Materi Unsur Cerita Sastra Sebuah Cerita

Materi Unsur Cerita Sastra Sebuah Cerita

Materi Unsur Cerita Sastra Sebuah Cerita

Unsur Cerita Sastra
Unsur Cerita Sastra

Unsur Cerita Sastra – Mendengarkan pembacaan cerpen merupakan kegiatan yang menarik. Dengan mendengarkan pembacaan cerpen, kalian dapat memahami berbagai karakter manusia. Di samping itu, kalian juga dapat mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen. Karena cerpen merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari, secara tidak langsung nilai-nilai dalam cerita tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan kita. Ketika mendengarkan pembacaan cerpen, perhatikan alur ceritanya. Catat nama-nama tokohnya dengan segala karakternya. Catat latar ceritanya di mana, dan apa pesan yang disampaikan pengarang. Setelah selesai, buatlah ringkasannya. Diskusikan hasil apresiasi tersebut dan samakan persepsi dengan teman sebangku. Setelah itu, salah seorang membahasnya di depan kelas tentang nilainilai cerpen tersebut. Dengarkan pembacaan cerpen berikut!

Unsur Cerita Sastra – Bu Guru Dwita Yanusa Nugroho Hari ini ulangan Bahasa Indonesia. Ah, anak-anak. Mereka begitu tekun mengerjakan tugasnya masing-masing. Anak-anak yang sangat diharapkan orang tua kelak menjadi ”orang”. Dan, ah, lihatlah si Ninin, gadis kecilnya. Anak itu, yang kini serius itu, kemarin atau entah beberapa hari yang lalu datang ke tempat kosnya. ”Bu, saya bingung,” katanya begitu pintu dibuka. ”Ada apa? Kalimat majemuk lagi, ya?” godanya. ”Ah, Ibu,” rengeknya manja. Bu Guru kita membelainya, mengajaknya duduk di kursi plastik hijau. ”Ada apa, sih, Nona Manis?” ”Saya bingung.” ”Bingung apa?” Ninin diam saja, seolah ragu. Muridnya yang satu ini memang begitu dekat dengannya. Dia anak kelas II-C di SMP tempatnya mengajar. ”Ibu tahu si Tony?” tanyanya malu-malu. Sejenak Bu Guru kita terkejut, tetapi secepat itu pula tersenyum, bahkan akhirnya tertawa renyah sekali lewat penuturan gadis kecilnya ini. Oh, alah Ninin, Ninin. Dan memang itulah yang ingin diutarakan. Tony mengiriminya surat, sebenarnya bukan surat, hanya kartu kecil bertuliskan sesuatu. ”Apa, sih, maunya, Bu?” tanyanya beberapa saat kemudian. ”Mau Ninin apa?” balik Bu Guru kita sambil tersenyum. Ninin diam lagi, wajahnya tunduk.

Unsur Cerita Sastra – Bu Guru kita tersenyum dalam hati. Hari ini ulangan Bahasa Indonesia. Hari ini mereka harus membuat karangan singkat. Mengarang tentang apa saja yang dapat mereka ungkapkan. Mereka harus dapat berkata lewat tulisan. Mereka harus dapat jujur pada diri sendiri dengan menulis. Ah, anak-anak manis. Hari ulang tahun Ibu Guru kita dan dia mendapatkan hadiah istimewa: muridnya dapat mengarang dengan tenang. Hari-hari di kelas dilaluinya dengan gairah kerja dan suka-ria bersama anak-anak itu. Tiga puluh lima semuanya, dan dia hafal betul seorang demi seorang karena dialah wali kelas mereka. Dari Amy Suryaningsih, si pemalu yang sederhana, anak seorang pengusaha terkenal, sampai Zamroni si hitam bandel; dia ketua kelas karena yang paling besar badannya. Dia hafal dan ingat bagaimana tingkah, celetuk, dan canda mereka. Ruang kelas saat itu hening sekali. Bu Guru kita duduk di kursi di depan mereka. Memandang sudut kiri tempat si Yusak duduk. Bu Guru kita tersenyum ketika melihat Yusak menggaruk kepalanya karena ketika digaruk, sobekan kertas kecil-kecil berlompatan dari gumpalan rambutnya yang keriting. Anehnya, Yusak tak menyadari itu semua. Anak kelahiran sebuah desa kecil di daerah Kepala Burung itu kembali tekun menuliskan kata-katanya. Itu pasti ulah si Budina atau Lucy karena mereka berdualah yang akrab dengan Yusak. Di sebelahnya duduk Biko. Nama sebenarnya adalah Ahmad Zainuri, entah bagaimana asal mulanya namanya berubah menjadi Biko. Ah, rasanya aku ingat! Kata Bu Guru kita. Kalau tak salah nama Biko muncul setelah ulang tahun Amy tiga bulan lalu. Waktu itu kawan-kawan sekelas diundang datang makan siang. Amy mempunyai seekor burung Betet yang sudah sangat jinak. Begitu jinaknya si Betet ini sehingga dibiarkan lepas bebas berjalanjalan di dalam rumah. Pintu sang-karnya yang dari besi itu selalu terbuka lebar sehingga si Betet dapat ke luar masuk kapan saja. Tubuh burung itu agak bulat, warnanya hijau, paruhnya yang pendek membuat langkahnya menjadi lucu, apalagi jika diberi makanan, ia buru-buru, maka langkahnya jadi kian menggelikan; megal-megol seperti entok. Anehnya hari itu si Betet tidak mau didekati siapa pun, termasuk Amy. Tetapi, lebih aneh lagi, kepada Ahmad Zainuri dia mau, bahkan bertengger manja di pundaknya.

Unsur Cerita Sastra

”Lihat, cuma kepadaku dia mau. Habis, kalian belum mandi!” katanya bangga, dan berdiri tegak mirip si Buta dari gua hantu. Anakanak dan Bu Guru kita tertawa. ”Ya, sudah karena dia jinak sama kamu, sekalian saja pakai namanya,” goda Amy sambil tersenyum. ”Siapa namanya?” tanya Ninin sengaja memancing tawa. ”Biko!” Gelak tawa memenuhi ruangan besar itu. Ahmad Zainuri hanya cengar-cengir salah tingkah, sementara si Betet agaknya senang; menjerit-jerit dengan suaranya yang parau. Sejak hari itu dia dipanggil Biko. Bu Guru kita tersenyum kecil. Sunggingan senyumnya manis sekali. Tetapi, secepat itu pula dia telan bulat-bulat. Apa jadinya jika ketika itu ada murid-muridnya yang tahu dirinya tersenyum seorang diri. Dilihatnya pula si cantik Amy agak diganggu oleh bolpoinnya. Beberapa kali digosok-gosokkannya bolpoin itu pada kertas. Agaknya tintanya habis. Dia melihat ke kiri ke kanan. Pasti cari pinjaman; kata Bu Guru kita dalam hati. Kemudian, didekatinya Amy dan dipinjamkannya bolpoinnya. Amy menerimanya dengan malu-malu. Amy, Amy,… ke mana bolpoinmu yang lain nona manis? Oh, tentu kau pinjamkan pada Ninin atau si ceking Ramadan, biasanya memang mereka yang sering pinjam, kan? Dan kini kau pinjam dariku, Bu Guru kita tertawa dalam hati.

Unsur Cerita Sastra

Amy dulu pernah bercerita padanya tentang keluarganya. Dikatakannya bahwa ia tak betah di rumah, dia lebih senang tidur di rumah eyang di Pasar Minggu karena di sana dia dapat tenang dan tenteram tidak kesepian seperti di rumah orang tuanya. ”Amy takut sepi?” tanya Bu Guru kita waktu itu. ”Sepi, sih, tidak, Bu, tap … Ah, pokoknya nggak enak. Papa memang sering bicara ketika kami semeja makan, tapi …. Pokoknya nggak enak!” ”Apa Amy nggak dapat cerita dengan santai pada Papa atau Mama?” ”Ya, lagi pula Amy harus turut apa kata Papa.” ”Takut, sih, tidak, tapi… Sebenarnya Amy kasihan pada Papa, Bu. Mas Tomy sering pergi dan bertengkar dengan Papa, karenanya Papa sering sakit, Bu, Tapi ….”

”Bu Guru tahu, Amy sayang pada Papa, dan Papa Amy juga sayang pada Amy dan Mas Tomy, hanya saja Amy belum mengerti benar apa yang Papa Amy maksudkan. Yang penting, Amy jangan melawan apalagi bertengkar seperti Mas Tomy. Ibu sarankan sekalisekali ajak Papa Amy piknik.” ”Uuh, mana pernah sempat! Berangkat kerja bareng dengan Amy, pulang kerja sering kali sudah jam sepuluh malam. Minggu ada urusan, Sabtu juga ada urusan, Mama juga begitu.” Bu Guru kita diam, seolah Amy adalah dirinya di masa lalu. Tentu saja orang tua Bu Guru kita tak sekaya orang tua Amy. Dulu Bu Guru kita juga mengalami hal seperti itu. Tak ada tempat mencurahkan perasaan hati selain si Popy, bonekanya. Tiap hari, apalagi jika hari libur, sepanjang hari Bu Guru kita bermain dengan si Popy. Bercerita, menyanyi, menangis, tertawa, semuanya hanya Popy yang tahu. Sejak saat itu, Bu Guru kita membangun dunianya sendiri, dunia yang akrab tanpa banyak kata-kata terhambur; dunia kesendirian yang tenang. ”Nilai-nilaimu bagus, tes IQ-mu memuaskan. Papi sarankan kamu masuk kedokteran.” Padahal waktu itu dia baru saja lulus SMP. Itu artinya Bu Guru kita di SMA harus lebih giat belajar supaya kelak menjadi dokter seperti saran Papi. Tetapi apa hendak dikata, ujian saringan perguruan tinggi tidak meluluskannya dan Bu Guru kita gembira, tetapi sekaligus sedih, karena melihat Papi begitu terpukul. ”Pi,” katanya suatu malam, ”boleh Ita bicara?” Bu Guru kita, waktu itu, melihat wajah Papinya berubah. Wajah itu seolah tak percaya bahwa yang berbicara di depannya adalah anaknya, anaknya yang nomor dua, Dwita! Sorot mata Papi lain sekali. Jika selama ini Papi menganggap anaknya anak bawang, kini Papi terkejut melihat kenyataan anaknya telah gadis dan berani berbicara seperti itu. ”Tentu, kamu mau bicara apa?” kata Papi lembut sekali. Dan semuanya begitu lancar terurai, meluncur lewat lima tahun lalu. Kini Bu Guru kita tengah menghadapi murid-muridnya ulangan. Kini Bu Guru kita tengah menikmati dunia yang sedikit demi sedikit dibangunnya itu. Dunia yang penuh bunga-bunga yang mulai bermekaran, ceria, nakal, dan, ah, anak-anak. Amy manis, kau juga pernah bilang pada Ibu bahwa kau ingin jadi insinyur lapangan terbang, seperti oom, ah, siapa oom-mu yang sering kauceritakan itu? Ah, sudahlah! ”Sudah selesai?” tanya Bu Guru kita memecah keheningan. Kelas pecah, keluhan meletup di sana-sini. Gelisah mulai menggeliat di siang itu. ”Baik, Ibu beri waktu lima menit lagi.” ”Huuuu…!” Itu pasti suara Yusak.

Unsur Cerita Sastra – Bu Guru hanya tersenyum kecil. Si kriting krupuk itu, begitulah kawan-kawan sekelas menjulukinya, memang, selalu begitu. Padahal, sering kali dia sudah selesai mengerjakan tugasnya. ”Baik, kumpulkan!” perintah Bu Guru kita tegas, lima menit kemudian. Tak ada suara. Zamroni dengan cekatan mengumpulkan kertas ulangan dan menumpukkan di meja. Kelas kembali sunyi. Bu Guru kita agak heran melihat seolah menunggu sesuatu. ”Kalian boleh pulang,” perintahnya sambil masih memandangi murid-muridnya. Seisi kelas hanya tersenyum, sambil pandang sesama mereka. ”Ada apa?” Bu Guru kita tersenyum heran. Kemudian mengemasi kertas ulangan. Terbaca olehnya judul karangan milik Ninin ”Ulang Tahun Guruku”. Kelas mulai hidup oleh gelak-gelak kecil tawa mereka. Lembar kedua dibacanya, ”Ulang Tahun Nih, Yee ….” Tulisan Yusak. Kelas makin hidup. Bu Guru gugup, segera dibacanya lembar-lembar ulangan itu, dan, ya, Tuhan! Semua bertuliskan…. ”Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya Bu Guru kita, Bu Guru kitaaa,… dan bahagia…” Mereka menyanyi dan bertepuk tangan. Di luar sana tak ada hujan, bahkan mendung pun tidak, tetapi Dwita Fajarini, Bu Guru kita, pipinya basah, matanya pun begitu.*** Menteng Pulo, Nov. 1986. Sumber: Bulan Bugil Bulat, Grafiti, Jakarta: 1990 (halaman 135–141) dikutip dengan pengubahan seperlunya.

Setelah mendengarkan pembacaan cerpen tersebut, kalian tentu memahami isi cerpen tersebut. Selanjutnya, kalian tentu mampu menceritakan kembali isi cerpen tersebut kepada orang lain. Kalian tentu juga sanggup mengungkapkan hal-hal menarik dalam cerpen tersebut.

Mengidentifikasi  Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita

Mengidentifikasi Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita

Mengidentifikasi  Sastra Unsur Sebuah Cerita dan Contoh Cerita 

Unsur Sebuah Cerita
Unsur Sebuah Cerita

Unsur Sebuah Cerita – Mari kita belajar mengidentifikasi unsur sastra, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik yang terdapat dalam cerita rakyat. Kalian akan diajak belajar memperkenalkan diri dan orang lain dalam forum resmi, dan harus mau diperbaiki kesalahan-kesalahan pengucapan oleh teman kalian. Untuk memahami teks nonsastra, kalian akan diajak membaca ekstensif dan membuat ringkasan dari hasil membaca. Untuk memupuk keterampilan menulis, kalian akan diajak membuat paragraf deskriptif dari hasil observasi di lapangan dan hasilnya disunting dengan teman kalian. Pada bagian sastra, kalian akan diajak untuk belajar membaca puisi dan menemukan unsur-unsur yang membentuk puisi.

Mengidentifikasi Unsur Sastra Sebuah Cerita

Unsur Sebuah Cerita – Tahukah kalian, apa yang dimaksud cerita rakyat? Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di suatu daerah dan dianggap sebagai karya kolektif (milik bersama) masyarakat daerah itu. Pasti kalian pernah mendengar cerita Malin Kundang, Si Pahit Lidah, Roro Jonggrang, Jaka Tarub, semua cerita itu termasuk dalam cerita rakyat. Banyak manfaat yang akan kalian dapatkan dengan mendengarkan cerita rakyat. Salah satunya, kalian akan memperoleh pengalaman berharga dari cerita tersebut, melalui peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya. Di dalam cerita rakyat terkandung pesan moral yang berguna bagi pembacanya. Pesan (amanat) dalam cerita kadang diungkapkan secara langsung, tetapi terkadang diungkapkan secara tidak langsung melalui tingkah laku tokohtokohnya. Ketika kalian belajar di jenjang SMP, kalian telah belajar tentang macam-macam tokoh. Kalian masih ingat, bukan? Tokoh dalam cerita rakyat memiliki karakter sendiri-sendiri. Ada tokoh baik (protagonis); ada tokoh jahat (antagonis), dan ada juga tokoh yang memiliki sebagian sifat baik dan jahat (tritagonis). Di dalam cerita, watak tokoh-tokoh tersebut ada yang dijelaskan secara langsung, ada juga yang dijelaskan secara tidak langsung. Secara tidak langsung, watak tokoh dalam cerita dapat diketahui melalui dialog antartokoh tersebut. Apakah kalian suka membaca cerita? Membaca cerita adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Kalian akan memperoleh pengalaman dari tokoh-tokoh cerita. Ada tokoh yang baik, jujur, ada pula tokoh jahat, yang malas, sombong, dan serakah. Mari kita membaca cerita berikut! Perhatikan watak tokoh-tokoh pada cerita tersebut!

Unsur Sebuah Cerita

Balingkang

Delapan abad yang lalu, tersebutlah sebuah daerah hutan yang luas. Wilayahnya membentang dari pantai Utara Bali hingga Pegunungan Kintamani. Penduduknya yang hidup bertani tinggal berjauhan satu sama lainnya. Mereka hidup dalam kelompokkelompok kecil. Sering terjadi pertengkaran dan perebutan lahan di antara mereka. Hal itu terjadi karena mereka tidak mempunyai pemimpin yang sanggup menegakkan keadilan. Pada suatu hari, sekelompok orang menghadap Ida Batara di Jambudwipa. Mereka mohon agar diberikan seorang pemimpin berwibawa. Diangkatlah Ali Jayapangus, putra Batara Jambudwipa. Bersama rakyatnya, ia membangun sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Panerajon. Atas petunjuk Mpu Siwagandu, penasihat raja, Raja Ali Jayapangus membangun kerajaan sesuai dengan ajaran agama dan undang-undang pemerintahan.

Unsur Sebuah Cerita – Dalam waktu singkat, rakyat sudah dapat menikmati kehidupan yang aman sejahtera, rukun, dan penuh persaudaraan. Tak seorang pun yang berani menentang rajanya yang berwibawa dan menjadi suri teladan itu. Pada suatu musim angin pancaroba, sebuah perahu merapat di pantai. Penumpangnya adalah seorang saudagar Cina bernama Subandar dan seorang anak perempuannya, Kang Cing We. Putri yang cantik itu sangat menarik perhatian penduduk. Akhirnya, berita putri Cina yang cantik itu terdengar pula sampai ke istana. Raja Jayapangus pun memanggil Subandar agar datang ke istana bersama putrinya. Rupanya, pertemuan itu telah membuat hati Raja Jayapangus terpesona. Raja Jayapangus pun menemui penasihat kerajaan, Mpu Siwagandu. Raja mengutarakan niatnya untuk menikahi Putri Kang Cing We. ”Apa?” Mpu Siwagandu terkejut mendengar penuturan Raja Jayapangus. ”Pikirkan kembali niatmu itu, Raja!” katanya menasihati. Akan tetapi, niat Raja Jayapangus sudah bulat. Mpu Siwagandu menyesalkan mengapa perkenalan sepasang muda mudi itu cepat benar menjadi jalinan cinta. Sangat berat akibatnya kalau hubungan itu menjadi pernikahan. Oleh karena itu, penasihat raja itu berusaha mencegahnya, lalu katanya, ”Ini pertanda buruk, Tuanku!” Mpu Siwagandu menahan marah. Ia lalu bersemadi di suatu tempat yang sepi. Tak lama berselang, dua sejoli itu menikah. Sebagai tanda ikatan tali kasih, ayah Kang Cing We membekali putrinya dua keping pis bolong (uang kepeng Cina). Pernikahan yang bersejarah itu bukan saja membahagiakan kedua mempelai, melainkan juga keluarga istana. Hampir setiap malam mereka mempersembahkan pertunjukan kesenian di halaman istana.

Di tengah-tengah kemeriahan pesta pernikahan itu, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Tumpahan air dari langit itu tak henti-hentinya, ditambah lagi dengan tiupan badai dari segala penjuru. Raja, permaisuri, dan keluarga istana berhamburan menyelamatkan diri. Rakyat yang tinggal di sekitar istana pun mengungsi entah ke mana. Raja Jayapangus tidak mau membatalkan pernikahannya dengan putri Cina yang dicintainya itu. Kerajaan Panerajon harus tetap berdiri. Oleh karena itu, Raja Jayapangus mengajak rakyatnya yang masih setia mendirikan pusat kerajaan yang baru. Dipilihnya hutan Jong Les yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Batur. Pusat kerajaan yang baru itu diberi nama Balingkang, berasal dari kata bali dan kang. Nama itu merupakan kenangan abadi pernikahan antara seorang putra Bali dengan putri Cina, Kang Cing We. Sumber: Balingkang dengan penyederhanaan, hlm. 1–6

Kalian telah membaca sebuah cerita rakyat dari Bali, yang berjudul Balingkang. Banyak orang yang memercayai bahwa cerita tersebut benar-benar terjadi. Bagaimana pendapat kalian sendiri? Apakah kalian juga percaya bahwa peristiwa pada cerita rakyat tersebut benar-benar terjadi?

Unsur Sebuah Cerita

Untuk mengetahui pendapat teman-teman kalian, cobalah kalian lakukan diskusi kelas! Dalam diskusi tersebut, cobalah kalian bahas hal-hal berikut!

1. Di dalam cerita di atas kalian dapat menemukan nilai-nilai adat atau tradisi. Untuk mengetahui nilai tradisi atau adat dalam cerita rakyat tersebut, silakan kalian perhatikan penggalan cerita ini! Tak lama berselang, dua sejoli itu menikah. Sebagai tanda ikatan tali kasih, ayah Kang Cing We membekali putrinya, dua keping pis bolong (uang kepeng Cina). Di dalam adat Cina, jika seorang anak gadis menikah, orang tua akan memberikan uang. Uang itu dianggap sebagai modal hidup bagi si anak untuk menjalani kehidupan bersama sang suami. a. Adakah nilai-nilai lain yang kalian temukan di dalam cerita rakyat tersebut? Misalnya: 1) nilai sejarah …. 2) nilai budaya …. b. Di dalam kehidupan sehari-hari saat ini, dapatkah kalian menemukan nilai-nilai di atas? Menurutmu, masih mungkinkah nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan modern? 2. Ada pesan yang dapat kalian ambil dari cerita ”Balingkang”. Pesan itu adalah perbedaan budaya atau adat istiadat tidak harus dipertentangkan karena perbedaan itu merupakan anugerah Tuhan yang harus disyukuri. Apakah kalian dapat menyebutkan pesan lainnya? Silakan kalian diskusikan bersama teman-temanmu!

Buatlah sinopsis (ringkasan) cerita rakyat ”Balingkang” tersebut. Kemudian, sampaikan secara lisan di depan kelas!

Carilah sebuah cerita dari buku, majalah, atau koran, kemudian kerjakan soal-soal berikut! 1. Catatlah peristiwa-peristiwa pada cerita tersebut secara urut! 2. Catatlah tokoh-tokoh yang mengalami peristiwa-peristiwa tersebut! 3. Sebutkan setting cerita tersebut! 4. Bagaimanakah watak tokoh-tokoh dalam cerita tersebut?

Ada beberapa prosa lama, antara lain – hikayat, – sage, – epos, – fabel, – ode, – mitos, dan – dongeng, – legenda.

Di dalam cerita di atas kalian dapat menjumpai bentuk majas. Perhatikan ungkapan berikut! 1. Api cinta antara Ali Jayapangus dengan Kang Cing We tidak dapat dipadamkan. 2. Di tengah-tengah kemeriahan pesta pernikahan, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Tumpahan air itu tak henti-hentinya, ditambah lagi dengan tiupan badai dari segala penjuru. Kedua ungkapan tersebut mengandung majas, yaitu majas metafora (Contoh 1) dan majas hiperbola (Contoh 2). Pada Contoh 1 cinta diibaratkan sebagai api yang dapat dipadamkan. Pada contoh 2 terdapat penggambaran tentang sebuah bencana secara berlebihan. Metafora termasuk dalam jenis majas perbandingan. Metafora adalah majas yang melukiskan suatu gambaran yang jelas melalui perbandingan. Metafora sering disebut kiasan dan merupakan majas perbandingan yang tersirat (implisit). Hiperbola termasuk dalam jenis majas pertentangan. Hiperbola merupakan majas yang mengandung pernyataan berlebih-lebihan, baik jumlah, ukuran, maupun sifatnya. Tujuannya adalah untuk memberi penekanan atau penyangatan.

Unsur Sebuah Cerita

Pada Bab I, kalian telah belajar memperkenalkan diri pada acara diskusi. Memperkenalkan diri sebelum menyampaikan pendapat dalam diskusi termasuk dalam etika berdiskusi. Makin sering kalian mengikuti acara diskusi dan menyampaikan pendapat, makin terlatih pula kemampuan kalian mengucapkan kalimat perkenalan. Oleh karena itu, kalian perlu terus berlatih mencari variasi kalimat untuk memperkenalkan diri. Sebelum memulai kegiatan berdiskusi, cobalah kalian membuat variasi kalimat untuk menyampaikan pendapat, menolak pendapat, dan menerima pendapat.