Konsep tentang Geografi

Konsep tentang Geografi

a. Geografi Umum
Bagian ini membahas karakteristik Bumi secara umum,
tidak tergantung oleh keadaan suatu wilayah. Menurut
gagasan Varenius, geografi umum mencakup tiga bagian,
yaitu:
1) Terestrial, merupakan pengetahuan tentang Bumi secara keseluruhan, bentuk, dan ukurannya.
2) Astronomis, membicarakan hubungan Bumi dengan bintangbintang yang merupakan cikal bakal ilmu Kosmografi.
3) Komparatif, menyajikan deskripsi lengkap mengenai Bumi,
letak, dan tempat-tempat di permukaan Bumi.

Geografi Khusus
Bagian ini mendeskripsikan tentang wilayah tertentu menyangkut
wilayah luas maupun sempit. Bagian ini terdiri atas tiga aspek,
yaitu:

1) Atmosferis yang secara khusus membicarakan iklim.
2) Litosferis yang secara khusus menelaah permukaan Bumi
meliputi relief, vegetasi, dan fauna dari berbagai negeri.
3) Manusia yang membicarakan keadaan penduduk, perniagaan,
dan pemerintahan dari berbagai negeri.

Konsep tentang Geografi

2.Immanuel Kant (1724–1821)
Selain sebagai seorang geograf, Kant juga seorang filsuf. Kant tertarik
pada geografi karena menurutnya ilmu itu dekat dengan filsafat. Semua
gagasan Kant tentang hakikat geografi dapat ditemukan dalam buku
Physische Geographie yang ditulisnya. Menurutnya, geografi adalah
ilmu yang objek studinya adalah benda-benda, hal-hal atau gejalagejala yang tersebar dalam wilayah di permukaan Bumi.
3. Alexander von Humboldt (1769–1859)
Pada mulanya Humboldt adalah seorang ahli botani. Ia tertarik geografi
ketika ia mulai mempelajari tentang batuan. Ia diakui sebagai peletak
dasar geografi fisik modern. Ia menyatakan geografi identik atau serupa
dengan geografi fisik. Ia menjelaskan bagaimana kaitan Bumi dengan
Matahari dan perilaku Bumi dalam ruang angkasa, gejala cuaca dan
iklim di dunia, tipe-tipe permukaan Bumi dan proses terjadinya, serta
hal-hal yang berkaitan dengan hidrosfer dan biosfer.
4. Karl Ritter (1779–1859)
Seperti halnya Humboldt, Ritter juga dianggap sebagai peletak dasar
geografi modern. Profesor geografi Universitas Berlin ini mengatakan
bahwa geografi merupakan suatu telaah tentang Bumi sebagai tempat
hidup manusia. Hal-hal yang menjadi objek studi geografi adalah
semua fenomena di permukaan Bumi, baik organik maupun anorganik
yang berkaitan dengan kehidupan manusia.
5. Friederich Ratzel (1844–1904)
Ratzel adalah guru besar geografi di Leipzig. Ia mengemukakan konsep
geografi dalam bukunya yang berjudul Politische Geographie. Konsep
itu diberi nama Lebensraum yang artinya wilayah geografis sebagai
sarana bagi organisme untuk berkembang. Ia melihat suatu negara
cenderung meluaskan Lebensraum-nya sesuai kekuatan yang ia miliki.
6. Elsworth Huntington (1876–1947)
Huntington adalah geograf asal Amerika Serikat. Melalui bukunya yang
berjudul The Pulse of The Earth, ia memaparkan bahwa kelangsungan
hidup dan peradaban manusia sangat dipengaruhi oleh iklim. Atas
dasar teorinya itu, Huntington kemudian terkenal sebagai determinis
iklim (memandang iklim sebagai penentu kehidupan). Ia mengatakan,
geografi sebagai studi tentang fenomena permukaan Bumi beserta
penduduk yang menghuninya. Ia menjelaskan adanya hubungan
timbal balik antara gejala dan sifat-sifat permukaan Bumi dengan
penduduknya.
7. Paul Vidal de la Blache (1845–1918)
Vidal adalah geograf asal Prancis. Ia adalah pelopor posibilisme dalam
geografi. Posibilisme (teori kemungkinan) muncul setelah Vidal
melakukan penelitian untuk membuktikan interaksi yang sangat erat
antara manusia dan lingkungan pada masyarakat agraris pramodern.

Ia menegaskan bahwa lingkungan menawarkan sejumlah kemungkinan
(posibilities) kepada manusia untuk hidup dan berkembang. Atas dasar
itu, Vidal mengemukakan konsepnya yang disebut genre de vie atau
mode of live (cara hidup). Dalam konsep ini, geografi diartikan sebagai
ilmu yang mempelajari bagaimana proses produksi dilakukan manusia
terhadap kemungkinan yang ditawarkan oleh alam.
8. Halford Mackinder (1861–1947)
Mackinder adalah pengajar di Universitas Oxford. Pendapatnya tentang
geografi sangat terkenal lewat makalahnya yang berjudul The Scope
and Methods of Geography yang berisi konsep man-land relation
(hubungan manusia dengan lahan) dalam geografi. Ia menyatakan
bahwa geografi adalah ilmu yang fungsi utamanya menyelidiki
interaksi manusia dalam masyarakat dengan lingkungan yang berbeda
menurut lokasinya.
9. Bintarto
Bintarto adalah guru besar geografi di Fakultas Geografi, Universitas
Gadjah Mada, Yogyakarta. Ia mengatakan bahwa geografi pada dasarnya
adalah ilmu pengetahuan yang mencitrakan, menerangkan sifat-sifat
Bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk, serta
mempelajari corak yang khas tentang kehidupan dari unsur-unsur
Bumi.
10. Daldjoeni
Nama Daldjoeni dikenal karena buku-bukunya yang membahas halhal yang berkaitan dengan geografi. Menurutnya, geografi merupakan
ilmu pengetahuan yang mengajarkan manusia mencakup tiga hal
pokok, yaitu spasial (ruang), ekologi, dan region (wilayah). Dalam hal
spasial, geografi mempelajari persebaran gejala baik yang alami
maupun manusiawi di muka Bumi. Kemudian dalam hal ekologi,
geografi mempelajari bagaimana manusia harus mampu beradaptasi
dengan lingkungannya. Adapun dalam hal region, geografi mempelajari
wilayah sebagai tempat tinggal manusia berdasarkan kesatuan
fisiografisnya.
11 . Seminar Lokakarya Ikatan Geograf Indonesia (IGI) di Semarang
1988
Dari seminar peningkatan kualitas pengajaran geografi ini dihasilkan
rumusan geografi sebagai ilmu yang mempelajari persamaan dan
perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan atau
kelingkungan dalam konteks keruangan.
Jika kita perhatikan beberapa definisi atau pengertian dan sejarah
perkembangan geografi dari masa ke masa selalu mengalami
perkembangan. Namun, apabila kita kaji lebih jauh, di antara
pandangan para ahli tersebut tampak ada kesamaan titik pandang.
Kesamaan titik pandang tersebut terutama dalam mengkaji:
1. Bumi sebagai tempat tinggal,
2. hubungan manusia dengan lingkungannya (interaksi),
3. dimensi ruang dan dimensi historisnya, serta
4. pendekatan, yaitu meliputi pendekatan spasial (keruangan), ekologi
(kelingkungan), dan regional (kewilayahan).

Cara Menanggapi Artikel Tentang Pembahasan Ini

Cara Menanggapi Artikel Tentang Pembahasan Ini

Cara Menanggapi Artikel Tentang Pembahasan Ini

Cara Menanggapi Artikel
Cara Menanggapi Artikel

Cara Menanggapi Artikel

Anda dapat memeroleh informasi dari berbagai media massa elektronik dan media cetak. Kalau Anda mendapat informasi dari radio atau televisi, cobalah perhatikan bagaimana informasi itu disampaikan! Tentu gaya penyampaian informasi oleh para penyiar berbeda antara satu dan yang lain.

Cara Menanggapi Artikel – Pada saat menyampaikan informasi kepada orang lain, Anda harus memerhatikan aspek-aspek bahasa seperti tanda baca, kelompok kata, dan kalimat. Sebagai bahan latihan, sampaikanlah informasi berikut ini kepada teman Anda dengan pembacaan yang baik!

Budi Pekerti, Apa Itu?

Cara Menanggapi Artikel – Pendidikan budi pekerti sesungguhnya memiliki pengertian yang sama dengan pendidikan moral dan pendidikan akhlak. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan program pendidikan ini dapat digunakan pula pendekatan-pendekatan pendidikan moral yang berkembang. Sesuai dengan nilai-nilai budaya dan falsafah hidup bangsa, pendekatan yang paling sesuai digunakan di Indonesia adalah pendekatan penanaman nilai. Tujuan pendidikan budi pekerti adalah mewujudkan manusia yang baik, warga masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik: yang sadar dengan hakikat, martabat, dan kodratnya sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan Yang Maha Esa. Selain itu, sadar dengan sifat dasar, potensi dasar, serta hak dan kewajiban asasi yang dimilikinya.

Cara Menanggapi Artikel – Untuk meraih pendidikan budi pekerti perlu disertai dengan upaya keteladanan, pembiasaan, pengamalan, pengondisian, serta berbagai upaya yang bersinergi dari berbagai pihak untuk mewujudkan lingkunganpendidikan yang kondusif. Sumber: (Dikutip dari Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Tahun ke-5, No.021, hal. 89)

Menulis Paragraf Persuasif

Setelah mempelajari tiga buah jenis paragraf tibalah kita pada pembelajaran jenis paragraf yang keempat, yaitu paragraf persuasif. Apa sebenarnya paragraf persuasif? Seperti apa ciri-cirinya? Mari kita pelajari bersama!

1. Ciri Paragraf Persuasif Paragraf persuasif adalah paragraf yang berisi ajakan atau bujukan agar pembaca mengikuti atau mengadopsi petunjuk-petunjuk yang ditulisnya dalam teks. Kalimat-kalimat persuasif dalam sebuah paragraf mendorong pembaca untuk mengikuti langkah atau petunjuk dalam kalimat tersebut. Sebagai tulisan yang bersifat ajakan, kalimat-kalimat dalam paragraf persuasif cenderung mempromosikan sesuatu yang diperlukan pembaca. Judul tulisan pun biasanya bersifat menunjukkan atau menginformasikan sesuatu kepada masyarakat. Dalam beberapa hal, karangan persuasif ini mirip sebuah iklan atau adventoria. Bacalah karangan berisi paragraf persuasif berikut ini! Perhatikanlah bagianbagian yang mengandung ajakan atau bujukan (persuasif).

Karier memang bukan segala-galanya dalam hidup ini, tetapi punya andil dalam memengaruhi kehidupan seseorang. Mempertahankan serta meningkatkan kualitas karier merupakan keinginan sebagian besar orang. Banyak cara yang bisa ditempuh untuk menjaga kualitas karier. Salah satu yang paling efektif adalah dengan senantiasa menjaga gairah kerja. Gairah kerja ternyata ikut menentukan sukses tidaknya karier seseorang. Bahkan, harus usahakan agar gairah kerja selalu meningkat dari waktu ke waktu, jangan sampai menurun, atau malah hilang sama sekali.

Paragraf di atas berisi ajakan atau imbauan kepada pembaca dengan menjelaskan bahwa seseorang bisa mengembangkan kariernya dengan menjaga gairah kerja. Apabila dilanjutkan dengan paragraf berikutnya, menjaga gairah kerja tersebut akan dijelaskan dengan beberapa tips atau resep, seperti menjaga kondisi tubuh, mengawali pekerjaan dengan penuh senyum, mencintai dan menikmati pekerjaan, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, memberikan kado istimewa, dan memiliki semangat berkompetisi. Dengan demikian, tulisan tersebut mengajak pembaca untuk menjaga gairah kerja. Ajakan inilah yang menjadi ciri dan karakter paragraf persuasif.

2. Menentukan Topik Persuasif  Topik karangan (tulisan) persuasif dapat dikembangkan dari berbagai macam bidangh. Hampir setiap bidang bisa dijadikan topik karangan persuasif, dengan syarat topik itu mengandung ajakan atau persuasif kepada pembaca. Beberapa contoh topik yang bisa dikembangkan menjadi karangan persuasif adalah sebagai berikut.

Cara Menanggapi Artikel – Bidang Kesehatan Menghindari Diri dari Penyakit Demam Berdarah Hidup Sehat dengan Murah Olahraga untuk Kesehatan Tubuh Bidang Pendidikan Meraih Prestasi Dunia di Tengah Kompetisi yang Ketat Cara Belajar yang Efektif Buku Sebagai Sumber Ilmu

Contoh-contoh tema di atas menggambarkan bahwa pembaca diajak untuk ikut atau mengikuti saran-saran yang dituangkan dalam tulisan tersebut. Tema Hidup Sehat dengan Murah, misalnya akan memaparkan bagaimana menjaga kesehatan dengan tidak mengeluarkan dana yang banyak. Tulisan ini akan memberi contohcontoh olahraga atau upaya menjaga kesehatan dengan tidak mengeluarkan uang, misalnya, membiasakan diri untuk jalan-jalan (jogging). Semua kalimat dalam karangan ini akan disusun secara persuatif karena tujuannya mengajak pembaca untuk mengikuti saran-saran dalam tulisan tersebut.

3. Menulis Kerangka Paragraf Persuasif Kerangka paragraf dibuat sedemikian rupa sehingga terdapat koherensi antara satu kalimat dan kalimat lainnya. Di samping itu, kerangka juga akan memandu seorang penulis mengembangkan paragraf atau karangannya. Kerangka paragraf atau karangan dapat dibuat lebih terperinci atau secara garis besarnya saja. Kerangka karangan dibuat sesuai dengan kebutuhan seorang penulis. Memang, banyak juga penulis yang tidak menggunakan kerangka paragraf atau karangan. Namun, sebagai penulis pemula, Anda harus terlebih dahulu membuat kerangka paragraf atau karangan supaya tulisan Anda benar-benar baik. Berikut ini ditulis beberapa kerangka persuasif. Cermatilah kerangka paragraf tersebut dengan baik! Sebelum menulis karangan, Anda dapat membuat kerangka sesuai dengan kebutuhan Anda.

Topik paragraf : …………………………………………………………………………..

Gagasan utama : …………………………………………………………………………..

Gagasan pendukung : …………………………………………………………………………..

Contoh kerangka karangan berdasarkan ketentuan di atas. Topik paragraf : Belajar secara efektif Gagasan utama : Belajar secara efektif dibutuhkan oleh setiap pelajar Gagasan pendukung : Kompetisi di antara pelajar semakin tinggi Semakin banyak pelajar yang pintar Materi ajar yang banyak membutuhkan waktu belajar yang lebih lama.

4. Menyusun Paragraf Persuasif Contoh kerangka paragraf di atas dapat Anda kembangkan menjadi sebuah paragraf yang baik. Kerangka paragraf tersebut ditulis dalam empat kalimat, yaitu satu kalimat utama yang mengandung gagasan utama dan tiga kalimat pendukung yang mengandung gagasan pendukung (penjelas). Perhatikanlah contoh paragraf yang dikembangkan berdasarkan kerangka paragraf di atas. Setiap pelajar membutuhkan strategi belajar yang efektif pada masa mendatang. Strategi belajar yang efektif sangat diperlukan oleh pelajar mengingat semakin hari kompetisi di kalangan pelajar semakin tinggi. Para pelajar berlomba untuk mencapai prestasi sehingga semakin banyak pelajar yang pintar. Materi ajar yang banyak, harus disiasati dengan cara belajar efektif, tidak membuang-buang waktu aagar pelajar bisa belajar dalam waktu yang lebih singkat.

Buatlah kerangka paragraf sebagai landasan penulisan penulisan berdasarkan materi yang Anda pilih. Kerangka paragraf itu terdiri atas satu gagasan utama dan 3-4 gagasan pendukung. Mintalah guru memeriksa hasil kerja Anda agar Latihan 3 Anda merasa lebih yakin atas kebenaran hasil karya Anda itu! Susunlah sebuah paragraf persuasif berdasarkan kerangka paragraf yang Anda buat itu!

Cara Menanggapi Artikel – Rangkuman

1. Salah satu aspek yang harus diperhatikan pada saat menyampaikan informasi kepada orang lain adalah bahasa, seperti tanda baca, kelompok kata, dan kalimat. 2. Paragraf persuasif adalah paragraf yang berisi ajakan atau bujukan agar pembaca mengikuti atau mengadopsi petunjuk-petunjuk yang ditulisnya dalam teks.

Anda telah mempelajari beberapa kompetensi pada bab bertema “Budi Pekerti”. Salah satu materi yang dibahas dalam bab ini adalah membaca cerita rakyat. Dalam cerita rakyat Anda dapat menemukan hal-hal yang menarik tentang tokohnya. Selain itu, Anda juga dapat menemukan nilai-nilai dalam cerita rakyat tersebut. Nilai yang terkandung dalam cerita rakyat “Musnahnya Kezaliman” adalah kebenaran harus ditegakkan dan kezaliman harus segera dimusnahkan. Dengan budi pekerti dan kesaktian yang luhur, tokoh Ajisaka mampu menumpas kezaliman Prabu Dewatacengkar. Jika diterapkan dalam hidup masa kini, nilai dalam cerpen tersebut dapat diterapkan melalui sikap-sikap jujur, tidak semena-mena terhadap orang lain, berperilaku terpuji, dan masih banyak lagi. Apakah Anda telah memiliki sikapsikap tersebut?

 

Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Penjelasan Materi Membaca Cerita Rakyat Nusantara Dan Cerita Dongeng

Cerita Rakyat Nusantara
Cerita Rakyat Nusantara

Cerita Rakyat Nusantara – Cerita rakyat atau disebut juga dongeng adalah sastra yang hidup ditengah masyarakat. Cerita rakyat dituturkan secara turun-temurun sehingga bentuk menjadi sastra lisan. Bacalah cerita rakyat dari daerah Jawa berikut ini!

Musnahnya Kezaliman

Prabu Dewatacengkar sangat terpesona, ketika melihat Ajisaka. Sungguh berbeda, pemuda yang satu ini. Ketampanan dan kepribadiannya, teramat menarik. Selain itu, tindak-tanduknya sangat tenang dan serba bersahaja. Ajisaka duduk bersimpuh di hadapan Prabu Dewatacengkar, menghaturkan sembah dengan takzim. Ketika menghaturkan salam, nada suaranya sangat merdu.

Cerita Rakyat Nusantara – Lama sekali, Prabu Dedewatacengkar memandang Ajisaka. “Jadi kaulah yang bernama Ajisaka?” Prabu Dewatacengkar menelan air liurnya, menahan rasa laparnya yang timbul ketika melihat Ajisaka. “Daulat, Tuanku,” Jawab Ajisaka. “Tahukah kau buat apa Patih Jugul membawamu kemari?” “Ampun Tuanku, yang hamba ketahui karena hamba mendapat kesempatan untuk berbakti kepada duli Tuanku.” “Hem, kau kira dengan cara bagaimana kau harus berbakti padaku?” “Hal itu hamba persembahkan kepada kerelaan Tuanku. Apa pun titah Tuanku, hamba akan melaksanakannya dengan ikhlas.” “Hm, Ajisaka! Sebenarnya kau dibawa kemari, karena akan dijadikan santapanku. Nah, bagaimana? Apakah kau akan menerimanya dengan ikhlas?” “Ampun Tuanku, hidup mati hamba ada di tangan yang Mahakuasa, yang menguasai jagad dan segala isinya. Seandainya olehnya hamba ditakdirkan untuk menjadi bahan santapan Tuanku, maka tentulah hamba tidak akan dapat memungkirinya.” “Hua ha ha ha! Sungguh aneh sikapmu! Hemmm, Untuk pertama kali Patih Jungul membawa calon santapanku, yang demikian pasrah seperti engkau! Hua ha ha ha! Senang sekali hatiku! Hu ha ha ha! Seandainya saja ada ganti dirimu, aku ingin sekali mengangkatmu menjadi abdi kerajaan. Mungkin kau akan mendapat pangkat yang cukup tinggi. Tetapi sayang, kukira tak ada lagi orang seperti kau. Maka tidak boleh tidak, kau harus menjadi santapanku!” “Hamba ikhlas, seikhlas-ikhlasnya, Tuanku. Namun sebelum hamba menjadi santapan Tuanku, perkenankanlah hamba memohon sesuatu yang tidak ada artinya bagi Tuanku.” “Oh, ya, apa maumu Ajisaka?” Ajisaka menghantarkan sembahnya. Tetap dengan takzim. “Hamba memohon sudilah Tuanku menyisakan tulang belulang tubuh hamba. Kemudian hamba mengharapkan pengiring hamba yang bernama sembada, menguburkan tulang belulang hamba pada setapak tanah yang letak dan luasnya hamba tentukan,” kata Ajisaka. “O, boleh saja. Ayo, tentukan, di mana letak tanah dan berapa luasnya yang engkau inginkan itu?” “Letaknya di sekitar bagian depan istana. Adapun luasnya hanya sebesar sorban yang hamba kenakan, Tuanku.” Sumber: Ilustrasi Agus Hua ha ha ha ha, boleh! Boleh saja. Jangankan sebesar serbanmu, sepuluh kali lipat pun akan kukabulkan. “Hamba berharap Tuanku berkenan menyaksikan hamba mengukur tanah itu, Tuanku!” “Oh, aku bersedia menyaksikan. Kapan kau akan mengukurnya?” “Lebih cepat adalah lebih baik, Tuanku. Bukankah diri hamba akan segera diserahkan kepada juru masak istana, untuk diolah menjadi masakan bagi santapan Tuanku?” “Oho, kalau begitu sekarang juga kau bisa melaksanakannya. Mari kita ke halaman istana, kau boleh mengukur dan menentukan letaknya! Ayo cepat!” Prabu Dewatacengkar yang tak sabar lagi ingin memakan daging Ajisaka, segera bangkit dari singgasananya. Berjalan menuju perkarangan istana. Patih Jugul dan para pembesar kerajaan serta prajurit mengiringnya di belakang, Ajisaka berjalan di depan Patih Jugul. Ketika telah tiba di pekarangan istana. Prabu Dewatacengkar mempersilakan Ajisaka melaksanakan maksudnya. “Cepatlah laksanakan, aku tidak punya banyak waktu! Dan kalian, hei para pembesar kerajaan, para prajurit boleh menyaksikannya!” katanya. Ajisaka memilih dataran kosong di pekarangan istana, kemudian membuka kain sorbannya. Direntangkan kain serbannya perlahan-lahan. Sementara semua mata terpusat kepadanya, menyaksikan dengan penuh penasaran, Mereka seolah-olah menahan napas ketika Ajisaka membungkuk dan menggelarkan rentangan kain serban di atas tanah. Dan terjadilah keajaiban yang di luar dugaan. Kain serban itu ketika digelarkan, ternyata melebar dan membesar. Semakin lama semakin lebar dan semakin besar. Prabu Dewatacengkar, Patih Jugul, para pembesar kerajaan, dan para prajurit merasa heran dan takjub. Namun segera mundur, menghindar dari bentangan kain serban Ajisaka itu. Akan tetapi, kain serban itu ternyata semakin melebar, semakin membesar, semakin mendesak dengan kuat. Hingga orang-orang terdesak. Kemana pun menghindar, ujung kain serban itu mendesaknya terus. Kain Ajisaka mendesak terus, melebar, dan meluas terus. Akhirnya menutupi pekarangan istana. Mendesak ke arah bagian luar istana ke arah terjal ke hamparan bukit dan tebing. Sambil keheranan Prabu Dewatacengkar dan abdi-abdinya mencoba bertahan, berusaha menahan rentangan kain serban itu. Namun aneh sekali. Tepian kain serban itu sulit sekali di tahan, bahkan mendesak dengan kuat dan cepat. Hingga siapa saja yang mencoba menahannya, langsung terdesak ke arah tebing yang tinggi. Maka bergemalah jeritan dan tangisan orang-orang yang terlempar ke arah dasar tebing. “Ajisaka, kesaktian apa yang kau miliki? Oh, hentikanlah perbuatanmu itu, aku berjanji tidak akan memakanmu! Kau boleh pulang ke asalmu, cepatlah! Bawalah barang-barang berharga sebanyak kau sukai, tetapi segeralah hentikan rentangan kain sorban ajaibmu itu!” Teriak Prabu Dewatacengkar yang terus terdesak ke arah pantai terjal, di mana di bawahnya terhampar lautan yang sedang bergelora. “Demi berakhirnya kezaliman yang telah menjadi sumber bencana bagi rakyat Medang Kamulan, Tuanku harus lenyap dari muka bumi ini. Musnahlah bersama para abdi Tuanku, sebelum merasuk sampai ke luar Medang Kamulan!” seru Ajisaka, seraya menyentak kain serbannya yang terus melebar dan meluas itu. Sentakan yang dikerahkan Ajisaka, membuat ujung kain sorbannya bagai gelombang topan yang dahsyat. Menghantam Prabu Dewatacengkar dengan keras, hingga tubuhnya terlempar sangat jauh. Melambung ke udara, kemudian menukik ke arah permukaan laut yang sedang bergelora. Langit mendadak mendung. Tiba-tiba menyambarlah halilintar yang sangat dahsyat. Menghantar tubuh Prabu Dewatacengkar yang sedang menukik itu. Aneh sekali. Akibat sambaran halilintar itu. Wujud Prabu Dewatacengkar menghilang. Berganti wujud menjadi seeekor buaya putih yang besar. Langsung jatuh ke permukaan laut, ditelan gelombang yang sangat besar. “Siapa yang telah menjadi penjilat Prabu Dewatacengkar, dia harus menjadi korban buaya putih itu!” teriak Ajisaka sambil menghentak kain serbannya.

Cerita Rakyat Nusantara – Akibatnya sungguh mencengangkan. Beberapa tubuh berlemparan ke laut, menyusul buaya putih jelmaan Prabu Dewatacengkar. Mereka adalah abdi-abdi setia yang biasa menjadi penjilat, demi keselamatan dan keuntungan pribadinya, kepada raja. Di antaranya Patih Jugul. Justru, Patih Jugullah yang terdahulu menyusul buaya putih, melayang dengan cepat ke arah gelombang air laut yang sedang mendidih. Sebelum ditelan gelombang, dari arah permukaan gelombang muncullah buaya putih tadi. Menerjang, menyambut tubuh Patih Jugul dengan mulut ternganga lebar-lebar.

Cerita Rakyat Nusantara – Sedetik kemudian, tubuh Jugul telah terjepit di antara gigi-gigi dan taring buaya putih jelmaan Prabu Dewatacengkar itu. Patih Jugul menjerit-jerit meminta ampun, tetapi akhirnya menemui ajalnya menjadi mangsa buaya putih. Setelah melahap tubuh Patih Jugul, buaya putih itu menyelam ke dalam laut. Ajisaka mengerahkan ilmunya, menyurutkan kain serbannya menjadi kecil kembali. Sampai berukuran biasa kembali. Langsung mengenakan pada kepalanya. Sementara itu terdengar sorak sorai kegirangan, hampir dari setiap arah. Ajisaka memandangi orang-orang yang bersorak sorai itu dengan senyum lega. Rakyat Medang Kamulan yang selama ini bersembunyi karena takut ditangkap Patih Jugul, bermunculan dengan wajah lega dan gembira. Mereka bermunculan dengan serentak, pada saat Prabu Dewatacengkar terdesak ke tepi tebing. Entah siapa yang memberitahu mereka, namun kemunculannya sangat tepat pada waktunya. Pada saat kezaliman yang menjadi sumber ancaman ketentraman mereka, musnah ditelan kehebatan ilmu Ajisaka. Rakyat Medang Kamulan mengelu-elukan Ajisaka. Mengaraknya mengelilingi istana, dengan kegembiraan dan rasa syukurnya yang meluapluap. Dari semua arah bermunculan kembali mereka yang tadinya sangat ketakutan, Menyambut arak-arakan yang membawa Ajisaka, kemudian bergabung turut mengarak. Ketika tiba di halaman istana, mereka menurunkan Ajisaka. Dengan persepakatan yang serentak, mereka sepakat mengangkat Ajisaka menjadi pemimpin mereka. Hal itu sebagai luapan terima kasihnya karena upaya Ajisakalah jiwa mereka terselamatkan. Para abdi Prabu Dewatacengkar yang berada di dalam istana pun bermunculan, mereka berikrar bahwa akan tunduk dan patuh pada pemimpin yang baru itu. Mereka mengakui bahwa ketika Prabu Dewatacengkar masih berkuasa, mereka sebenarnya tidak menyetujui kezaliman rajanya itu. Kalau mereka patuh dan taat semata-mata hanya karena keselamatan jiwanya. Dan mereka memohon maaf kepada rakyat. Ajisaka tidak dapat menolak hasrat segenap rakyat Medang Kamulan. Ia pun menjadi pemimpin di Medang Kamulan dengan arif dan bijaksana. Kemudian menganjurkan agar rakyat yang masih bersembunyi atau yang telah menyeberang ke kerajaan tetangga, segera kembali pulang. Bersatu kembali guna berkumpul dan bersepakat dengan kompak, membangun, dan membina Medang Kamulan. Sebagai pemimpin yang baru, meskipun usianya masih muda, tetapi Ajisaka tidak mengecewakan segenap rakyatnya. Bukan saja telah menjadi pembebas dan kemudian pelindung, tetapi kemudian menjadi pembimbing dan penuntun yang arif. Semua ilmunya diamalkan segenap rakyat dengan rata sehingga rakyat pun tidak ketinggalan dalam menghadapi Kejayaan Medang Kamulan. Kerajaan Medang Kamulan yang subur dan kaya raya, yang sejak Prabu Dewatacengkar berkuasa telah padam itu, kini bangkit kembali dengan menyala. Penuh gairah dan semangat. Rakyatnya dapat mengenyam ketentraman kembali, menikmati kesuburan dan kesentosaan dan hari yang lapang. Tidak lupa bersyukur kepada-Nya yang telah mengembalikan semuanya yang hilang.

Cerita Rakyat Nusantara