Pola Perilaku Produsen dalam Kegiatan Ekonomi

Pola Perilaku Produsen dalam Kegiatan Ekonomi

Pola Perilaku Produsen dalam Kegiatan Ekonomi

 

Perilaku Produsen
Perilaku Produsen

Perilaku Produsen

Pola Perilaku Produsen dalam Kegiatan Ekonomi

Perilaku Produsen

1. Pengertian, Tujuan, Proses, dan Faktor Produksi a. Pengertian produksi Dalam ilmu ekonomi pengertian produksi mengacu pada dua hal, yaitu 1. produksi yang menghasilkan barang dan jasa baru sehingga dapat menambah jumlah, mengubah bentuk, atau memperbesar ukurannya; 2. produksi yang diartikan sebagai kegiatan untuk meningkatkan atau menambah daya guna suatu barang sehingga lebih bermanfaat. Dari uraian di atas, secara keseluruhan pengertian produksi adalah setiap usaha atau kegiatan manusia untuk menciptakan atau menambah daya guna suatu benda/jasa bagi pemenuhan kebutuhan manusia.

Perilaku Produsen

b. Tujuan produksi Dengan memproduksi barang dan jasa akan terbuka lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan. Pendapatan yang meningkat mendorong pertumbuhan ekonomi yang akhirnya dapat meningkatkan kemakmuran. Oleh karena itu tujuan produksi, antara lain: 1. memperbanyak jumlah barang/jasa; 2. menghasilkan barang/jasa yang berkualitas tinggi; 3. memenuhi kebutuhan sesuai dengan perkembangan peradaban dan kebudayaan serta perkembangan teknologi; 4. mengganti barang yang rusak atau habis; 5. memenuhi pasar dalam negeri untuk kebutuhan perusahaan dan rumah tangga; 6. memenuhi pasar internasional; 7. mendapatkan keuntungan; 8. meningkatkan kemakmuran.

Perilaku Produsen

c. Proses produksi Untuk menghasilkan produk dibutuhkan proses tertentu yang disebut proses produksi. Proses produksi adalah suatu kegiatan yang dilakukan melalui tahapan-tahapan tertentu untuk menghasilkan atau menambah manfaat barang/jasa. Hasil produksi dapat dibedakan atas barang atau jasa. 1. Produk barang Barang dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu a. barang konsumsi (consumption goods) adalah barang-barang yang langsung dapat digunakan untuk memuaskan kebutuhan konsumen. Misalnya, beras, pakaian, alat tulis, dan perabot rumah tangga; b. barang modal (capital goods) adalah barang-barang yang berguna untuk menghasilkan barang lain atau barang yang digunakan dalam proses produksi selanjutnya. Barang modal tidak dapat dikonsumsi langsung, tetapi harus digunakan untuk memproduksi lebih banyak. Misalnya, mesin pabrik, alat-alat produksi, bahan mentah, dan gedung. Barang modal dapat digolongkan dalam dua macam, yaitu

Perilaku Produsen

1. barang modal tahan lama, yaitu barang modal yang tidak habis dipakai dalam satu kali proses produksi, seperti mesin-mesin, kendaraan, dan gedung; 2. barang modal tidak tahan lama, yaitu barang modal yang habis dipakai dalam sekali proses produksi, seperti bahan baku, bahan pembantu, dan bahan bakar. 2. Produksi jasa Produksi jasa dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu a. produksi jasa yang langsung dapat dinikmati/dirasakan misalnya hiburan, pengobatan, pendidikan, jasa pelayanan, dan jasa perias pengantin; b. produksi jasa yang tidak langsung dapat dinikmati, misalnya asuransi, pergudangan, jasa perancang mode, pengubah lagu (pencipta), pengarang buku pelajaran, dan sebagainya. Produksi jasa ditinjau dari pelakunya dibedakan menjadi dua, yaitu 1. jasa pribadi adalah jasa yang diselenggarakan oleh perseorangan, seperti dokter, guru, dan sopir; 2. jasa kolektif adalah jasa yang disalurkan oleh masyarakat atau negara. Misalnya, jasa kolektif rumah sakit, sekolah, areal parkir, jalan, dan bendungan.

Perilaku Produsen

Proses produksi mempunyai tahapan-tahapan. Ada tahapan yang paling sederhana, yaitu proses produksi langsung dan proses produksi tidak langsung. Proses produksi langsung menghasilkan barang-barang konsumsi, sedangkan proses produksi tidak langsung disebut oleh Von Bohm Bawerk sebagai proses produksi berputar (round about production process). Proses produksi berputar ini memakan waktu. Oleh karena itu, disebut dengan consuming production process.

Perilaku Produsen

d. Faktor produksi Untuk melakukan kegiatan produksi diperlukan bahan-bahan yang memungkinkan dilakukannya produksi, yaitu tanah atau sumber daya alam, tenaga manusia, modal dalam segala bentuknya, serta kecakapan atau keterampilan tertentu. Semua unsur-unsur tersebut dinamakan faktor-faktor produksi. Jadi, faktor produksi adalah semua unsur yang menopang usaha memperbesar nilai barang/jasa. Dalam ilmu ekonomi faktor produksi terdiri dari empat macam, yaitu

Perilaku Produsen

1. tanah atau sumber daya alam (natural resources); 2. tenaga kerja (labour); 3. modal (capital); 4. skill kewirausahaan (entrepreneurship).

1. Faktor produksi tanah atau sumber daya alam Faktor produksi tanah mutlak harus ada pada setiap proses produksi. Faktor produksi tanah adalah segala sesuatu yang berasal dari atau disediakan alam. Dengan kata lain, segala sumber asli yang bukan berasal dari kegiatan manusia, seperti a. tanah; b. air/tenaga air; c. ikan baik dari sungai, danau, maupun ikan dari laut; d. iklim cuaca, curah hujan, arah angin; e. tenaga alam (tenaga penumbuh misalnya pertanian, perikanan); f. bahan tambang, bebatuan, dan kayu; g. binatang ternak dan bukan ternak. 2. Faktor produksi tenaga kerja Tenaga kerja menurut kualitasnya dibedakan menjadi tiga macam, yaitu sebagai berikut.

Perilaku Produsen

a. Tenaga kerja terdidik (skilled labour) adalah tenaga kerja yang memperoleh pendidikan, seperti guru, dokter, akuntan, dan pengacara. b. Tenaga kerja terlatih (trained labour) adalah tenaga kerja yang memperoleh keahlian dari pengalaman dan latihan, seperti montir dan sopir. c. Tenaga kerja tidak terdidik dan tidak terlatih (unskilled and untrained labour) adalah tenaga kerja yang tidak memerlukan pendidikan dan latihan terlebih dahulu, seperti pesuruh dan buruh kasar.

Pemerintah sangat memerhatikan kesejahteraan tenaga kerja dengan mengeluarkan peraturan dan perundang-undangan perlindungan tenaga kerja dan pemberian fasilitas, baik fasilitas kesehatan maupun fasilitas untuk meningkatkan keterampilan, misalnya dana untuk pendidikan/latihan.

Perilaku Produsen

3. Faktor produksi modal Menurut ilmu ekonomi modal adalah barang-barang modal (real capital goods) yang meliputi semua jenis barang yang dibuat untuk menunjang kegiatan produksi barang-barang lain, termasuk yang menghasilkan jasa dan modal berupa uang (money capital) yang tersedia di perusahaan untuk membeli mesin-mesin serta faktor-faktor produksi. Modal uang (money capital) adalah dana yang digunakan untuk membeli barang-barang modal dan faktor produksi lainnya. Yang dimaksud modal dalam faktor produksi ini adalah barangbarang modal (real capital goods), yaitu setiap barang yang digunakan dalam kegiatan produksi untuk menghasilkan barang dan jasa lain, misalnya mesin-mesin, pembangkit tenaga listrik, gedung, jalan raya, gudang, serta peralatan-peralatan lainnya. Barang-barang modal ini dihasilkan oleh proses produksi tidak langsung (indirect production). Macam-macam modal dapat dilihat pada Bab I.

Perilaku Produsen

4. Faktor produksi kewirausahaan (entrepreneurship) Kewirausahaan merupakan faktor produksi yang tidak dapat dilihat, dihitung, ditakar, diraba, tetapi hanya dapat dirasakan dan diketahui dengan melihat produk yang dihasilkan. Seorang pengusaha (entrepreneur) adalah orang yang memiliki kemampuan mengelola, menyatukan faktor-faktor produksi, dan dapat mengendalikan perusahaan secara baik dengan menghasilkan produk dan memperoleh keuntungan dan berani menanggung risiko. Keahlian (skill) yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha terdiri dari: 1. managerial skill, yaitu kemampuan dalam mengorganisasikan semua faktor produksi agar mencapai tujuan; 2. technical skill, yaitu keahlian yang bersifat teknis dalam pelaksanaan proses produksi sehingga berjalan dengan baik; 3. organizational skill, yaitu keahlian dalam memimpin berbagai usaha, tidak hanya intern perusahaan yang brsifat bisnis, tetapi juga organisasi dalam bentuk lain.

Perilaku Produksi

2. Fungsi Produksi Kegiatan produksi menyangkut dua persoalan utama. Persoalan pertama menyangkut input (masukan), yaitu segala sesuatu yang dimasukkan dalam proses produksi. Misalnya, bahan mentah, modal, dan mesin-mesin. Input tersebut sebelumnya telah kita kenal dengan istilah faktor-faktor produksi. Persoalan kedua, menyangkut output (keluaran), yaitu hasil yang dikeluarkan dalam proses produksi. Dengan demikian, fungsi produksi adalah hubungan fungsional yang terdapat antara input dan output. Dalam hal ini output merupakan akibat.

Persamaan fungsi produksi Secara matematika, fungsi produksi merupakan persamaan yang menunjukkan hubungan antara input dan output. Persamaan tersebut dapat ditulis dengan simbol sebagai berikut. B = f (S, T, M, KT)

Keterangan: B = jumlah barang/jasa yang dihasilkan (output) f = fungsi, simbol persamaan fungsional S = sumber daya alam T = tenaga kerja M = modal/sarana dan teknologi KT = kewirausahaan dan teknologi

3. Perilaku Produksi yang Mengutamakan Kepentingan Rakyat Motif utama sektor produksi ingin memproduksi barang dan jasa adalah memperoleh laba. Laba dalam pengertian sederhana adalah total penerimaan dikurangi total pengeluaran. Dua unsur utama tersebut adalah total penerimaan dan total pengeluaran. Perusahaan selaku produsen, untuk memperbesar laba, berusaha semaksimal mungkin menekan pengeluaran dengan cara menekan upah buruh, mengurangi mutu, dan sebagainya. Perusahaan sebagai pelaku ekonomi haruslah selalu mengedepankan kepentingan masyarakat. Tidak sewajarnya dalam mencapai laba yang tinggi perusahaan mengorbankan kepentingan masyarakat dengan cara pembuangan limbah sembarangan, polusi, dan pemberian upah yang rendah.

Untuk menciptakan perilaku produksi yang mengutamakan kepentingan masyarakat, perusahaan selaku produsen haruslah menanamkan hal-hal berikut. a. Memberikan keuntungan bagi stakeholders Stakeholders yaitu pihak-pihak yang terkait, baik yang secara langsung maupun tidak langsung dengan perusahaan. b. Memberikan sumbangan sosial Perusahaan harus memberi sumbangan pada pembangunan sosial suatu negara secara keseluruhan dengan menciptakan lapangan kerja yang produktif dan membantu meningkatkan daya beli masyarakat secara keseluruhan. c. Menumbuhkan rasa saling percaya Perusahaan harus menyadari bahwa kelurusan hati, ketulusan, kejujuran, sikap memegang teguh janji, dan transparansi bermanfaat tidak hanya bagi kredibilitas dan stabilitas bisnis sendiri, tetapi juga bagi kepercayaan masyarakat terhadap perusahaan. d. Menghormati aturan Aturan-aturan yang ditetapkan, seperti larangan monopoli, harus dihormati agar tidak terjadi penguasaan oleh pihak-pihak tertentu terhadap masyarakat dirugikan. e. Sikap hormat terhadap lingkungan alam Perusahaan wajib melindungi dan dengan cara-cara tertentu meningkatkan lingkungan alam, mendukung pelestarian alam, dan mencegah terjadinya pemborosan sumber daya alam. f. Menghindari operasi-operasi tidak etis Praktik-praktik, seperti penyuapan, pencucian uang, penyelundupan, narkotika, dan inside trading haruslah dihindari.

4. Hukum Hasil Lebih yang Semakin Menurun (The Law of Diminishing Return) Untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat tidak ada jalan lain yang dapat dilakukan, kecuali peningkatan produksi. Hal ini berarti harus terusmenerus diadakan penambahan input. Karena keterbatasan faktor produksi, walaupun dilakukan penambahan input terus-menerus, pada suatu saat akan terjadi kenaikan output yang tidak seimbang dengan input yang telah digunakan. Hal ini berhadapan dengan hukum hasil lebih yang semakin menurun yang akan dijelaskan sebagai berikut.

a. Hasil penelitian David Ricardo David Ricardo (1772–1823) seorang ahli ekonomi yang terkenal dari Inggris, mengemukakan salah satu kaidah ekonomi, yaitu hukum hasil lebih yang berkurang (the law of diminishing return). Menurut David Ricardo, jika kita menambah terus-menerus salah satu unit input dalam jumlah yang sama, sedangkan input yang lain tetap maka mula-mula akan terjadi tambahan output yang lebih dari proporsional (increasing returns) tapi pada titik tertentu hasil lebih yang kita akan peroleh akan semakin berkurang (diminishing returns).

b. Hasil lebih sebidang tanah

c. Berlakunya The Law of Diminishing Return Setelah diadakan penelitian oleh pakar-pakar ekonomi lainnya, ternyata hukum ini berlaku juga pada perusahaan yang kemampuan faktor produksinya terbatas. Berlakunya the law of diminishing return diperlukan beberapa asumsi. a. Salah satu faktor produksi (misalnya, tanah pada pertanian atau mesin pada industri) harus tetap sehingga perbandingannya saja yang berubah. b. Teknik produksi yang diterapkan dalam proses produksi tetap. Jika tingkat teknik produksi yang diterapkan lebih canggih berarti dapat mempertinggi produktivitas setiap tenaga kerja, hukum tersebut tidak berlaku. c. Daya kerja (produktivitas) faktor produksi yang diubah harus sebanding (sama). Seandainya faktor produksi yang diubah adalah jumlah tenaga kerja maka tingkat pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja tersebut harus sama terhadap pekerjaan yang dimaksud.

Circular Flow Diagram Kegiatan perekonomian suatu negara dan pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat dalam perekonomian tersebut dapat dilihat dari circular flow diagram di bawah ini.

1. Kegiatan Ekonomi Dua Sektor Kegiatan ekonomi dua sektor hanya melibatkan dua pelaku ekonomi, yaitu rumah tangga dan perusahaan. a. Corak Kegiatan Ekonomi Subsistem Dalam corak kegiatan ekonomi subsistem penerima-penerima pendapatan, dalam hal ini rumah tangga, tidak menabung, dan para pengusaha tidak menanam modal

b. Corak Perekonomian Modern Dalam perekonomian yang lebih maju, penerima-penerima pendapatan akan menyisihkan sebagian pendapatan mereka untuk ditabung. Tabungan ini akan dipinjamkan kepada pengusaha yang akan menggunakannya untuk investasi, yaitu melakukan pembelian barangbarang modal.

2. Kegiatan Ekonomi Tiga Sektor Dalam kegiatan ekonomi tiga sektor, pelaku-pelaku ekonomi yang terlibat selain dari rumah tangga dan perusahaan, diperlihatkan juga peranan dan pengaruh pemerintah atas kegiatan perekonomian.

3. Kegiatan Ekonomi Empat Sektor Kegiatan ekonomi empat sektor sering disebut perekonomian terbuka karena kegiatan ini tidak hanya melibatkan pelaku-pelaku ekonomi di dalam negeri, tetapi juga masyarakat ekonomi di luar negeri.

Peranan Pelaku Ekonomi dalam Kegiatan Ekonomi

1. Rumah Tangga Rumah tangga adalah kelompok masyarakat yang melakukan kegiatan konsumsi terhadap barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup diri sendiri ataupun keluarga. Rumah tangga juga merupakan kelompok masyarakat sebagai pemilik faktor-faktor produksi (tanah, tenaga kerja, modal, dan wirausaha). Untuk melaksanakan kegiatan konsumsinya, setiap individu/rumah tangga harus memiliki pendapatan. Pendapatan rumah tangga dapat diperoleh dari perusahaan dengan cara sebagai berikut. a. Sewa (rent), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga karena telah menyewakan tanahnya kepada pihak lain, misalnya perusahaan. b. Upah (wage), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga karena telah mengorbankan tenaganya untuk bekerja pada perusahaan dalam kegiatan produksi. c. Bunga (interest), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga dari perusahaan karena telah meminjamkan sejumlah dana untuk modal usaha perusahaan dalam kegiatan produksi. d. Laba (profit), yaitu balas jasa yang diterima rumah tangga dari rumah tangga produsen karena telah mengorbankan tenaga dan pikirannya dalam mengelola perusahaan sehingga perusahaan dapat memperoleh laba.

Perilaku Produksi

2. Perusahaan/Produsen Dalam ekonomi, yang dimaksud dengan kegiatan produksi adalah usaha untuk menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kepentingan orang lain. Kegiatan tersebut dilakukan oleh perusahaan. Ditinjau dari pemiliknya, perusahaan ada yang dimiliki oleh pemerintah (negara) dan ada pula yang dimiliki oleh swasta, baik milik perseorangan maupun milik bersama. Dalam rangkaian kegiatan ekonomi, perusahaan berperan dalam kegiatan memproduksi barang dan jasa, termasuk distribusinya (memasarkannya), dan adakalanya perusahaan tersebut tidak memproduksi sendiri barang, misalnya yang dilakukan oleh perusahaan dagang. Peran perusahaan dalam kegiatan ekonomi adalah sebagai berikut. a. Sebagai produsen, dengan menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan oleh rumah tangga keluarga, pemerintah, bahkan masyarakat luar negeri. Oleh sebab itu, setiap perusahaan harus memerhatikan kualitas dan kuantitas produksinya sesuai dengan kebutuhan konsumen. b. Sebagai distributor, sebagai mata rantai penyaluran barang dalam rangka melayani konsumen agar barang yang dibutuhkan sampai pada konsumen tepat waktu, tepat tempat, tepat sasaran, tepat kuantitas, dan tepat kualitas sehingga barang yang dibutuhkan masyarakat dengan mudah dapat diperoleh. c. Sebagai agen pembangunan, kegiatan perusahaan sebagai agen pembangunan ditujukan untuk meningkatkan produksi melalui penelitian dan pengembangan. Setiap perusahaan selalu berusaha supaya tidak ketinggalan ilmu dan teknologi serta dapat mengembangkan diri sesuai dengan kemajuan zaman. Perusahaan yang mencapai sukses dapat dikatakan berfungsi sebagai agen pembangunan. Perusahaan yang demikian tidak hanya mengejar keuntungan bagi pemilik modal, tetapi bertanggung jawab pula atas kesejahteraan karyawan khususnya dan masyarakat umumnya.

3. Pemerintah Pemerintah merupakan pihak yang mempunyai peranan penting dalam perkonomian. Di dalam perkonomian pemerintah bertugas untuk mengatur, mengendalikan, serta mengadakan kontrol terhadap jalannya roda perekonomian agar negara dapat maju dan rakyat dapat hidup layak dan damai.

a. Peranan Pemerintah sebagai Pengatur Pengaturan kegiatan ekonomi oleh pemerintah dapat ditempuh melalui peraturan dan perundang-undangan disertai berbagai tindakan nyata. Pemerintah dapat melaksanakannya sebab memiliki alat-alat ntuk melaksanakannya baik alat pengendali, pengatur, maupun pemaksa. b. Peranan Pemerintah sebagai Pengontrol Sebagai pengontrol kegiatan ekonomi, pemerintah mempunyai bank sentral yang berfungsi mengawasi lalu lintas keuangan, antara lain jumlah uang yang beredar, tinggi rendahnya suku bunga, lalu lintas kredit, dan sebagainya. Pemerintah juga satu-satunya yang mempunyai hak untuk mencetak uang serta mengedarkannya di masyarakat. c. Peranan Pemerintah sebagai Penguasa 1. Pemerintah memiliki alat pemaksa bagi terselenggaranya ketertiban di dalam masyarakat, yaitu polisi. 2. Pemerintah memiliki alat peradilan bagi terselenggaranya keadilan bagi seluruh rakyat. d. Peranan Pemerintah sebagai Konsumen Untuk menjalankan tugasnya, pemerintah memerlukan berbagai macam barang dan jasa, misalnya untuk kegiatan administrasi, diperlukan peralatan kantor dan alat-alat tulis. e. Peranan Pemerintah sebagai Produsen/Investor

1. Pemerintah dapat bertindak sebagai produsen untuk menghasilkan barang dan jasa yang menyangkut kepentingan orang banyak. 2. Pemerintah bertindak sebagai investor, artinya penanam modal baik seluruhnya atau sebagian pada perusahaan-perusahaan yang beroperasi di Indonesia.

4. Masyarakat Luar Negeri Peranan masyarakat luar negeri dalam perekonomian sangat penting apalagi dalam perekonomian yang mengglobal seperti sekarang ini, setiap negara tidak dapat lagi menghindar dari keterlibatannya dalam perdagangan internasional jika ingin perekonomian negaranya tidak terpuruk. Peranan masyarakat luar negeri tersebut adalah sebagai berikut.

a. Masyarakat Luar Negeri sebagai Konsumen Masyarakat luar negeri sebagai konsumen dari produk barang/ jasa yang dihasilkan, yaitu dengan mengekspor barang/jasa tersebut ke negara mereka. b. Masyarakat Luar Negeri sebagai Produsen Selain sebagai konsumen, masyarakat luar negeri juga bertindak sebagai produsen. Artinya, produk barang/jasa yang mereka hasilkan dapat kita konsumsi dengan cara mengimpornya. Dengan demikian, masyarakat berkesempatan menikmati produk-produk yang bermutu tunggi yang belum tentu dapat dihasilkan di dalam negeri. c. Masyarakat Luar Negeri sebagai Investor Pembangunan suatu bangsa membutuhkan pelaku-pelaku yang berani menanamkan modalnya, baik penanaman langsung maupun tidak langsung. Investor-investor itu banyak berasal dari luar negeri karena umumnya mereka banyak mempunyai dana dan lebih maju. d. Sumber Tenaga Kerja Ahli Negara maju banyak memiliki tenaga ahli yang sangat dibutuhkan negara lain. Dengan demikian, negara lain dapat memenuhi kekurangan tenaga kerja di dalam negeri.

Perilaku Konsumen dan Produksi Dalam Kegiatan Ekonomi

Perilaku Konsumen dan Produksi Dalam Kegiatan Ekonomi

Perilaku Konsumen dan Produksi Dalam Kegiatan Ekonomi

Perilaku Konsumen
Perilaku Konsumen

Perilaku Konsumen

A. Nilai Barang. Masih ingatkah kalian, bahasan tentang macam-macam kebutuhan pada Bab 1 lalu? Manusia dalam memenuhi kebutuhannya itu melakukan kegiatan ekonomi. Dengan melakukan kegiatan ekonomi ini, manusia akan memperoleh penghasilan yang dapat digunakan untuk membeli barang dan jasa melalui kegiatan konsumsi. Kegiatan mengkonsumsi barang dan jasa dimaksudkan dengan tujuan mengurangi atau menghabiskan nilai dan kegunaan barang dan jasa. Contohnya, makan dan minum, berarti menghabiskan nilai guna barang. Sementara, memakai sepatu berarti mengurangi nilai guna barang secara berangsur-angsur dan akhirnya rusak (habis). Jadi apa yang dimaksud konsumsi? Konsumsi menurut ilmu ekonomi adalah kegiatan mengurangi dan atau menghabiskan secara berangsur-angsur atau sekaligus nilai guna suatu barang dan jasa. Dengan demikian, barang dan jasa yang dikonsumsi tersebut mempunyai nilai guna dan manfaat. Nilai atau manfaat barang dibedakan menjadi dua, yaitu nilai pakai dan nilai tukar.

Perilaku Konsumen

1. Nilai Pakai. Nilai pakai adalah nilai kegunaan barang untuk dipakai memenuhi kebutuhan hidup. Nilai pakai ini dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Nilai Pakai Subjektif. Nilai pakai subjektif adalah kemampuan barang untuk dipakai memenuhi kebutuhan hidup bagi setiap individu secara pribadi (untuk diri sendiri). Contohnya, sebuah alat pertukangan seperti palu bagi seorang tukang kayu adalah barang yang sangat berguna dan mempunyai nilai pakai yang tinggi bagi pekerjaannya. Lain halnya bila digunakan seorang bapak untuk memaku jendela kamar yang rusak, disini palu mempunyai nilai pakai hanya pada saat tertentu saja.

b. Nilai Pakai Objektif. Nilai pakai objektif adalah kemampuan barang secara umum untuk dipakai memenuhi kebutuhan hidup. Contohnya, baju akan mempunyai nilai pakai yang sama bagi semua orang yaitu dipakai untuk melindungi tubuh.

Perilaku Konsumen

2. Nilai Tukar. Nilai tukar adalah kemampuan barang untuk ditukar dengan barang lain, baik ditukar dengan uang atau barang lain. Nilai tukar ini dibedakan menjadi dua macam yaitu :

a. Nilai Tukar Subjektif. Kemampuan barang untuk ditukar dengan barang lain dan bersifat individualis, artinya bahwa antara orang yang satu dengan yang lain berbeda, tergantung sudut pandang dan kondisi orang yang memiliki barang tersebut (pemiliknya). Contohnya, orang Asia khususnya Indonesia makanan pokoknya nasi, namun apabila nasi ini ditukar dengan roti atau kentang untuk menggantikan nasi sebagai makanan pokok tentu saja tidak akan mau, sebab nasi sudah menjadi makanan pokok secara turun temurun. Demikian juga dengan orang Eropa, apabila makanan pokok mereka yaitu roti diganti dengan nasi juga tidak akan mau, walaupun pada dasarnya nasi dan roti sama-sama mengandung karbohidrat yang dibutuhkan oleh tubuh.

b. Nilai Tukar Objektif. Kemampuan suatu barang untuk ditukar dengan barang lain yang berlaku secara umum. Contohnya, pada umumnya orang yang sedang menulis dengan menggunakan bolpoint, tidak berkeberatan jika diganti dengan spidol.

Perilaku Konsumen

B. Teori Nilai Guna (Utility) Menurut teori nilai guna, setiap barang mempunyai daya guna atau memberikan kepuasan kepada konsumen yang menggunakan barang. Jadi, jika seorang konsumen meminta sesuatu jenis barang, pada dasarnya yang diminta adalah nilai guna (utilitas) barang tersebut.

Perilaku Konsumen

Nilai guna (utilitas) adalah kepuasan dan kenikmatan yang diperoleh seseorang dalam mengonsumsi barang dan jasa. Kepuasan yang semakin tinggi akan menambah tinggi pula nilai guna atau utility dari barang tersebut. Teori nilai guna dapat digolongkan manjadi dua macam, yaitu nilai guna total (total utility) dan nilai guna marjinal (marginal utility).

Perilaku Konsumen

1. Nilai Guna Total (Total Utility) Nilai guna total adalah jumlah seluruh kepuasan yang diperoleh konsumen dalam mengonsumsi sejumlah barang tertentu. Contohnya, kalian membeli roti sebanyak 2 buah dan memakannya di kantin sekolah dan guna total roti yang kalian konsumsi tersebut adalah 4. Pada hari berikutnya, konsumsi kalian terhadap roti meningkat.

2. Nilai Guna Marjinal (Marginal Utility) Nilai guna marjinal berarti pertambahan atau pengurangan kepuasan sebagai akibat dari pertambahan atau pengurangan penggunaan satu unit barang tertentu. Nilai guna marjinal (marginal utility) hanya berlaku dengan beberapa asumsi berikut ini :

a. Nilai guna dapat diukur.

b. Konsumen bersifat rasional sehingga perilakunya dapat dipahami secara logis.

c. Konsumen bertujuan untuk memaksimumkan utilitasnya. Contohnya, ketika kalian memakan roti pertama, nilai guna total roti yang didapat adalah 30. Pada konsumsi roti berikutnya kalian mendapat nilai guna total 50. Dari nilai guna total konsumsi roti pertama dan berikutnya, akan kita temukan nilai guna marjinalnya yaitu 50 – 30 = 20. Jadi nilai guna marjinalnya adalah 20.

Perilaku Konsumen

C. Kombinasi Barang yang Mewujudkan Kepuasan Sama (Analisis Kurva Indifferen). Seorang konsumen yang pendapatannya terbatas, dapat memaksimumkan kepuasannya terhadap barang dan jasa yang menjadi preferensinya dengan memilih kombinasi konsumsi atas barang-barang yang dikonsumsi. Kombinasi konsumsi dua macam barang dari seorang konsumen yang memberikan tingkat kepuasan yang sama ditunjukkan dengan analisis kurva indifferen. Dengan analisis kurva indifferen konsumen tidak perlu mengetahui nilai guna (utility) secara absolut yang dapat diperoleh dari kombinasi tertentu dari kedua jenis barang tersebut. Ia hanya perlu membuat urutan preferensi yang lebih menguntungkan bagi dirinya dan tentunya urutan tersebut dibuat berdasarkan utilitasnya, sehingga kombinasi barang yang mempunyai nilai guna yang lebih tinggi akan lebih disukainya.

Dengan demikian tingkat kepuasan seseorang dalam mengonsumsi barang dan jasa tidak dapat dihitung dengan uang atau angka atau satuan lainnya, tetapi dapat dinyatakan lebih tinggi atau lebih rendah atau dengan skala ordinal seperti ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya. Perlu diketahui, bahwa dalam analisis kurva indifferen juga digunakan asumsi-asumsi yang sama seperti pada marjinal utiliti. Berikut ini asumsi-asumsi yang digunakan dalam analisis kurva indifferen :

1. Rasionalitas, dengan dana dan harga pasar tertentu, konsumen dianggap selalu akan memilih kombinasi barang yang akan mendatangkan nilai guna atau kepuasan maksimum.

2. Konsumen dianggap mempunyai informasi yang sempurna atas uang yang tersedia baginya serta informasi harga-harga yang ada di pasar.

Perilaku Konsumen

3. Konsumen perlu mempunyai preferensi yang disusun atas dasar besar kecilnya nilai guna, walaupun besarnya nilai guna itu sendiri secara absolut tidak perlu diketahui.

Perilaku Konsumen dan Produksi

Sifat-Sifat Khusus Kurva Indifferen Kurva indifferen mempunyai beberapa ciri atau sifat seperti berikut ini :

1. Kurva indifferen mempunyai kemiringan (slope) negatif (miring dari kiri atas ke kanan bawah).

2. Kurva indifferen yang lebih tinggi kedudukannya menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.

3. Kurva indifferen tidak pernah berpotongan dengan kurva indifferen lainnya.

4. Kurva indifferen cembung ke titik asal (titik 0).

Perilaku Konsumen

D. Keseimbangan Konsumen. Sebagaimana yang kalian ketahui, bahwa konsumen menghendaki kombinasi barang yang dikonsumsi akan menghasilkan kepuasan tertinggi. Suatu keadaan dimana konsumen mencapai kepuasan maksimum dengan menghabiskan anggaran tertentu untuk mengonsumsi suatu barang atau jasa disebut keseimbangan konsumen. Berikut ini hal-hal penting mengenai keseimbangan konsumen :

1. Jika harga barang mengalami perubahan, maka konsumen akan mengubah pola konsumsinya. Informasi ini penting sekali bagi produsen (perusahaan) sebagai masukan untuk menetapkan harga jual produknya.

2. Bahwa pola konsumsi konsumen ditentukan oleh tingkat pendapatannya. Jika pendapatannya berubah (misalnya naik) sehingga garis anggaran bergeser ke kanan, maka pola konsumsi konsumen juga akan mengalami perubahan.

3. Pola konsumsi seorang konsumen dapat berubah jika selera konsumen terhadap barang-barang juga mengalami perubahan. Adapun pola konsumsi setiap individu atau masyarakat dapat berbeda-beda antara satu dengan yang lainnya. Hal ini karena dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut ini :

1. Pendapatan

2. Gaya hidup

3. Selera

4. Lingkungan tempat tinggal

5. Jenis pekerjaan

6. Tingkat pendidikan

7. Harga barang atau jasa

8. Agama

9. Sosial Budaya

10. Usia dan jenis kelamin

E. Teori Produksi

Produksi adalah segala kegiatan untuk menciptakan atau menambah guna suatu benda untuk memenuhi kebutuhan. Contohnya, kayu. Kayu akan lebih terasa manfaatnya atau nilai gunanya akan bertambah apabila sudah menjadi kursi, meja, almari, dan sebagainya. Untuk mengubah kayu menjadi sebuah kursi, meja, atau almari diperlukan faktor-faktor produksi.

1. Faktor-Faktor Produksi Faktor-faktor produksi adalah sesuatu (dapat berupa barang, alat-alat, atau manusia) yang digunakan untuk menghasilkan barang dan jasa atau menambah nilai guna suatu barang dan jasa (kegiatan produksi). Faktor-faktor produksi dibedakan menjadi 4 (empat) macam yaitu :

a. Faktor Produksi Alam. Mungkin kalian sudah pernah mendengar kata “alam”. Kalian tentu membayangkan pepohonan yang rindang, gunung yang tinggi, air sungai yang mengalir, gemuruh air terjun, dan sebagainya.

Faktor produksi alam adalah semua yang tersedia di alam dan dapat dipakai dalam proses produksi. Faktor produksi alam antara lain: tanah, air, udara, sinar matahari, flora dan fauna, serta barang-barang tambang. Unsur-unsur alam tersebut dapat digunakan dalam proses produksi, misalnya tanah dapat dijadikan gudang atau tempat perkantoran, atau digunakan untuk membuat gerabah dan lahan pertanian. Sementara, air dapat digunakan minum, udara atau angin dapat dijadikan sebagai tenaga penggerak kincir angin, sinar matahari dapat dijadikan sumber energi, flora dan fauna dapat dijadikan sebagai sumber makanan, dan lain-lain.

b. Faktor Produksi Tenaga Kerja. Sumber-sumber alam tersebut dapat digunakan untuk proses produksi jika ada yang mengolahnya. Jadi, dibutuhkan tenaga kerja dalam kegiatan produksi. Tenaga kerja dibedakan menjadi :

1) Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang membutuhkan pendidikan formal. Contoh: dokter, arsitek, guru, teknisi komputer, dan lain-lain.

2) Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerja yang mempunyai pengalaman dan keahlian tertentu. Contoh: sopir, penjahit, montir, dan lain-lain.

3) Tenaga kerja kasar adalah tenaga kerja yang tidak memerlukan pendidikan atau pengalaman (pelatihan) secara khusus. Contoh: tukang kebun, tukang becak, tukang cuci, dan lain-lain.

c. Faktor Produksi Modal. Sumber-sumber alam tidak cukup hanya diolah dengan tenaga kerja saja, tetapi juga membutuhkan modal untuk mendukung kelancaran dalam proses produksi. Contohnya, perusahaan air mineral membutuhkan modal dalam bentuk uang dan peralatan untuk mengambil air dari pegunungan dan mengolahnya menjadi air minum kemasan.

d. Faktor Produksi Kewirausahaan. Sumber daya kewirausahaan dibutuhkan untuk mengorganisir pelbagai sumber daya yang ada agar efektif dan efisien, sehingga proses produksi dapat berjalan dengan lancar dalam upaya menyediakan barang dan jasa untuk masyarakat.

2. Fungsi Produksi Hubungan teknik antara faktor produksi (input) dengan hasil produksi (output) disebut fungsi produksi. Faktor produksi merupakan hal yang mutlak dalam proses produksi karena tanpa faktor produksi, kegiatan produksi tidak dapat berjalan. Fungsi produksi menggambarkan teknologi yang dipakai oleh suatu perusahaan, industri, atau suatu perekonomian secara keseluruhan.

3. Teori Produksi dengan Satu Faktor Berubah Ingatkah kalian dengan istilah law of diminishing utility? Ya, hukum tambahan kepuasan yang semakin menurun dalam teori nilai guna telah kalian pelajari. Dalam teori produksi ini kita akan mempelajari law diminishing returns yaitu hukum tambahan hasil yang semakin berkurang (hasil lebih yang semakin menurun). Hukum hasil lebih yang semakin berkurang merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan dari teori produksi. Hukum tersebut menjelaskan sifat pokok dari hubungan di antara tingkat produksi dan tenaga kerja yang digunakan untuk mewujudkan produksi tersebut. Hukum hasil lebih yang semakin berkurang menyatakan bahwa, “apabila faktor produksi yang dapat diubah jumlahnya (tenaga kerja) terus menerus ditambah sebanyak satu unit, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya, tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan akan semakin berkurang dan akhirnya mencapai nilai negatif”.

4. Teori Produksi dengan Dua Faktor Berubah

Teori produksi dengan dua faktor berubah, menggunakan asumsi bahwa terdapat dua jenis variabel faktor produksi yang berubah, yaitu tanah dan tenaga kerja. Dalam hal ini, kita dapat menganggap kedua variabel faktor produksi tersebut masih harus dikombinasikan dengan satu atau lebih faktor produksi tetap yang lain, atau hanya kedua faktor produksi itu saja yang diperlukan dalam proses produksi. Hal ini berarti apabila harga tenaga kerja dan harga modal per unitnya kita ketahui, maka analisis tentang bagaimana seorang produsen dapat meminimumkan biaya dalam usahanya untuk mencapai suatu tingkat produksi tertentu dapat ditunjukkan. Fungsi produksi dalam teori produksi dengan dua faktor berubah dapat digambarkan dengan kurva isokuan (isoquant).

F. Perilaku Produksi yang Mengutamakan Kepentingan Masyarakat

1. Etika dalam Kegiatan Produksi

Suatu perusahaan dalam melakukan kegiatan produksi tentu tidak terlepas dari lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, sebuah perusahaan perlu memahami lingkungan yang terkait secara langsung atau tidak langsung dengan kegiatan produksinya. Misalnya, ketika sebuah perusahaan beroperasi di daerah yang masyarakatnya mengalami tingkat pengangguran yang tinggi maka perusahaan tersebut perlu memikirkan kenyataan tersebut dan kaitannya dengan pencapaian tujuan perusahaan.

Lingkungan yang terkait dengan perusahaan dibagi menjadi dua bentuk berikut ini :

a. Lingkungan internal yaitu lingkungan yang terkait dengan eksistensi sebuah perusahaan.

b. Lingkungan eksternal yaitu lingkungan yang terkait dengan kegiatan operasional perusahaan dan bagaimana kegiatan oeprasionalnya dapat bertahan.

Dengan demikian, perusahaan mempunyai tanggung jawab sosial yang besar pada lingkungan masyarakatnya. Adapun tanggung jawab sosial perusahaan yang lain terhadap lingkungan masyarakatnya antara lain :

a. kebersihan dan kesehatan lingkungan.

b. keadaan ekonomi masyarakat pada umumnya.

c. partisipasi perusahaan dalam pembangunan lingkungannya.

2. Manfaat Tanggung Jawab Sosial Tanggung jawab sosial sebagai konsekuensi logis bagi perusahaan untuk lebih proaktif dalam mengambil inisiatif dalam hal tanggung jawab sosial. Karena pada dasarnya tanggung jawab sosial akan memberikan manfaat dalam jangka panjang bagi semua pihak. Tanggung jawab sosial yang diberikan perusahaan pada lingkungan masyarakatnya akan memberikan manfaat bagi perusahaan yang bersangkutan, masyarakat, dan pemerintah.

a. Bagi Perusahaan Manfaat yang jelas bagi perusahaan jika perusahaan memberikan tanggung jawab sosial adalah munculnya citra positif dari masyarakat akan kehadiran perusahaan di lingkungannya. Selain membantu perekonomian masyarakat, perusahaan juga akan dianggap bersama masyarakat membantu dalam mewujudkan keadaan yang lebih baik di masa yang akan datang. Akibatnya, perusahaan justru akan memperoleh tanggapan positif setiap kali akan menawarkan produk pada masyarakat. Perusahaan tidak saja dianggap sekadar menawarkan produk untuk dibeli masyarakat, tetapi juga dianggap menawarkan sesuatu yang akan membawa perbaikan bagi masyarakat.

b. Bagi Masyarakat Manfaat bagi masyarakat dari tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh perusahaan sangatlah jelas. Selain beberapa kepentingan masyarakat diperhatikan oleh perusahaan, masyarakat juga akan mendapatkan pandangan baru mengenai hubungan perusahaan dengan masyarakat. Hubungan masyarakat dan dunia bisnis tidak lagi dipahami sebagai hubungan antara pihak yang mengeksploitasi dan pihak yang tereksploitasi, tetapi hubungan kemitraan dalam membangun masyarakat dan lingkungan yang lebih baik.

c. Bagi Pemerintah Pemerintah sebagai pihak yang mempunyai legitimasi untuk mengubah tatanan masyarakat ke arah yang lebih baik akan mendapatkan partner dalam mewujudkan tatanan masyarakat tersebut. Sebagian tugas pemerintah dapat dijalankan oleh anggota masyarakat, dalam hal ini perusahaan atau organisasi bisnis.

3. Perilaku Produsen dalam Kegiatan Produksi

a. Perencanaan

Perencanaan yang baik harus memenuhi persyaratan berikut ini :

1) Faktual dan realistis; artinya apa yang dirumuskan sesuai fakta dan wajar untuk dicapai dalam kondisi tertentu yang dihadapi perusahaan.

2) Logis dan rasional; artinya apa yang dirumuskan dapat diterima oleh akal sehingga perencanaan dapat dijalankan.

3) Fleksibel; artinya perencanaan yang baik adalah yang tidak kaku yaitu dapat beradaptasi dengan perubahan di masa yang akan datang.

4) Komitmen; artinya perencanaan harus melahirkan komitmen terhadap seluruh isi perusahaan (karyawan dan pimpinan) untuk bersama-sama berupaya mewujudkan tujuan perusahaan.

5) Komprehensif; artinya perencanaan harus menyeluruh dan mengakomodasi aspek-aspek yang terkait langsung terhadap perusahaan.

b. Pengorganisasian Produsen harus dapat mengalokasikan keseluruhan sumber daya yang ada (dimiliki) oleh perusahaan untuk mencapai tujuan dan rencana perusahaan yang telah ditetapkan. Dalam pengorganisasian ini, rencana dan tujuan perusahaan diturunkan dalam sebuah pembagian kerja yang terdapat kejelasan tentang bagaimana rencana dan tujuan perusahaan akan dilaksanakan, dikoordinasikan, dan dikomunikasikan.

c. Pengarahan Langkah berikutnya yang harus dilakukan produsen adalah bagaimana keseluruhan rencana yang telah diorganisir tersebut dapat diimplementasikan. Agar rencana terwujud, produsen wajib mengarahkan dan membimbing anak buahnya.

d. Pengendalian Produsen harus melakukan kontrol terhadap apa yang telah dilakukan. Hal ini terkait dengan pencapaian tujuan perusahaan. Karena, walaupun rencana yang sudah ada dapat diatur dan digerakkan dengan jitu tetapi belum menjamin bahwa tujuan akan tercapai dengan sendirinya. Untuk itu perlu dilakukan pengendalian (kontrol) dan pengawasan dari produsen atau pengusaha (pimpinan) yang bersangkutan.