Teknik Budidaya Tanaman Sayuran

Teknik Budidaya Tanaman Sayuran

Teknik Budidaya Tanaman Sayuran

Teknik budidaya mempunyai peranan penting dalam keberhasilan budidaya. Teknik budidaya tanaman sayuran yang tepat dapat memaksimalkan hasil panen. Berikut ini teknik budidaya tanaman sayuran secara umum.

Teknik Budidaya Tanaman Sayuran
Teknik Budidaya Tanaman Sayuran

a. Pembibitan

Hal yang harus diperhatikan saat pembibitan adalah mengetahui syarat benih yang baik. Benih harus bersih dari benda asing, memiliki daya kecambah minimal 80%. Sebelum disemai, benih diberi perlakuan agar pertumbuhan bibit lebih baik. Perlakuan sebelum semai berbeda tiap jenis tanaman. Beberapa benih tanaman membutuhkan perlakuan tertentu sebelum disemai, seperti direndam dengan air, ada pula benih yang dapat langsung disemai atau ditanam di lahan. Selama masa pembibitan, bibit harus mendapat pengairan yang cukup, pemupukan dan pengendalian Organisme pengganggu tanaman (OPT.) Pemindahan bibit perlu memperhatikan cara-cara yang baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak akar tanaman.

b. Pengolahan Tanah

Tanah diolah terlebih dahulu hingga siap tanam. Tanah digemburkan dan diberi perlakuan agar sesuai dengan syarat tumbuh tanaman. Penggemburan tanah dilakukan dengan mencungkil tanah menggunakan cangkul atau garpu.

c. Penanaman

Penanaman dapat dilakukan dengan penyemaian atau tanpa penyemaian. Jarak tanam tiap benih atau bibit perlu diperhatikan agar tanaman memperoleh ruang tumbuh yang seragam dan mudah disiangi. Bibit dapat ditanam dalam larikan atau dalam bedengan.

d. Pemeliharaan

1) Penyiraman dilakukan agar tanah tetap lembap. 2) Penyulaman dilakukan bila ada benih yang mati atau tidak normal. 3) Penyiangan dilakukan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman serta gulma. 4) Pembumbunan dilakukan dengan cara mengumpulkan tanah di daerah barisan sehingga membentuk gundukan. Hal ini dilakukan untuk tanaman yang ditanam di bedengan. 5) Pemupukan harus dilakukan dengan tepat cara, jenis, dosis, dan waktu. 6) Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), harus dilakukan sesuai dengan jenis serangan, dan dosis yang digunakan harus tepat. Penggunaan pestisida dengan bijak harus diperhatikan agar tidak merusak lingkungan. 7) Pemasangan ajir atau turus untuk tanaman sayuran yang tumbuh merambat atau berbatang lemah.

e. Panen

Panen dilakukan pada waktu yang tepat sehingga hasil panen memiliki kualitas yang baik. Perhatikan ciri dan umur panen. Panen biasa dilakukan secara manual. Perlu kehati-hatian saat melakukan panen sehingga kualitas hasil panen tetap terjaga.

f. Pascapanen

Perlakuan pascapanen perlu diperhatikan agar kualitas produk tetap terjaga. Tanaman sayuran memiliki kadar air yang tinggi sehingga mudah rusak atau busuk. Berikut tahapan pascapanen: 1) pengumpulan hasil panen 2) penyortiran dan penggolongan berdasarkan ukuran dan umur tanaman 3) penyimpanan hasil panen di tempat yang bersih dengan kadar air tertentu Kamu telah mempelajari jenis, sarana produksi, dan teknik budidaya tanaman sayuran secara umum. Hal itu dapat kamu gunakan sebagai acuan untuk observasi dan wawancara ke tempat budidaya tanaman sayuran. Lakukan observasi dan wawancara dengan penuh rasa ingin tahu.

Observasi & Wawancara

1. Kunjungi tempat budidaya tanaman sayuran. Kemudian amati. 2. Wawancara petani tanaman sayuran dan tanyakan hal-hal berikut. a. Apa jenis tanaman sayuran yang dibudidayakan? b. Apa sarana produksi (bahan dan alat) yang diperlukan? c. Bagaimana memilih bahan yang baik? d.Bagaimana teknik budidaya yang dilakukan mulai pemilihan bibit sampai pascapanen? e. Apa kesulitan atau tantangan yang dihadapi dalam melaksanakan budidaya? f. Apa keunggulan tanaman sayuran yang dibudidayakan? 3. Jika tidak ada tempat budidaya di lingkunganmu, carilah informasi dari buku sumber atau media lain! 4. Saat melakukan observasi dan wawancara hendaknya kamu bersikap ramah, bicara sopan, bekerja sama, dan toleransi dengan teman kelompokmu. 5. Tulislah laporan hasil observasimu. Sertakan gambar untuk visualisasinya. (Lihat LK-3) 6. Presentasikan di depan kelas!

Penerapan Teknik Ramah Lingkungan

Penerapan Teknik Ramah Lingkungan

Penerapan Teknik Ramah Lingkungan

Penerapan Teknik Ramah Lingkungan
Penerapan Teknik Ramah Lingkungan

Penerapan teknik ramah lingkungan pada industri dapat dimulai dengan hal-hal yang mudah dan tidak memerlukan biaya investasi dan secara bertahap dikembangkan sesuai dengan kesiapan perusahaan. Secara garis besar, pilihan penerapan industri ramah lingkungan dapat dikelompokkan dalam 5 (lima) bagian yaitu:

1. Perubahan bahan baku 1.1. Mengurangi atau menghilangkan bahan baku yang mengandung bahan berbahaya dan beracun seperti logam berat, zat pewarna, pelarut. 1.2. Menggunakan bahan baku yang berkualitas dan murni untuk menghindari kontaminasi dalam proses produksi. 1.3. Menggunakan bahan-bahan daur ulang untuk menciptakan pasar bagi bahan-bahan daur ulang.

2. Tata cara operasi dan housekeeping 2.1. Tindakan pencegahan kehilangan bahan baku, produk ataupun energi dari pemborosan, kebocoran dan tercecer dengan cara memasang bendungan/dike untuk menampung tumpahan dari tangki, memasang safety valve, perancangan tangki yang sesuai dan mendeteksi kebocoran. 2.2. Penanganan bahan untuk mengurangi kehilangan bahan akibat kesalahan penanganan seperti bahan telah kadaluarsa. 2.3. Penjadwalan produksi dapat membantu mencegah pemborosan energi, bahan dan air. 2.4. Melakukan koordinasi pengelolaan limbah. 2.5. Memisahkan atau segregasi limbah menurut jenisnya untuk memudahkan pengelolaan kerugian akibat kerusakan peralatan dan mesin.

2.6. Mengembangkan tata cara penanganan dan inventarisasi bahan baku, energi, air, produk dan peralatan.

3. Penggunaan kembali 3.1. Menggunakan kembali sisa air proses, air pendingin, dan bahan lainnya di dalam atau di luar sistem produksi. 3.2. Mengambil kembali bahan buangan sebagai energi. 3.3. Menciptakan kegunaan limbah sebagai produk lain yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar.

4. Perubahan teknologi 4.1. Merubah peralatan, tata letak dan perpipaan untuk memperbaiki aliran proses produksi dan meningkatkan efisiensi. 4.2. Memperbaiki kondisi proses seperti suhu, waktu tinggal, laju aliran, dan tekanan sehingga meningkatkan kualitas produk dan mengurangi jumlah limbah. 4.3. Menghindari penggunaan bahan-bahan B3 (bahan beracun dan berbahaya). 4.4. Menggunakan atau mengatur peralatan seperti motor dan pompa yang lebih hemat energi. 4.5. Menerapkan sistem otomatisasi dapat menghasilkan perbaikan monitoring dan pengaturan parameter operasi untuk menjamin tingkat efisiensi yang tinggi.

5. Perubahan produk 5.1. Merubah formulasi produk untuk mengurangi dampak kesehatan bagi konsumen. 5.2. Merubah bahan pengemasan untuk mengurangi dampak lingkungan. 5.3. Mengurangi kemasan yang tidak perlu.

Teknologi Ramah Lingkungan

Untuk melestarikan lingkungan hidup kita perlu adanya penghematan dan penggunaan bahan-bahan bakar yang dapat mengganti bahan bakar yang terbuat dari fosil, sudah cukup banyak bahan bakar pengganti dari bahan-bahan yang alami yang telah ditemukan, hanya saja penggunaannya belum banyak meluas. Masalah lingkungan hidup terasa semakin berat ketika kita berhadapan dengan kemajuan teknologi yang diiringi perilaku konsumtif dari sebagian masyarakat. Kita bisa lihat bagaimana cepatnya perkembangan ponsel, notebook dan netbook di pasaran. Dalam waktu yang singkat kita bisa melihat beragam model terbaru dengan menawarkan fitur-fitur terkini. Jika pasar dibanjiri oleh produk-produk baru, bagaimana dengan nasib ponsel, notebook dan netbook yang lama? Sebagian dari kita mungkin akan membuangnya begitu saja dan perilaku seperti itulah yang menjadi masalah baru dalam upaya melestarikan lingkungan hidup.

Penerapan Teknik Ramah Lingkungan
Penerapan Teknik Ramah Lingkungan

BEBERAPA TEKNOLOGI RAMAH LINGKUNGAN DI INDONESIA

1. Salah satu teknologi ramah lingkungan adalah Biogas. Biogas adalah gas mudah terbakar (flammable) yang dihasilkan dari proses fermentasi bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerob (bakteri yang hidup dalam kondisi kedap udara). Pada umumnya semua jenis bahan organik bisa diproses untuk menghasilkan biogas, namun demikian hanya bahan organik (padat, cair) homogen seperti kotoran dan urine (air kencing) hewan ternak yang cocok untuk sistem biogas sederhana. Disamping itu juga sangat mungkin menyatukan saluran pembuangan di kamar mandi atau WC ke dalam sistem Biogas.

Di daerah yang banyak industri pemrosesan makanan antara lain tahu, tempe, ikan pindang atau brem bisa menyatukan saluran limbahnya kedalam sistem Biogas, sehingga limbah industri tersebut tidak mencemari lingkungan di sekitarnya.

Hal ini memungkinkan karena limbah industri tersebut di atas berasal dari bahan organik yang homogen. Jenis bahan organik yang diproses sangat mempengaruhi produktifitas sistem biogas disamping parameter-parameter lain seperti temperatur digester, pH, tekanan dan kelembaban udara. Salah satu cara menentukan bahan organik yang sesuai untuk menjadi bahan masukan sistem Biogas adalah dengan mengetahui perbandingan Karbon (C) dan Nitrogen (N) atau disebut rasio C/N.

2. Biopori atau yang biasa disebut dengan Teknologi Lubang Resapan Biopori merupakan metode alternatif untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah, selain dengan sumur resapan. Pemanfaatan Biopori ini akan membuat keseimbangan alam terjaga, sampah organik yang sering menimbulkan bau tak sedap dapat tertangani, disamping itu juga dapat menyimpan air untuk musim kemarau. Selain itu kelebihan dari Biopori ini adalah memperkaya kandungan air hujan, karena setelah diresapkan kedalam tanah lewat Biopori yang mengandung lumpur dan bakteri, air akan melarutkan dan mengandung mineralmineral yang diperlukan oleh kehidupan. Adapun tujuan Lubang Resapan Biopori (LRB) ini adalah agar air masuk sebanyak mungkin keda-lam tanah.

Kelebihan LRB lainnya adalah selain sederhana, alat ini sangat mudah digunakan oleh kaum perempuan. Selain itu 10 manfaat dari LRB ini antara lain adalah memelihara cacing tanah; mencegah terjadinya keamblesan (subsidence) dan keretakan tanah; menghambat intrusi air laut; mengu-bah sampah organik menjadi kompos; meningkatkan kesuburan tanah; menjaga keanekaragaman hayati dalam tanah; mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh adanya genangan air seperti Demam Berdarah, Malaria, Kaki Gajah, (mengurangi masalah pembuangan sampah yang mengakibatkan pencemaran udara dan perairan); mengurangi emisi gas rumah kaca (CO2 dan metan); serta mengurangi banjir, longsor dan kekeringan.

3. Energi alternatif biofuel yang dapat diperbarui dapat memperkuat ketersediaan bahan bakar. Karenanya untuk mengembangkan bahan bakar tipe ini perlu kerja sama yang harmonis dari semua pihak, termasuk pemerintah, industri otomotif dan swasta. Ada dua macam jenis biofuel yang bisa dikembangkan yaitu, etanol dan biodiesel. Etanol berasal dari alkohol yang strukturnya sama dengan bir atau minuman anggur. Untuk membuat alkohol dilakukan melalui proses fermentasi dari bahan baku tumbuhan yang mengandung karbohidrat tinggi, seperti ketela pohon. Etanol dipergunakan untuk menggerakkan mesin berbahan bakar bensin.Khusus untuk mesin diesel, bisa mempergunakan bahan bakar jenis biodiesel. Diproduksi dari dari senyawa kimia bernama alkil ester yang bisa diperoleh dari lemak nabati. Bahan ester ini memiliki komposisi yang sama dengan bahan bakar diesel solar, bahkan lebih baik nilai C-etananya dibandingkan solar. Sebagai bahan bakar cair, biodiesel sangat mudah digunakan dan dapat langsung dimasukkan ke dalam mesin diesel tanpa perlu memodifikasi mesin. Selain itu, dapat dicampur dengan solar untuk menghasilkan campuran biodiesel yang memiliki C-etana lebih tinggi. Biodieselpun sudah terbukti ramah lingkungan karena tidak mengandung sulfur. Menggunakan biodiesel dapat menjadi solusi bagi Negara Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar solar sebesar 39,7%.

4. Fenomena alam sering menjadi inspirasi bagi peneliti untuk menciptakan teknologi ramah lingkungan. Biopulping adalah salah satunya yang meniru proses mikroorganisme pada proses pelapukan untuk digunakan dalam tingkat industri. Alam sering memberi ide cemerlang bagi hidup manusia dari proses pelapukan kayu, ranting, daun atau lainnya. Saat bahan-bahan itu melebur, terjadi pembusukan yang membuatnya hancur bersama alam. Tak ada sampah atau limbah. Bila ditelaah lebih detail, proses tersebut dimotori oleh mikroorganisme. Mikroorganisma yang terdiri atas sejumlah mikroba membantu proses pelapukan sehingga sampah alam itu terurai, kembali menjadi tanah berupa humus. Hasil kerja mikroorganisma yang sempurna tak menghasilkan polusi tersebut memberi inspirasi pada para ilmuwan kita untuk memanfaatkannya dalam sektor industri. Industri kertas dan pulp terkenal dengan limbahnya yang sulit diatasi. Limbah ini berasal dari bahan kimia seperti soda api, sulfit dan garam sulfida dalam proses penghilangan kandungan lignin. Bahan kimia inilah yang dianggap sebagai sumber pencemaran lingkungan. Proses penggunaan sulfur mencemari udara dan sudah dilarang di sejumlah negara maju seperti Jerman. Pengolahan pulp yang ideal adalah biopulping, yakni mengolah pulp dengan menggunakan bantuan mikroba. Manfaat biopulping yang menonjol adalah penghematan energi dan pengurangan pemakaian bahan kimia. Proses pembuatan bubur kayu alias pulp dan kertas biasa dilakukan dengan memasak serpihan kayu, jerami atau ampas tebu. Semuanya menggunakan bahan kimia. Tujuan proses ini untuk memisahkan komponen lignin. Dalam biopulping, bahan-bahan kimia tadi digantikan oleh sejenis mikroba yang bisa mengeluarkan enzim dan mendegradasi lignin. Mikroba ini adalah golongan jamur atau fungi pelapuk kayu yang banyak dijumpai di alam bebas. Bahan pemutih kertas yang selama ini menggunakan bahan kimia seperti klorit dan hidrogen peroksida dapat digantikan dengan enzim-enzim yang dikeluarkan oleh fungi pelapuk. Beberapa enzim yang sangat dikenal untuk menguraikan lignin adalah manganese peroksidase, laccase dan lignin peroksidase.

5. Masih banyak teknologi ramah lingkungan yang lain yang dapat dilakukan manusia dalam upaya penghematan bahan bakar dari minyak mentah bumi). Bagaimana dengan industri yang belum menerapkan teknologi ramah lingkungan seperti industri baterai kering merupakan salah satu jenis produk yang dalam proses produksinya menghasilkan limbah, baik itu limbah yang berkategori Bahan berbahaya dan beracun (B3) ataupun limbah Non B3? Balai Besar Bahan dan Barang teknik (B4T) telah melakukan pertemuan dengan pihak terkait guna membahas “Panduan Penerapan Teknologi Ramah Lingkungan pada Industri Baterai Kering”. Panduan ini merupakan referensi dan arahan bagi industri baterai kering dalam aplikasi teknologi ramah lingkungan, guna meminimalkan dampak lingkungan dari kegiatannya, melalui pemilihan dan modifikasi proses dan peralatan disertai dengan pengingkatan effisiensi penggunaan bahan dan energibaterai kering. Dalam menjalankan proses produksi, industri tersebut wajib menerapkan produksi bersih untuk meminimalisasi dan mengendalikan limbah yang terbentuk. Dapat dilakukan dengan dua cara.

a. Mengurangi jumlah bahan berbahaya dan beracun, dilakukan dengan pengendalian bahan baku, proses produksi,dll.

b. Mengendalikan proses produksi seefisien mungkin, baik dalam pemakaian energi ataupun bahan baku,yang berdampak pada biaya operasional dan kualitas produk.

 

Pelajaran Tentang Teknik dan Unsur Interpretasi Citra

Pelajaran Tentang Teknik dan Unsur Interpretasi Citra

Pelajaran Tentang Teknik dan Unsur Interpretasi Citra

Unsur Interpretasi Citra
Unsur Interpretasi Citra

Unsur Interpretasi Citra

a. Teknik Interpretasi

Unsur Interpretasi Citra – Data yang tergambar pada citra harus diinterpretasi supaya dapat memberikan informasi yang baik mengenai objek yang ada pada citra. Interpretasi citra penginderaan jauh dapat dilakukan dengan teknik langsung dan tidak langsung.

1) Teknik Langsung, yaitu interpretasi objek yang nampak pada citra dan secara langsung diidentifikasi batas-batas objek yang berbeda. Misalnya pemukiman, sawah, danau dan sebagainya.

2) Teknik Tidak Langsung, yaitu interpretasi objek yang tidak nampak pada citra, tetapi dalam interpretasinya mengasosiasikan dengan objek yang nampak. Misalnya menentukan adanya patahan, hal ini dapat ditentukan berdasarkan adanya kenampakan gawir curam yang lurus memanjang.

Unsur Interpretasi Citra – Karena biasanya, zona patahan berasosiasi dengan kelurusan gawir. Kegiatan pengenalan objek yang nampak pada citra dapat dilakukan dengan tahapan-tahapan berikut.

1) Deteksi, yaitu pengamatan atas adanya suatu objek. Misalnya ada kenampakan objek memanjang yang memberikan gambaran mengenai sungai, kemudian ada juga kenampakan yang hampir sama dengan sungai, tetapi bukan tubuh air, contohnya adalah jalan.

2) Identifikasi, yaitu upaya mencirikan objek yang telah dideteksi dengan menggunakan keterangan yang cukup, seperti bentuk, ukuran dan letak objek hasil deteksi. Contohnya adanya dua objek di tengah sawah ditafsirkan sebagai dua orang petani.

3) Interpretasi, yaitu tahap mengumpulkan informasi yang terdapat pada citra, dengan menyimpulkan isi objek yang diamati. Misalnya adanya 2 orang petani yang berada di sawah yang berair diinterpretasikan sedang menanam padi. Berarti pada waktu pemotretan adalah pada musim tanam.

b. Unsur-unsur Interpretasi Penginderaan Jauh

Unsur Interpretasi Citra – Pada kegiatan interpretasi citra, digunakan unsur-unsur yang sesuai dengan kenampakan citra dan ciri-ciri objek di lapangan.

Berikut ini akan diuraikan tentang kaitan unsur interpretasi dengan sejumlah identifikasi objek.

1) Rona dan Warna Rona

Unsur Interpretasi Citra – Ialah tingkat kegelapan atau kecerahan objek pada citra. Gelap dan cerahnya suatu objek pada citra tergantung pada spektrum yang dipantulkan oleh objek pada sensor. Pada foto udara pankromatik (menggunakan panjang gelombang 0,4 – 0,7 mm, tingkatan ronanya adalah gelap, sedang, dan cerah).

Kenampakan pada citra dipengaruhi oleh banyak faktor, yaitu sebagai berikut.

a. Permukaan kasar cenderung menimbulkan rona gelap pada foto karena adanya hamburan sinar.

b. Warna objek yang gelap cenderung menimbulkan rona gelap. c. Objek yang basah atau lembab cenderung menimbulkan rona gelap. d. Pantulan objek air tampak gelap, tetapi agak cerah jika dangkal, deras, keruh atau gabungan ketiganya. e. Batuan kapur tampak cerah. f. Tanaman karet, bakau, dan sagu tampak gelap. g. Tanaman berdaun lembut, seperti beringin dan rumput umumnya tampak cerah pada foto inframerah.

2) Bentuk

Unsur Interpretasi Citra – Bentuk merupakan variabel kualitatif yang memberikan konfigurasi atau kerangka suatu objek. Bentuk merupakan atribut yang jelas sehingga banyak objek yang dapat dikenali berdasarkan bentuknya saja. Contoh pengenalan objek berdasarkan bentuk adalah sebagai berikut. a. Lapangan bola tampak persegi panjang dan di tepiannya tampak gawang. b. Gedung sekolah pada umumnya berbentuk L, U, atau I. c. Tajuk pohon palma berbentuk bintang, tajuk pohon pinus berbentuk runcing, dan tajuk bambu seperti bulu-bulu. d. Gunung api berbentuk kerucut. e. Bentuk kipas aluvial seperti segitiga yang alasnya cembung. f. Bekas meander sungai yang terpotong dapat dikenali dari bentuk-bentuk tapal kuda.

3) Ukuran

Unsur Interpretasi Citra – Ukuran adalah atribut objek yang berupa jarak, luas, tinggi, lereng, dan volume. Contoh pengenalan objek berdasarkan ukuran sebagai berikut. a. Lapangan olahraga selain dicirikan bentuk segi empat tetapi juga dicirikan ukurannya 80 m x 100 m (lapangan sepak bola) dan 15 m x 30 m (lapangan tenis). b. Nilai kayu selain dapat ditentukan jenis kayunya juga dapat ditentukan volumenya. Volume kayu dapat ditaksir berdasarkan tinggi pohon, luas hutan, kepadatan, dan diameter batang pohon. c. Ukuran rumah dapat dibedakan dengan kantor dan pabrik.

4) Tekstur

Tekstur adalah frekuensi perubahan rona pada citra. Tekstur sering dinyatakan dengan kasar, sedang, halus, dan belangbelang. Contoh pengenalan objek berdasarkan tekstur sebagai berikut. a. Hutan bertekstur kasar. b. Belukar bertekstur sedang. c. Semak bertekstur halus. d. Tanaman padi bertekstur halus. e. Tanaman tebu bertekstur sedang. f. Tanaman pekarangan bertekstur kasar. g. Permukaan air bertekstur halus.

5) Pola

Pola atau susunan keruangan merupakan ciri yang menandai bagi banyak objek bentukan manusia dan beberapa objek alamiah. Contoh pengenalan objek berdasarkan pola yaitu sebagai berikut. a. Pola aliran sungai sering menandai struktur geologi, batuan, dan jenis tanah. Pola aliran trelis menandai stuktur lipatan, pola aliran paralel menandakan topografi daerah tersebut miring. b. Permukiman sering memberikan pola yang teratur, seperti memanjang sesuai dengan orientasi jalan atau sungai.

6) Bayangan

Bayangan objek dapat dijadikan kunci pengenalan objek yang tampak. Selain itu, untuk foto udara yang dilakukan dari pesawat terbang akan menjadi acuan penentuan arah (orientasi foto).

Karena pemotretan biasa dilakukan pada jam 9 – 10 siang, maka bayangan akan berada di barat, sehingga arah lain akan dapat ditentukan. Contohnya bayangan objek yang mudah dikenali antara lain menara, bak air yang dipasang tinggi, tembok stadion, lereng terjal tampak lebih jelas dengan adanya bayangan.

Situs

Situs adalah tempat kedudukan suatu objek terhadap objek lain di sekitarnya. Situs bukan merupakaan ciri objek secara langsung melainkan dalam kaitannya dengan lingkungan sekitarnya. Contohnya pesawahan yang berada pada daerah dataran dan pemukiman penduduk biasanya memanjang mengikuti jalan atau sungai. Atau sungai-sungai yang bercabang dan endapannya di tepi pantai menunjukkan sebuah endapan delta.

Asosiasi

Asosiasi dapat diartikan sebagai keterikatan antara objek yang satu dan objek yang lain. Oleh karena itu, dapat dijadikan petunjuk bagi adanya objek lain. Contohnya daerah pemukiman biasanya dekat dengan jalan atau sungai. Alat untuk memudahkan interpretasi citra foto adalah citra pengamat. Alat pengamat terdiri atas non stereoskopik dan stereoskopik. 1. Alat pengamat non stereoskopik, seperti lensa pembesar (loop) dan alat pengamat warna aditif, meja sinar, pengamat optik dan elektronik. 2. Alat pengamat stereoskopik dapat digunakan untuk pengamatan tiga dimensional atau foto udara yang bertampalan. Alat macam ini yaitu lensa, stereoskopik mikroskopik.