Strategi Dakwah Rasululah saw. di Mekah

Strategi Dakwah Rasululah saw. di Mekah

Dalam mendakwahkan ajaran-ajaran Islam yang sangat fundamental dan
universal, Rasulullah saw. tidak serta-merta melakukannya dengan tergesa-gesa.
Ia mengerti benar bagaimana kondisi masyarakat Arab saat itu yang bergelimang
dengan kemaksiatan dan praktik-praktik kemunkaran. Mengubah pola pikir dan
kebiasaan-kebiasaan atau adat-istiadat bangsa Arab khususnya kaum Quraisy
bukanlah perkara mudah. Kebiasaan yang telah dilakukan secara turun-temurun
sejak ratusan tahun silam, ditambah lagi dengan pengaruh agama Nasrani dan
Yahudi yang sudah dikenal lama bahkan sudah banyak penganutnya.
Ada dua tahapan yang dilakukan Rasulullah saw. dalam menjalankan misi
dakwah tersebut, yaitu dakwah secara sembunyi-sembunyi yang hanya terbatas
di kalangan keluarga dan sahabat terdekat dan dakwah secara terang-terangan
kepada khalayak ramai.

Strategi-Dakwah-Rasulullah-Saw_04

1. Dakwah secara Rahasia/Diam-diam (al-Da’wah bi al-Sirr)
Agar tidak menimbulkan keresahan dan kekacauan di kalangan
masyarakat Quraisy, Rasulullah saw. memulai dakwahnya secara sembunyisembunyi
(al-Da’wah bi al-Sirr). Hal tersebut dilakukan mengingat kerasnya
watak suku Quraisy dan keteguhan mereka berpegang pada keyakinan
dan penyembahan berhala. Pada tahap ini, Rasulullah saw. memfokuskan
dakwah Islam hanya kepada orang-orang terdekat, yaitu keluarga dan para
sahabatnya. Rumah Rasulullah saw (D?rul Arqam) dijadikan sebagai pusat
kegiatan dakwah. Di tempat itulah, ia menyampaikan risalah-risalah tau¥i«
dan ajaran Islam lainnya yang diwahyukan Allah Swt. kepadanya. Rasulullah
saw. secara langsung menyampaikan dan memberikan penjelasan tentang
ajaran Islam dan mengajak pengikutnya untuk meninggalkan agama nenek
moyang mereka, yaitu dari menyembah berhala menuju penyembahan
kepada Allah Swt. Karena sifat dan pribadinya yang sangat terpercaya dan
terjaga dari hal-hal tercela, tanpa ragu para pengikutnya, baik dari kalangan
keluarga maupun para sahabat menyatakan ketau¥i«an dan keislaman
mereka di hadapan Rasulullah saw.
Orang-orang pertama (as-s?biqunal awwal?n) yang mengakui kerasulan
Nabi Muhammad saw. dan menyatakan keislamannya adalah: Siti Khadijah
(istri), Ali bin Abi °halib (adik sepupu), Zaid bin ¦ari¡ah (pembantu yang
diangkat menjadi anak), dan Abu Bakar Siddik (sahabat). Selanjutnya
secara perlahan tapi pasti, pengikut Rasulullah saw. makin bertambah. Di
antara mereka adalah U¡man bin Affan, Zubair bin Awwam, Said bin Abi
Waqas, Abdurrahman bin ‘Auf, °aha bin Ubaidillah, Abu Ubaidillah bin
Jarrah, Fatimah bin Khattab dan suaminya Said bin Zaid al-Adawi, Arqam
bin Abil Arqam, dan beberapa orang lainnya yang berasal dari suku Qurasy.
Bagaimana ajaran Islam bisa diterima dan dianut oleh mereka
yang sebelumnya terbiasa dengan adat-istiadat masyarakat Arab yang
begitu mengakar kuat? Bagaimana mereka meyakini agama baru yang
dibawa oleh Rasulullah saw. sebagai agama paling benar dan sempurna
kemudian menjadi pemeluknya? Bagaimana pula reaksi orang-orang yang
mengetahui bahwa mereka telah meninggalkan agama nenek moyang, yaitu menyembah berhala?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut di antaranya adalah
seperti berikut.
a. Pribadi Rasulullah saw. yang begitu luhur dan agung. Tidak pernah ia
melakukan hal-hal yang tercela dan hina. Ia adalah pribadi yang sangat
jujur dan amanah (al-Amin), sabar, bijaksana, dan lemah-lembut dalam
menyampaikan ajakan serta ajaran Islam.
b. Ajaran Islam yang rasional, logis, dan universal, menghargai hak-hak
asasi manusia, memberikan hak yang sama, keadilan, dan kepastian
hidup setelah mati.

c. Menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya, yaitu ajaran-ajaran yang
dibawa oleh para rasul terdahulu berupa penyembahan terhadap Allah
Swt., berbuat baik terhadap sesama, menjaga kerukunan, larangan
perbuatan tercela seperti membunuh, berzina dan lain sebagainya.
d. Kesadaran akan tradisi dan kebiasaan-kebiasaan lama yang begitu jauh
dari nilai-nilai ketuhanan dan nilai-nilai kemanusiaan.
Berdakwah secara diam-diam atau rahasia (al-Da’wah bi al-Sirr) ini
dilaksanakan Rasulullah saw. selama lebih kurang tiga tahun. Setelah
memperoleh pengikut dan dukungan dari keluarga dan para sahabat,
selanjutnya Rasulullah saw. mengatur strategi dan rencana agar ajaran
Islam dapat diajarkan dan disebarluaskan secara terbuka.
2. Dakwah secara Terang-terangan (al-Da’wah bi al-Jahr)
Dakwah secara terang-terangan (al-Da’wah bi al-Jahr) dimulai ketika
Rasulullah saw. menyeru kepada orang-orang Mekah. Ia berdiri di atas
sebuah bukit dan berteriak dengan suara lantang memanggil mereka.
Beberapa keluarga Quraisy menyambut seruannya. Kemudian, ia berpaling
kepada sekumpulan orang sambil berkata, “Wahai orang-orang! Akankah
kalian percaya jika saya katakan bahwa musuh Anda sekalian telah bersiaga
di sebelah bukit (?afa) ini dan berniat menyerang nyawa dan harta kalian?”
Mereka menjawab, “Kami tak mendengar Anda berbohong sepanjang
hayat kami.” Ia lalu berkata, “Wahai bangsa Qurasy! Selamatkanlah dirimu
dari neraka. Saya tak dapat menolong Anda di hadapan Allah Swt. Saya
peringatkan Anda sekalian akan siksaan yang pedih!” Ia menambahkan,
“Kedudukan saya seperti penjaga, yang mengamati musuh dari jauh dan
segera berlari kepada kaumnya untuk menyelamatkan dan memperingatkan
mereka tentang bahaya yang akan datang.”
Seriring dengan itu, turun pula wahyu Allah Swt. agar Rasulullah saw.
melakukannya secara terang-terangan dan terbuka. Mengenai hal tersebut,
Allah Swt. berfirman, yang artinya: “Maka sampaikanlah (Muhammad)
secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan
berpalinglah dari orang yang musyrik.” (Q.S. al-¦ijr/15:94). Baca pula firman Allah dalam Q.S. asy-Syua’ara/26:214-216.
Berdasarkan ayat-ayat di atas, Rasulullah saw. yakin bahwa sudah
saatnya ia dan para pengikutnya untuk menyebarluaskan ajaran Islam secara
terbuka dan terang-terangan. Dengan dukungan istrinya Siti Khadijah,
paman yang setia membelanya, yaitu Abu °alib, serta para sahabat dan
pengikutnya yang setia ditambah pula dengan keyakinan bahwa Allah
Swt. senantiasa menyertai, dimulailah dakwah suci ini. Pertama-tama
dakwah dilakukan kepada sanak keluarga, kemudian kepada kaumnya, dan
penduduk Kota Mekah yang saat itu penyembahan berhala begitu kuat.