Pelajaran Mengenai Tahapan tentang Kultur Jaringan

Pelajaran Mengenai Tahapan tentang Kultur Jaringan

Pelajaran Mengenai Tahapan tentang Kultur Jaringan

Dampak Positif dan Negatif Kultur Jaringan

1) Dampak Positif Kultur Jaringan
a. Pengadaan bibit tidak tergantung musim. Bibit dapat diproduksi dalam jumlah banyak dengan waktu yang relatif lebih cepat (dari satu mata tunas yang sudah respon dalam 1 tahun dapat dihasilkan minimal 10.000 planlet/bibit)
b. Bibit yang dihasilkan seragam
c. Bibit yang dihasilkan bebas penyakit (menggunakan organ tertentu)
d. Biaya pengangkutan bibit relatif lebih murah dan mudah
e. Dalam proses pembibitan bebas dari gangguan hama, penyakit, dan deraan lingkungan lainnya
f. Dapat dilakukan dengan dalam ruangan yang relatif sempit
g. Sifat identik dengan induk
h. Dapat diperoleh sifat-sifat yang dikehendaki
i. Metabolit sekunder tanaman segera didapat tanpa perlu menunggu tanaman dewasa
2) Dampak Negatif Kultur Jaringan
a. Bibit yang dihasilkan mempunyai perakaran yang tidak kuat
b. Mempersempit lapangan kerja pembibitan secara konvensional
c. Dapat berakibat hilangnya plasma nutfah dari tanaman tertentu

Tahapan tentang Kultur Jaringan
Tahapan tentang Kultur Jaringan

Contoh Kultur Jaringan: Kultur Wortel (Organ)

Prosedur Kerja kultur jaringan tanaman wortel:
1. Akar wortel yang tidak cacat dicuci dalam air mengalir untuk menghilangkan kotoran pada permukaan akar.
2. Potong kedua bagian ujungnya, buat potongan akar menjadi ukuran 6-10 cm lalu masukkan ke dalam erlenmeyer.
3. Di dalam laminar air flow, rendam potongan akar tersebut dengan larutan alkohol 70% selama 5 menit sambil dikocok.
4. Buang larutan alkohol dan bilas dengan akuades steril. Kemudian masukkan larutan sunclin atau bayclin 20%. Rendam selama 15-25 menit sambil dikocok.
5. Buang larutan sunclin/bayclin, kemudian bilas dengan akuades steril 3-5 kali.
6. Dengan menggunakan pinset, angkat potongan akar dan simpan di atas cawan petri yang diberi alas kertas saring steril.
7. Potong melintang akar setebal 3-5 mm, kemudian buat potongan eksplan ± 5 x 5 mm. Pastikan jaringan kambium (bagian dalam akar) menjadi bagian potongan eksplan.
8. Pindahkan/tanam eksplan tersebut pada media induksi kalus yang sudah disiapkan. Setiap botol kultur berisi 4 potongan eksplan.
9. Tutup botol dengan rapat dan simpan diruang inkubasi dalam keadaan gelap.
10. Amati perkembangannya setiap minggu, selama 4-6 minggu.

Tahapan Kultur Jaringan

a. Tahapan Kultur Jaringan
1) Sterilisasi
Sterilisasi merupakan kegiatan untuk mensterilkan semua peralatan dan bahan yang akan digunakan dalam kultur jaringan. Peralatan yang akan digunakan selama proses harus disemprot dengan cairan antiseptik atau etanol agar menjaganya tetap steril. Hal ini bertujuan untuk menghindari adanya mikroba kontaminan yang dapat menyebabkan kerusakan pada kultur (Amalia, 2009).
2) Pembuatan Media
Pembuatan media merupakan faktor penentu dalam perbanyakan dengan kultur jaringan. Komposisi media yang digunakan tergantung dengan jenis tanaman yang akan diperbanyak. Media yang digunakan biasanya terdiri dari garam mineral, vitamin, dan hormon. Selain itu, diperlukan juga bahan tambahan seperti agar, gula, dan lain-lain. Zat pengatur tumbuh (hormon) yang ditambahkan juga bervariasi, baik jenisnya maupun jumlahnya, bergantung dengan tujuan dari kultur jaringan yang dilakukan. Media yang sudah jadi ditempatkan pada tabung reaksi atau botol-botol kaca kemudian disterilkan dengan menggunakan autoklaf (Af’idah, 2009).
3) Inisiasi
Amalia (2009), menyatakan bahwa inisiasi adalah pengambilan eksplan dari bagian tanaman yang akan dikulturkan. Bagian tanaman yang sering digunakan untuk kegiatan kultur jaringan adalah tunas atau daun.
Sel yang diambil dari jaringan tumbuhan yang memiliki sifat meristematis akan lebih baik hasilnya dibandingkan dengan jaringan yang tidak meristematis. Jaringan meristematis terdapat pada ujung akar, batang, dan kambium.
4) Multiplikasi
Multiplikasi adalah kegiatan memperbanyak calon tanaman dengan menanam eksplan pada media. Kegiatan ini dilakukan di laminar flow untuk menghindari adanya kontaminasi yang menyebabkan gagalnya pertumbuhan eksplan. Tabung reaksi yang telah ditanami ekplan diletakkan pada rak-rak dan ditempatkan di tempat yang steril dengan suhu kamar(Af’idah, 2009).
5) Pengakaran
Pengakaran adalah fase dimana eksplan akan menunjukkan adanya pertumbuhan akar yang menandai bahwa proses kultur jaringan yang dilakukan mulai berjalan dengan baik. Pengamatan dilakukan setiap hari untuk melihat pertumbuhan dan perkembangan akar serta untuk melihat adanya kontaminasi oleh bakteri ataupun jamur. Eksplan yang terkontaminasi akan menunjukkan gejala seperti berwarna putih atau biru (disebabkan jamur) atau busuk (disebabkan bakteri) (Af’idah, 2009).

6) Aklimatisasi
Aklimatisasi adalah kegiatan memindahkan eksplan keluar dari ruangan aseptic ke bedeng (tempat). Pemindahan dilakukan secara hati-hati dan bertahap, yaitu dengan memberikan sungkup. Sungkup digunakan untuk melindungi bibit dari udara luar dan serangan hama penyakit karena bibit hasil kultur jaringan sangat rentan terhadap serangan hama penyakit dan udara luar. Setelah bibit mampu beradaptasi dengan lingkungan barunya maka secara bertahap sungkup dilepaskan dan pemeliharaan bibit dilakukan dengan cara yang sama dengan pemeliharaan bibit generatif (Af’idah, 2009).
Selain itu, ada hal yang perlu diketahui yaitu tahap-tahap perkembangan sel somatik menjadi embrio pada kultur jaringan (in vitro) sama seperti secara in vivo (embriogenesis zigotik), yaitu sel – globular – bentuk jantung – bentuk torpedo – bentuk kotiledon – bentuk plantet (anakan/tumbuhan muda).

 

Pelajaran Tentang Pengertian dan Tipe Kultur Jaringan

Pelajaran Tentang Pengertian dan Tipe Kultur Jaringan

Pelajaran Tentang Pengertian dan Tipe Kultur Jaringan

Tipe – Tipe Kultur Jaringan

  • Kultur Biji (Seed Culture), merupakan budidaya yang bahan tanamnya menggunakan biji atau sedding.
  • Kultur Organ (Organ Culture), merupakan budidaya yang bahan tanamnya menggunakan organ. Seperti ujung akar, pucuk aksilar, tangkai daun, helaian daun, bunga dan lain-lain.
  • Kultur Kalus (Callus Culture), merupakan kultur yang menggunakan jaringan. Biasanya berupa jaringan parenkim sebagai bahan eksplannya.
  • Kultur Suspensi Sel (Suspension Culture), merupakan kultur yang menggunakan media cair dengan pengocokan yang terus menerus menggunakan shaker dan menggunakan sel sebagai bahan eksplannya. Biasanya eksplan yang digunakan berupa kalus atau jaringan meristem.
  • Kultur Protoplasma, eksplan yang digunakan adalah sel yang telah dilepas bagian dinding selnya menggunakan bantuan enzim. Protoplas diletakan pada media padat dibiarkan agar membelah diri dan membentuk dinding selnya kembali. Kultur protoplas biasanya untuk keperluan hibridisasi somatic atau fusi sel soma (fusi 2 protoplas baik intraspesifik maupun interspesifik).

Tipe Kultur Jaringan – Kultur Haploid, merupakan kultur yang berasal dari bagian reproduktif tanaman yakni kepala sari, serbuk sari, ovule, sehingga dapat dihasilkan tanaman haploid

Pengertian Kultur Jaringan

Tipe Kultur Jaringan
Tipe Kultur Jaringan

Tipe Kultur Jaringan – Teknik kultur jaringan memanfaatkan prinsip perbanyakan tumbuhan secara vegetatif. Berbeda dari teknik perbanyakan tumbuhan secara konvensional, teknik kultur jaringan dilakukan dalam kondisi aseptik di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu. Karena itu teknik ini sering kali disebut kultur in vitro. Dikatakan in vitro (bahasa Latin), berarti “di dalam kaca” karena jaringan tersebut dibiakkan di dalam botol kultur dengan medium dan kondisi tertentu.

Kultur jaringan adalah usaha perbanyakan tanaman secara vegetatif buatan dengan memanfaatkan sifat totipotensi pada jaringan. Totipotesi adalah kemampuan setiap sel, dari mana saja sel tersebut diambil, apabila diletakan dalam lingkungan yang sesuai akan dapat tumbuh menjadi tanaman yang sempurna. Kultur jaringan dilakukan dengan cara menumbuhkan sebagian jaringan tanaman pada media tumbuh menjadi tanaman sempurna. Teknik ini dapat menghasilkan banyak tanaman baru dalam waktu singkat dengan sifat dan kualitas yang sama dengan induknya. Dasar dari kultur jaringan ini adalah setiap sel atau jaringan hidup dari bagian mana pun memiliki kemampuan menumbuhkan seluruh bagian tubuh secara lengkap, dan hal ini terjadi bila sel atau jaringan tersebut ditumbuhkan pada media yang cocok, karena setiap sel hidup memiliki informasi genetic yang lengkap, sama seperti zigot ketika pertama kali dibentuk dari penggabungan dua gamet. Dan media yang digunakan untuk kultur jaringan harus dilakukan dalam kondisi steril pada media yang mengandung unsur makro, unsur mikro, sumber karbohidrat, zat pengatur juga ditambahkan yang terdiri atas campuran berbagai garam mineral, asam amino, vitamin. Metode kultur jaringan dikembangkan untuk membantu memperbanyak tanaman, khususnya untuk tanaman yang sulit dikembangbiakkan secara generatif. Bibit yang dihasilkan dari kultur jaringan mempunyai beberapa keunggulan, antara lain: mempunyai sifat yang identik dengan induknya, dapat diperbanyak dalam jumlah yang besar sehingga  tidak terlalu membutuhkan tempat yang luas, mampu menghasilkan bibit dengan jumlah besar dalam waktu yang singkat, kesehatan dan mutu bibit lebih terjamin, kecepatan tumbuh bibit lebih cepat dibandingkan dengan perbanyakan konvensional.

Ada beberapa tipe jaringan yang digunakan sebagai eksplan dalam pengerjaan kultur jaringan.Pertama adalah jaringan muda yang belum mengalami diferensiasi dan masih aktif membelah (meristematik) sehingga memiliki kemampuan regenerasi yang tinggi.Jaringan tipe pertama ini biasa ditemukan pada tunas apikal, tunas aksiler, bagian tepi daun, ujung akar, maupun kambium batang.