Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia
Tinjauan Sosiologi terhadap Masalah di Indonesia

Menerapkan pengetahuan sosiologi secara praktis tidak hanya dilakukan di lingkungan keluarga dalam skala mikro, tetapi juga menyangkut hubungan antarsuku, agama, dan ras serta berbagai aspek kehidupan yang lebih luas dalam skala makro. Terlebih lagi dalam menghadapi berbagai masalah sosial yang sering muncul akhir-akhir ini di Indonesia, peranan sosiologi sangat diharapkan.

Beberapa masalah sosial yang dihadapi Indonesia dewasa ini di antaranya menyangkut masalah nilai-nilai, masalah penegakan hukum, masalah hubungan antarsuku bangsa, dan modernisasi. Bagaimana menerapkan pengetahuan sosiologi dalam menghadapi masalah-masalah tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

1. Masalah Nilai-Nilai Mengenai nilai-nilai yang ada di Indonesia dewasa ini, terdapat kecenderungan masyarakat menganut nilai-nilai yang dianggap negatif oleh bagian terbesar warga masyarakat, tetapi secara terpaksa harus dianut juga (padahal secara logis dan benar, seharusnya dihindari). Misalnya, dalam bidang hakikat hidup ada kecenderungan yang sangat kuat untuk menekankan nilai keakhlakan atau spiritualisme semata, atau sebaliknya pada nilai kebendaan atau materialisme. Kecenderungan untuk berpedoman pada nilai keakhlakan semata terdapat pada golongan masyarakat yang secara relatif dirugikan oleh keadaan. Pada golongan masyarakat yang lain, terdapat kecenderungan untuk memberikan tekanan yang sangat kuat pada nilai kebendaan sehingga ada anggapan kuat bahwa hidup ini dikendalikan oleh materialisme semata. Pengaruh dari nilai tersebut sangat terasa pada nilai-nilai lainnya, seperti ada kecenderungan kuat untuk berkarya demi mendapatkan kedudukan dengan atribut-atribut yang konsumtif yang kemudian disusul dengan nilai yang berorientasi pada masa kini. Hal ini kemudian tidak memperhatikan kelestarian alam dan mempunyai pengaruh besar terhadap pergaulan sosial yang dilandasi pada faktor kebendaan semata-mata. Tekanan pada nilai kebendaan mempunyai suatu akibat bahwa di dalam pergaulan hidup yang sangat dipentingkan adalah status atau kedudukan. Sebagaimana dikatakan di awal, hal ini merupakan salah satu ciri masyarakat sederhana. Padahal, proses perubahan terencana yang dewasa ini dilakukan mempunyai tujuan mencapai suatu masyarakat modern, di mana peranan (role) sangat di pentingkan. Misalnya, seseorang yang diberikan jabatan tertentu bukanlah bergantung pada gelar kesarjanaan, akan tetapi pada prestasi objektifnya di dalam menjalankan fungsi dalam jabatan tersebut. Hal-hal yang dijelaskan tersebut banyak terjadi dalam sistem masyarakat Indonesia dewasa ini dan seperti sudah melembaga yang sukar untuk diubah. Nilai kebendaan tersebut bahkan dapat dijumpai kecenderungannya dalam bidang lain, seperti politik, ekonomi, sosial, hukum, dan lainnya. Ketimpangan dalam kehidupan manusia akan terus terjadi jika tekanan hanya diletakkan pada satu nilai saja. Misalnya, jika orang lebih mementingkan nilai kebendaan dan melupakan nilai keakhlakan atau sebaliknya.

2. Masalah Penegakan Hukum Proses penegakan hukum merupakan suatu penyerasian antara nilai-nilai, norma-norma, dan perikelakuan nyata dalam masyarakat. Apabila terjadi ketidakserasian, timbullah masalah di dalam proses penegakan hukum, baik dalam skala kecil maupun besar, terutama yang menyangkut hubungan interpersonal antara penegak-penegak hukum yang mempunyai pengaruh timbal balik dan lembagalembaga hukum yang menurut GBHN harus diserasikan. Secara konvensional, yang dianggap penegak hukum adalah hakim, jaksa, polisi, pengacara, dan petugas-petugas lembaga pemasyarakatan. Hakim, jaksa, dan polisi, misalnya oleh peraturan perundang-undangan yang ada ditempatkan pada kedudukan atau status yang sederajat, padahal peranannya berbeda-beda. Akan tetapi, pada kenyataannya, mereka lebih diorientasikan pada status sehingga tidak jarang peran masing-masing diabaikan demi menjaga prestise korpsnya masing-masing. Keadaan yang tidak menguntungkan dari pencari keadilan tersebut juga ditambah dengan kurangnya fasilitas dan taraf kesadaran serta kepatuhan hukum yang relatif rendah dari warga masyarakatnya. Misalnya, ada hakim atau jaksa yang mudah disogok atau masyarakat yang dibodohi oleh hukum. Masalah tersebut tidak dapat dilepaskan dari nilai-nilai yang dianut padahal di dalam hal-hal tertentu malahan harus dihindari. Di dalam proses penegakan hukum di Indonesia, ada suatu kecenderungan yang kuat untuk menekankan pada nilai ketertiban, kepastian, kepentingan umum, dan kebendaan. Padahal, para pencari keadilan juga memerlukan ketenteraman, kesebandingan, dan kepentingan pribadi, ataupun keakhlakan.

3. Masalah Hubungan Antarsuku Bangsa Masalah ini bisa terjadi pada masyarakat sederhana, madya, ataupun modern. Hal ini mungkin harus dibedakan dari masalah yang terjadi antara golongan pribumi dan nonpribumi. Mengenai hubungan antarsuku bangsa, mungkin saja timbul masalah yang bersumber pada hal-hal sebagai berikut. a. Suatu suku bangsa tertentu ingin memaksakan unsur-unsur kebudayaan khusus yang dianutnya pada suku bangsa lain, baik secara nyata maupun tidak. b. Suatu suku bangsa tertentu mencoba memaksakan unsur-unsur agama yang dianutnya terhadap suku bangsa lain yang berbeda agamanya. c. Suatu suku bangsa tertentu ingin atau mencoba men dominasi suku bangsa lain secara politis. d. Suku-suku bangsa tertentu bersaingan keras untuk mendapatkan lapangan mata pencaharian yang sama dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar. e. Adanya potensi konflik yang terpendam.

Di Indonesia sebagai masyarakat majemuk, permasalahannya sudah jelas, yaitu setiap suku bangsa mempunyai kebudayaan khusus dan sistem sosial yang berbeda-beda. Secara sosiologis, perlakuannya juga harus berbeda sehingga timbul masalah bagai mana mengadakan pengaturan yang diskriminatif dan adil. Diskriminasi dan keadilan seringkali dianggap sebagai dua nilai yang berlawanan sehingga pada pengertian diskriminasi senantiasa diberikan pengertian negatif. Padahal kedua pengertian tersebut merupakan nilai-nilai yang berpasangan yang tidak jarang bertentangan sehingga harus diserasikan.

4. Modernisasi Seringkali dikatakan bahwa modernisasi tidaklah identik dengan westernisasi. Anggapan tersebut timbul karena modernisasi di masyarakat Barat mempunyai akibat-akibat yang negatif. Walau demikian, terdapat berbagai aspek modernisasi yang dapat dinilai baik untuk pembangunan masyarakat Indonesia sehingga perlu ditiru. Perkembangan modernisasi selanjutnya tidak terbatas pada industrialisasi dan demokratisasi saja, tetapi menyangkut pula barbagai bidang kehidupan lainnya yang saling berhubungan sehingga kemajuan suatu bidang kehidupan akan diikuti oleh bidangbidang kehidupan yang lain, seperti:

a. kemajuan ilmu pengetahuan maka akan diikuti oleh teknologi; b. kemajuan material atau kebendaan yang digunakan oleh setiap manusia harus dimbangi oleh sikap mental untuk menyesuaikan diri dengan benda yang dimilikinya, jika tidak, akan dianggap sebagai orang yang ketinggalan zaman atau ketinggalan kebudayaan. Setiap perubahan yang terjadi di masyarakat tentu saja ada sisi baik dan sisi buruknya. Hal ini bergantung pada masyarakat sendiri dalam menafsirkan modern. Akan tetapi, jika kata modern ditafsirkan secara salah, akan mengakibatkan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan budaya atau kepribadian bangsa, seperti meniru gaya penyanyi atau bintang film supaya dianggap modern. Padahal modern dan tidaknya bukan dengan jalan meniru kehidupan gaya Eropa atau Amerika, melainkan sikap dan perilaku sebagai orang modern. Modernisasi merupakan perubahan sosial dari keadaan yang tradisional atau pra-industri ke arah modernitas melalui transisi (peralihan). Dalam kehidupan masyarakat tradisional dapat dikatakan bahwa seluruh masyarakat memiliki jiwa yang tradisional. Akan tetapi, pada masyarakat peralihan terdapat masyarakat yang memiliki jiwa berlainan, yaitu tradisional, transisi, dan telah modern yang menyebabkan masyarakat tersebut dapat berbaur. Dengan demikian, perilaku antarsifat-sifat masyarakat satu sama lain akan tampak sekali perbedaannya, seperti berikut ini. a. Masyarakat yang berjiwa tradisional akan menganggap setiap perubahan dapat mendatangkan pengaruh bagi kehidupan masyarakat dan dapat menyebabkan kerugian. Setiap perubahan akan ditentang karena mereka lebih mementingkan kemampuan daerahnya dalam setiap kehidupan masyarakat. b. Masyarakat transisi akan senantiasa memperhitungkan perubahan yang datang, tetapi mereka kadangkala salah menafsirkan konsep modern sehingga setiap yang datang dan berasal dari luar (terutama berasal dari masyarakat Barat dan Eropa/Amerika) kadangkala dianggap modern. c. Masyarakat yang berjiwa modern akan menerima setiap perubahan yang bernilai positif dan menolak pengaruh yang bersikap negatif karena penting sekali bagi perkembangan kehidupan masyarakat, walaupun datangnya dari luar.

Proses perubahan ke arah yang lebih maju dari sebelumnya yang ditunjang oleh sikap dan perilaku masyarakat untuk menerima perubahan-perubahan tersebut merupakan suatu proses ke arah modern yang dinamakan modernisasi. Dengan demikian, modernisasi dapat diartikan sebagai suatu sikap pikiran yang mempunyai kecenderungan untuk pendahuluan sesuatu yang baru daripada yang bersifat tradisi, dan satu sikap pikiran yang hendak menyesuaikan soal-soal yang sudah menetap menjadi kebutuhankebutuhan yang baru. Modernisasi umumnya dihubungkan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk suatu kemajuan masyarakat secara positif, begitu pula masyarakat secara terbuka menerima perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi dalam modernisasi memainkan peranan yang sangat penting di berbagai bidang kehidupan. Oleh karena itu, manusia sebagai pelaku modernisasi dituntut untuk selalu siap menerima perubahan-perubahan ke arah kemajuan yang positif. Perubahan-perubahan tersebut, misalnya: a. sikap masyarakat akan pentingnya pendidikan sekolah; b. keinginan untuk hidup lebih baik; c. adanya usaha untuk mengejar ketinggalan dari masyarakat lain; d. menghargai pendapat orang lain; e. tidak menganggap pendapatnya lebih baik daripada orang lain; f. memandang bahwa kehidupan hari esok harus lebih baik daripada hari ini; dan lain-lain.

Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Ancaman terhadap Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas – Sudah merupakan suatu hal biasa kalau orang-orang pencinta lingkungan hidup selalu mengumandangkan kekhawatiran mereka tentang kelestarian hayati. Berbagai imbauan, peringatan, dan kekhawatiran tentang hal ini telah dilakukan baik melalui iklan media massa, penyuluhan maupun diklat-diklat. Pada abad sekarang, manakala manusia sudah mengikuti arus industrialisasi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, banyak kegiatan yang tanpa sadar mengancam kelestarian biodiversitas. Jika hal ini dibiarkan, keanekaragaman hayati dapat mengalami penurunan, baik secara kualitas maupun kuantitas. Memang bukan hanya kegiatan manusia yang dapat mengancam penurunan biodiversitas. Namun, penyebab lain pun secara tidak langsung merupakan campur tangan manusia. Berikut ini dapat kita simak beberapa hal tersebut.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas
Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

1. Perusakan, Fragmentasi, dan Pemusnahan Habitat

Di Indonesia, problem kepadatan penduduk menjadi faktor yang langsung mengancam biodiversitas. Program transmigrasi dari Pulau Jawa ke pulau lain yang merupakan lahan habitat makhluk hidup kekayaan dunia telah menjadi penyebab rusak atau musnahnya habitat. Berbagai hutan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi dibuka dan dimusnahkan untuk area pemukiman.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

2. Masuknya Jenis Hewan dan Tumbuhan Baru pada Suatu Habitat tanpa Penelitian dan Pengembangan (Litbang) yang Saksama

Akibat kelalaian proses litbang, masuknya hewan dan tumbuhan baru pada suatu habitat akan mengganggu keseimbangan ekosistem. Tanpa diteliti karakternya, kemungkinan hewan dan tumbuhan baru tersebut menjadi pesaing bagi hewan dan tumbuhan yang ada. Kompetitor ini mungkin akan memusnahkan organisme tuan rumah. Dapat pula hewan baru ternyata menjadi hama dan gulma.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas

3. Penggunaan yang Berlebihan Jenis Tumbuhan dan Hewan pada Suatu Habitat

Manusia membutuhkan makanan, pakaian, rumah, obat-obatan, dan kebutuhan lainnya dengan memanfaatkan hewan dan tumbuhan di sekitarnya. Tanpa memperhitungkan proses reproduksi hewan dan tumbuhan, manusia terus-menerus mengeksploitasi kedua jenis makhluk hidup sampai pada suatu saat banyak hewan dan tumbuhan menjadi langka atau punah.

Keanekaragaman Hayati Biodiversitas – Hewan liar diburu di berbagai tempat. Jumlah yang diburu sangat banyak. Pemburu bukan hanya tidak mempunyai izin berburu, tetapi juga melakukan perburuan di kawasan konservasi termasuk taman nasional. Perburuan komersial yang tidak terkendali merupakan masalah gawat untuk jenis tertentu. Banyak hewan buruan yang sangat disukai di Indonesia, misalnya babi rusa (Babyrousa babyrussa), anoa (Bubalus depressicornis dan B. quarlesi), Kuau raja (Argusianus argus), walabi saham (Macropus agile), rusa jawa (Cervus timorensis), kasuari (Casuarius cauaris), ular sanca batik (Phyton reticulatus), burung rangkong (Bucros bicornis), berbagai burung hias, di antaranya kakaktua raja (Proboscijer atterrimus), Kepodang (Oriolus chinensis), Curik Bali (Leucopsar roschildi), Beo (Gracula religiosa), Perkutut Jawa (Geopelia striata), ayam hutan (Gallus varius), Ikan arwana (Scleropages formosus) juga menjadi ikan yang banyak diburu.

Info Biologi

Akibat Impor Tumbuhan Asing

Akibat bebasnya mendatangkan hewan dan tumbuhan asing ke dalam wilayah Indonesia, masuknya tumbuhan Akasia berduri dari Afrika mendatangkan malapetaka. Awalnya diniatkan untuk membuat jalur pembatas padang rumput di taman Nasional Baluran Jawa Timur, dengan menanam sejumlah Akasia berduri dari Afrika. Namun, Akasia ini tumbuh begitu cepat, bukan lagi di jalur pembatas, melainkaan di seluruh area padang rumput, merusak eksistensi tanaman yang ada. Untuk mencegah meluasnya pertumbuhan Akasia tersebut, pengelola taman nasinal Baluran melakukan buldoser. Sumber: media elektronik, TV .

Pencemaran (Air, Tanah, Udara) dalam Ekosistem

Manusia semakin banyak. Sisa kebutuhan hidupnya merupakan limbah yang mengancam. Limbah pabrik maupun limbah domestik (dari rumahrumah) merupakan bahan pencemar lingkungan. Satu contoh saja, mengenai limbah detergen. Detergen tidak mudah diuraikan, zat ini akan membunuh organisme perairan. Jika di perairan tersebut terdapat eceng gondok, dengan adanya detergen akan terjadi eutrofikasi, dalam waktu singkat terjadi ledakan pertumbuhan eceng gondok hingga menutup permukaan perairan. Cahaya matahari sulit masuk ke dalam perairan, menyebabkan tumbuhan air sulit melakukan fotosintesis. Rentetan berikutnya adalah kekurangan oksigen dan biota perairan mati.

Perubahan Iklim Global (Pemanasan Bumi)

Penggunaan zat kimia tertentu oleh manusia (misalnya PVC), pembakaran zat tertentu, telah menyebabkan ozon atmosfer berubah wujud secara kimiawi. Akibatnya fungsi ozon sebagai penangkal cahaya matahari hilang, dan bumi menjadi panas. Bumi mengalami efek rumah kaca. Atmosfer yang rusak ozonnya disebut memiliki lubang ozon. Intensitas cahaya matahari yang dapat ditangkal sekitar 90% oleh ozon, kini mengancam bumi 100% karena lubang ozon. Bumi akan mengalami pemanasan global karena panas yang masuk tidak dapat dipantulkan melewati atmosfer bumi. Selain itu, musnahnya hutan-hutan yang menjadi paru-paru dunia, akibat eksploitasi kayu-kayu oleh manusia, menyebabkan bumi bertambah panas.

Perkembangan Industri Pertanian dan Industri Perhutanan

Menurut Global Diversity Assesment, Heywod, 1995, pertanian komersial modern telah mendatangkan aspek negatif terhadap keanekaragaman hayati pada semua tingkat dari keanekaragaman ekosistem, spesies, dan genetik. Sebagai contoh, coba kita diskusikan dengan teman-teman, apa yang akan terjadi jika sebuah hutan diubah menjadi lahan monokultur. Lahan monokultur yang ada di Indonesia biasanya sawah. Sawah hanya ditanami satu jenis tanaman yaitu padi. Tentu dampaknya sangat merugikan eksistensi keanekaragaman hayati apabila hutan diubah menjadi sawah. Lahan akan kehilangan banyak plasma nutfah, ekosistem berubah, terjadi ledakan hama yang kehilangan habitatnya. Tanah pada lahan hutan yang diubah menjadi sawah lambat laun akan kehilangan banyak macam unsur hara. Dunia pertanian modern juga telah melahirkan pupuk buatan, dan pestisida kimiawi yang menyebabkan pencemaran dan kerusakan lingkungan. Pemanfaatan hasil hutan untuk segala sektor kehidupan, juga telah menyebabkan punahnya plasma nutfah.

Penambangan Logam dan Pemanfaatan Biota Laut

Penambangan logam biasanya diikuti dengan pengubahan suatu daerah menjadi daerah penambangan. Hutan dibuka, lalu dibangun daerah pertambangan. Sisa bidang-bidang habitat alami semakin kecil dan terasing, sehingga jenis margasatwa setempat cenderung punah. Padahal kepunahan berarti hanya menjadi sejarah. Kita harus memerhatikan kondisi yang dianugerahkan Tuhan yang menuntut kepedulian manusia agar tidak mempercepat kepunahan suatu jenis makhluk. Kondisi tersebut, di antaranya:

a. persebarannya sedikit dan kemampuan menyesuaikannya kecil; b. hanya ditemukan di daerah sempit; c. membutuhkan daerah luas untuk dapat bertahan hidup; d. dan tumbuhan dengan kekhususan tinggi. e. pemangsa besar yang diburu oleh manusia; f. mempunyai nilai komersial; g. pernah mempunyai kisaran luas dan berdekatan, tetapi sekarang terbatas pada kantong-kantong kecil habitat. Biota laut yang sebagian besar dimanfaatkan sebagai sumber makanan, diambil oleh nelayan dengan cara-cara yang merusak habitat, misalnya dengan menggunakan pukat harimau. Untuk mengantisipasi ancaman terhadap keanekaragaman hayati Indonesia, diperlukan upaya-upaya untuk melestarikannya sebagaimana dijelaskan dalam uraian berikut.

Upaya Pelestarian Keanekaragaman Hayati di Indonesia

Tekanan berbagai kepentingan pemanfaatan hayati di banyak kawasan, mengancam kekayaan margasatwa Indonesia. Kepulauan Indonesia berupa alam sangat luas dan penting baik secara nasional, maupun internasional. Indonesia mempunyai tanggung jawab dunia dan nasional untuk memerhatikan secara sungguh-sungguh mengenai perlindungan. Kini lebih dari 350 daerah di Indonesia ditetapkan untuk konservasi, meliputi upaya pelestarian ekosistem dan melindungi tanah dan air. Selain itu, Indonesia juga harus memerhatikan hal-hal yang mengkhawatirkan, seperti: 1) bagian terkaya daerah pelestarian telah hilang di daerah hutan penebangan; 2) petani mencari keuntungan lebih untuk nafkah hidup; 3) pembangunan jalan melintasi batas hutan dan menembus taman nasional; 4) pencarian dan penambangan mineral di banyak taman nasional dan kawasan lindung, sehingga mengganggu hutan dan margasatwa, juga pencemaran yang tinggi; 5) kelambanan penanganan pelestarian akan mempercepat hilangnya hayat, hilangnya banyak daerah dan jenis khas yang tak tergantikan.

Agar ekosistem yang rusak cepat pulih, kita harus memberikan kesempatan pada ekosistem tersebut untuk melakukan pemulihan alami karena ekosistem mempunyai kekuatan pemulihan luar biasa. Ada dua cara pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia, yaitu sebagai berikut. 1. Budi daya atau pemuliaan hayati di bidang pertanian, perkebunan, perikanan, peternakan, dan sebagainya. 2. Pelestarian hayati, meliputi upaya in situ dan ex situ. a. Pelestarian secara in situ, yaitu melindungi sumber hayati di tempat aslinya. Hal ini dilakukan sehubungan dengan keberadaan organisme yang memerlukan habitat khusus, dan akan membahayakan kehidupan organisme tersebut jika dipindahkan ke tempat lainnya, contoh: cagar alam, hutan lindung, suaka margasatwa, taman laut. b. Pelestarian secara ex situ, merupakan bentuk perlindungan kenanekaragaman hayati Indonesia dengan cara memindahkan hewan atau tumbuhan ke tempat lainnya yang cocok bagi kehidupannya, contoh: kebun raya, hutan nasional, hutan produksi, kebun binatang, Tabulampot (tanaman budi daya dalam pot).

Membuat Kebun Tanaman Dapur atau Tanaman Obat Keluarga

Sebagai manusia kita akan selalu membutuhkan makhluk lain. Kita juga membutuhkan lingkungan hidup yang sehat, bersih, hijau agar kegiatan tidak terganggu oleh penyakit, atau gangguan pada aspek fisiologis tubuh. Salah satu cara menata lingkungan hidup kita berdasarkan karakter alami adalah dengan penghijauan (greening), baik di rumah maupun di sekolah. Untuk melakukannya, kita dapat membuat kebun tanaman dapur atau kebun tanaman obat keluarga. Langkah yang dapat lakukan adalah sebagai berikut

1. Menentukan lahan di sekolah. Manfaatkan lahan seluas apa pun, di depan kelas, di halaman sekolah, di depan laboratorium, ataupun di depan perpustakaan. Jika lahan di sekolah tidak ada, kita dapat membuat kebun dengan cara tabulampot (tanaman budi daya dalam pot). 2. Menentukan jenis tanaman yang akan dibudidayakan, apakah kelompok tanaman dapur atau kelompok tanaman obat.

Tentang Pengaruh perubahan iklim terhadap rakyat

Tentang Pengaruh perubahan iklim terhadap rakyat

Pengaruh perubahan iklim terhadap rakyat

Pengaruh perubahan iklim
Pengaruh perubahan iklim

Pengaruh perubahan iklim – Pengaruh buruk perubahan iklim terhadap rakyat miskin Tak seorang pun akan luput dari perubahan iklim. Namun, berbagai pengaruhnya dapat dirasakan lebih parah oleh masyarakat yang paling miskin, mereka yang hidup di wilayah paling pinggiran yang, antara lain, rentan terhadap banjir, atau banjir dan longsor. Oleh karena mereka kebanyakan mencari nafkah dengan bertani dan menjadi nelayan, sumber nafkah mereka juga amat rentan terhadap perubahan iklim. Mereka juga hanya memiliki sumber daya terbatas untuk menanggung bencana sehingga bencana apapun yang menimpa, akan membuat mereka mesti kehilangan harta benda yang seadanya. Pada masa-masa sulit mereka mungkin terpaksa menjual misalnya, tanah mereka, sepeda, atau peralatan pertanian, yang akan membuat mereka makin kesulitan untuk mempertahankan sumber penghidupan mereka. Efeknya pada kemiskinan juga dapat dilihat dari sisi Tujuan Pembangunan Milenium (Millennium Development Goals – MDGs) yang pencapaiannya terancam oleh perubahan iklim .

Pengaruh perubahan iklim – Perubahan iklim dan Millennium Development Goals.

Potensi dampak perubahan iklim pada Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs)

1. Menanggulangi kemiskinan Perubahan iklim diperkirakan akan: dan kelaparan ekstrem • Menghancurkan hutan,populasi ikan,padang rumput,dan lahan bertanam yang diandalkan oleh keluarga miskin sebagai sumber makanan dan penghasilan. • Merusak perumahan rakyat miskin, sumber air dan kesehatan, yang akan melemahkan kemampuan mereka mencari nafkah. • Meningkatkan ketegangan sosial soal penggunaan sumber-sumber yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu sumber nafkah dan memaksa masyarakat berpindah. 2. Mencapai pendidikan dasar Perubahan iklim dapat melemahkan kemampuan anak untuk belajar di sekolah. secara universal • Lebih banyak anak (terutama anak perempuan) kemungkinan akan mesti keluar sekolah untuk mengangkut air,merawat keluarga,dan membantu mencari nafkah. • Kurang gizi dan penyakit di kalangan anak-anak dapat mengurangi kehadiran mereka di sekolah, dan mempengaruhi proses pembelajaran mereka di kelas. • Banjir dan angin kencang merubuhkan bangunan sekolah, dan menyebabkan pengungsian. 3. Meningkatkan kesetaraan Perubahan iklim diperkirakan memperburuk berbagai ketimpangan gender gender dan memberdayakan yang ada. perempuan • Perempuan cenderung untuk bergantung pada lingkungan alam sebagai sumber penghidupan mereka ketimbang laki-laki, dan karena itu lebih rentan ketimbang laki-laki terhadap ketidakmenentuan dan perubahan iklim. • Perempuan dan anak perempuan biasanya ditugaskan mengangkut air, mencari makanan ternak, kayu bakar, dan juga makanan. Di masa-masa iklim yang sulit mereka harus menghadapi sumber daya alam yang makin terbatas dan beban yang lebih berat. • Rumah tangga yang dikepalai perempuan dengan harta benda yang seadanya juga umumnya terkena dampak parah bencana-bencana yang berkaitan dengan iklim.

Pengaruh perubahan iklim

4. Menurunkan angka kematian Perubahan iklim akan menyebabkan lebih banyak kematian dan penyakit akibat anak gelombang panas, banjir, kemarau panjang, dan angin kencang. 5. Memperbaiki kesehatan ibu • Dapat meningkatkan kejadian berbagai penyakit yang ditularkan melalui nyamuk (seperti malaria dan demam berdarah dengue) atau yang tersebar melalui air 6. Mengatasi berbagai penyakit (seperti kolera dan disentri).Anak-anak dan ibu hamil terutama rentan terhadap berbagai penyakit ini. • Diperkirakan akan mengurangi kualitas dan kuantitas air minum, dan memperparah kurang gizi di kalangan anak-anak

Pengaruh perubahan iklim

7. Menjamin kelestarian Perubahan iklim akan mengubah kualitas dan kuantitas sumber daya alam dan lingkungan ekosistem, sebagian di antaranya mungkin tidak dapat dipulihkan. Perubahan ini juga akan menurunkan keanekaragaman hayati dan memperparah kerusakan lingkungan yang sedang berlangsung 8. Mengembangkan suatu Perubahan iklim merupakan tantangan global, dan untuk menghadapinya kemitraan global dibutuhkan kerja sama global, terutama dalam menguatkan negara-negara berkembang menangani kemiskinan dan ketidaksetaraan. Perubahan iklim mendesak perlunya negara donor meningkatkan komitmen bantuan resmi pembangunan mereka dan memberikan sumber daya tambahan untuk adaptasi.

Pengaruh perubahan iklim

Sumber: Oxfam, 2007. Nota ringkas. Beradaptasi terhadap perubahan iklim. Apa yang dibutuhkan oleh negara miskin dan siapa yang harus membiayai

Dampak pada petani

Perubahan dalam pola curah hujan akan bervariasi bergantung pada lokasi. Para petani yang akan paling sengsara adalah mereka yang tinggal di wilayah dataran tinggi yang dapat mengalami kehilangan lapisan tanah akibat erosi. Hasil tanaman pangan dataran tinggi seperti kedelai dan jagung bisa menurun 20 hingga 40 persen.4 Namun, nyaris seluruh petani akan merasakan dampaknya. Sekarang saja, sudah banyak petani kesulitan menentukan waktu yang tepat untuk memulai musim tanam, atau sudah mengalami gagal tanam karena hujan yang tidak menentu atau kemarau panjang. Yang paling kesusahan biasanya adalah mereka yang bertani di wilayah paling ujung saluran irigasi yang pada saat kelangkaan air tidak mendapatkan jatah air karena sudah lebih dulu digunakan oleh para petani di daerah hulu irigasi.

Menyiasati kelangkaan air “Seandainya kita dapat memperbaiki sistem pembagian air kita – dari hulu sana hingga ke hilir sini, orang-orang desa sini akan memperoleh hasil tani yang memadai dan kita tidak perlu mengirimkan saudara perempuan kita bekerja ke luar negeri yang hanya membuat mereka menerima perlakuan tidak manusiawi” (Haji Emod, Desa Sumur Gede, Kecamatan Cilamaya Kulon, Kabupaten Karawang) Cali Rahman mengairi sawahnya dengan air dari saluran sekunder. Namun, pada musim kering yang panjang ketika volume air di kanal menurun, dia dan petani lain di wilayahnya, tidak kebagian air. Para petani di bagian hulu sudah menggunakan terlalu banyak air dan hanya tersisa sedikit saja untuk petani di daerah hilir. Akibatnya, dia dan tetangganya terpaksa memompa air tanah, tetapi upaya menjadi mahal karena harga BBM yang tinggi dan air tanah di daerah pesisir ini sudah makin tercemar oleh intrusi air laut. Kelangkaan air untuk mengairi sawah ini sudah memicu kepanikan dan ketegangan soal air di kalangan warga setempat. Untuk membantu mengatasi ini, para petani memilih penengah, seorang tokoh masyarakat yang dihormati di antara mereka, Haji Emod. Dengan status dan reputasinya dalam soal keadilan, dia sejauh ini sudah berhasil mengendurkan ketegangan, dengan memastikan setiap orang mendapat giliran menggunakan air, seringkali dengan mengorbankan kepentingan sendiri. Dia sendiri mendapatkan pendapatan sampingan sebagai seorang pengobat tradisional patah tulang sehingga dapat mengesampingkan kepentingannya sendiri terhadap air untuk irigasi sawahnya.

Berbagai beban ini memiliki implikasi besar pada ketahanan pangan nasional. Laboratorium Iklim di Institut Pertanian Bogor menyatakan bahwa selama kurun waktu 1981-1990, setiap kabupaten di Indonesia setiap tahunnya rata-rata mengalami penurunan produksi padi 100.000 ton; dan pada kurun waktu 1992-2000, jumlah penurunan ini meningkat menjadi 300.000 ton. Dampak pada masyarakat nelayan Perubahan iklim berdampak luas terhadap jutaan nelayan pesisir. Mereka bergantung pada ekosistem yang amat rentan yang dengan perubahan kecil saja sudah berdampak besar: perubahan suhu air yang merusak terumbu karang, misalnya, akan memperparah kondisi buruk yang dilakukan manusia seperti polusi dan penangkapan ikan besar-besaran sehingga menurunkan populasi ikan (Boks 4). Perahu-perahu penangkap ikan juga mesti mesti menghadapi cuaca yang tidak menentu dan gelombang tinggi.

Perubahan iklim juga sudah mengganggu mata pencaharian di banyak pulau. Di Maluku, misalnya nelayan mengatakan mereka tidak lagi dapat memperkirakan waktu dan lokasi yang pas untuk menangkap ikan karena pola iklim yang sudah berubah.5 Kenaikan muka air laut juga dapat menggenangi tambak-tambak ikan dan udang di Java, Aceh, dan Sulawesi. Dampak pada masyarakat pesisir Sebagai sebuah kepulauan amat luas yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dan 80.000 kilometer garis pantai, Indonesia amat rentan terhadap kenaikan muka air laut. Kenaikan 1 meter saja dapat menenggelamkan 405.000 hektar wilayah pesisir dan menenggelamkan 2.000 pulau yang terletak dekat permukaan laut beserta kawasan terumbu karang. Hal ini berpengaruh pada batas-batas negara kita: penelitian mutakhir mengungkapkan bahwa minimal 8 dari 92 pulau-pulau kecil terluar yang merupakan perbatasan perairan Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut. Banyak bagian di wilayah pesisir sudah makin direntankan oleh erosi – yang juga sudah diperparah oleh aktivitas manusia seperti pembangunan dermaga dan tanggul di laut, pembendungan sungai, penambangan pasir dan batu, dan perusakan hutan mangrove. Saat ini sekitar 42 juta penduduk Indonesia mendiami wilayah yang terletak 10 meter di atas permukaan laut.

Angin perubahan di kalangan masyarakat nelayan

Pengaruh perubahan iklim – Menangkap ikan di pesisir Indramayu kini makin sulit saja. Secara tradisional para nelayan di sana sudah selalu mengandalkan sinyal-sinyal dari angin musim. Di musim kering selama musim timur, air laut menjadi keruh dan populasi plankton menurun sehingga jumlah ikan di laut hanya sedikit. Selama musim penghujan dan musim angin barat, air laut bening dan populasi plankton meningkat sehingga ikan berlimpah – namun saat itu gelombang tinggi dan nelayan yang melaut dengan perahu kecil kesulitan menangkap ikan. Namun, musim kini berubah-ubah. Akhir-akhir ini, angin musim barat, yang biasanya berlangsung selama empat bulanan kini bertahan lebih lama menjadi tujuh bulan dan gelombang menjadi lebih tinggi sehingga bahkan perahu-perahu yang lebih besar pun terancam.

Pengaruh perubahan iklim – Para nelayan juga baru saja ditimpa beban kenaikan tajam harga bahan bakar solar. Akibatnya, dari 150 perahu kecil nelayan di satu desa saja, yaitu desa Eretan Kulon, Indramayu, kini hanya tinggal 40 saja yang dapat melaut dan bahkan para pemiliknya seringkali mesti berhutang untuk membayar biaya bahan bakar. Drs. Royani adalah ketua Koperasi Unit Desa Mina Bahari Desa Eretan Kulon, Kecamatan Kandang Haur, Indramayu. Menurutnya para nelayan akan lebih mampu merespon perubahan iklim jika mereka memiliki lebih banyak fasilitas dan pelatihan, serta alternatif dalam menangkap ikan. Untuk mengatasi itu, koperasi ini sudah memulai menjalankan usaha pengolahan ikan.Tangkapan terbanyak selama musim kering, yaitu ikan kuniran yang dijual dengan harga Rp700 per kilo dalam keadaan segar, setelah diproses separuh jadi – dibersihkan, diawetkan, dan dikemas – terjual Rp2.000 per kilo. Aktivitas ini sudah mempekerjakan sekitar 450 tenaga kerja, memberikan kesempatan kepada keluarga nelayan untuk mendapatkan pendapatan sampingan Rp23.000 hanya dengan bekerja memproses ikan selama 3 jam sehari. Kini dengan hibah sebuah pabrik dari USAID, nelayan di sini memiliki rencana memproses ikan menjadi produk jadi, dengan potensi ekspor ke Malaysia.

Pengaruh perubahan iklim – Koperasi ini juga aktif dalam program melek huruf bagi nelayan anggotanya, dan mereka berharap dapat memberikan kursus keterampilan bagi para istri nelayan yang dapat memberikan peluang menambah pendapatan. Mereka juga ingin memulai sekolah yang, selain menerapkan kurikulum sekolah umum, juga mengajarkan anak-anak mereka keterampilan perikanan. Mereka juga akan menekankan pentingnya berbagai pengetahuan bahari tradisional. Pak Walim, misalnya, yang sudah menjadi nelayan selama hidupnya, sudah belajar dari orang tua dan kakeknya yang pelaut bagaimana membaca arah angin dan menentukan arah mata angin dengan panduan bintang-bintang di langit. “Saya juga tahu di mana harus menebar jaring dengan mencelupkan jari saya ke air dan merasakan kehangatannya – air laut yang lebih hangat menandakan lebih banyak ikan di bawah sana. Cara lain adalah menggunakan sebatang tongkat dari kayu jati untuk mendengarkan aktivitas ikan di bawah permukaan air. Jika laut tenang, saya pindah ke tempat lain. Atau bila kedua cara ini tidak manjur, saya turun menyelam untuk menentukan keberadaan ikan. Beberapa perahu kami di sini dilengkapi dengan alat GPS (Global Positioning System) untuk menentukan daerah tangkapan (fishing ground). Alat ini memang berguna. Tetapi GPS saya adalah kepala saya dan ini tidak pernah salah!”