Pengertian tentang syirkah (2)

Pengertian tentang syirkah (2)

5) Mu??rabah
Mu??rabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak, di mana pihak
pertama menyediakan semua modal (??hibul m?l), pihak lainnya menjadi pengelola
atau pengusaha (mu?arrib). Keuntungan usaha secara mu??rabah dibagi menurut
kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, namun apabila mengalami kerugian,
ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian si
pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian
si pengelola, pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut.
Kontrak bagi hasil disepakati di depan sehingga bila terjadi keuntungan,
pembagiannya akan mengikuti kontrak bagi hasil tersebut. Misalkan, kontrak bagi
hasilnya adalah 60:40, di mana pengelola mendapatkan 60% dari keuntungan,
pemilik modal mendapat 40% dari keuntungan. syirkah-bisnis
Mu??rabah sendiri dibagi menjadi dua, yaitu mu??rabah mu?laqah dan
mu??rabah muqayyadah. Mu??rabah mu?laqah merupakan bentuk kerja sama
antara pemilik modal dan pengelola yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi
oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Mu??rabah muqayyadah
adalah kebalikan dari mu??rabah mu?laqah, yakni usaha yang akan dijalankan
dengan dibatasi oleh jenis usaha, waktu, atau tempat usaha.
6) Mus?qah, Muz?ra’ah, dan Mukh?barah
a) Mus?qah
Mus?qah adalah kerja sama antara pemilik kebun dan petani di mana
sang pemilik kebun menyerahkan kepada petani agar dipelihara dan hasil
panennya nanti akan dibagi dua menurut persentase yang ditentukan pada
waktu akad Konsep mus?qah merupakan konsep
kerja sama yang saling menguntungkan
antara kedua belah pihak (simbiosis
mutualisme). Tidak jarang para pemilik
lahan tidak memiliki waktu luang untuk
merawat perkebunannya, sementara di
pihak lain ada petani yang memiliki
banyak waktu luang namun tidak memiliki
lahan yang bisa digarap. Dengan adanya
sistem kerja sama mus?qah, setiap pihak
akan sama-sama mendapatkan manfaat.
b) Muz?ra’ah dan Mukh?barah
Muz?ra’ah adalah kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik
lahan dan petani penggarap di mana benih tanamannya berasal dari petani.
Sementara mukh?barah ialah kerja sama dalam bidang pertanian antara pemilik
lahan dan petani penggarap di mana benih tanamannya berasal dari pemilik
lahan. Muz?ra’ah memang sering kali diidentikkan dengan mukh?barah.
Namun demikian, keduanya sebenarnya memiliki sedikit perbedaan. Apabila
muz?ra’ah, benihnya berasal dari petani penggarap, sedangkan mukh?barah
benihnya berasal dari pemilik lahan.
Muz?ra’ah dan mukh?barah merupakan bentuk kerja sama pengolahan
pertanian antara pemilik lahan dan penggarap yang sudah dikenal sejak masa
Rasulullah saw. Dalam hal ini, pemilik lahan memberikan lahan pertanian
kepada penggarap untuk ditanami dan dipelihara dengan pembagian persentase
tertentu dari hasil panen. Di Indonesia, khususnya di kawasan pedesaan, kedua
model penggarapan tanah itu sama-sama dipraktikkan oleh masyarakat petani.
Landasan syariahnya terdapat dalam hadis dan ijma’ ulama.

Pengertian Syirkah

Pengertian Syirkah

Secara bahasa, kata syirkah (perseroan) berarti mencampurkan dua bagian atau
lebih sehingga tidak dapat lagi dibedakan antara bagian yang satu dengan bagian
yang lainnya. Menurut istilah, syirkah adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua
pihak atau lebih yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan
memperoleh keuntungan. Syirkah
a. Rukun dan Syarat Syirkah
Adapun rukun syirkah secara garis besar ada tiga, yaitu seperti berikut.
1) Dua belah pihak yang berakad (‘aqidani). Syarat orang yang melakukan akad
adalah harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan ta?arruf (pengelolaan
harta).
2) Objek akad yang disebut juga ma’qud ‘alaihi mencakup pekerjaan atau modal.
Adapun syarat pekerjaan atau benda yang dikelola dalam syirkah harus halal
dan diperbolehkan dalam agama dan pengelolaannya dapat diwakilkan.
3) Akad atau yang disebut juga dengan istilah ?igat. Adapun syarat sah akad harus
berupa ta?arruf, yaitu adanya aktivitas pengelolaan.
b. Macam-Macam Syirkah
Syirkah dibagi menjadi beberapa macam, yaitu syirkah `in?n, syirkah ‘abd?n,
syirkah wuj?h, dan syirkah muf?wa?ah.

Secara bahasa, kata syirkah (perseroan) berarti mencampurkan dua bagian atau
lebih sehingga tidak dapat lagi dibedakan antara bagian yang satu dengan bagian
yang lainnya. Menurut istilah, syirkah adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua
pihak atau lebih yang bersepakat untuk melakukan suatu usaha dengan tujuan
memperoleh keuntungan.
a. Rukun dan Syarat Syirkah
Adapun rukun syirkah secara garis besar ada tiga, yaitu seperti berikut.
1) Dua belah pihak yang berakad (‘aqidani). Syarat orang yang melakukan akad
adalah harus memiliki kecakapan (ahliyah) melakukan ta?arruf (pengelolaan
harta).
2) Objek akad yang disebut juga ma’qud ‘alaihi mencakup pekerjaan atau modal.
Adapun syarat pekerjaan atau benda yang dikelola dalam syirkah harus halal
dan diperbolehkan dalam agama dan pengelolaannya dapat diwakilkan.
3) Akad atau yang disebut juga dengan istilah ?igat. Adapun syarat sah akad harus
berupa ta?arruf, yaitu adanya aktivitas pengelolaan.
b. Macam-Macam Syirkah
Syirkah dibagi menjadi beberapa macam, yaitu syirkah `in?n, syirkah ‘abd?n,
syirkah wuj?h, dan syirkah muf?wa?ah. haram, misalnya berburu anjing. Keuntungan yang diperoleh dibagi
berdasarkan kesepakatan, porsinya boleh sama atau tidak sama di antara
syarik (mitra usaha).

3) Syirkah Wuj?h
Contohnya: A dan B adalah tokoh yang dipercaya pedagang. Lalu A dan
B bersyirkah wujuh dengan cara membeli barang dari seorang pedagang
secara kredit. A dan B bersepakat bahwa masing-masing memiliki 50%
dari barang yang dibeli. Lalu, keduanya menjual barang tersebut dan
keuntungannya dibagi dua. Sementara harga pokoknya dikembalikan
kepada pedagang. Syirkah wuj?h ini hakikatnya termasuk dalam syirkah
‘abd?n.
4) Syirkah Muf?wa?ah
Contohnya: A adalah pemodal, berkontribusi modal kepada B dan C.
Kemudian, B dan C juga sepakat untuk berkontribusi modal untuk membeli
barang secara kredit atas dasar kepercayaan pedagang kepada B dan C. Dalam
hal ini, pada awalnya yang terjadi adalah syirkah ‘abd?n, yaitu ketika B dan C
Syirkah wuj?h adalah kerja sama karena didasarkan pada kedudukan, ketokohan,
atau keahlian (wujuh) seseorang di tengah masyarakat. Syirkah wuj?h adalah
syirkah antara dua pihak yang sama-sama memberikan kontribusi kerja (amal)
dengan pihak ketiga yang memberikan konstribusi modal (mal).
Syirkah muf?wa?ah adalah syirkah antara dua pihak atau lebih yang
menggabungkan semua jenis syirkah di atas. Syirkah muf?wa?ah dalam
pengertian ini boleh dipraktikkan. Sebab setiap jenis syirkah yang sah berarti
boleh digabungkan menjadi satu. Keuntungan yang diperoleh dibagi sesuai
dengan kesepakatan, sedangkan kerugian ditanggung sesuai dengan jenis
syirkahnya, yaitu ditanggung oleh para pemodal sesuai porsi modal jika berupa
syirkah ‘in?n, atau ditanggung pemodal saja jika berupa muf?wa?ah, atau
ditanggung mitra-mitra usaha berdasarkan persentase barang dagangan yang
dimiliki jika berupa syirkah wuj?h sepakat masing-masing bersyirkah dengan memberikan kontribusi kerja saja.
Namun, ketika A memberikan modal kepada B dan C, berarti di antara mereka
bertiga terwujud mu??rabah. Di sini A sebagai pemodal, sedangkan B dan C
sebagai pengelola. Ketika B dan C sepakat bahwa masing-masing memberikan
kontribusi modal, di samping kontribusi kerja, berarti terwujud syirkah ‘in?n
di antara B dan C. Ketika B dan C membeli barang secara kredit atas dasar
kepercayaan pedagang kepada keduanya, berarti terwujud syirkah wuj?h antara
B dan C. Dengan demikian, bentuk syirkah seperti ini telah menggabungkan
semua jenis syirkah dan disebut syirkah muf?wa?ah.