Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Langkah Menulis Puisi Lama Disertai Pengertian Puisi dan Contoh Puisi

Menulis Puisi Lama – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih meningkatkan kemampuan dalam menulis. Kali ini, Anda akan menulis puisi lama. Agar lebih memahami karakteristik puisi lama, Anda akan mempelajari terlebih dahulu contoh-contoh puisi lama. Anda pun akan mempelajari berbagai bentuk karya puisi lama. Diharapkan, kemampuan Anda akan semakin terasah.

Pernahkah Anda membaca puisi lama? Puisi yang lahir di tengah masyarakat mengalami perkembangan hingga zaman sekarang. Namun, kita juga harus memahami bahwa puisi yang ada sekarang tidak terlepas dari puisi masa lampau atau biasa kita sebut puisi lama. Salah satu puisi lama yang mungkin Anda kenal sekarang adalah pantun. Sekarang, dapatkah Anda membedakan antara pantun dengan puisi? Anda dapat memahaminya lewat bait, irama, dan rima. Bait dalam puisi merupakan syarat-syarat yang berlaku untuk jenis puisi tersebut. Jumlah bait menyangkut jumlah kata dan larik dalam puisi. Hal inilah yang menjadi ciri utama dari karya puisi lama. Selanjutnya, rima merupakan bunyi yang berselang atau berulang, baik di dalam larik puisi maupun pada akhir larik-larik puisi. Adapun irama menyangkut paduan bunyi yang menimbulkan unsur musikalitas. Irama mampu menumbuhkan kemerduan, kesan suasana, serta nuansa makna tertentu. Timbulnya irama itu selain akibat penataan rima, juga akibat pemberian intonasi maupun tempo sewaktu melaksanakan pembacaan puisi.

Langkah Tentang Menulis Puisi Lama
Langkah Tentang Menulis Puisi Lama

Menulis Puisi Lama – Dalam pelajaran ini, Anda akan berlatih memahami dan menulis puisi dengan mengetahui ciri-ciri puisi lama. Salah satu puisi lama adalah pantun. Pantun sudah ada sejak zaman dahulu kala. Pantun merupakan puisi lama yang biasanya dipakai masayarakat untuk menyampaikan sesuatu. Pantun memilki ciri-ciri tertentu yang terkait dengan kaidah bait, rima, dan irama. Agar lebih jelas, perhatikan ciri-ciri pantun berikut. 1. memiliki 4 baris, di mana dua baris berisi sampiran dan dua baris lagi merupakan isi; 2. antara baris ke-1, 2, 3, dan 4 berpola a,b,a,b; 3. setiap baris terdiri antara 8 sampai 9 suku kata; 4. setiap baris terdiri atas 4 kata. Agar lebih jelas, perhatikanlah bagian-bagian pantun berikut.

Kata 1 Kata 2 Kata 3 Kata 4

Baris ke-1 Kalaulah aku punya jimat (a) …Sampiran Baris ke-2 tentulah aku pandai berburu (b) …Sampiran Baris ke-3 Kamu pasti murid selamat (a) … Isi Baris ke-4 dengan patuhi perintah guru (b) … Isi

Adapun untuk menghitung jumlah kata, Anda dapat memenggal suku kata yang ada dalam pantun tersebut. Jumlah suku kata dalam pantun terdiri atas 8-10 suku kata. Untuk lebih jelasnya, perhatikanlah pemenggalan suku kata pada pantun berikut.

Ka-lau-lah/ a-ku/ pu-nya / ji-mat ….. 9 suku kata ten-tu-lah / a-ku / pan-dai/ ber-bu-ru …. 10 suku kata ka-mu- / pas-ti/ mu-rid/ se-la-mat ….. 9 suku kata de-ngan/ pa-tu-hi/ pe-rin-tah/ gu-ru … 10 suku kata

Dari isinya, pantun dibedakan dalam beberapa macam, yakni pantun anak-anak, pantun nasihat, dan pantun muda-mudi. Selain pantun, karya sastra puisi lama adalah talibun, seloka, gurindam, syair, dan karmina.

1. Talibun Talibun termasuk pantun juga, tetapi memiliki jumlah baris tiap bait lebih dari empat baris. Misalnya enam, delapan, sepuluh. Talibun juga mempunyai sampiran dan isi. Contoh:

Kalau pandai berkain panjang, ——- sampiran lebih baik kain sarung ———- sampiran jika pandai memakainya ———- sampiran Kalau pandai berinduk semang ———- isi lebih umpama bundang kandung, ———- isi jika pandai membawakannya ——- isi

2. Seloka Seloka disebut pula pantun berbingkai. Kalimat pada baris ke-2 dan ke-4 pada bait pertama diulang kembali pengucapannya pada kalimat ke-1 dan ke-3 pada bait kedua. Contoh:

Pasang berdua bunyikan tabuh ———- baris 1 Anak gadis berkain merah ————— baris 2 Supaya cedera jangan tumbuh ———- baris 3 Mulut manis kecindan murah ———- baris 4

3. Gurindam Gurindam terdiri atas dua baris dalam setiap bait. Kedua baris itu berupa isi, berumus a-a, dan merupakan nasihat atau sindiran. Pengarang gurindam yang terkenal, yaitu Raja Ali Haji yang mengarang Gurindam Dua Belas. Contoh:

Gurindam Pasal 9  Raja Ali Haji, sastrawan pengarang Gurindam Dua Belas Tahu pekerjaan tak baik tetapi dikerjakan Bukannya manusia itulah syaitan Kejahatan seorang perempuan tua Itulah iblis punya penggawa Kepada segala hamba-hamba raja Di situlah syaitan tempatnya manja

4. Syair Menurut para ahli, syair masuk ke Indonesia (Melayu) bersamaan dengan masuknya agama Islam. Bentuk syair paling tua dalam sejarah kesusastraan Indonesia adalah sebuah syair berbentuk doa yang tertera di sebuah nisan raja di Minye Tujoh, Aceh. Syair tersebut menggunakan bahasa campuran, yaitu bahasa Melayu Kuno, Sanskerta, dan Arab. Ciri-ciri syair adalah sebagai berikut: a. terdiri atas empat larik (baris) tiap bait; b. setiap bait memberi arti sebagai satu kesatuan; c. semua baris merupakan isi (dalam syair tidak ada sampiran); d. sajak akhir tiap baris selalu sama (aa-aa); e. jumlah suku kata tiap baris hampir sama (biasanya 8–12 suku kata); f. isi syair berupa nasihat, petuah, dongeng, atau cerita. Contoh: Diriku hina amatlah malang Padi ditanam tumbuhlah lalang Puyuh di sangkar jadi belalang Ayam ditambat disambar elang

5. Karmina Bentuk karmina seperti pantun, tetapi barisnya pendek, yaitu hanya terdiri atas dua baris. Dengan demikian, karmina sering disebut sebagai pantun kilat atau pantun singkat. Karmina biasanya digunakan untuk menyampaikan suatu sindirian ataupun ungkapan secara langsung.

Adapun ciri-ciri karmina adalah sebagai berikut: a. memiliki larik sampiran (satu larik pertama); b. memiliki jeda larik yang ditandai oleh koma (,); c. bersajak lurus (a-a); d. larik kedua merupakan isi (biasanya berupa sindiran). Contoh:

Dahulu parang, sekarang besi Dahulu sayang, sekarang benci Banyak udang, banyak garam Banyak orang, banyak ragam Sudah gaharu, cendana pula Sudah tahu, bertanya pula

Info Bahasa Menulis Puisi Lama

Dalam kesusastraan Indonesia, syair banyak digunakan sebagai penggubah cerita atau mengungkapkan suatu kisah. Selain untuk menggubah cerita, syair juga digunakan sebagai media untuk mencatat kejadian dan sebagai media dakwah. Contoh: 1. Syair yang berisi cerita: Syair Bidasari, Syair Ken Tambuhan, Syair Yatim Nestapa, Syair Panji Semirang, Syair Putri Hijau, Syair Anggun Cik Tunggal, Syair Raja Mambangjauhari, Syair Putri Naga, dan Syair Pangeran Hasyim. 2. Syair yang mengisahkan kejadian: Syair Perang Banjarmasin, Syair Singapura Dimakan Api, Syair Perang Menteng, dan Syair Spilman. 3. Syair yang berisi ajaran agama: Syair Ibadat, Syair Injil, Syair Kiamat, dan Syair Perahu. Syair tertulis yang tergolong tua adalah karya-karya Hamzah Fansuri, seorang penyair mistik dari Aceh pada abad ke-17. Karya-karyanya antara lain Syair Perahu, Syair Burung Pingai, Syair Dagang, dan Syair Sidang Fakir. Syair karya Hamzah Fansuri yang terkenal dalam kesusastraan Indonesia (Melayu) klasik adalah Syair Perahu yang merupakan puisi sufistik yang pertama dalam kesusastraan Indonesia. Karena isi Syair Perahu dianggap bertentangan dengan ajaran Islam, Raja Aceh memerintahkan para petugas istana agar membakar syair itu. Namun, beberapa di antaranya ada yang lolos dari pemusnahan. Syair yang lolos inilah yang bisa kita warisi sampai sekarang. Sumber: Mengenal Pantun dan Puisi Lama, 2007

Sastrawan dan Karyanya – Menulis Puisi Lama

Raja Ali Haji bin Raja Haji Ahmad (Pulau Penyengat, Kepulauan Riau, 1808–Riau, 1873) adalah ulama, sejarawan, pujangga, dan terutama pencatat pertama dasar-dasar tata bahasa Melayu lewat buku Pedoman Bahasa; buku yang menjadi standar bahasa Melayu. Bahasa Melayu standar itulah yang dalam Kongres Pemuda Indonesia 28 Oktober 1928 ditetapkan sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia. Ia merupakan keturunan kedua (cucu) dari Raja Haji Fisabilillah, Yang Dipertuan IV dari Kerajaan Lingga-Riau dan juga merupakan bangsawan Bugis. Karya monumentalnya, Gurindam Dua Belas (1847), menjadi pembaru arus sastra pada zamannya. Bukunya berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa, yaitu kamus logat Melayu-Johor-PahangRiau-Lingga penggal yang pertama merupakan kamus ekabahasa pertama di Nusantara. Ia juga menulis Syair Siti Shianah, Syair Suluh Pegawai, Syair Hukum Nikah, dan Syair Sultan Abdul Muluk. Raja Ali Haji juga patut diangkat jasanya dalam penulisan sejarah Melayu. Buku berjudul Tuhfat al-Nafis (Bingkisan Berharga” tentang sejarah Melayu), walaupun dari segi penulisan sejarah sangat lemah karena tidak mencantumkan sumber dan tahunnya, dapat dikatakan menggambarkan peristiwa-peristiwa secara lengkap. Meskipun sebagian pihak berpendapat Tuhfat dikarang terlebih dahulu oleh ayahnya yang juga sastrawan, Raja Ahmad. Raji Ali Haji hanya meneruskan apa yang telah dimulai ayahnya. Dalam bidang ketatanegaraan dan hukum, Raja Ali Haji pun menulis Mukaddimah fi Intizam (hukum dan politik). Ia juga aktif sebagai penasihat kerajaan. Ia ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia sebagai pahlawan nasional pada tahun 2006. Jika Anda ingin lebih mengetahui tentang profil Raja Ali Haji, Anda dapat mengakses situs www.id.wikipedia.org.

Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Menulis dan Mengenali Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru
Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru

Jenis-jenis Puisi Baru – Menulis memerlukan latihan yang terus-menerus. Sebagai sebuah keterampilan, menulis memang bisa dipelajari, tetapi selebihnya merupakan kreativitas seseorang. Oleh karena itu, daya kreatif sangat penting bagi seorang penulis. Menulis juga bukan sekadar menuangkan ide, melainkan harus benar-benar didukung oleh kemampuan menulis yang baik pula. Menjadi penulis yang baik inilah yang harus Anda cita-citakan. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah memanfaatkan semua jenis media untuk dijadikan latihan menulis. Apabila di sekolah Anda terdapat majalah dinding (mading), buletin sekolah, dan tabloid sekolah, Anda dapat gunakan semua itu sebagai media belajar menulis. Mulailah menulis dari media-media itu, sebelum Anda menulis di koran-koran umum.

Jenis-jenis Puisi Baru – Tulisan berkait dengan dua aspek penting. Pertama, berkait dengan masalah materi (isi). Kedua, berkait dengan masalah teknik kebahasaan. Menulis puisi merupakan proses kreatif yang harus dilatihkan oleh mereka yang ingin menjadi penyair. Proses kreatif harus ditumbuhkan dalam diri sendiri agar kita dapat berkarya secara baik. Dalam menulis puisi terdapat hal-hal yang harus diperhatikan, yakni pemilihan tema, diksi, rima, dan gaya bahasa. Pada pelajaran sebelumnya, Anda sudah belajar menulis puisi lama! Senang, bukan? Bagaimana kalau kita mencoba lagi? Akan tetapi, sekarang kita akan menulis puisi baru. Mari kita mulai belajar menulis puisi baru! Semoga menyenangkan! Puisi baru tidak sama dengan puisi lama. Isi, bentuk, irama, dan bentuk persajakanyang terdapat dalam puisi lama sudah berubah pada puisi baru. Terutama mengenai isi pada puisi baru, isinya pun dilukiskan dalam bahasa yang bebas dan lincah. Berdasarkan jumlah baris dalam kalimat pada setiap baitnya, puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk puisi, yaitu: a. Sajak dua seuntai atau distikon b. Sajak tiga seuntai atau terzina c. Sajak empat seuntai atau quatrain d. Sajak lima seuntai atau quint e. Sajak enam seuntai atau sektet f. Sajak tujuh seuntai atau septima g. Sajak delapan seuntai atau oktaf atau stanza Puisi baru selain dibagi berdasarkan jumlah baris yang terkandung dalam tiaptiap baitnya, juga dibagi berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya. Bentukbentuk puisi baru yang dibagi berdasarkan isi yang terkandung di dalamnya adalah sebagai berikut. 1. Ode, yaitu sajak yang berisikan tentang puji-pujian pada pahlwan, atau sesuatu yang dianggap mulia. 2. Himne, yaitu puisi atau sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa. Himne disebut juga sajak Ketuhanan. 3. Elegi, yaitu puisi atau sajak duka nestapa. 4. Epigram, yaitu puisi atau sajak yang mengandung bisikan hidup yang baik dan benar, mengandung ajaran nasihat dan pendidikan agama. 5. Satire, yaitu sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme) kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat. 6. Romance, yaitu sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian,dan sebagainya. 7. Balada, yaitu puisi atau sajak yang berbentuk cerita. Selain bentuk-bentuk puisi di atas, pada puisi baru juga terdapat satu bentuk puisi yang lain, yaitu soneta. Berikut ini akan dijelaskan secara singkat mengenai puisi baru.

Jenis-jenis Puisi Baru

h. Soneta Perkataan Soneta berasal dari kata Sonetto dalam bahasa Italia yang terbentuk dari kata latin Sono yang berarti ‘bunyi’ atau ‘suara’. Adapun syarat-syarat soneta (bentuknya yang asli) adalah sebagai berikut. • Jumlah baris ada 14 buah. • Keempat belas baris terdiri atas 2 buah quatrain dan 2 buah terzina. • Jadi pembagian bait itu: 2 × 4 dan 2 × 3. • Kedua buah kuatrain merupakan kesatuan yang disebut stanza atau oktaf. • Kedua buah terzina merupakan kesatuan, disebut sextet. • Octav berisi lukisan alam; jadi sifatnya objektif • Sextet berisi curahan, jawaban, atau kesimpulan sesuatu yang dilukiskan dalam oktaf; jadi sifatnya subjektif. • Peralihan dari oktaf ke sektet disebut volta. • Jumlah suku kata dalam tiap-tiap baris biasanya antara 9 dan 14 suku kata. • Rumus dan sajaknya a-b-b-a, a-b-b-a, c-d-c, d-c-d. Lama kelamaan para pujangga tidak mengikuti syarat-syarat di atas. Pembagian atas bait-bait, rumus sajak serta hubungan isinya pun mengalami perubahan. Yang tetap dipatuhinya hanyalah jumlah baris yang 14 buah itu saja. Bahkan acapkali jumlah yang 14 baris dirasa tak cukup oleh pengarang untuk mencurahkan angan-angannya. Itulah sebabnya lalu ditambah beberapa baris menurut kehendak pengarang. Tambahan itu disebut Cauda yang berarti ekor. Karena itu, kini kita jumpai beberapa kemungkinan bagan. Soneta Shakespeare, misalnya mempunyai bagan sendiri mengenai soneta-soneta gubahannya, yakni: Pembagian baitnya : 3 × 4 dan 1 × 2. Sajaknya : a-b-a-b, c-d-c-d, e-f-e-f, g-g. Demikian pula pujangga lain, termasuk pujangga soneta Indonesia mempunyai cara pembagian bait serta rumus-rumus sajaknya sendiri.

1. Puisi baru dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu (1) sajak dua seuntai atau distikon, (2) sajak tiga seuntai atau terzina, (3) sajak empat seuntai atau quatrain, (4) sajak lima seuntai atau quint, (5) sajak enam seuntai atau sektet, (6) sajak tujuh seuntai atau septima, (7) sajak delapan seuntai atau oktaf atau stanza. 2. Bentuk-bentuk puisi baru yang dibagi berdasarkan isi, misalnya ode, himne, elegi, epigram, satire, romance, dan balada. 3. Cerita pendek (cerpen) adalah tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu peristiwa atau kejadian.

Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Peristiwa”. Di antaranya Anda mengaitkan nilai-nilai yang ada dalam cerpen dengan kehidupan sehari-hari. Dalam cerpen “Menunggu Saat Bintang Jatuh” Anda menemukan nilai tentang hubungan anak dan ayah angkatnya yang kurang harmonis. Sang ayah tidak menyetujui hubungan anak angkatnya dengan seorang pria yang dia anggap telah menyebabkan anak dan istrinya meninggal. Padahal sebenarnya anak dan istrinya tersebut meninggal karena penyakit deman berdarah. Peristiwa dan nilai-nilai dalam cerpen tersebut pernah Anda temukan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana sikap Anda jika permasalahan yang terjadi pada Anda? Jawaban dapat menjadi bahan refleksi Anda.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Pakaian pengantin perempuan itu sangat bagus. warnanya terang dan gemerlapan dihiasi dengan jalur-jalur keemasan. Begitu juga hiasan di kepala berkilauan ditimpa cahaya lampu. Semua itu dipandang oleh Diah dengan penuh perhatian. Sebenarnya banyak yang akan ditanyakan kepada Ibu, tetapi belum ada kesempatan sebab ibu masih asyik bercakap-cakap. Sudut pandang yang digunakan pengarang dalam kutipan cerpen di atas adalah … . a. orang pertama pelaku utama b. orang pertama pelaku sampingan c. orang pertama pelaku utama d. orang ketiga di luar cerita e. orang kedua pelaku utama 2. Pasar burung itu kecil saja. Dan semakin terasa sesak karena dipenuhi oleh burung-burung yang kian hari kian berbiak. Selain dihuni oleh para burung, pasar itu dipimpin oleh Mister Omzet dan dijaga oleh Parnoranger. Pak boss punya cita-cita, walaupun pasar itu cuma sebuah pasar burung kecil tetapi bisa berkembang menjadi pasar burung besar dan modern. Mungkin kelak akan menjadi departement store burung. “Untuk itu harus dikelola secara baik dan profesional,” begitu kata Pak Boss. Cerpen “Pasar Burung” karya La Fang

Jenis-jenis Puisi Baru Nilai yang terkandung pada penggalan cerpen di atas adalah … a. Setiap orang mempunyai angan-angan di masa depan. b. Kita tidak boleh mempunyai mimpi yang terlalu tinggi. c. Mimpi seorang bos mungkin bisa terwujud. d. Setiap orang boleh mempunyai mimpi tetapi harus melihat kemampuan. e. Kita tidak boleh berangan-angan yang tidak mungkin bisa diwujudkan. 3. Satire adalah … . a. sajak yang berisikan tentang puji-pujian pada pahlwan, atau sesuatu yang dianggap mulia b. puisi atau sajak pujian kepada Tuhan yang Mahakuasa c. sajak atau puisi yang mengecam, mengejek, menyindir dengan kasar (sarkasme) kepincangan sosial atau ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat d. sajak atau puisi yang berisikan cerita tentang cinta kasih, baik cinta kasih kepada lawan jenis, bangsa dan negara, kedamaian,dan sebagainya e. puisi atau sajak duka nestapa 4. Sajak quartrain adalah … . a. a-a b. a-b-a-b c. a-b-b d. a-a-a-a e. a-b-b-a 5. Sajak tiga seuntai disebut juga … . a. terzina b. quartrain c. distikon d. quint e. sektet

Jenis-jenis Puisi Baru B. Kerjakanlah dengan tepat! 1. Bacalah satu buah cerpen dalam surat kabar mingguan, kemudian analisislah unsur-unsur intrinsik cerpen tersebut! 2. Analisislah nilai-nilai yang terkandung dalam cerpen yang telah dibaca pada soal 1! 3. Tulislah keterkaitan cerita pendek “Labirin Cahaya” dengan kehidupan sehari-hari! 4. Tulislah sebuah puisi tiga seuntai (terzina)! 5. Tulislah sebuah puisi enam seuntai (sektet)!

Materi Tentang Mendeklamasikan Puisi

Materi Tentang Mendeklamasikan Puisi

Materi Tentang Mendeklamasikan Puisi

Mendeklamasikan Puisi
Mendeklamasikan Puisi

Mendeklamasikan Puisi Amanat puisi adalah gagasan yang mendasari karya sastra, berupa pesan yang ingin disampaikan pengarang/penyair kepada pembaca atau pendengar. Jadi, mendengar puisi berarti berkomunikasi dengan penulis dan/atau penyair melalui puisi tersebut. Pendengar puisi yang baik akan berusaha menghayati, atau bahkan larut dalam tema/amanat puisi yang didengarnya. Sebagai langkah awal, cobalah Anda dengarkan puisi karya Taufik Ismail yang dibacakan oleh teman Anda di depan kelas. Anda sebaiknya mendengar/menyimak pesan puisi yang dibacakan teman Anda itu. Pada saat mendengarkan, cobalah rasakan, apakah Anda dapat berkomunikasi dengan penulis dan/atau puisi tersebut. Jika ya, Anda pasti dapat mengungkapkan amanat puisi itu. Membaca puisi bukan semata-mata menyuarakannya dengan intonasi yang diinginkan, melainkan juga harus sesuai dengan isi puisi. Itu berarti bahwa seorang pembaca puisi harus memahami atau menguasai isi dan pesan puisi yang akan dibacakannya untuk orang lain. Dengan kata lain, pembaca puisi harus memahami benar makna yang tersirat serta pemenggalan yang mendukung makna puisi secara utuh. Lebih jauh lagi, pembaca puisi dituntut kemampuannya untuk membawa atau menggiring pendengar menjadi larut dalam puisi yang dibacakannya Marilah bersama-sama mendengarkan puisi yang dibacakan oleh teman Anda di depan kelas!

Mendeklamasikan Puisi

A. 1. Pilihlah salah seorang teman Anda untuk membaca puisi berjudul “Karangan Bunga” di depan kelas! 2. Dengarkanlah pembacaan puisi yang berjudul “Karangan Bunga” itu dengan memerhatikan lafal, tekanan, dan intonasi yang sesuai dengan isi puisi! 3. Cobalah merenung selama tiga menit dan bayangkan suasana tempat yang mendukung puisi tersebut! Bagaimana kesan Anda? Ceritakanlah di depan kelas! Latihan 3 4. Diskusikan dengan teman Anda mengenai hal-hal berikut: a. Apa tema puisi “Karangan Bunga”? b. Apa makna yang terkandung dalam puisi “Karangan Bunga”? c. Pesan apa yang terkandung dalam puisi “Karangan Bunga”? 5. Bahaslah hasil diskusi Anda di depan kelas! B. Tulislah sebuah puisi bebas yang bertemakan “Perjuangan”, kemudian bacalah puisi yang telah Anda buat tersebut di depan kelas dengan penuh ekspresi!

Mendeklamasikan Puisi

Tema, Pesan, dan Makna Puisi Hal yang harus diperhatikan dalam menentukan tema puisi adalah gagasan pokok yang dikemukakan oleh penyair. Pokok pikiran/persoalan itu begitu kuat mendesak dalam jiwa penyair sehingga menjadi landasan utama pengucapannya. Jika desakan yang kuat itu berupa rasa belas kasihan, temanya adalah kemanusiaan. Jika dorongan yang kuat itu untuk memprotes ketidakadilan, tema puisinya adalah protes atau kritik sosial. Makna puisi adalah maksud yang terkandung dalam puisi. Misalnya, sanjungan kepada para pahlawan, turut bela sungkawa, atau kesedihan atas ketidakadilan. Pesan puisi adalah hal-hal yang ingin disampaikan penyair kepada pembaca. Misalnya, kita harus menyayangi sesama manusia, menghargai, memikirkan nasib fakir miskin. Biasanya, ada beberapa pesan yang terkandung dalam sebuah puisi.

Menulis Paragraf Ekspositoris

Mendeklamasikan Puisi – Pada bab terdahulu, Anda telah belajar paragraf naratif. Nah, sekarang kita akan belajar menulis paragraf ekspositoris. Tentu saja, agar Anda lebih kreatif, tidak hanya mampu menulis satu macam teks. Anda tentu ingin menjadi orang yang kreatif menulis. Karena itu, lengkapilah wawasan Anda dengan uraian berikut ini! Paragraf ekspositoris adalah paragraf yang memaparkan atau menerangkan suatu hal atau objek. Dari paragraf jenis ini, diharapkan para pembaca dapat memahami hal atau suatu objek dengan sejelas-jelasnya. Untuk memaparkan masalah yang akan dikemukakan, paragraf eksposisi menggunakan contoh, grafik, serta berbagai bentuk fakta dan data lainnya. Sedikitnya terdapat tiga pola pengembangan paragraf ekspositoris, yakni dengan cara proses, sebab dan akibat, serta pola ilustrasi. 1. Pola Sebab Akibat Pengembangan paragraf dapat pula dinyatakan dengan menggunakan sebabakibat. Dalam hal ini, sebab bisa bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai perincian pengembangannya. Namun, dapat juga terbalik: akibat dijadikan gagasan utama, sedangkan untuk memahami sepenuhnya akibat itu perlu dikemukakan sejumlah sebab sebagai perinciannya. Persoalan sebab-akibat sebenarnya sangat dekat hubungannya dengan proses. Bila disusun untuk mencari hubungan antarbagiannya, maka proses itu dapat disebut proses kausal 2. Pola Ilustrasi Sebuah gagasan yang terlalu umum memerlukan ilustrasi-ilustrasi konkret. Dalam karangan eksposisi, ilustrasi-ilustrasi tersebut dipakai sekadar untuk menjelaskan maksud penulis. Dalam hal ini, pengalaman pribadi merupakan bahan ilustrasi yang paling efektif dalam menjelaskan gagasan umum tersebut.

Mendeklamasikan Puisi

1. Cari dan bacalah beberapa teks eksposisi dalam majalah/surat kabar! 2. Klipingkanlah teks tersebut setelah menentukan tema setiap teksnya! 3. Pilihlah bacaan dengan topik pertanian untuk Anda kembangkan menjadi paragraf eksposisi! 4. Kembangkanlah topik yang Anda pilih itu menjadi gagasan utama dan gagasan penjelas dalam bentuk kerangka karangan! Latihan 5 5. Tentukan jenis pengembangannya (proses, sebab-akibat, atau ilustrasi)! 6. Kembangkanlah kerangka karangan yang sudah Anda susun itu menjadi paragraf eksposisi! 7. Setelah karangan selesai, lakukanlah silang baca dengan teman-teman Anda! Analisislah karangan teman Anda dari segi kesesuaian isi dan penulisan kalimat, pemakaian kata, dan ejaan!

Rangkuman

1. Cari dan bacalah beberapa teks eksposisi dalam majalah/surat kabar! 2. Klipingkanlah teks tersebut setelah menentukan tema setiap teksnya! 3. Pilihlah bacaan dengan topik pertanian untuk Anda kembangkan menjadi paragraf eksposisi! 4. Kembangkanlah topik yang Anda pilih itu menjadi gagasan utama dan gagasan penjelas dalam bentuk kerangka karangan! Latihan 5 5. Tentukan jenis pengembangannya (proses, sebab-akibat, atau ilustrasi)! 6. Kembangkanlah kerangka karangan yang sudah Anda susun itu menjadi paragraf eksposisi! 7. Setelah karangan selesai, lakukanlah silang baca dengan teman-teman Anda! Analisislah karangan teman Anda dari segi kesesuaian isi dan penulisan kalimat, pemakaian kata, dan ejaan!

Refleksi

Mendeklamasikan Puisi – Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Kepahlawanan”. Di antaranya Anda mempelajari cara menemukan nilai-nilai kehidupan yang terkandung dalam puisi. Dalam puisi “Perang” Anda dapat menemukan nilai patriotisme dalam sebuah perang. Nilai patriotisme ini dapat Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari masa kini dengan saling menghargai perbedaan yang ada di sekitar Anda. Nilai patriotisme tidak selalu tercipta dalam sebuah perang, nilai patriotisme juga dapat Anda terapkan dengan belajar dengan rajin.

A. Pilihlah jawaban yang paling tepat! 1. Menjelang pagi, di alun-alun desa sudah banyak orang berbaris menjadi kumpulan orang yang kesepian, diam dan hening. Hampir semuanya hanya memakai baju tidur, tanpa mantel dan menggigil kedinginan. Muka mereka pucat seperti hendak mati. Setting penggalan cerpen di atas adalah … . a. pagi b. siang c. alun-alun desa d. alun-alun kota e. desa 2. Mak Kimin menggerutu mendengar laporan kemenakannya. Uraturat lehernya menegang. Bola matanya mencorong tajam. Wajahnya memerah menahan kemarahan. Bujang Sami—salah seorang kemenakan jauh?otomatis ikut tegang. “Kurang ajar! Dikiranya kita tidak tahu batas ulayat?” Hidung Mak Kimin mendengus-dengus bagai kerbau akan berlaga. Karakter tokoh Mak Kimin dalam penggalan cerpen di atas adalah … . a. pemalu b. pemarah c. pendiam d. tidak sabar e. penyabar 3. Hari ini hari ulang tahunku tanpa pesta tanpa restu seorang ibu. Tetapi aku sudah pula biasa. Kali ini tidak pula aku mengira. Tetapi, besok bukan hari ulang tahunku. (Titis Basina: Aku Melihat Semuanya) Nilai yang terkandung dalam petikan cerpen di atas adalah … . a. moralitas b. etika c. agamis d. budaya e. mentalitas 4. Sersan Kasim memegang tali yang merentang dari tepi ke tepi. Air membasahi kakinya, membasahi celananya, membasahi sebagian bajunya, menjilat-jilat gendongan anaknya. Ia mulai repot meninggikan anak maupun senjatanya bersama-sama. Pada suatu waktu ia terperosok ke dalam sebuah lubang pada alas sungai dan ia terhunyung-hunyung dilanda arus yang deras dan dingin. Air mencapai dadanya, merendam anaknya. Dan tibatiba Acep menangis. (Sungai, Nugroho Notosusanto) Konflik yang paling tepat pada penggalan cerpen di atas adalah … . a. Sersan Kasim memegang tali b. Air membasahi Sersan Kasim c. Acep menangis d. Sersan Kasim terperosok e. Acep terdiam 5. Awalnya Budiman bekerja setengah hati. Tetapi, setelah ia merasakan bagaimana perlakuan Direkturnya kepadanya, Ia mulai berubah sikap. Ia ingin melaksanakan pekerjaannya sepenuh hati. Ia mulai malu oleh sikap Direkturnya yang kian hari kian memerhatikannya. Memang awalnya juga, Direktur tak memerhatikan keberadaan Budiman. Budiman diperlakukan sebagaimana karyawan lainnya. Tetapi, setelah ada kejadian yang menimpa Direkturnya, yang menyebabkan ia harus dirawat beberapa hari di rumah sakit, direkturnya baru menyadari keberadaan Budiman. Tanpa pertolongan Budiman niscaya nyawa direkturnya itu sudah melayang. Inilah sebenarnya yang menyebabkan Budiman mendapat perlakuan khusus. Amanat yang dapat dipetik dari penggalan cerpen di atas adalah … a. Tak kenal maka tak sayang. b. Bekerja harus bersungguh-sungguh. c. Kecelakaan dapat terjadi kapan saja. d. Pertolongan yang ikhlas akan berbuah pahala e. Bergaullah bersama orang lain.