Kelainan atau Penyakit pada Sistem Ekskresi

Kelainan atau Penyakit pada Sistem Ekskresi

Kelainan atau Penyakit pada Sistem Ekskresi

Sistem Ekskresi
Sistem Ekskresi

Sistem Ekskresi – Kelainan atau penyakit yang terjadi pada sistem ekskresi bermacam-macam, antara lain adalah sebagai berikut.

Sistem Ekskresi

1. Albuminuria Albuminuria adalah kelainan pada ginjal karena terdapat albumin dan protein di dalam urine. Hal ini merupakan suatu gejala kerusakan alat filtrasi pada ginjal. Penyakit ini menyebabkan terlalu banyak albumin yang lolos dari saringan ginjal dan terbuang bersama urine. Albumin merupakan protein yang bermanfaat bagi manusia karena berfungsi untuk mencegah agar cairan tidak terlalu banyak keluar dari darah. Penyebab albuminuria di antaranya adalah kekurangan protein, penyakit ginjal, dan penyakit hati.

Sistem Ekskresi

2. Diabetes Melitus Diabetes melitus adalah kelainan pada ginjal karena adanya gula (glukosa) dalam urine yang disebabkan oleh kekurangan hormon insulin. Hal ini disebabkan karena proses perombakan glukosa menjadi glikogen terganggu sehingga glukosa darah meningkat. Ginjal tidak mampu menyerap seluruh glukosa tersebut. Akibatnya, glukosa diekskresikan bersama urine.

Sistem Ekskresi

Diabetes melitus harus dikelola dan dikendalikan dengan baik agar penderitanya dapat merasa nyaman dan sehat, serta dapat mencegah terjadinya komplikasi. Upaya untuk mengendalikan diabetes melitus di antaranya adalah: a) Periksakan ke dokter sesuai jadwal/secara rutin. b) Minum obat sesuai petunjuk dokter. c) Mengatur diet d) Olahraga secara teratur. e) Melakukan pemeriksaan laboratorium secara berkala.

Sistem Ekskresi

3. Diabetes Insipidus Diabetes insipidus adalah suatu kelainan pada sistem ekskresi karena kekurangan hormon antidiuretik. Kelainan ini dapat menyebabkan rasa haus yang berlebihan serta pengeluaran urine menjadi banyak dan sangat encer. Diabetes insipidus terjadi akibat penurunan pembentukan hormon antidiuretik, yaitu hormon yang secara alami mencegah pembentukan air kemih yang terlalu banyak. Diabetes insipidus juga bisa terjadi jika kadar hormon antidiuretik normal, tetapi ginjal tidak memberikan respon yang normal terhadap hormon ini (keadaan ini disebut diabetes insipidus nefrogenik).

Sistem Ekskresi

Penyebab lain terjadinya diabetes insipidus adalah: a) Kerusakan hipotalamus atau kelenjar hipofisa akibat pembedahan. b) Cedera otak (terutama patah tulang di dasar tengkorak). c) Tumor. d) Sarkoidosis atau tuberkulosis. e) Aneurisma atau penyumbatan arteri yang menuju ke otak. f) Beberapa bentuk ensefalitis atau meningitis. g) Histiositosis X (penyakit Hand-Schüller-Christian). Diabetes insipidus dapat diobati dengan mengatasi penyebabnya. Vasopresin atau desmopresin asetat (dimodifikasi dari hormon antidiuretik) dapat diberikan sebagai obat semprot hidung beberapa kali sehari untuk mempertahankan pengeluaran air kemih yang normal.

Tetapi harus hati-hati, karena jika terlalu banyak mengkonsumsi obat ini dapat menyebabkan penimbunan cairan, pembengkakan, dan gangguan lainnya. Suntikan hormon antidiuretik diberikan kepada penderita yang akan menjalani pembedahan atau penderita yang tidak sadarkan diri. Diabetes insipidus juga dapat dikendalikan oleh obatobatan yang merangsang pembentukan hormon antidiuretik, seperti klorpropamid, karbamazepin, klofibrat, dan berbagai diuretik (tiazid). Tetapi, obat-obat ini tidak mungkin meringankan gejala secara total pada diabetes insipidus yang berat

4. Nefritis Nefritis adalah penyakit pada ginjal karena kerusakan pada glomerulus yang disebabkan oleh infeksi kuman. Penyakit ini dapat menyebabkan uremia (urea dan asam urin masuk kembali ke darah) sehingga kemampuan penyerapan air terganggu. Akibatnya terjadi penimbunan air pada kaki atau sering disebut oedema (kaki penderita membengkak). Gejala ini lebih sering nampak terjadi pada masa kanakkanak dan dewasa dibandingkan pada orang-orang setengah baya. Penderita biasanya mengeluh tentang rasa dingin, demam, sakit kepala, sakit punggung, dan udema (bengkak) pada bagian muka biasanya sekitar mata (kelopak), mual, dan muntah-muntah. Sulit buang air kecil dan air seni menjadi keruh.

5. Batu Ginjal Batu ginjal adalah penyakit yang terjadi karena adanya batu di dalam ginjal. Batu tersebut merupakan senyawa kalsium dan penumpukan asam urat. Terbentuknya batu bisa terjadi karena urine jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu atau karena urine kekurangan penghambat pembentukan batu yang normal. Sekitar 80% batu ginjal tersusun oleh kalsium. Ukuran batu bervariasi, mulai dari yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang sampai yang sebesar 2,5 cm atau lebih. Batu ini dapat mengisi hampir keseluruhan pelvis renalis dan kalises renalis.

Batu kecil yang tidak menyebabkan gejala penyumbatan atau infeksi, biasanya tidak perlu diobati. Minum banyak cairan akan meningkatkan pembentukan air kemih dan membantu membuang beberapa batu. Jika batu telah terbuang, tidak perlu lagi dilakukan pengobatan segera. Batu di dalam pelvis renalis atau bagian ureter paling atas yang berukuran 1 cm atau kurang seringkali dipecahkan oleh gelombang ultrasonik (extracorporeal shock wave lithotripsy, ESWL). Pecahan batu selanjutnya akan dibuang dalam air kemih. Kadang sebuah batu diangkat melalui suatu sayatan kecil di kulit yang diikuti dengan pengobatan ultrasonik. Batu kecil di dalam ureter bagian bawah dapat diangkat dengan endoskopi yang dimasukkan melalui uretra dan masuk ke dalam kandung kemih.

Batu asam urat, kadang akan larut secara bertahap pada suasana air kemih yang basa (misalnya dengan memberikan kalium sitrat). Tetapi, batu lainnya tidak dapat diatasi dengan cara ini. Batu asam urat yang lebih besar dapat menyebabkan penyumbatan sehingga perlu diangkat melalui pembedahan.

6. Poliuria dan Oligouria Poliuria adalah gangguan pada ginjal, dimana urine dikeluarkan sangat banyak dan encer. Sedangkan, oligouria adalah urine yang dihasilkan sangat sedikit.

7. Anuria Anuria adalah kegagalan ginjal sehingga tidak dapat membuat urine. Hal ini disebabkan oleh adanya kerusakan pada glomerulus. Akibatnya, proses filtrasi tidak dapat dilakukan dan tidak ada urine yang dihasilkan. Sebagai akibat terjadinya anuria, maka akan timbul gangguan keseimbangan di dalam tubuh. Misalnya, penumpukan cairan, elektrolit, dan sisa-sisa metabolisme tubuh yang seharusnya keluar bersama urine. Keadaan inilah yang akan memberikan gambaran klinis daripada anuria. Tindakan pencegahan anuria sangat penting untuk dilakukan. Misalnya, pada keadaan yang memungkinkan terjadinya anuria tinggi, pemberian cairan untuk tubuh harus selalu diusahakan sebelum anuria terjadi.

8. Jerawat Jerawat adalah suatu kondisi kulit dimana terjadi penyumbatan kelenjar minyak pada kulit disertai infeksi dan peradangan. Biasanya terjadi pada usia remaja karena peningkatan hormon. Jerawat dapat timbul di wajah, dada, ataupun punggung. Banyak cara untuk mengatasi jerawat dan beragam obat ditawarkan untuk mengatasi gangguan kulit yang satu ini. Untuk mengatasi jerawat, kamu perlu tidur cukup, minimal 7 jam sehari, perbanyak mengkonsumsi buah dan sayur. Selain itu, kurangi atau kalau bisa hindari memakan makanan bertepung, mengandung gula, cokelat, dan kacang.

9. Eksim Eksim adalah kelainan pada kulit karena kulit menjadi kering, kemerah-merahan, gatal, dan bersisik. Umumnya, gejala eksim yang terlihat adalah pembengkakan dan rasa gatal pada kulit. Penyebab eksim di antaranya adalah: a) Alergi pada sabun, krim lotion, salep, atau logam tertentu. b) Kelelahan. c) Stres. Secara umum, eksim memang tidak berbahaya, dalam arti tidak menyebabkan kematian dan tidak menular. Namun, eksim dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu.

Oleh karena itu, eksim perlu diobati dengan cara-cara sebagai berikut: a) Jangan berganti-ganti sabun mandi. Gunakan sabun mandi yang lembut, tidak terlalu berbusa, dan tidak menghilangkan minyak alami tubuh. b) Gunakan air bersih untuk mandi. c) Gosok tubuh dengan handuk yang lembut dan bersih segera setelah mandi hingga permukaan kulit benarbenar kering. d) Rajin mencuci tangan dengan sabun lalu bilas dan keringkan.

10. Gangren Gangren adalah kelainan pada kulit karena kematian sel-sel jaringan tubuh. Hal ini disebabkan oleh suplai darah yang buruk untuk bagian tubuh tertentu. Suplai darah yang buruk dapat disebabkan oleh penekanan pada pembuluh darah (misalnya, balutan yang terlalu ketat). Terkadang, gangren disebabkan oleh cedera langsung (gangren traumatik) atau infeksi.

Carilah dari berbagai sumber tentang penyakit yang berkaitan dengan sistem ekskresi dan pengobatan yang diberikan kepada penderitanya! Buatlah catatan mengenai hal itu, kemudian kumpulkan kepada gurumu untuk dibahas dan dinilai!

• Ekskresi adalah proses pengeluaran zat sisa metabolisme yang sudah tidak diperlukan lagi bagi tubuh organisme. • Alat ekskresi dalam sistem ekskresi manusia, antara lain: hati, paru-paru, kulit, ginjal, dan usus besar. • Hati atau hepar merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma. • Dengan bernafas, kita telah melakukan ekskresi untuk mengeluarkan CO2 dan H2 O. • Kulit merupakan salah satu alat ekskresi yang diperlukan tubuh untuk mengeluarkan air, garam, dan urea dari dalam tubuh. • Ginjal berfungsi untuk mengekskresikan zat-zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen, seperti urea dan ammonia. • Proses pembentukan urine di dalam ginjal melalui tiga tahapan, yaitu filtrasi, reabsorpsi, dan augmentasi. • Fungsi utama usus besar adalah mengatur kadar air sisa makanan. • Beberapa penyakit yang ditimbulkan akibat rusaknya sistem ekskresi pada manusia adalah albuminuria, diabetes melitus, diabetes insipidus, nefritis, batu ginjal, poliuria dan oligouria, anuria, jerawat, eksim, dan gangren

 

Materi Sistem Ekskresi pada Manusia

Materi Sistem Ekskresi pada Manusia

Materi Sistem Ekskresi pada Manusia

Sistem Ekskresi pada Manusia
Sistem Ekskresi pada Manusia

Sistem Ekskresi pada Manusia – Ginjal merupakan salah satu contoh organ penyusun sistem ekskresi manusia. Selain ginjal, masih ada organ tubuh lainnya yang menyusun sistem ekskresi manusia. Organ apa sajakah itu? Apa fungsi dari organ-organ tersebut? Kelainan apa saja yang dapat terjadi pada organ-organ tersebut? Kamu akan menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut setelah mempelajari bab ini. Setelah mempelajari bab ini, diharapkan kamu dapat mendeskripsikan bentuk organ penyusun sistem eksresi pada manusia, menyebutkan fungsinya, mendeksripsikan contoh kelainan dan penyakit pada sistem eksresi serta upaya mengatasinya, dan menyadari pentingnya menjaga kesehatan organ sistem ekskresi.

Sistem Ekskresi pada Manusia

Kamu telah mempelajari tentang proses pencernaan di kelas VIII bab 3. Proses pencernaan ini memiliki zat sisa yang harus dibuang dari tubuh. Tahukah kamu bagaimana zat sisa ini dikeluarkan dari tubuhmu? Zat sisa ini dikeluarkan dari tubuh melalui alat ekskresi. Ekskresi merupakan proses pengeluaran zat sisa metabolisme yang sudah tidak diperlukan lagi bagi tubuh organisme.

Sistem Ekskresi pada Manusia

Sistem Ekskresi pada Manusia – Untuk lebih mengetahui tentang alat ekskresi pada manusia, coba kamu cermati uraian berikut. A. Sistem Ekskresi pada Manusia Alat ekskresi dalam sistem ekskresi manusia antara lain: hati, paru-paru, kulit, ginjal, dan usus besar. Setiap alat ekskresi tersebut berfungsi mengeluarkan zat sisa metabolisme yang berbeda, kecuali air yang dapat diekskresikan melalui semua alat ekskresi. Setelah mempelajari subbab ini, diharapkan kamu dapat mendeskripsikan bentuk organ penyusun sistem eksresi pada manusia dan fungsinya. Untuk itu, ayo cermati setiap uraiannya.

Sistem Ekskresi pada Manusia

1. Hati Hati atau hepar merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.

Hati memiliki beberapa fungsi, antara lain: a) Menetralisir racun sehingga tidak membahayakan tubuh, kemudian racun ini dikeluarkan melalui urine. b) Mengubah glukosa menjadi glikogen untuk mengatur kadar gula dalam darah.

Sistem Ekskresi pada Manusia

c) Sebagai alat ekskresi yang mengeluarkan warna empedu dan urine. Setiap hari, hati menghasilkan empedu mencapai ½ liter. d) Tempat sintesis beberapa zat. Hati menghasilkan enzim arginase yang mengubah arginin menjadi ornifin dan urea. Ornifin yang terbentuk dapat meningkatkan NH3 dan CO2 yang bersifat racun. e) Hati menghasilkan empedu yang berasal dari hemoglobin sel darah merah yang telah tua. Empedu disimpan di dalam kantung empedu dan merupakan cairan hijau serta berasa pahit.

Empedu mengandung kolesterol, garam empedu, garam mineral, dan pigmen bilirubin dan biliverdin. Empedu ini berfungsi untuk mencerna lemak agar mudah diserap tubuh, membantu daya absorpsi lemak di usus, mengaktifkan enzim lipase, dan mengubah zat yang tidak larut dalam air menjadi zat yang larut dalam air. f) Hati merombak sel-sel darah merah yang sudah tua. Hemoglobin dalam darah tersebut dipecah menjadi zat besi, globin, dan heme. Zat besi dan globin dipakai kembali untuk menghasilkan sel darah merah yang baru. Sedangkan, heme dirombak menjadi bilirubin dan biliverdin yang berwarna hijau biru. Zat warna empedu ini mengalami oksidasi di dalam usus menjadi urobilin yang memberi warna kekuningan pada feses dan urine.

2. Paru-Paru Paru-paru merupakan salah satu organ ekskresi dalam tubuh. Manusia memiliki sepasang paru-paru, yaitu paru-paru kiri dan kanan. Paru-paru tersebut memiliki fungsi utama sebagai alat pernapasan yang berhubungan erat dengan sistem ekskresi. Dengan bernapas, kamu mengambil O2 dari udara dan mengeluarkan CO2 dan H2 O. Sisa metabolisme di jaringan berupa karbon dioksida dan air diangkut oleh darah ke paru-paru untuk dibuang dengan cara difusi di alveolus. Di alveolus banyak pembuluh kapiler yang memiliki selapis sel sehingga proses tersebut dapat berjalan dengan baik.

3. Kulit Kulit merupakan salah satu alat ekskresi yang diperlukan tubuh untuk mengeluarkan air, garam, dan urea dari dalam tubuh berupa keringat. Ekskresi melalui kulit sangat berhubungan dengan suhu dan kegiatan yang kamu lakukan.

Bagian yang berfungsi sebagai alat ekskresi adalah kelenjar keringat (glandula sudorifera) yang terletak di lapisan dermis. Kulit manusia terdiri atas dua bagian, yaitu epidermis dan dermis.

a. Epidermis Epidermis terdiri atas dua lapisan, yaitu stratum korneum (lapisan tanduk) dan lapisan malpighi. Stratum korneum merupakan lapisan kulit mati yang dapat mengelupas dan digantikan oleh sel-sel baru. Sedangkan, lapisan malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, menggantikan lapisan sel-sel pada stratum korneum. Lapisan malpighi dapat memberi warna pada kulit karena mengandung pigmen melanin. Jika pigmen melanin terlalu banyak, warna kulit seseorang menjadi gelap.

b. Dermis Pada bagian dermis terdapat pembuluh darah, akar rambut, ujung saraf, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menjadi aktif saat suhu panas. Hal ini menyebabkan keringat keluar ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan ini mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun. Sebaliknya, pada saat suhu lingkungan rendah (dingin), kelenjar keringat tidak aktif dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada kondisi seperti ini, darah tidak membuang air dan sisa metabolisme yang menyebabkan penguapan sangat berkurang. Hal ini menyebabkan suhu tubuh tetap dan tubuh tidak mengalami kedinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotalamus. Di bawah dermis sebenarnya terdapat jaringan ikat bawah kulit yang memiliki batas yang tidak jelas. Di lapisan ini terdapat lemak yang berfungsi sebagai cadangan makanan. Lemak berfungsi untuk menahan panas tubuh dan melindungi tubuh bagian dalam terhadap benturan luar.

4. Ginjal Ginjal merupakan alat ekskresi utama pada manusia. Ginjal berfungsi untuk mengekskresikan zat-zat sisa metabolisme yang mengandung nitrogen, seperti urea, dan ammonia. Selain itu, ginjal juga berfungsi untuk mengeluarkan zat-zat yang jumlahnya berlebihan, seperti vitamin C yang terlalu banyak dalam tubuh, mempertahankan tekanan osmosis ekstraseluler, dan mempertahankan keseimbangan asam dan basa. a. Struktur Ginjal Ginjal manusia memiliki panjang sekitar 10 cm dan bentuk seperti kacang merah, berjumlah sepasang, dan terletak di sebelah kiri dan kanan tulang belakang. Tipe ginjal manusia adalah metanefros yang tidak bersegmen dan memiliki glomerulus yang banyak. Ginjal terdiri atas kulit ginjal, sumsum ginjal, dan rongga ginjal. 1) Kulit ginjal (korteks) Pada kulit ginjal banyak terdapat badan malpighi yang berjumlah ± 1 juta. Badan malpighi terdiri atas glomerulus. 2) Sumsum ginjal (medula) Sumsum ginjal berupa badan-badan yang berbentuk kerucut dan banyak mengandung saluran yang mengumpulkan urine yang disebut tubulus kontortus.

3) Rongga ginjal (pelvis renalis) Di rongga ini bermuara saluran pengumpul. Dari rongga tersebut, urine keluar dari saluran ureter menuju vesika urinaria (kandung kemih). Dari kandung kemih, urine keluar tubuh melalui saluran uretra. b. Pembentukan Urine di Ginjal Proses pembentukan urine di dalam ginjal melalui tiga tahapan sebagai berikut: 1) Filtrasi (penyaringan) Filtrasi darah terjadi di glomerulus, yaitu kapiler darah yang bergelung-gelung di dalam kapsul Bowman. Pada glomerulus terdapat sel-sel endotelium sehingga memudahkan proses penyaringan. Selain itu, di glomerulus juga terjadi pengikatan sel-sel darah, keping darah, dan sebagian besar protein plasma agar tidak ikut dikeluarkan.

Hasil proses infiltrasi ini berupa urine primer (filtrate glomerulus) yang komposisinya mirip dengan darah, tetapi tidak mengandung protein. Di dalam urine primer dapat ditemukan asam amino, glukosa, natrium, kalium, ion-ion, dan garam-garam lainnya. 2) Reabsorpsi (penyerapan kembali) Proses reabsorpsi terjadi di dalam pembuluh (tubulus) proksimal. Proses ini terjadi setelah urine primer hasil proses infiltrasi mengalir dalam pembuluh (tubulus) proksimal.

Bahan-bahan yang diserap dalam proses reabsorpsi ini adalah bahan-bahan yang masih berguna, antara lain glukosa, asam amino, dan sejumlah besar ion-ion anorganik. Selain itu, air yang terdapat dalam urine primer juga mengalami reabsorpsi melalui proses osmosis, sedangkan reabsorpsi bahan-bahan lainnya berlangsung secara transpor aktif. Proses penyerapan air juga terjadi di dalam tubulus distal. Kemudian, bahan-bahan yang telah diserap kembali oleh tubulus proksimal dikembalikan ke dalam darah melalui pembuluh kapiler yang ada di sekeliling tubulus. Proses reabsorpsi ini juga terjadi di lengkung Henle, khususnya ion natrium. Hasil proses reabsorpsi adalah urine sekunder yang memiliki komposisi zat-zat penyusun yang sangat berbeda dengan urine primer. Dalam urine sekunder tidak ditemukan zat-zat yang masih dibutuhkan tubuh dan kadar urine meningkat dibandingkan di dalam urine primer.

3) Augmentasi (Penambahan) Urine sekunder selanjutnya masuk ke tubulus kontortus distal dan saluran pengumpul. Di dalam saluran ini terjadi proses penambahan zat-zat sisa yang tidak bermanfaat bagi tubuh. Kemudian, urine yang sesungguhnya masuk ke kandung kemih (vesika urinaria) melalui ureter. Selanjutnya, urine tersebut akan dikeluarkan dari tubuh melalui uretra. Urine mengandung urea, asam urine, amonia, dan sisasisa pembongkaran protein. Selain itu, mengandung zat-zat yang berlebihan dalam darah, seperti vitamin C, obat-obatan, dan hormon serta garam-garam.

Pelajaran Tentang Sistem Ekskresi Vertebrata

Pelajaran Tentang Sistem Ekskresi Vertebrata

Pelajaran Tentang Sistem Ekskresi Vertebrata

Sistem Ekskresi Vertebrata
Sistem Ekskresi Vertebrata

Sistem Ekskresi Vertebrata  – Ginjal Vertebrata mengalami perkembangan baik secara evolusi atau sejalan dengan perkembangan embrio pada hewan anamniota dan amniota.
Leluhur Vertebrata mempunyai sepasang ginjal primitif yang disebut arkinefros.
Arkinefros terdiri atas dua saluran arkinefrik yang letaknya di kiri dan kanan sebelah dorsal rongga tubuh.
Tiap pembuluh arkinefrik ujungnya terbuka pada rongga tubuh (coelom) yang merupakan corong dengan banyak silia dan disebut nefrostoma.
Dekat dengan tiap nefrostome terdapat glomerulus.

Sistem Ekskresi Vertebrata  – Cairan dari darah ke luar melalui glomeruli ke coelom.
Dari coelom cairan yang mengandung sampah metabolisme ini diambil oleh ginjal arkinefrik melalui nefrostome.
Pada Vertebrata yg ada sekarang ginjal mengalami perkembangan dalam dua fase atau tiga fase yaitu pronefros, mesonefros dan metanefros.
Pronefros mempunyai persamaan dengan arkinefrik.
Ginjal pada anamniota disebut opistonefros yang identik dengan mesonefros.

Sistem Ekskresi Vertebrata  – Bangsa reptil, burung dan mamalia termasuk hewan amniota.
Hewan-hewan ini mempunyai perkembangan ginjal mulai dari pronefros, mesonefros dan metanefros.
Setelah metanefros berfungsi, mesonefros mengalami degenarasi.
Pembuluh mesonefrik dan saluran arkinefrik kemudian menjadi bagian alat kelamin jantan seperti epididimis dan duktus deferens.
Pada hewan betina menjadi rudimenter (tinggal bekas-bekasnya saja).

Sistem Ekskresi Vertebrata

Struktur Ginjal
¢ Ginjal merupakan struktur utama untuk ekskresi pada Vertebrata samping sebagai alat ekskresi ginjal mempunyai fungsi yang sangat penting untuk memelihara lingkungan internal pada tubuh.
¢ Ginjal mempunyai bentuk seperti sebuah biji kacang.
¢ Dilihat pada belahan sagital terdapat dua bagian sebelah luar disebut korteks dan bagian sebelah dalam merupakan bagian terbesar dari ginjal disebut medulla terdiri atas beberapa piramid.
¢ Piramid berisi sel jumlah pembuluh yang bermuara pada rongga di tengah ginjal yang disebut pelvis. Di daerah pelvis arteri dan vena renalis masuk ke dalam ginjal.

Sistem Ekskresi Vertebrata
¢ Bagian korteks berisi sejumlah badan malpighi, tubulus proksimal, lengkung henle dan tubulus distal dari sebuah nefron. Secara histologis ginjal dibangun oleh sejumlah besar nefron atau di sebut pula tubulus uriniferus.
¢ Pada manusia sebuah ginjal mempunyai 1 juta nefron dan pada ginjal tikus terdapat kira-kira 30 ribu buah nefron.
¢ Tiap nefron terdiri atas badan malpighi, tubulus proksimal, lengkung Henle, tubulus distal dan tubulus pengumpul (collecting tubule).
¢ Badan malpighi terdiri atas kapsula Bowmann dan di dalam kapsula terdapat glomerulus. Kapsul Bowmann mempunyai dinding rangkap yang di dalamnya terdapat glomerulus. Glomerulus merupakan untaian dari sejumlah kapiler.
¢ Kapsul Bowman berhubungan dengan pembuluh yang berkelok-kelok pada daerah korteks yang disebut tubulus proksimal. Kemudian bersambung dengan bagian pembuluh yang melengkung pada daerah medulla yang disebut lengkungan Henle. Lengkung (gelung) Henle berhubungan dengan tubulus distal dihubungkan dengan pembuluh pengumpul. Pembuluh pengumpul berhubungan dengan sejumlah nefron.Letaknya mulai dari korteks dan berakhir di bagian piramid.

Sistem Ekskresi Vertebrata
¢ Nefron dikelilingi oleh jalinan pembuluh kapiler. Antara pembuluh kapiler dan nefron tjadi pertukaran berbagai bahan.
¢ Kapsul Bowman mempunyai dinding sangat tipis dari sel-sel endotelial, sedangkan gelung Henle dindingnya berupa sel-sel kuboidal (bentuk kubus).
Suplai Darah
Ginjal menerima banyak sekali darah. Ginjal pada seorang dewasa menerima kira-kira 1,3 liter darah tiap menit.
Darah berasal dari arteri renalis. Setelah memasuki ginjal arteri bercabang menjadi sejumlah arteriol yaitu arteriol aferen. Arteriol aferen bercabang membentuk kapiler glomerulus.

Sistem Ekskresi Vertebrata
Kapiler glomerulus bersatu kembali membentuk arteriol eferen yang kemudian membentuk kapiler peritubular mengelilingi tubulus proksimal, gelung Henle dan tubulus distal dari nefron yang sama.
Setelah itu kapiler-kapiler tersebut bermuara pada sebuah venule yang kemudian bergabung menjadi vena renalis menuju vena cava inferior

¢ Fungsi penting dari ginjal ialah :
1. Membuang sisa-sisa metabolisme dari tubuh seperti urea, sulfat dan lain-lain.
2. Mengatur konsentrasi ion hidrogen darah mengeluarkan kelebihan asam atau basa.
3. Untuk membuang kelebihan bahan makanan tertentu seperti gula dan asam amino jika konsentrasi di dalam darah bertambah
4. Untuk membuang bahan-bahan yang berbahaya bagi tubuh seperti obat-obatan, bakteri, iodida, pigmen dan lain-lain.
5. Memelihara tekanan osmotik darah dengan mengatur ekskresi air dan garam anorganik dan memper-tahankan volume darah konstan.
6. Mengatur tekanan darah arteri dgn mengeluarkan hormon renin
¢ Mekanisme Pembentukan Urin
Pada tahun 1844 Ludwing mengatakan bahwa adanya air dan bahan-bahan terlarut pd urin disebabkan oleh proses pada glomerulus .
Fungsi dari tubulus uriniferus ialah untuk memekatkan urin dengan cara reabsorpsi.
Pada tahun 1917 Cushny mengemukakan modifikasi dr teori Ludwing.
Ia mengatakan bahwa terjadi filtrasi plasma melalui glomerulus yang menghasilkan filtrat berupa air melalui tubulus (pd nefron) sebagian air, glukosa, asam amino dan bahan-bahan lain yang berguna direabsorpsi oleh epitel tubulus dikembalikan pada darah.
Teori ini dikenal dengan teori filsafat reabsorpsi sekresi
¢ Filtrasi Glomerular
Kapiler pada glomerulus sangat permeabel, tetapi bahan-bahan yang mempunyai berat molekul 67.000 ke atas tidak dapat keluar dari kapiler.

Sistem Ekskresi Vertebrata
Karena itu protein dengan molekul makro seperti protein plasma (albumin, globulin dan lainnya) dan benda-benda darah seperti SDP dan SDM tidak dapat lolos dari kapiler.
Garam-garam anorganik (Na+, K+, Cl-, HCO3-), air dan bahan organik seperti urea, asam urat, glukosa, asam amino dan lain-lainnya dapat lolos dari kapiler dengan mudah ke rongga kapsul Bowmann. Proses yang selektif ini disebut ultrafiltrasi.
Cairan hasil filtrasi ini disebut filtrat glomerular yang mempunyai komposisi plasma darah minus protein. Filtrat glomerular atau urin primer terbentuk karena adanya tekanan filtrasi.
Tekanan filtrasi terjadi karena perbedaan tekanan darah (tekanan hidrostatik) dan tekanan osmotik protein plasma darah (tekanan onkotik).
Pada manusia tekanan hidrostatik kapiler glomerulus kira-kira 70-90 mmHg dan tekanan osmotik plasma darah kira-kira 20-30 mmHg.
Selain itu terdapt pula tekanan intrarenal pada kapsul dan tubulus kurang lebih 20 mmHg.
Dari ketiga macam tekanan ini dapat dihitung tekanan filtrasinya yaitu:
TF = TH – TO – TIR
= 75- – 30 – 20 mmHg
= 25 mmHg
Keterangan
TF = Tekanan Filtrasi
TH = Tekanan Hidrostatik
TO = Tekanan Osmotik (onkotik)
TIR = Tekanan Intrarenal
Jumlah filtrat yg dihasilkan glomerulus tiap menit disebut Kecepatan filtrasi glomerular.
Pada orang dewasa kecepatan filtrasi pada tekanan filtrasi 25 mmHg kira-kira 120 ml per menit.
Pada setiap hari kurang lebih 150 – 170 liter urine primer terjadi.
Dari sebanyak urin primer tersebut hanya 1-1,5 liter urin terjadi karena sebagian besar dari urin primer berupa air dan bahan-banan yang diperlukan tubuh direabsorpsi melalui tubulus pada nefron.
¢ Reabsorpsi pada Nefron
Bahan-bahan yang vital diperlukan tubuh direabsorpsi tubulus dari nefron dan sisanya menjadi urin. Bahan-bahan tertentu dapat direabsorpsi seluruhnya sepanjang belum melebihi konsentrasi ambang.
Jika melebihi konsentrasi ambang bahan-bahan tersebut tidak semua direabsorpsi dan akan terbawa bersama urin. Glukosa dan asam amino merupakan bahan yang mempunyai sifat tersebut di atas.
a. Reabsorpsi Glukosa
Pada manusia dewasa jika kecepatan filtrasi 120 ml per menit, glukosa yang ditransfer dari darah ke filtrat kira-kira 120 mg.
Secara normal semua glukosa akan direabsorpsi oleh nefron. Reabsopsi terjadi pada tubulus proksimal dengan mekanisme transpor aktif: yang memerlukan ATP. Kecepatan reabsorpsi glukosa maksimum per menit pada manusia dewasa kira-kira 350 mg.
Dalam bahasa Inggris tubular maximum for glucose (TmG). Untuk wanita TmG lebih kecil kira-kira 300 mg per menit.
Jika glukosa terlalu banyak dan tidak dapat direabsorpsi, glukosa akan terdapat dalam urin. Peristiwa ini disebut Glukosuria.
b. Reabsorpsi Air
Tekanan osmotik pada plasma darah cenderung tetap disebabkan adanya garam-garam anorganik yang bersifat elektrolit.
Jika tubuh banyak menerima air misalnya dari minuman, menyebabkan plasma menjadi encer.
Hal ini menyebabkan turunnya tekanan osmotik dan menyebabkan sejumlah air diekskresikan. Jadi ekskresi tergantung osmolaritas plasma.
Bertambah banyaknya pengeluaran urin disebut diuresis dan bahan kimia yang menyebabkan diuresis disebut diuretikum.
Contoh zat diuretikum misalnya kafein, urea, NaCL dan Na2SO4.
Secara normal tiap hari kira-kira dihasilkan 150 – 180 liter filtrat glomerular tiap hari 80% dari filtrat direabsorpsi melalui tubulus proksimal.
c.Reabsorpsi garam Anorganik
Ion natrium, klorida dan bikarbonat secara selektif direabsorpsi pada tubulus proksimal.
Reabsorpsi Na+ bersama-sama dengan reabsorpsi air. Reabsorpsi Na+ dibantu oleh homon dari bagian korteks adrenal.
Kalium juga terdapat dalam jumlah kecil pada filtrat glomerular. Secara normal K+ direabsorpsi melalui tubulus proksimal.
Pada urin ditemukan K+ yang berasal dari sekresi tubulus distal yang berperan dalam keseimbangan asam-basa.
Seperti telah dikatakan di muka ginjal berperan dalam filtrasi, reabsorpsi dan sekresi.
Sekresi dan reabsorpsi natrium dan kalium dipengaruhi oleh hormon aldosteron (dari adrenal bagian korteks).
Transfer Na+, K+, NH4-, Cl-, HCO3- dan PO4- diatur dalam ginjal bukan saja untuk memperoleh konsentrasi ion yang diperlukan dalam cairan tubuh tapi juga penting dalan regulasi pH darah atau cairan tubuh lainnya.
d. Diuresis
Jika urin yang dihasilkan bertambah banyak disebut diuresis.
Bahan-bahan yang menyebabkan diuresis disebut diuretikum.
Urea dan glukosa juga kafein mempunyai efek diuresis.
Bahan diuretika merupakan bahan yang tidak dapat direabsorpsi. Karena itu menambah osmopolaritas (tekanan osmotik) pada tubulus.
Pada nefron terjadi sekresi air pada lengkung Henle desenden karena adanya zat diuretikum yang menambah tekanan osmotik, maka reabsorpsi air tadi tidak terjadi..
Karena itu urin akan bertambah encer yang menyebabkan bertambahnya jumlah urin.
Hewan pemakan daging menyebabkan konsentrasi urea bertambah. Karena itu hewan tersebut memerlukan lebih banyak air.
Orang yang diabetes akan mengeluarkan urin lebih banyak dan terjadi diuresis. Diuresis semacam ini dapat menyebabkan dehidrasi.
Pada keadaan stress (tertekan) dapat terjadi diuresis atau sebaliknya.
Hal ini diduga karena pengaruh saraf vasomotor yang menambah atau mengurangi aliran darah ke ginjal karena penyempitan (vasokontriksi) dan pelebaran (vasodilatasi) dari arteriol
¢ Mekanisme Counter Current (lawan arus)
Menurut model counter current terdapat 3 faktor yang menunjang mekanisme counter current yaitu:
1. Lengkung Henle desenden (turun) permeabel terdapat air, sedangkan lengkung Henle asenden (naik) permeabilitasnya kecil sekali boleh dikatakan impermeabel.
2. Lengkung Henle asenden merupakan tempat transpor aktif untuk pengeluaran Na+.
3. Lengkung Henle yang berbentuk U menghasilkan arus cairan yang berlawanan.
¢ Hormon Anti Diuretikum (HAD)
Pengeluaran hormon antidiuretikum oleh hipofisis bagian belakang dipengaruhi oleh kadar air pd darah.
Jika darah kekurangan air hipofisis mengeluarkan HAD dan HAD mempengaruhi tubulus kolektor menjadi permeabel.
Karena itu reabsorpsi air bertambah banyak sehingga urin lebih pekat.
Jika darah mengandung lebih banyak air HAD tidak dihasilkan karena itu reabsorpsi air pada tubulus-kolektor sedikit karena itu urin encer.
Mekanisme ini mengatur keseimbangan air pd tubuh.
¢ Komposisi Urin
Komposisi urin bervariasi tergantung kepada jenis makanan dalam jumlah air yang diminum.
Pada manusia dewasa kira-kira 1-1,5 liter per hari. Di daerah panas urin dihasilkan lebih sedikit bandingkan didaerah dingin.
Coba apakah Anda dapat menjelaskannya.
Urin normal biasanya transparan dan warna kuning muda karena adanya pigmen urokrom (bilirudin dan biliverdin).
Masa jenis + 1.005 – 1,04 dengan pH 6,0
Selain ginjal alat ekskresi yang lain adalah:
1. Hati (Hepar)
2. Kulit (Integumen)
3. Paru-paru (Pulmo)
Hati (Hepar)
Hati merupakan kelenjar terbesar dalam tubuh manusia (2 kg) yang terletak di rongga perut sabelah kanan di bawah diafragma
? Hati menghasilkan empedu (bilus) yang mengandung zat sisa dari perombakan eritosit di dalam limpa
? Hati berfungsi:
– Menyimpan gula dalam bentuk glikogen
– Mengatur kadar gula darah
– Tempat pembentukan urea dari amonia
– Menetralkan racun
– Membentuk vitamin A dari provitamin A
– Tempat pembentukan fibrinogen protrombin
– Sel darah merah yang sudah tua (histiosita) dipecah didalam hati.
Kulit (integumen)
¢ Merupakan lapisan terluar tubuh manusia dan merupakan pelindung bagian dalam tubuh
¢ Fungsi Kulit:
v Mengeluarkan keringat
o Kelenjar keringat menyerap air dan garam dari darah di pembuluh kapiler.
o Keringat dikeluarkan melalui pori-pori (50 mL/jam dalam keadaan normal)
v Melindungi bagian dalam tubuh dari gesekan, kuman, penyinaran, panas dan zat kimia
v Mengatur suhu tubuh
v Menerima rangsangan dari luar
v Mengurangi kehilangan air
Paru-paru (pulmo)
? Manusia memiliki sepasang paru-paru yang terletak di rongga dada.
? Paru-paru berfungsi sebagai organ pernafasan yaitu menghirup oksigen dan mengeluarkan CO2 + uap air
? Uap air dan CO2 berdifusi di dalam alveolus kemudian dikeluarkan
Kelainan dan Penyakit
¢ Nefritis : radang ginjal bagian nefron yang diawali peradangan glomerulus
¢ Albuminuria : urine banyak mengandung albumin, disebabkan karena kekurangan protein, penyakit ginjal dan hati. Akibatnya tubuh kekurangan albumin yang menjaga agar cairan tidak keluar dari darah
¢ Kencing Batu : sulit buang urine, terjadi karena pengendapan zat kapur dalam ginjal. Pengobatan : pembedahan, obat-obatan dan penembakan dengan sinar laser
¢ Hematuria : urine mengandung darah, Penyebab: peradangan ginjal, batu ginjal dan kanker kandung kemih
¢ Nefrolitiasis (batu ginjal): urine sulit keluar karena tersumbat batu pada ginjal, saluran ginjal atau kandung kemih, Penyebab :konsentrasi unsur-unsur kalsium terlalu tinggi dan dipercepat dengan infeksi dan penyumbatan saluran ureter. Akibat : sulit mengeluarkan urine, urine bercampur darah
¢ Gagal ginjal : Meningkatnya kadar urea dalam darah, Penyebab Nefritis (radang ginjal). Akibat : Zat-zat yang seharusnya dibuang oleh ginjal tertumpuk dalam darah. Pengobatan : Cuci darah secara rutin atau cangkok ginjal
¢ Diabetes Insipidus : Meningkatnya jumlah urine (20 – 30 kali lipat), Penyebab : Kekurangan hormon antidiuretika (ADH), Akibat : Sering buang urine, Pengobatan : Pemberian ADH sintetik
¢ Diabetes Melitus : Kadar glukosa darah melebihi normal, Penyebab : Kekurangan hormon insulin, Akibat : Luka sulit sembuh. Pengobatan : Pada anak-anak diberi insulin secara rutin dan pada dewasa dilakukan diet rutin, olahraga dan pemberian obat penurun kadar glukosa darah
¢ Hepatitis : Perubahan warna kulit dan putih mata menjadi kuning, urine menjadi kecoklatan seperti air teh. Penyebab : Virus Hepatitis ditemukan sudah cukup banyak dan digolongkan menjadi virus hepatitis A, B, C, D, E, G, dan TT. Akibat : Hati meradang dan kerja hati terganggu. Pencegahan : Menjaga kebersihan lingkungan, menghindari kontak langsung atau penggunaan barang bersama-sama dengan penderita hepatitis, gunakan jarum suntik untuk sekali pakai.
¢ Sirosis Hati : Timbulnya jaringan parut dan kerusakan sel-sel pada hati. Penyebab : Minuman alkohol, keracunan obat, infeksi bakteri, komplikasi hati. Akibat : Gangguan kesadaran, koma, kematian. Pengobatan : Sesuai penyebabnya, pemulihan fungsi hati dan transplantasi hati
¢ Gangren : Kematian jaringan lunak pada kaki atau tangan diawali dengan kebiruan pada kulit dan terasa dingin jika disentuh, kemudian menghitam dan berbau busuk. Penyebab : Gangguan pengaliran darah kejaringan tersebut. Sering terjadi pada penderita diabetes melitus dan aterosklerosis. Akibat : Bila tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik, bagian terkena gangren harus diamputasi.