatikan sajak Subagio Sastrowardoyo berikut.

Contoh Isi Puisi – Asmaradana Sita di tengah nyala api tidak menyangkal betapa indahnya cinta berahi Raksasa yang melarikannya ke hutan begitu lebat bulu jantannya dan Sita menyerahkan diri Dewa tak melindunginya dari neraka tapi Sita tak merasa berlaku dosa sekedar menurutkan naluri Pada geliat sekarat terlompat doa jangan juga hangus dalam api sisa mimpi dari sanggama (1975: 89)

Orang tidak dapat memahami sajak “Asmaradana” itu tanpa pengetahuan wayang atau cerita Ramayana. Cerita itu merupakan episode akhir dari cerita Rama. Sesudah Rama dapat mengalahkan Rahwana dan membunuhnya, Rahwana, Raja Alengka yang mencuri Sita, maka Rama dapat berjumpa kembali dengan Sita isterinya. Akan tetapi, Rama meragukan kesucian Sita, betapapun Sita menyatakan bahwa ia tidak pernah terjamah Rahwana. Untuk membuktikan kesuciannya itu Sita bersedia dibakar, bila terbakar berarti ia pernah dijamah (bersenggama dengan) Rahwana, jika tidak terbakar berarti ia masih tetap suci. Dalam cerita wayang, Sita memang tidak terbakar karena ditolong oleh dewa. Ia memang sungguh masih suci, ia selalu menolak jika dirayu oleh Rahwana. Akan tetapi, dalam sajak “Asmaradana” itu ceritanya dengan sengaja diubah oleh Subagio untuk mengemukakan pikirannya sendiri. Ini menunjukkan kreativitas Subagio sebagai seorang penyair. Untuk menunjukkan pemahaman sajak dengan memerhatikan latar sosial yang mendasarinya, berikut ini adalah sajak karya Darmanto Jt. (1980: 40).

Contoh Isi Puisi – Isteri ~ isteri mesti digemateni ia sumber berkah dan rejeki. (Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul) Isteri sangat penting untuk ngurus kita Menyapu pekarangan Memasak di dapur Mencuci di sumur mengirim rantang ke sawah dan ngeroki kita kalau kita masuk angin Ya. Isteri sangat penting untuk kita a sisihan kita, kalau kita pergi kondangan la tetimbangan kita, kalau kita mau jual palawija la teman. belakang kita, kalau kita lapar dan mau makan la sigaraning nyawa kita, kalau kita la sakti kita! Ah. Lihatlah. la menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa. la kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape la selalu rapi menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur: tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai lelaki. la selalu memelihara anakanak kita dengan bersungguh-sungguh seperti kita memelihara ayam, itik, kambing, atau jagung. Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya: Seperti lidah ia di mulut kita tak terasa Seperti jantung ia di dada kita tak teraba Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya. Jadi waspadalah! Tetap. madep, manteb Gemati, nastiti, ngati-ati Supaya kita mandiri – perkasa dan pinter ngatur hidup Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah Seperti Subadra bagi Arjuna makin jelita ia di antara maru-marunya: Seperti Arimbi bagi Bima jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka; Seperti Sawitri bagi Setyawan la memelihara nyawa kita dari malapetaka. Ah.Ah.Ah Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya. Hormatilah isterimu Seperti kau menghormati Dewi Sri Sumber hidupmu. * Makanlah Karena memang demikianlah suratannya! – Towikromo.

Penyair Darmanto Jt. hidup dalam lingkungan sosial-budaya Jawa, maka ia tidak terhindar dari latar kebudayaan Jawa yang berupa cerita-cerita Jawa dan wayang Jawa. Begitu juga ia tidak terhindar dari pandangan hidup masyarakat atau ia akrab dengan pandangan hidup orang Jawa. Semuanya itu tergambar dalam sajak-sajaknya, di antaranya sajak “Isteri” ini. Dalam sajak “Isteri” ini tergambar lingkungan sosial-budaya kehidupan Jawa. Hidup-mati petani itu ditentukan oleh sawah, kerbau, dan alat-alat pertanian, juga ditentukan berhasil atau tidaknya menanam padi. Menurut pandangan petani Jawa, tanaman padi akan subur dan berbuah lebat, serta panenan akan berhasil jika mendapat berkah dan restu Dewi Sri, dewi padi.

Contoh Isi Puisi  – Oleh karena itu, para petani Jawa sangat menghormati dan menjunjung tinggi Dewi Sri. Mereka membuat selamatan dan sesaji untuk mendapatkan berkahnya, yaitu pada waktu mulai menanam padi dan waktu panen. Bagi petani, kerbau dan alat-alat pertanian itu sangat penting bagi kelangsungan hidupnya, bahkan merupakan hidup matinya. Oleh karena itu, isteri yang sangat penting itu “hanya” disamakan dan disejajarkan dengan kerbau. Bagi petani, dipandang dari sudut pandang sosial-budaya pertanian, penyejajaran isteri dengan kerbau itu tidak bermaksud merendahkan kedudukan istri sebab kerbau itu sangat penting, merupakan hidup-matinya pula. Pada umumnya, dalam pandangan sosial-budaya masyarakat Jawa, lebih-lebih di dalam masyarakat petani di desa, kedudukan dan guna isteri itu seperti tergambar dalam bait pertama: menyapu pekarangan, memasak di dapur, mengirim rantang ke sawah, yaitu mengirim makanan dengan rantang pada waktu pak tani bekerja di sawah, dan ngeroki (menggosok-gosokkan uang logam berkali-kali diminyaki kelapa atau balsem sampai kulit punggung dan dada menjadi merah bergaris-garis secara teratur) kalau suami masuk angin. Hal ini sudah merupakan kebiasaan yang turun-temurun. Jadi, yang kelihatannya lucu atau aneh bagi masyarakat atau bangsa lain itu sesungguhnya tidak aneh dan wajar saja. Dengan memahami latar sosial-budaya demikian, orang dapat memahami kesungguhan sajak itu bahwa istri petani itu sangat penting dan cukup terhormat kedudukannya. Bukan hanya sebagai benda kekayaan, pelayan, ataupun budak suami.

Contoh Isi Puisi  – Dengan pengertian demikian, pembaca dapat memberikan penilaian yang tepat terhadap sajak “Isteri” itu. Dalam latar budaya petani Jawa, Dewi Sri itu sangat terhormat seperti telah diuraikan di awal. Jadi, istri petani itu sesungguhnya sangat terhormat karena disamakan penghormatannya terhadap Dewi Sri (bait terakhir): “Hormatilah isterimu seperti kau menghormati Dewi Sri sumber hidupmu”. Di samping itu, isteri juga disamakan dengan Subadra istri Arjuna. Dalam cerita wayang, Arjuna itu banyak istrinya, yang utama adalah Subadra. Subadra itu istri yang lembut hatinya, cantik, dan baik hati. Kepada maru-marunya ia bertindak adil, tidak membenci, penuh kasih sayang hingga marumarunya pun baik kepadanya. Begitu juga jika dibandingkan dengan Arimbi istri Bima, yang melahirkan Bambang Tetuka (Gatotkaca), ia memelihara anaknya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, isteri petani juga dibandingkan dengan Sawitri, seorang isteri yang karena cintanya kepada suami, ia memaksa Dewa Yama, dewa maut yang mencabut nyawa Setyawan suaminya. Setyawan sudah sampai takdirnya untuk mati, namun Sawitri tetap meminta kepada Dewa Yama untuk mengembalikan nyawanya. Akhirnya, Yama mengabulkannya, mengembalikan nyawa ke tubuh Setyawan dengan janji bahwa hidup Setyawan itu harus ditebus dengan setengah masa hidup Sawitri sendiri. Dengan demikian, Setyawan hidup kembali dan mereka hidup berbahagia kembali. Dari paparan tersebut, terlihat jelas bahwa latar sosial-budaya masyarakat memang berpengaruh terhadap kesusastraan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam sebuah karya sastra terdapat cerminan masyarakat yang mewakili zaman tertentu. Hal tersebut dimunculkan oleh pengarang sebagai bentuk reaksinya dalam menanggapi berbagai gejala sosial yang ada pada masanya. Selain itu, melalui karya sastra, pengarang pun mengutarakan kritiknya terhadap zaman.

Membahas Contoh Contoh Isi Puisi dan Pengertian

Membahas Contoh Contoh Isi Puisi dan Pengertian

Membahas Contoh Contoh Isi Puisi dan Pengertian

Contoh Contoh Isi Puisi – Sudah berapa banyak karangan yang Anda tulis selama ini? Bagaimana cara Anda menyampaikan informasi melalui tulisan? Dalam penciptaan karangan, hal yang cukup penting dalam mewujudkan karangan tersebut adalah inspirasi dan gagasan. Salah satu sumber inspirasi tersebut adalah kehidupan diri sendiri. Anda dapat menceritakan berbagai pengalaman hidup ke dalam bentuk karya tulis, misalnya cerpen atau puisi. Pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Dari pengalaman tersebut, tentunya ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik. Dalam pelajaran ini, Anda akan melakukan analisis isi terhadap puisi. Dari hasil analisis tersebut akan diperoleh sebuah pemaknaan dan penghayatan yang dapat menjadi sumber inspirasi baru. Di samping itu, Anda pun akan berlatih menuangkan gagasan Anda menjadi karangan berbentuk persuasif. Dalam paragraf tersebut, Anda dapat mengutarakan ajakan yang bersifat mempengaruhi orang lain disertai dengan alasan yang kuat. Setiap gagasan yang Anda miliki merupakan sumber inspirasi dalam langkah awal pembuatan karangan. Dengan demikian, kemampuan menulis Anda akan meningkat.

Contoh Contoh Isi Puisi
Contoh Contoh Isi Puisi

Membahas Isi Puisi

Contoh Contoh Isi Puisi- Anda pernah membaca atau mendengarkan puisi? Mudahkah Anda memahami puisi yang Anda baca atau dengar? Jika Anda mampu memahami isi puisi yang Anda dengar atau baca, Anda akan menemukan pengalaman batin. Oleh karena itu, kali ini Anda akan belajar memahami puisi orang lain dengan cara membahasnya. Anda akan menganalisis unsur-unsur yang terkandung dalam puisi. Salah satunya ialah mengenai citraan. Dengan demikian, Anda akan lebih memahami puisi.

Karya puisi mengalami perkembangan sesuai dengan pengaruh yang datang dari Barat. Karya puisi yang saat ini berkembang tidak terikat lagi oleh aturan-aturan penulisan seperti halnya pada penulisan puisi lama. Puncak perubahan secara mendasar dalam puisi terjadi pada Angkatan ’45, terutama dipelopori oleh Chairil Anwar. Ikatan puisi lama sudah ditinggalkan. Kalau puisi lama masih mementingkan bentuk fisik puisi, puisi modern lebih mementingkan makna atau bentuk batin puisi. Berikut contoh puisi karya Chairil Anwar.

Contoh Contoh Isi Puisi- Derai-Derai Cemara cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah 1949

1. Struktur Puisi Puisi terdiri atas dua macam struktur, yaitu: a. Struktur fisik, meliputi: diksi (diction), pencitraan, kata konkret (the concentrate word), majas (figurative language), dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma. b. Struktur batin, meliputi: perasaan (feeling), tema (sense), nada (tone), dan amanat (atention). Pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut bukan saja akan bermanfaat untuk mengapresiasi sebuah puisi, melainkan juga ketika kamu akan menulis puisi. Kesatuan dan kepaduan struktur tersebut dapat melahirkan karya puisi yang memiliki nilai seni dan nilai makna yang tinggi.

2. Citraan dalam Puisi Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Adapun gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai, yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indra penglihatan). Jika dilihat dari fungsinya, citraan atau pengimajian lebih cenderung berfungsi untuk mengingatkan kembali apa yang telah dirasakan. Dengan demikian, citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran. Kita akan kesulitan menggambarkan objek atau sesuatu yang disampaikan dalam puisi jika kita belum pernah sama sekali mengalami atau mengetahuinya. Oleh karena itu, kita akan mudah memahami puisi jika memiliki simpanan imaji-imaji yang diperoleh dari pengalamannya. Ada beberapa jenis citraan yang dapat ditimbulkan puisi, yakni sebagai berikut. a. Citraan Penglihatan Citraan penglihatan ditimbulkan oleh indra penglihatan (mata). Citraan ini merupakan jenis yang paling sering digunakan penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat. Contoh citraan penglihatan dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Contoh Contoh Isi Puisi – Perahu Kertas Waktu masih kanak-kanak Kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. … Karya Sapardi Djoko Damono Sumber: Perahu Kertas, 1991

b. Citraan Pendengaran Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga). Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, suara mengiang, berdentum-dentum, dan sayup-sayup. Contoh citraan pendengaran dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Penerbangan Terakhir Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras Kedua tangan yang alit itu seperti kejang-kejang Kakinya pun menerjang-nerjang Suaranya melengking lalu menghiba-hiba … Karya Taufiq Ismail Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 :Kitab Puisi 2002

c. Citraan Perabaan Citraan perabaan atau citraan tactual adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indra peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang menyebabkan kita merasakan rasa nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu udara. Berikut contoh citraan perabaan dalam puisi.

Blues untuk Bonie … sembari jari-jari galak di gitarnya mencakar dan mencakar menggaruki rasa gatal di sukmanya Karya W.S. Rendra Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 : Kitab Puisi 2002

d. Citraan Penciuman Citraan penciuman atau pembauan disebut juga citraan olfactory. Dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium bau sesuatu. Citraan atau pengimajian melalui indra penciuman ini akan memperkuat kesan dan makna sebuah puisi. Perhatikan kutipan puisi berikut yang menggunakan citraan penciuman.

Contoh Contoh Isi Puisi – Pemandangan Senjakala Senja yang basah meredakan hutan terbakar Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua Bau mesiu di udara, Bau mayat. Bau kotoran kuda. … Karya W.S. Rendra Sumber: Horison Sastra Indonesia 1: Kitab Puisi 2002

e. Citraan Pencicipan atau Pencecapan Citraan pencicipan disebut juga citraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam, manis, atau pedas. Berikut contoh larik-larik puisi yang menimbulkan citraan pencicipan atau pencecapan

Pembicaraan Hari mekar dan bercahaya: yang ada hanya sorga. Neraka adalah rasa pahit di mulut waktu bangun pagi Karya Subagio Sastrowardojo

f. Citraan Gerak Dalam larik-larik puisi, kamu pun dapat menemukan citraan gerak atau kinestetik. Yang dimaksud citraan gerak adalah gerak tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan tersebut. Munculnya citraan gerak membuat gambaran puisi menjadi lebih dinamis. Berikut contoh citraan gerak dalam puisi.

Mimpi Pulang … Di sini aku berdiri, berteman angin Daun-daun cokelat berguguran Meninggalkan ranting pohon oak yang meranggas Dingin mulai mengigit telingaku Kuperpanjang langkah kakiku Menyusuri trotoar yang seperti tak berujung Di antara beton-beton tua yang tidak ramah mengawasiku Gelap mulai merayap menyusul langkah kakiku Ah, Gott sei dank! di sana masih ada burung-burung putih itu Aku bagaikan pohon oak Ditemani angin musim gugur yang masih tersisa … Karya Nuning Damayanti Sumber: Bunga yang Terserak, 2003

3. Perasaan dalam Puisi Puisi menggungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan dapat kita tangkap kalau puisi itu dibaca keras dalam pembacaan puisi atau deklamasi. Membaca puisi atau mendengarkan pembacaan puisi dengan suara keras akan lebih membantu kita menemukan perasaan penyair yang melatarbelakangi terciptanya puisi tersebut. Perasaan yang menjiwai puisi bisa perasaan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong, tercekam, cemburu, kesepian, takut, dan menyesal. Perasaan sedih yang mendalam diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam “Senja di Pelabuhan Kecil”, J.E. Tatengkeng dalam “Anakku “, Agnes Sri Hartini dalam “Selamat Jalan Anakku”, dan Rendra dalam Orang-Orang Rangkas Bitung”.

Contoh Contoh Isi Puisi – Uji Materi

1. Mintalah puisi “Derai-Derai Cemara” dibaca oleh salah seorang teman atau guru Anda. 2. Anda dan teman-teman yang lain mendengarkan dengan baik. 3. Bahaslah isi puisi tersebut berdasarkan gambaran pengindraan, perasaan, pikiran, dan imajinasi puisi tadi. 4. Diskusikanlah hasilnya bersama teman-teman Anda. 5 Amatilah hasil pekerjaan teman Anda dengan melakukan penilaian berdasarkan tabel penilaian.

Contoh Contoh Isi Puisi Kegiatan Lanjutan

1. Buatlah beberapa kelompok. 2. Setiap kelompok menentukan puisi yang akan dibahas. 3. Bacakanlah puisi tersebut. 4. Kelompok yang lain harus mendengarkannya dan membahas isi puisi tersebut berdasarkan gambaran pengindraan, perasaan, pikiran, dan imajinasi dari puisi tersebut. 5. Amatilah hasil pembahasan kelompok lain tersebut dengan melakukan penilaian berdasarkan format penilaian pada latihan Uji Materi.