Menghubungkan Contoh Isi Puisi dengan Kenyataan

Menghubungkan Contoh Isi Puisi dengan Kenyataan

Menghubungkan Contoh Isi Puisi dengan Kenyataan

Contoh Isi Puisi
Contoh Isi Puisi

Contoh Isi Puisi – Setiap hari kemerdekaan, Anda tentu sering mendengar teks Proklamasi dibacakan oleh Ir. Soekarno. Inginkah Anda menjadi pembicara andal seperti beliau? Melalui pidato ataupun tulisannya, beliau mampu membuat banyak perubahan. Anda juga berkesempatan untuk melakukan hal itu. Dalam kehidupan bermasyarakat, Anda tentu sering mengikuti berbagai kegiatan. Di antara sekian banyak kegiatan tersebut, ada beberapa kegiatan yang memerlukan pidato. Oleh karena itulah, dalam pelajaran ini Anda akan memahami pidato agar dapat diaplikasikan dalam kehidupan. Jadi, Anda telah memiliki bekal berpidato. Kehidupan bermasyarakat pun merupakan salah satu unsur yang dapat dihubungkan dengan puisi karena puisi merepresentasikan hidup masyarakat. Di samping kehidupan masyarakat, ada hal lain yang terkandung dalam puisi, yakni realitas alam dan sosial budaya. Ketiga hal tersebut dapat disarikan menjadi pengalaman hidup yang akan dituangkan ke dalam suatu karangan. Dengan demikian, Anda dapat membuat karangan berdasarkan pengalaman hidup orang lain. Mungkin saja suatu saat nanti karangan tersebut dapat menjadi buku yang memberikan inspirasi bagi orang lain.

Contoh Isi Puisi

Menghubungkan Isi Puisi dengan Kenyataan

Dalam subbagian 11A, Anda telah belajar membahas puisi. Dalam membahas puisi, sebaiknya Anda juga memperhatikan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat yang menjadi konteks penulisan puisi tersebut. Oleh karena itu, kali ini belajar menghubungkan isi puisi dengan realitas alam, sosial budaya, dan masyarakat. Dengan demikian, Anda akan mampu memaknai puisi dengan lebih luas. Akhirnya, Anda pun akan lebih menghayati setiap puisi.

Latar Belakang Sosial-Budaya Pemahaman puisi tidak dapat dilepaskan dari latar belakang kemasyarakatan dan budayanya. Untuk dapat memberikan makna sepenuhnya kepada sebuah sajak, selain dianalisis struktur intrinsiknya (secara struktural) dan dihubungkan dengan kerangka kesejarahannya, analisis tidak dapat dilepaskan dari kerangka sosialbudayanya (Teeuw, 1983: 61–62). Karya sastra mencerminkan masyarakatnya dan dipersiapkan oleh keadaan masyarakat dan kekuatan-kekuatan pada zaman tertentu (Abrams, 1981:178) mengingat bahwa sastrawan itu adalah anggota masyarakat. Seorang penyair tidak dapat lepas dari pengaruh sosial-budaya masyarakatnya. Latar sosial-budaya itu terwujud dalam tokoh-tokoh yang dikemukakan, sistem kemasyarakatan, adat-istiadat, pandangan masyarakat, kesenian, dan benda-benda kebudayaan yang terungkap dalam suatu karya sastra. Penyair Indonesia berasal dari bermacam-macam, sesuai dengan jumlah suku bangsa Indonesia. Dengan demikian, ada latar sosialbudaya Sulawesi, Kalimantan, Aceh, Batak, Minangkabau, Melayu, Sunda, Jawa, Bali, Madura, dan sebagainya. Untuk memahami dan memberi makna sajak yang ditulis oleh penyair Sunda, Bali, Jawa, dan sebagainya diperlukan pengetahuan tentang latar sosialbudaya yang melatarinya. Misalnya, untuk memahami sajak-sajak Linus Suryadi yang berlatar budaya wayang, begitu juga sebagian sajak Subagio Sastrowardojo, pembaca harus memiliki pengetahuan tentang wayang. Beberapa sajak Subagio Sastrowardojo yang termuat dalam Keroncong Motinggo, adalah “Kayon”, “Wayang”, “Bima”, “Kayal Arjuna”, dan “Asmaradana”. Dalam pembuatannya, diperlukan pengetahuan tentang wayang dan cerita wayang. Dalam “Asmaradana” diceritakan episode cerita Ramayana. Asmaradana adalah nama sebuah tembang Jawa yang dipergunakan untuk menceritakan percintaan atau berisi percintaan. Sita dibakar untuk membuktikan kesuciannya. Ia belum terjamah oleh Rahwana yang menculiknya dari Rama. Namun, dalam sajak “Asmaradana” ini cerita diubah oleh Subagio, yaitu Sita memang melakukan sanggama dengan raksasa (Rahwana) yang melarikannya. Hal ini dilakukan untuk mengemukakan pandangan atau pendapat penyair sendiri bahwa manusia itu tidak dapat terlepas dari nalurinya. Dalam cerita Ramayana (wayang), Sita tidak terbakar di api suci. Ini membuktikan kesuciannya. Perhatikan sajak Subagio Sastrowardoyo berikut.

Contoh Isi Puisi – Asmaradana Sita di tengah nyala api tidak menyangkal betapa indahnya cinta berahi Raksasa yang melarikannya ke hutan begitu lebat bulu jantannya dan Sita menyerahkan diri Dewa tak melindunginya dari neraka tapi Sita tak merasa berlaku dosa sekedar menurutkan naluri Pada geliat sekarat terlompat doa jangan juga hangus dalam api sisa mimpi dari sanggama (1975: 89)

Orang tidak dapat memahami sajak “Asmaradana” itu tanpa pengetahuan wayang atau cerita Ramayana. Cerita itu merupakan episode akhir dari cerita Rama. Sesudah Rama dapat mengalahkan Rahwana dan membunuhnya, Rahwana, Raja Alengka yang mencuri Sita, maka Rama dapat berjumpa kembali dengan Sita isterinya. Akan tetapi, Rama meragukan kesucian Sita, betapapun Sita menyatakan bahwa ia tidak pernah terjamah Rahwana. Untuk membuktikan kesuciannya itu Sita bersedia dibakar, bila terbakar berarti ia pernah dijamah (bersenggama dengan) Rahwana, jika tidak terbakar berarti ia masih tetap suci. Dalam cerita wayang, Sita memang tidak terbakar karena ditolong oleh dewa. Ia memang sungguh masih suci, ia selalu menolak jika dirayu oleh Rahwana. Akan tetapi, dalam sajak “Asmaradana” itu ceritanya dengan sengaja diubah oleh Subagio untuk mengemukakan pikirannya sendiri. Ini menunjukkan kreativitas Subagio sebagai seorang penyair. Untuk menunjukkan pemahaman sajak dengan memerhatikan latar sosial yang mendasarinya, berikut ini adalah sajak karya Darmanto Jt. (1980: 40).

Contoh Isi Puisi – Isteri ~ isteri mesti digemateni ia sumber berkah dan rejeki. (Towikromo, Tambran, Pundong, Bantul) Isteri sangat penting untuk ngurus kita Menyapu pekarangan Memasak di dapur Mencuci di sumur mengirim rantang ke sawah dan ngeroki kita kalau kita masuk angin Ya. Isteri sangat penting untuk kita a sisihan kita, kalau kita pergi kondangan la tetimbangan kita, kalau kita mau jual palawija la teman. belakang kita, kalau kita lapar dan mau makan la sigaraning nyawa kita, kalau kita la sakti kita! Ah. Lihatlah. la menjadi sama penting dengan kerbau, luku, sawah, dan pohon kelapa. la kita cangkul malam hari dan tak pernah ngeluh walau cape la selalu rapi menyimpan benih yang kita tanamkan dengan rasa syukur: tahu terima kasih dan meninggikan harkat kita sebagai lelaki. la selalu memelihara anakanak kita dengan bersungguh-sungguh seperti kita memelihara ayam, itik, kambing, atau jagung. Ah. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya: Seperti lidah ia di mulut kita tak terasa Seperti jantung ia di dada kita tak teraba Ya. Ya. Isteri sangat penting bagi kita justru ketika kita mulai melupakannya. Jadi waspadalah! Tetap. madep, manteb Gemati, nastiti, ngati-ati Supaya kita mandiri – perkasa dan pinter ngatur hidup Tak tergantung tengkulak, pak dukuh, bekel atau lurah Seperti Subadra bagi Arjuna makin jelita ia di antara maru-marunya: Seperti Arimbi bagi Bima jadilah ia jelita ketika melahirkan jabang tetuka; Seperti Sawitri bagi Setyawan la memelihara nyawa kita dari malapetaka. Ah.Ah.Ah Alangkah pentingnya isteri ketika kita mulai melupakannya. Hormatilah isterimu Seperti kau menghormati Dewi Sri Sumber hidupmu. * Makanlah Karena memang demikianlah suratannya! – Towikromo.

Penyair Darmanto Jt. hidup dalam lingkungan sosial-budaya Jawa, maka ia tidak terhindar dari latar kebudayaan Jawa yang berupa cerita-cerita Jawa dan wayang Jawa. Begitu juga ia tidak terhindar dari pandangan hidup masyarakat atau ia akrab dengan pandangan hidup orang Jawa. Semuanya itu tergambar dalam sajak-sajaknya, di antaranya sajak “Isteri” ini. Dalam sajak “Isteri” ini tergambar lingkungan sosial-budaya kehidupan Jawa. Hidup-mati petani itu ditentukan oleh sawah, kerbau, dan alat-alat pertanian, juga ditentukan berhasil atau tidaknya menanam padi. Menurut pandangan petani Jawa, tanaman padi akan subur dan berbuah lebat, serta panenan akan berhasil jika mendapat berkah dan restu Dewi Sri, dewi padi.

Contoh Isi Puisi  – Oleh karena itu, para petani Jawa sangat menghormati dan menjunjung tinggi Dewi Sri. Mereka membuat selamatan dan sesaji untuk mendapatkan berkahnya, yaitu pada waktu mulai menanam padi dan waktu panen. Bagi petani, kerbau dan alat-alat pertanian itu sangat penting bagi kelangsungan hidupnya, bahkan merupakan hidup matinya. Oleh karena itu, isteri yang sangat penting itu “hanya” disamakan dan disejajarkan dengan kerbau. Bagi petani, dipandang dari sudut pandang sosial-budaya pertanian, penyejajaran isteri dengan kerbau itu tidak bermaksud merendahkan kedudukan istri sebab kerbau itu sangat penting, merupakan hidup-matinya pula. Pada umumnya, dalam pandangan sosial-budaya masyarakat Jawa, lebih-lebih di dalam masyarakat petani di desa, kedudukan dan guna isteri itu seperti tergambar dalam bait pertama: menyapu pekarangan, memasak di dapur, mengirim rantang ke sawah, yaitu mengirim makanan dengan rantang pada waktu pak tani bekerja di sawah, dan ngeroki (menggosok-gosokkan uang logam berkali-kali diminyaki kelapa atau balsem sampai kulit punggung dan dada menjadi merah bergaris-garis secara teratur) kalau suami masuk angin. Hal ini sudah merupakan kebiasaan yang turun-temurun. Jadi, yang kelihatannya lucu atau aneh bagi masyarakat atau bangsa lain itu sesungguhnya tidak aneh dan wajar saja. Dengan memahami latar sosial-budaya demikian, orang dapat memahami kesungguhan sajak itu bahwa istri petani itu sangat penting dan cukup terhormat kedudukannya. Bukan hanya sebagai benda kekayaan, pelayan, ataupun budak suami.

Contoh Isi Puisi  – Dengan pengertian demikian, pembaca dapat memberikan penilaian yang tepat terhadap sajak “Isteri” itu. Dalam latar budaya petani Jawa, Dewi Sri itu sangat terhormat seperti telah diuraikan di awal. Jadi, istri petani itu sesungguhnya sangat terhormat karena disamakan penghormatannya terhadap Dewi Sri (bait terakhir): “Hormatilah isterimu seperti kau menghormati Dewi Sri sumber hidupmu”. Di samping itu, isteri juga disamakan dengan Subadra istri Arjuna. Dalam cerita wayang, Arjuna itu banyak istrinya, yang utama adalah Subadra. Subadra itu istri yang lembut hatinya, cantik, dan baik hati. Kepada maru-marunya ia bertindak adil, tidak membenci, penuh kasih sayang hingga marumarunya pun baik kepadanya. Begitu juga jika dibandingkan dengan Arimbi istri Bima, yang melahirkan Bambang Tetuka (Gatotkaca), ia memelihara anaknya dengan penuh kasih sayang. Bahkan, isteri petani juga dibandingkan dengan Sawitri, seorang isteri yang karena cintanya kepada suami, ia memaksa Dewa Yama, dewa maut yang mencabut nyawa Setyawan suaminya. Setyawan sudah sampai takdirnya untuk mati, namun Sawitri tetap meminta kepada Dewa Yama untuk mengembalikan nyawanya. Akhirnya, Yama mengabulkannya, mengembalikan nyawa ke tubuh Setyawan dengan janji bahwa hidup Setyawan itu harus ditebus dengan setengah masa hidup Sawitri sendiri. Dengan demikian, Setyawan hidup kembali dan mereka hidup berbahagia kembali. Dari paparan tersebut, terlihat jelas bahwa latar sosial-budaya masyarakat memang berpengaruh terhadap kesusastraan. Jadi, dapat dikatakan bahwa dalam sebuah karya sastra terdapat cerminan masyarakat yang mewakili zaman tertentu. Hal tersebut dimunculkan oleh pengarang sebagai bentuk reaksinya dalam menanggapi berbagai gejala sosial yang ada pada masanya. Selain itu, melalui karya sastra, pengarang pun mengutarakan kritiknya terhadap zaman.

Membahas Contoh Contoh Isi Puisi dan Pengertian

Membahas Contoh Contoh Isi Puisi dan Pengertian

Membahas Contoh Contoh Isi Puisi dan Pengertian

Contoh Contoh Isi Puisi – Sudah berapa banyak karangan yang Anda tulis selama ini? Bagaimana cara Anda menyampaikan informasi melalui tulisan? Dalam penciptaan karangan, hal yang cukup penting dalam mewujudkan karangan tersebut adalah inspirasi dan gagasan. Salah satu sumber inspirasi tersebut adalah kehidupan diri sendiri. Anda dapat menceritakan berbagai pengalaman hidup ke dalam bentuk karya tulis, misalnya cerpen atau puisi. Pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang tidak ternilai harganya. Dari pengalaman tersebut, tentunya ada banyak pelajaran berharga yang dapat dipetik. Dalam pelajaran ini, Anda akan melakukan analisis isi terhadap puisi. Dari hasil analisis tersebut akan diperoleh sebuah pemaknaan dan penghayatan yang dapat menjadi sumber inspirasi baru. Di samping itu, Anda pun akan berlatih menuangkan gagasan Anda menjadi karangan berbentuk persuasif. Dalam paragraf tersebut, Anda dapat mengutarakan ajakan yang bersifat mempengaruhi orang lain disertai dengan alasan yang kuat. Setiap gagasan yang Anda miliki merupakan sumber inspirasi dalam langkah awal pembuatan karangan. Dengan demikian, kemampuan menulis Anda akan meningkat.

Contoh Contoh Isi Puisi
Contoh Contoh Isi Puisi

Membahas Isi Puisi

Contoh Contoh Isi Puisi- Anda pernah membaca atau mendengarkan puisi? Mudahkah Anda memahami puisi yang Anda baca atau dengar? Jika Anda mampu memahami isi puisi yang Anda dengar atau baca, Anda akan menemukan pengalaman batin. Oleh karena itu, kali ini Anda akan belajar memahami puisi orang lain dengan cara membahasnya. Anda akan menganalisis unsur-unsur yang terkandung dalam puisi. Salah satunya ialah mengenai citraan. Dengan demikian, Anda akan lebih memahami puisi.

Karya puisi mengalami perkembangan sesuai dengan pengaruh yang datang dari Barat. Karya puisi yang saat ini berkembang tidak terikat lagi oleh aturan-aturan penulisan seperti halnya pada penulisan puisi lama. Puncak perubahan secara mendasar dalam puisi terjadi pada Angkatan ’45, terutama dipelopori oleh Chairil Anwar. Ikatan puisi lama sudah ditinggalkan. Kalau puisi lama masih mementingkan bentuk fisik puisi, puisi modern lebih mementingkan makna atau bentuk batin puisi. Berikut contoh puisi karya Chairil Anwar.

Contoh Contoh Isi Puisi- Derai-Derai Cemara cemara menderai sampai jauh terasa hari akan jadi malam ada beberapa dahan di tingkap merapuh dipukul angin yang terpendam aku sekarang orangnya bisa tahan sudah berapa waktu bukan kanak lagi tapi dulu memang ada suatu bahan yang bukan dasar perhitungan kini hidup hanya menunda kekalahan tambah terasing dari cinta sekolah rendah dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan sebelum pada akhirnya kita menyerah 1949

1. Struktur Puisi Puisi terdiri atas dua macam struktur, yaitu: a. Struktur fisik, meliputi: diksi (diction), pencitraan, kata konkret (the concentrate word), majas (figurative language), dan bunyi yang menghasilkan rima dan ritma. b. Struktur batin, meliputi: perasaan (feeling), tema (sense), nada (tone), dan amanat (atention). Pemahaman terhadap unsur-unsur tersebut bukan saja akan bermanfaat untuk mengapresiasi sebuah puisi, melainkan juga ketika kamu akan menulis puisi. Kesatuan dan kepaduan struktur tersebut dapat melahirkan karya puisi yang memiliki nilai seni dan nilai makna yang tinggi.

2. Citraan dalam Puisi Citraan atau pengimajian adalah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa yang menggambarkannya. Setiap gambar pikiran disebut citra atau imaji (image). Adapun gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai, yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata (indra penglihatan). Jika dilihat dari fungsinya, citraan atau pengimajian lebih cenderung berfungsi untuk mengingatkan kembali apa yang telah dirasakan. Dengan demikian, citraan tidak membuat kesan baru dalam pikiran. Kita akan kesulitan menggambarkan objek atau sesuatu yang disampaikan dalam puisi jika kita belum pernah sama sekali mengalami atau mengetahuinya. Oleh karena itu, kita akan mudah memahami puisi jika memiliki simpanan imaji-imaji yang diperoleh dari pengalamannya. Ada beberapa jenis citraan yang dapat ditimbulkan puisi, yakni sebagai berikut. a. Citraan Penglihatan Citraan penglihatan ditimbulkan oleh indra penglihatan (mata). Citraan ini merupakan jenis yang paling sering digunakan penyair. Citraan penglihatan mampu memberi rangsangan kepada indra penglihatan sehingga hal-hal yang tidak terlihat menjadi seolah-olah terlihat. Contoh citraan penglihatan dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Contoh Contoh Isi Puisi – Perahu Kertas Waktu masih kanak-kanak Kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan. … Karya Sapardi Djoko Damono Sumber: Perahu Kertas, 1991

b. Citraan Pendengaran Citraan pendengaran berhubungan dengan kesan dan gambaran yang diperoleh melalui indra pendengaran (telinga). Citraan ini dapat dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara, misalnya dengan munculnya diksi sunyi, tembang, dendang, suara mengiang, berdentum-dentum, dan sayup-sayup. Contoh citraan pendengaran dapat dilihat dari kutipan puisi berikut.

Penerbangan Terakhir Maka menangislah ruh bayi itu keras-keras Kedua tangan yang alit itu seperti kejang-kejang Kakinya pun menerjang-nerjang Suaranya melengking lalu menghiba-hiba … Karya Taufiq Ismail Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 :Kitab Puisi 2002

c. Citraan Perabaan Citraan perabaan atau citraan tactual adalah citraan yang dapat dirasakan oleh indra peraba (kulit). Pada saat membacakan atau mendengarkan larik-larik puisi, kita dapat menemukan diksi yang menyebabkan kita merasakan rasa nyeri, dingin, atau panas karena perubahan suhu udara. Berikut contoh citraan perabaan dalam puisi.

Blues untuk Bonie … sembari jari-jari galak di gitarnya mencakar dan mencakar menggaruki rasa gatal di sukmanya Karya W.S. Rendra Sumber: Horison Sastra Indonesia 1 : Kitab Puisi 2002

d. Citraan Penciuman Citraan penciuman atau pembauan disebut juga citraan olfactory. Dengan membaca atau mendengar kata-kata tertentu, kita seperti mencium bau sesuatu. Citraan atau pengimajian melalui indra penciuman ini akan memperkuat kesan dan makna sebuah puisi. Perhatikan kutipan puisi berikut yang menggunakan citraan penciuman.

Contoh Contoh Isi Puisi – Pemandangan Senjakala Senja yang basah meredakan hutan terbakar Kelelawar-kelelawar raksasa datang dari langit kelabu tua Bau mesiu di udara, Bau mayat. Bau kotoran kuda. … Karya W.S. Rendra Sumber: Horison Sastra Indonesia 1: Kitab Puisi 2002

e. Citraan Pencicipan atau Pencecapan Citraan pencicipan disebut juga citraan gustatory, yakni citraan yang muncul dari puisi sehingga kita seakan-akan mencicipi suatu benda yang menimbulkan rasa asin, pahit, asam, manis, atau pedas. Berikut contoh larik-larik puisi yang menimbulkan citraan pencicipan atau pencecapan

Pembicaraan Hari mekar dan bercahaya: yang ada hanya sorga. Neraka adalah rasa pahit di mulut waktu bangun pagi Karya Subagio Sastrowardojo

f. Citraan Gerak Dalam larik-larik puisi, kamu pun dapat menemukan citraan gerak atau kinestetik. Yang dimaksud citraan gerak adalah gerak tubuh atau otot yang menyebabkan kita merasakan atau melihat gerakan tersebut. Munculnya citraan gerak membuat gambaran puisi menjadi lebih dinamis. Berikut contoh citraan gerak dalam puisi.

Mimpi Pulang … Di sini aku berdiri, berteman angin Daun-daun cokelat berguguran Meninggalkan ranting pohon oak yang meranggas Dingin mulai mengigit telingaku Kuperpanjang langkah kakiku Menyusuri trotoar yang seperti tak berujung Di antara beton-beton tua yang tidak ramah mengawasiku Gelap mulai merayap menyusul langkah kakiku Ah, Gott sei dank! di sana masih ada burung-burung putih itu Aku bagaikan pohon oak Ditemani angin musim gugur yang masih tersisa … Karya Nuning Damayanti Sumber: Bunga yang Terserak, 2003

3. Perasaan dalam Puisi Puisi menggungkapkan perasaan penyair. Nada dan perasaan penyair akan dapat kita tangkap kalau puisi itu dibaca keras dalam pembacaan puisi atau deklamasi. Membaca puisi atau mendengarkan pembacaan puisi dengan suara keras akan lebih membantu kita menemukan perasaan penyair yang melatarbelakangi terciptanya puisi tersebut. Perasaan yang menjiwai puisi bisa perasaan gembira, sedih, terharu, terasing, tersinggung, patah hati, sombong, tercekam, cemburu, kesepian, takut, dan menyesal. Perasaan sedih yang mendalam diungkapkan oleh Chairil Anwar dalam “Senja di Pelabuhan Kecil”, J.E. Tatengkeng dalam “Anakku “, Agnes Sri Hartini dalam “Selamat Jalan Anakku”, dan Rendra dalam Orang-Orang Rangkas Bitung”.

Contoh Contoh Isi Puisi – Uji Materi

1. Mintalah puisi “Derai-Derai Cemara” dibaca oleh salah seorang teman atau guru Anda. 2. Anda dan teman-teman yang lain mendengarkan dengan baik. 3. Bahaslah isi puisi tersebut berdasarkan gambaran pengindraan, perasaan, pikiran, dan imajinasi puisi tadi. 4. Diskusikanlah hasilnya bersama teman-teman Anda. 5 Amatilah hasil pekerjaan teman Anda dengan melakukan penilaian berdasarkan tabel penilaian.

Contoh Contoh Isi Puisi Kegiatan Lanjutan

1. Buatlah beberapa kelompok. 2. Setiap kelompok menentukan puisi yang akan dibahas. 3. Bacakanlah puisi tersebut. 4. Kelompok yang lain harus mendengarkannya dan membahas isi puisi tersebut berdasarkan gambaran pengindraan, perasaan, pikiran, dan imajinasi dari puisi tersebut. 5. Amatilah hasil pembahasan kelompok lain tersebut dengan melakukan penilaian berdasarkan format penilaian pada latihan Uji Materi.

Mendengarkan dan Mengungkapkan Contoh Isi Puisi

Mendengarkan dan Mengungkapkan Contoh Isi Puisi

Mendengarkan dan Mengungkapkan Contoh Isi Puisi

Contoh Isi Puisi
Contoh Isi Puisi

Contoh Isi Puisi

Contoh Isi Puisi – Di antara kalian, adakah yang tidak tahu yang dimaksud puisi? Ketika kalian belajar di jenjang SD dan SMP, kalian telah belajar membaca dan menulis puisi. Tentunya, kalian sudah memahami berbagai bentuk dan bahasa puisi. Pada pelajaran kali ini, kalian akan kembali mempelajari bentuk puisi remaja. Tahukah kalian yang dimaksud puisi remaja? Puisi remaja adalah puisi yang mengangkat tema kehidupan remaja dan ditulis oleh remaja.

Cobalah kalian perhatikan puisi remaja berikut!

Contoh Isi Puisi – Generasiku Yanthi Kala mentari bersinar terang Menerangi alam maya Cerah cerianya dunia ini Embun pagi menyejukkan hati Hai remaja! Bangunkanlah jiwamu, segera! Masa depanmu untuk generasi terpuji Langkah maju ke muka, berkarya dan berjasa Isi jiwa sesama manusia Secerah mentari pagi Sinarnya datang Nama bangsa masyhur di penjuru dunia Bangkitkan jiwamu wahai remaja Sambutlah masa depan untuk meraih C I T A … Sumber: Riris K. Toha Sarumpaet. 2002. Apresiasi Puisi Remaja: Catatan Mengolah Cinta. Jakarta: Grasindo

Apakah kalian memahami isi puisi tersebut? Salah satu cara untuk memahami isi puisi tersebut adalah dengan memparafrasakan puisi tersebut. Memparafrasakan puisi adalah mengubah puisi menjadi bentuk cerita. Ada dua cara memparafrasakan puisi. 1. Memparafrasakan puisi dengan menambahkan kata atau kalimat di antara baris puisi. 2. Memparafrasakan puisi dengan langsung menerjemahkan isi puisi ke dalam bentuk cerita. Perhatikan cara memparafrasakan puisi dengan menggunakan cara yang pertama!

Generasiku Yanthi (Aku sedang tertidur nyenyak). (Mana) kala mentari bersinar terang. (Sinarnya) Menerangi alam maya (Aku merasakan) cerah cerianya dunia ini. Embun pagi menyejukkan hati(ku). (Saat aku sedang tertidur itu aku mendengarkan sebuah seruan). (”)Hai(,) remaja! Bangunkanlah jiwamu, segera!(”) (Suara itu terus terngiang di telingaku). (”)Masa depanmu (berguna) untuk generasi terpuji. Langkah (kan) (kakimu) maju ke muka, (untuk) berkarya dan berjasa. Isi (lah) jiwa sesama manusia. (Agar hati mereka) secerah mentari pagi Sinarnya datang (menerangi hati seluruh manusia) (sehingga) Nama bangsa masyhur di penjuru dunia Bangkitkan jiwamu (,) wahai remaja Sambutlah masa depan untuk meraih C I T A (”)

Contoh Isi Puisi – Setelah kalian membaca parafrasa tersebut, kalian dapat memahami isi puisi tersebut secara utuh. Puisi tersebut mengungkapkan seruan kepada seluruh generasi muda untuk bangkit, berjuang, dan berkarya demi meraih cita-cita membentuk generasi terpuji. Cara kedua adalah dengan menyimpulkan garis besar isi puisi tersebut. Puisi ”Generasiku” bercerita tentang semangat yang tumbuh pada diri si Aku untuk meraih cita-citanya. Bagaimana pendapatmu? Apakah kamu memiliki penafsiran yang sama tentang puisi tersebut? Jika penafsiranmu berbeda, kamu tidak perlu takut. Puisi bersifat poliinterpretasi sehingga pembaca bebas menafsirkan isi puisi tersebut

Simaklah dua puisi yang ditulis oleh dua penyair (penulis puisi) dari generasi yang berbeda.

Puisi 1 Renungan Elin S. Bila bulan bisa kupindahkan Aku tak ingin malam Ia mengajak buka lembar dimensi Hingga menutup jendela masa depanku Tanpa pamit Bila matahari bisa kupindahkan Aku mau terang selalu Ia balon gemilang Pemompa semangat kehidupanku Agar dapat Mencapai awan tepis mendung Menggapai nyata kikis duga Mengukir renungan di bingkai langit Betapa kita sebesar debu Di matanya Sumber: Sarumpaet, 2002

Puisi 2 Enigma* Ilham Halimsyah 1/ Begitu lama bunga berguguran membuai musim yang tak henti mengadu pada laut pada gunung pada langit 2/ Barangkali kita telah lama saling mencaci sehingga seringkali lupa warna pelangi 3/ Tak ada garis dan lengkung tak ada wangi dan aroma tak ada kata dan suara semua dalam belenggu kedunguan kita sendiri-sendiri 4/ Masih saja engkau’menahan rintih di pucak pinus

Contoh Isi Puisi – Jawablah dan kerjakan pertanyaan di bawah ini! 1. Apakah tema yang diangkat pada Puisi 1 dan Puisi 2? 2. Bagaimana persajakan pada kedua puisi itu? 3. Bagaimana susunan baris dan baitnya? 4. Gaya bahasa apa yang menonjol pada kedua puisi itu? 5. Nilai-nilai apa yang terungkap pada Puisi 1 dan Puisi 2? 6. Puisi mana yang termasuk puisi remaja? 7. Parafrasakan salah satu puisi di atas sehingga kalian dapat memahami maknanya!

Agar kalian dapat menentukan ciri-ciri puisi remaja, kalian perlu membaca lebih banyak puisi remaja. Kalian dapat menemukan berbagai bentuk puisi remaja di majalah yang terbit setiap hari Minggu. Secara berkelompok, cobalah kalian mencari sebanyak-banyaknya puisi remaja dari majalah dan surat kabar. Kalian dapat pula membaca buku kumpulan puisi remaja! 1. Kumpulkan puisi tersebut menjadi sebuah kliping! 2. Bandingkan nilai-nilai dalam puisi remaja yang kalian temukan! 3. Tentukan ciri-ciri puisi remaja berdasarkan contoh puisi yang kalian dapatkan! a. tema, b. pilihan kata, c. gaya bahasa, d. bentuk, dan e. nilai-nilai yang terkandung

Kalian telah melakukan pengamatan terhadap berbagai bentuk puisi remaja, yang dimuat di majalah, surat kabar, atau buku kumpulan puisi. Berdasarkan hasil pengamatan tersebut, silakan kalian jawab pertanyaan ini! 1. Apa yang dimaksud puisi remaja? 2. Apa ciri-ciri puisi remaja? 3. Parafrasakan puisi berikut!

Epilog Nanang Suryadi Sempurnalah sempurna segala ingin Di ambang surup matahari mendingin Segala senja telah kau beri tanda Di padang padang buru di tebing tebing cuaca Telah disemayamkan segala kelakar Terbakar bersama belukar julai akar Ke dalam diri ke luar diri Menembus batas segala mimpi Demikian, sunyi tak terbagi Milikku sendiri Sumber: Sutardji Calzoum Bachri, Hijau Kelon dan Puisi 2002. Jakarta: Kompas

Contoh Isi Puisi – Mendiskusikan Masalah

Kalian tentu makin terampil berdiskusi. Makin sering mengikuti kegiatan diskusi, kalian akan makin menguasai dalam menyampaikan pendapat. Jangan lupa untuk selalu memerhatikan etika dalam menyampaikan tanggapan. Banyak topik menarik yang dapat kalian angkat sebagai tema diskusi. Jika sebelumnya kalian telah berdiskusi dengan tema ”Ekonomi” atau ”Iptek,” kali ini kalian akan mendiskusikan masalah sastra. Salah satu materi yang diajarkan pada pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah materi sastra. Akan tetapi, banyak pengamat yang menyatakan bahwa pengajaran materi sastra masih jauh dari harapan. Siapakah pengamat yang mengatakan hal itu? Marilah kita membaca teks berikut dengan cermat!

Pembelajaran Puisi Kontemporer

Banyak pengamat sastra mengatakan bahwa pengajaran sastra di sekolah, khususnya di SMA, masih jauh dari yang diharapkan. Menurut Ajip Rosidi, sejak kira-kira tahun 1955 hingga kini, masalah pengajaran sastra, khususnya apresiasi sastra, dipermasalahkan para sastrawan dan pengajar karena dianggap tidak memenuhi harapan. Padahal, melalui pengajaran sastra di SMA, guru dan masyarakat mengharapkan agar para siswa memiliki dan mengembangkan wawasan sastra mereka, melatih kemampuan, serta menumbuhkan sikap positif bagi kepentingan masyarakat dan dirinya. Apresiasi sastra selayaknya dikembangkan melalui pengajaran sastra. Akan tetapi, banyak faktor yang bersangkutan dengan itu, misalnya kurikulum, termasuk di dalamnya metode, sistem evaluasi dan faktor yang sangat penting, yaitu guru dan siswa. Berkaitan dengan pengajaran sastra, guru sastra dituntut mempunyai semangat tinggi. Sebagai pribadi, ia harus mencintai sastra. Hal yang sama berlaku untuk puisi. Apalagi nyatanya menikmati puisi dan memahami puisi memerlukan perenungan dan penyelaman secara intensif dan ekstensif. Itu sebabnya, guru mesti memiliki hasrat tinggi untuk mempelajarinya. Dalam konteks pengajaran sastra, mungkin saja kita menyodorkan puisi kepada siswa tanpa membimbing, menuntun, dan mengarahkan pengajarannya. Akan tetapi, kemungkinan besar siswa akan mengalami kesulitan. Ketika ditanya, apakah perbedaan prosa dengan puisi, misalnya, kemungkinan jawaban yang diperoleh prosa adalah karangan bebas, sedangkan puisi karangan terikat. Lalu bagaimana ciri-ciri puisi kontemporer? Tepatnya, jika kepada siswa ditanyakan ciri puisi tahun 40-an yang terikat baris atau bait (misalnya, bersajak silang a-b-a-b) hubungannya dengan puisi kontemporer yang lebih mementingkan kata atau bunyi, mungkin siswa kita tidak dapat menjawab. Lalu siapakah yang salah, siswa atau guru? Puisi kontemporer memang belum populer di kalangan siswa SMA, terlebih lagi jika guru sendiri tidak mengenal keberadaan puisi itu. Sudah waktunya bagi kita sekarang, sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia, memperkenalkan puisi kontemporer (puisi yang lahir dewasa ini) kepada siswa untuk melengkapi bahan pembelajaran yang biasanya berupa puisi-puisi lama, sebutlah angkatan 45-an. Dengan cara itu, baik siswa maupun guru, akan terpacu untuk menyelami puisi kontemporer secara lebih mendalam. Akan tetapi, apakah puisi kontemporer itu? Bagi Sutardji Calzoum Bachri, puisi kontemporer merupakan sesuatu yang muncul dari rohani, melalui bunyi ucapan dan katakata yang dalam keutuhannya mengandung keindahan dan kearifan. Ia adalah ruh, semangat, mimpi, obsesi, dan igauan. Juga kelakar batin yang menjasad dalam bunyi yang diucapkan dan dituliskan lewat kata-kata. Karena peranan guru di sekolah sangat penting bagi keberhasilan pengajaran, khususnya pengajaran apresiasi puisi, sudah semestinya para guru benar-benar mengikuti perkembangan sastra Indonesia. Berikut adalah salah satu puisi karya tokoh puisi kontemporer Indonesia: Sutardji Calzoum Bachri.