Unsur Sastra Sebuah Cerita dan Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Unsur Sastra Sebuah Cerita dan Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Unsur Sastra Sebuah Cerita dan Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Sastra Sebuah Cerita
Sastra Sebuah Cerita

Sastra Sebuah Cerita – Mengidentifikasi Unsur Sastra Sebuah Cerita

Sastra Sebuah Cerita – Tahukah kalian, apa yang dimaksud cerita rakyat? Cerita rakyat adalah cerita yang berkembang di suatu daerah dan dianggap sebagai karya kolektif (milik bersama) masyarakat daerah itu. Pasti kalian pernah mendengar cerita Malin Kundang, Si Pahit Lidah, Roro Jonggrang, Jaka Tarub, semua cerita itu termasuk dalam cerita rakyat. Banyak manfaat yang akan kalian dapatkan dengan mendengarkan cerita rakyat. Salah satunya, kalian akan memperoleh pengalaman berharga dari cerita tersebut, melalui peristiwa-peristiwa yang dialami tokoh-tokohnya. Di dalam cerita rakyat terkandung pesan moral yang berguna bagi pembacanya. Pesan (amanat) dalam cerita kadang diungkapkan secara langsung, tetapi terkadang diungkapkan secara tidak langsung melalui tingkah laku tokohtokohnya. Ketika kalian belajar di jenjang SMP, kalian telah belajar tentang macam-macam tokoh. Kalian masih ingat, bukan? Tokoh dalam cerita rakyat memiliki karakter sendiri-sendiri. Ada tokoh baik (protagonis); ada tokoh jahat (antagonis), dan ada juga tokoh yang memiliki sebagian sifat baik dan jahat (tritagonis). Di dalam cerita, watak tokoh-tokoh tersebut ada yang dijelaskan secara langsung, ada juga yang dijelaskan secara tidak langsung. Secara tidak langsung, watak tokoh dalam cerita dapat diketahui melalui dialog antartokoh tersebut. Apakah kalian suka membaca cerita? Membaca cerita adalah kegiatan yang sangat mengasyikkan. Kalian akan memperoleh pengalaman dari tokoh-tokoh cerita. Ada tokoh yang baik, jujur, ada pula tokoh jahat, yang malas, sombong, dan serakah. Mari kita membaca cerita berikut! Perhatikan watak tokoh-tokoh pada cerita tersebut!

Sastra Sebuah Cerita – Balingkang Delapan abad yang lalu, tersebutlah sebuah daerah hutan yang luas. Wilayahnya membentang dari pantai Utara Bali hingga Pegunungan Kintamani. Penduduknya yang hidup bertani tinggal berjauhan satu sama lainnya. Mereka hidup dalam kelompokkelompok kecil. Sering terjadi pertengkaran dan perebutan lahan di antara mereka. Hal itu terjadi karena mereka tidak mempunyai pemimpin yang sanggup menegakkan keadilan. Pada suatu hari, sekelompok orang menghadap Ida Batara di Jambudwipa. Mereka mohon agar diberikan seorang pemimpin berwibawa. Diangkatlah Ali Jayapangus, putra Batara Jambudwipa. Bersama rakyatnya, ia membangun sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Panerajon. Atas petunjuk Mpu Siwagandu, penasihat raja, Raja Ali Jayapangus membangun kerajaan sesuai dengan ajaran agama dan undang-undang pemerintahan.

Sastra Sebuah Cerita – Dalam waktu singkat, rakyat sudah dapat menikmati kehidupan yang aman sejahtera, rukun, dan penuh persaudaraan. Tak seorang pun yang berani menentang rajanya yang berwibawa dan menjadi suri teladan itu. Pada suatu musim angin pancaroba, sebuah perahu merapat di pantai. Penumpangnya adalah seorang saudagar Cina bernama Subandar dan seorang anak perempuannya, Kang Cing We. Putri yang cantik itu sangat menarik perhatian penduduk. Akhirnya, berita putri Cina yang cantik itu terdengar pula sampai ke istana. Raja Jayapangus pun memanggil Subandar agar datang ke istana bersama putrinya. Rupanya, pertemuan itu telah membuat hati Raja Jayapangus terpesona. Raja Jayapangus pun menemui penasihat kerajaan, Mpu Siwagandu.

Sastra Sebuah Cerita – Raja mengutarakan niatnya untuk menikahi Putri Kang Cing We. ”Apa?” Mpu Siwagandu terkejut mendengar penuturan Raja Jayapangus. ”Pikirkan kembali niatmu itu, Raja!” katanya menasihati. Akan tetapi, niat Raja Jayapangus sudah bulat. Mpu Siwagandu menyesalkan mengapa perkenalan sepasang muda mudi itu cepat benar menjadi jalinan cinta. Sangat berat akibatnya kalau hubungan itu menjadi pernikahan. Oleh karena itu, penasihat raja itu berusaha mencegahnya, lalu katanya, ”Ini pertanda buruk, Tuanku!” Mpu Siwagandu menahan marah. Ia lalu bersemadi di suatu tempat yang sepi. Tak lama berselang, dua sejoli itu menikah. Sebagai tanda ikatan tali kasih, ayah Kang Cing We membekali putrinya dua keping pis bolong (uang kepeng Cina). Pernikahan yang bersejarah itu bukan saja membahagiakan kedua mempelai, melainkan juga keluarga istana. Hampir setiap malam mereka mempersembahkan pertunjukan kesenian di halaman istana.

Sastra Sebuah Cerita – Di tengah-tengah kemeriahan pesta pernikahan itu, tiba-tiba turun hujan yang sangat lebat. Tumpahan air dari langit itu tak henti-hentinya, ditambah lagi dengan tiupan badai dari segala penjuru. Raja, permaisuri, dan keluarga istana berhamburan menyelamatkan diri. Rakyat yang tinggal di sekitar istana pun mengungsi entah ke mana. Raja Jayapangus tidak mau membatalkan pernikahannya dengan putri Cina yang dicintainya itu. Kerajaan Panerajon harus tetap berdiri. Oleh karena itu, Raja Jayapangus mengajak rakyatnya yang masih setia mendirikan pusat kerajaan yang baru. Dipilihnya hutan Jong Les yang terletak di sebelah Barat Laut Gunung Batur. Pusat kerajaan yang baru itu diberi nama Balingkang, berasal dari kata bali dan kang. Nama itu merupakan kenangan abadi pernikahan antara seorang putra Bali dengan putri Cina, Kang Cing We. Sumber: Balingkang dengan penyederhanaan, hlm. 1–6

Memperkenalkan Diri dan Orang Lain

Pada Bab I, kalian telah belajar memperkenalkan diri pada acara diskusi. Memperkenalkan diri sebelum menyampaikan pendapat dalam diskusi termasuk dalam etika berdiskusi. Makin sering kalian mengikuti acara diskusi dan menyampaikan pendapat, makin terlatih pula kemampuan kalian mengucapkan kalimat perkenalan. Oleh karena itu, kalian perlu terus berlatih mencari variasi kalimat untuk memperkenalkan diri. Sebelum memulai kegiatan berdiskusi, cobalah kalian membuat variasi kalimat untuk menyampaikan pendapat, menolak pendapat, dan menerima pendapat.

Setelah memberikan penilaian terhadap kalimat perkenalan teman, kalian dapat memberikan usul untuk perbaikan. Perbaikan tersebut, misalnya tentang kecepatan bicara dan artikulasi. Dalam menyampaikan pendapat, kalian sebaiknya tidak berbicara terlalu cepat sehingga terkesan tergesa-gesa. Selain itu, artikulasi atau pengucapan juga harus jelas.

Membaca Ekstensif Teks Nonsastra

Membaca ekstensif berarti membaca secara luas. Objeknya meliputi sebanyak mungkin teks dalam waktu yang sesingkat mungkin. Bagi sebagian orang, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Keberhasilan seseorang sering kali bergantung pada kemampuannya mengelola waktu. Akan tetapi, tidak semua orang mampu mengelola waktunya dengan baik. Mereka bersikap masa bodoh dan melakukan hal-hal yang tidak berguna. K.H. Noer Iskandar, atau yang sering disapa Gus Nur, menyampaikan nasihat agar kita mengatur waktu kita mulai saat ini juga. Apakah kalian ingin mengetahui nasihat Gus Nur secara lengkap?

Menulis Paragraf Deskriptif

Apa pentingnya waktu bagi kalian? Apakah kalian sudah menghargai waktu kalian? Bagi sebagian orang, waktu adalah sesuatu yang sangat berharga. Tidak jarang, mereka rela tidak makan dan tidak tidur. Mereka bekerja sepanjang waktu karena takut tak ada kesempatan lagi bagi mereka untuk melakukan pekerjaan mereka. Jika kalian pergi ke instansi pemerintah, kantor, sekolah, pasar, dan tempat-tempat lainnya, kalian akan melihat kesibukan di sana. Mereka yang berada di tempat itu melakukan rutinitas mereka. Di bawah ini disajikan gambaran rutinitas di sebuah sekolah.

Ruangan itu masih tampak sepi ketika aku datang. Hanya ada tiga orang murid, termasuk aku. Di luar sana, tepatnya di halaman, hanya ada beberapa anak sedang ngobrol. Pak Samin, tukang kebun sekolahku, terlihat sedang menyapu halaman. Sementara, Pardi, anaknya yang baru berumur lima tahun, terlihat ikut membantu ayahnya menyiram tanaman. Makin siang, makin banyak murid yang datang. Beberapa diantaranya langsung masuk keruangan mereka. Ada juga yang mampir ke kantin atau sekadar duduk di taman sambil membaca buku.

Paragraf di atas menggambarkan keadaan sebuah sekolah pada pagi hari. Hal yang digambarkan pada paragraf tersebut adalah kegiatan yang terlihat oleh penulis. Paragraf seperti itu disebut paragraf deskriptif. Adapun langkah dalam membuat paragraf deskriptif adalah sebagai berikut. 1. Mengamati objek penulisan. 2. Menuliskan kalimat-kalimat yang menggambarkan keadaan suatu objek. Misalnya, apa yang ada di tempat itu, berapa jumlah orang yang ada di sana. Hindari pilihan kata yang berisi pendapat pribadi kalian. Misalnya, gadis itu cantik, kulitnya bersih. Penggambaran sosok gadis dengan kata bersih dan cantik adalah penggambaran yang subjektif. Cantik dan bersih memiliki sifat relatif. 3. Membacanya kembali dan menyunting atau memperbaiki tulisan kalian. Perbaikan dapat berupa pilihan kata, ejaan, dan kaidah kebahasaan lainnya. 4. Paragraf deskriptif sering digunakan untuk menuliskan hasil observasi atau pengamatan terhadap suatu objek. Paragraf deskriptif akan memberikan gambaran objektif tentang keadaan suatu objek.

Carilah beberapa teks deskriptif. Bacalah wacana itu, kemudian tentukan ciri-ciri paragraf/wacana deskripsi berdasarkan teks yang kalian baca itu!

1. Buatlah daftar topik-topik yang dapat dikembangkan menjadi tulisan yang berciri deskriptif! 2. Buatlah paragraf deskriptif menggunakan salah satu topik yang kalian daftar! 3. Suntinglah paragraf deskriptif yang ditulis temanmu! 4. Buatlah laporan tentang hasil observasi terhadap suatu objek!

Mengidentifikasi Unsur-Unsur Bentuk Puisi

Mendengarkan pembacaan puisi terkait dengan kegiatan berapresiasi terhadap karya sastra. Dalam mengapresiasi karya sastra, seorang apresiator harus memiliki kemampuan untuk menyimak halhal terpenting dalam puisi. Di antaranya mengetahui tema, makna, gaya bahasa, diksi, rima, irama, dan amanat. Tetapi, si pembaca puisi pun harus memiliki kemampuan membaca puisi yang baik. Tips membaca puisi yang baik adalah membaca puisi harus dengan pelafalan, intonasi, dan ekspresi yang baik. Ketiga bagian ini berhubungan erat dan memerlukan latihan yang benar. Hal itu disebabkan kebenaran dalam pelafalan, intonasi, dan ekspresi akan membantu menyampaikan pesan penyair kepada pendengar. Pesan penyair yang terdapat dalam rentetan kata-kata yang ditulisnya, tentu ada yang eksplisit dan implisit.

Jika si pembaca benar dalam pelafalan dan intonasinya maka nada, perasaan, dan citraan dalam sajak itu akan terungkap. Lafal dalam pembacaan puisi erat kaitannya dengan gerak suara pada bagian tubuh yang akan mengeluarkan suara. Kualitas vokal akan terbantu jika lafal benar. Lafal erat kaitannya dengan peralatan alat ucap, yaitu bibir yang membentuk huruf m-b-p. Lidah yang membentuk huruf c-d-l-n-r-s-t. Rahang juga diperlukan untuk membentuk suara wawawa atau yayaya. Langit-langit akan membentuk m-ka-ng. Selain melatih alat agar elastis mengeluarkan pelafalan yang benar, seorang pembaca puisi harus berlatih olah vokal, yaitu A-I-U-E-O. Ekspresi dilatih melalui olah sukma, olah rasa, dan olah penghayatan terhadap makna yang dibuat penyair dalam sajak tersebut. Refleksi batin akan keluar dan terlihat oleh penggemar melalui ekspresi wajah, reaksi tangan, dan gerak tubuh. Latihannya selain harus memperkaya dari bahan bacaan, pengalaman atau berkontemplasi dengan kenyataan. Ekspresi dapat dilatih dengan senam wajah, senam badan, dan melatih pernapasan.

 

Memberikan Dukungan atau Persetujuan Latar Cerita Rakyat

Memberikan Dukungan atau Persetujuan Latar Cerita Rakyat

Memberikan Dukungan atau Persetujuan Latar Cerita Rakyat

Memberikan Dukungan – Dalam kegiatan diskusi, Anda dituntut untuk berperan aktif. Meskipun Anda hanya sebagai peserta diskusi, Anda bisa menyampaikan tanggapan atas apa yang sedang dibahas di forum diskusi, karena pada dasarnya forum diskusi merupakan suatu bentuk tukar pikiran. Dalam pelajaran ini, Anda akan belajar menyampaikan tanggapan dalam diskusi. Selain itu, Anda akan belajar membaca grafik atau tabel, kemudian merangkum seluruh isinya dengan cara membaca memindai. Andapun akan belajar menulis naskah pidato dan mendengarkan cerita rakyat.

Memberikan Dukungan

Memberikan Dukungan
Memberikan Dukungan

Memberikan Dukungan atau Persetujuan

Memberikan Dukungan – Dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak informasi yang kita dapatkan. Berbagai media, baik itu media cetak atau media elektronik menyediakan informasi dari berbagai belahan penjuru dunia setiap harinya. Informasi yang Anda dapatkan itu kadang ada yang bertentangan dengan pemikiran Anda dan ada juga yang sesuai dengan pemikiran Anda. Jika informasi yang Anda dapat tidak sesuai dengan pemikiran Anda, mungkin sebuah kritik akan langsung keluar dari mulut Anda. Sementara itu, jika informasi yang didapat sudah sesua dengan pemikiran Anda, tentunya Anda akan memberikan dukungan atau persetujuan terhadap informasi yang Anda dapatkan tersebut.

Untuk memberikan dukungan atau persetujuan terhadap sebuah artikel, sebaiknya Anda pahami terlebih dahulu artikel yang disajikan, kemudian datalah setiap informasi yang terdapat pada artikel yang Anda baca, sertakan juga sumbernya. Jika informasi yang Anda data dirasa cukup, rumuskanlah pokok persoalan yang sedang menjadi perbincangan, perdebatan umum di masyarakat. Kemukakan apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa latar belakangnya, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar anda dapat memberikan dukungan atau persetujuan secara runtut. Setelah langkah-langkah tadi Anda kerjakan, barulah Anda dapat memberikan dukungan atau persetujuandengan bukti pendukung yang disertai alasan.

Memberikan Dukungan

Membaca Tabel atau Grafik

Pada saat Anda mencari informasi melalui bacaan, mungkin Anda pernah menemukan penjelasan berupa tabel atau grafik. Tabel atau grafik digunakan untuk membantu mempermudah dan memperjelas hal-hal yang diterangkan dalam tulisan. Dengan memahami tabel atau grafik, Anda dapat dengan cepat menyerap informasi lebih banyak dalam waktu yang singkat. Kegiatan membaca tabel atau grafik termasuk ke dalam kegiatan membaca scanning (memindai).

Tabel tersebut berisi data dan keterangannya mengenai absensi (ketidakhadiran) karyawan PT Mega Mendung mulai 2000–2003. Berdasarkan tabel tersebut dapat diperoleh informasi bahwa jumlah absen tertinggi terjadi pada 2000 dan 2002. Hal ini dapat dilihat dari data jumlah karyawan dan jumlah hari efektif sebagai indikasinya.

Latihan Pemahaman

1. Bacalah bacaan berikut dengan cermat.

Sejumlah Buruh di Rungkut Keluhkan Besarnya UMK 

Sore itu, suasana di kawasan industri Rungkut Surabaya, cukup ramai oleh bubaran buruh, yang setelah satu hari bekerja di kawasan industri tersebut. Ada yang berjalan kaki, naik sepeda, motor, dan ada pula yang naik angkutan umum. Di sebuah halte bus, beberapa buruh tampak berincang-bincang. Percakapan yang muncul tidak lain adalah rencana penerapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) mulai 1 Januari 2004. Perbincangan di antara buruh adalah seputar besar an UMK yang diterapkan untuk Surabaya. “Kok kecil sekali ya, padahal kebutuh an keluarga terus mening kat,” kata Ningsih, buruh pabrik rokok di kawasan industri Surabaya. Kawan Ningsih ber nama Ratna menimpali. “Iya ya, kalau hidup di Surabaya dengan gaji sebesar itu, tidak akan cukup. Belum lagi, kalau ada keperluan lain-lain. Rasanya tidak adil,” ujarnya. Kekecewaan tampak pada Ningsih dan Ratna. Buruh yang lain juga merasakan hal yang sama. UMK Rp550.700,00 adalah nilai yang sangat kecil. Sementara, kebutuhan keluarga terus meningkat. Dia mengaku masih beruntung men dapatkan UMK sebesar itu. Akan tetapi bagaimana dengan daerah lain, seperti Magetan dan Pacitan, yang nilainya sangat jauh dari harapan mereka. “Memang kebutuhan tidak sama antara satu daerah dengan daerah lain, namun kalau melihat kebutuhan keluarga seperti sekarang seharusnya buruh diberikan gaji yang besar,” katanya Berikut data Upah Minimum Kabupaten/ Kota (UMK) di 10 dari 38 Kabupaten di Jawa Timur 2004 berdasarkan Keputusan Gubernur No. 188/273/KPTS/013/2003.

Para buruh hanya dapat merenungi saja. Sebab, tidak mungkin dapat me lakukan protes seperti pada masa se belumnya. Apalagi, UMK ini ditetapkan berdasar kan pertimbangan dari organisasi buruh yang ada di Jawa Timur sehingga buruh hanya dapat menerima. UMK se besar Rp550.700,00 bagi Ningsih yang me miliki satu putra, hanya cukup buat makan. Adapun untuk mem bayar kon tra k an rumah Ningsih me ngaku meng gan tungkan pada suami nya yang bekerja di perusahaan lain. “Kalau tidak didukung dengan suami, gaji sebesar itu jelas tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Apalagi, kalau sudah punya anak, dapat dibayangkan. Kita ini se makin hari kok semakin susah,” keluhnya. Baik Ratna maupun Ningsih sangat berharap, pemerintah memerhatikan nasib buruh. Selama ini buruh dianggapnya sebagai pelengkap, padahal buruh merupakan elemen masyarakat yang mam pu menggerakkan roda ekonomi. Jika buruh mogok kerja, kerugian perusaha an cukup besar. Kadangkala perusahaan meng anggap sepele keberadaan mereka. “Sudah saatnya buruh harus diper hitung kan, seperti halnya buruh-buruhnya di negara lain,” katanya. Mereka berharap agar organisasi-organisasi buruh di Indonesia dapat bersatu dalam mem perjuangkan hak-hak buruh. Sebab, ada juga organisasi buruh yang tidak jelas arah dan tujuan. Malah ada yang berusaha mengajak buruh mogok, tetapi isu yang dibawa lebih bermuatan politik. Sumber: Harian Media Indonesia, 30 Desember 2003

2. Setelah membaca bacaan tersebut, ke mukakan lah masalah yang menjadi pokok bahasan. 3. Berdasarkan tabel dalam bacaan, daerah manakah yang memiliki UMK paling tinggi? Selain itu, daerah mana yang memiliki UMK paling rendah? Kemudian, daerah mana sajakah yang memiliki UMK sama dan berapa jumlahnya? 4. Mengapa UMK di setiap daerah di Jawa Timur tersebut berbeda-beda? 5. Buatlah kesimpulan isi tabel yang ada dalam bacaan “Sejumlah Buruh di Rungkut Keluhkan Besarnya UMK”. Kemukakanlah kesimpulan isi tabel tersebut.

Menulis Naskah Pidato

Anda tentu sering melaksanakan upacara bendera di sekolah, bukan? Dalam upacara itu, Anda tentu sering pula mendengarkan arahan-arahan yang disampaikan oleh pembina upacara. Biasanya, orang yang bertindak sebagai pembina upacara itu adalah guru Anda. Nah, kegiatan menyampaikan arahan-arahan yang disampaikan oleh pembina upacara itu disebut sebagai pidato. Berpidato merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Namun, agar pidato tersebut lebih terarah, kita dapat menyusun naskahnya terlebih dahulu. Ada beberapa peristiwa saat akan berpidato dan menulis teks pidato, yakni sebagai berikut.

1. Menentukan topik dan tujuan pidato Pokok atau topik dan tujuan pembicara dalam suatu pidato merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pokok atau topik pembicaraan merupakan persoalan yang dikemukakan, sedangkan tujuan pembicaraan berhubungan dengan tanggapan yang diharapkan dari para pendengar berkenaan dengan persoalan yang dikemukakan itu. 2. Menganalisis pendengar dan situasi Menganalisis situasi dan pendengar terlebih dahulu jauh sebelum membuat naskah pidato perlu dilakukan agar pembicaraan dapat mencapai tujuannya. Misalnya, menganalisis dahulu maksud pengunjung mendengarkan uraian, susunan acara, tempat pembicaraan berlangsung, usia, pekerjaan, serta pendidikan pendengar. 3. Mengumpulkan bahan Bahan-bahan yang dikumpulkan harus berhubungan dengan persoalan atau topik yang akan dibahas. Lebih lengkap bahan yang diperoleh akan memperlancar pembi cara dalam menyusun suatu naskah. 4. Membuat kerangka uraian Kerangka uraian yang dibuat itu sebaiknya terperinci dan tersusun baik. Dengan demikian, akan memudahkan kita dalam menyusun naskah pidato. 5. Mengembangkan kerangka uraian Naskah pidato disusun berdasarkan kerangka yang telah dibuat sebelumnya. Pergunakanlah kata-kata yang tepat, penggunaan kalimat yang efektif, pemakaian istilah dan gaya bahasa yang dikehendaki sehingga dapat memperjelas uraian.

Menurut sifat isinya, ada pidato pembukaan, pidato laporan, pidato pengarahan, dan pidato peresmian atau sambutan. Pada umumnya, pidato pembukaan singkat sekali dan disampaikan oleh pemandu acara. Pidato laporan juga singkat dan hanya melaporkan hal-hal yang penting, tidak menggunakan basa-basi. Pidato pengarahan bermaksud mengarahkan suatu pertemuan, pengarahan suatu keputusan atau penyusunan suatu program. Pidato peresmian biasanya dilakukan oleh pejabat atau seseorang yang ditokohkan dan berpengaruh. Setelah Anda dapat menentukan topik sesuai dengan tujuan pidatonya, langkah berikutnya adalah membuat kerang ka isi pidato. Seperti yang telah Anda lakukan pada pelajaran menulis cerpen (pembelajaran 8B), ide-ide yang muncul dapat Anda tuangkan dulu dalam bentuk kerangka isi. Hal ini penting untuk memudahkan Anda saat penulisan dan arah pembicaraan lebih terfokus.

Menjelaskan Hal Menarik dari Latar Cerita Rakyat

Pada pembelajaran 6 sub A Anda pernah belajar mendengarkan cerita rakyat kemudian berlatih menjelaskan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. Bagaimanakah watak tokoh Puti Kesumba dalam cerita rakyat tersebut? Tentu Anda sudah tahu jawabannya. Puti Kesumba memiliki watak pemberani dan cerdik, karena keberanian dan kecerdikannya Puti Kesumba mampu mengalahkan ular sawah raksasa. Nah, pada pembelajaran kali ini Anda akan mendengarkan cerita rakyat kembali dengan tujuan agar Anda dapat menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat Cerita rakyat adalah kisah pendek tentang orang-orang atau kejadian-kejadian yang diwariskan yang turun-temurun secara lisan. Cerita rakyat isinya penuh dengan pesan moral.

Ceritanya terlihat jelas antara tokoh protagonis (tokoh baik) dengan tokoh antagonis (tokoh jahat) dalam cerita rakyat tokoh protagonis adalah tokoh yang pantas ditiru sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang tidak boleh ditiru. Latar (setting) adalah keterangan tempat, waktu, dan suasana terjadinya cerita dalam karya sastra. Setiap cerita atau peristiwa dalam kehidupan kita pada dasarnya selalu berada di tempattempat tertentu yang berhubungan dengan daerah, misalnya, kota, desa, rumah, taman, pasar, pantai, dll.

Pengertian Menganalisis Contoh Unsur Intrinsik Cerpen

Pengertian Menganalisis Contoh Unsur Intrinsik Cerpen

Pengertian Menganalisis Contoh Unsur Intrinsik Cerpen

Unsur Intrinsik Cerpen
Unsur Intrinsik Cerpen

Pengertian Menganalisis Contoh Unsur Intrinsik Cerpen

Unsur Intrinsik Cerpen – Dalam pelajaran ini Anda akan berlatih menganalisis unsur intrinsik cerpen lalu mengubungkannya dengan realitas sosial. Anda dapat menemukannya dalam cerpen-cerpen bertema sosial. Dengan demikian, diharapkan kemampuan Anda dalam memahami cerpen akan bertambah.

Unsur Intrinsik Cerpen

Upaya memahami karya sastra dapat dilakukan dengan menganalisis unsur-unsur dalam (intrinsik). Unsur-unsur dalam sebuah karya sastra memiliki keterkaitan satu dengan lainnya. Berikut ini unsur-unsur intrinsik yang ada dalam karya sastra. 1. Tema Tema dapat kita peroleh setelah kita membaca secara menyeluruh (close reading) isi cerita.Tema yang diangkat biasanya sesuai dengan amanat/pesan yang hendak disampaikan oleh pengarangnya. Tema menyangkut ide cerita. Tema menyangkut keseluruhan isi cerita yang tersirat dalam cerpen. Tema dalam cerpen dapat mengangkat masalah persahabatan, cinta kasih, permusuhan, dan lain-lain. Hal yang pokok adalah tema berhubungan dengan sikap dan pengamatan pengarang terhadap kehidupan. Pengarang menyatakan idenya dalam unsur keseluruhan cerita. 2. Jalan Cerita dan Alur Alur tersembunyi di balik jalan cerita. Alur merupakan bagian rangkaian perjalanan cerita yang tidak tampak. Jalan cerita dikuatkan dengan hadirnya alur. Sehubungan dengan naik turunnya jalan cerita karena adanya sebab akibat, dapat dikatakan pula alur dan jalan cerita dapat lahir karena adanya konflik. Konflik tidak harus selalu berisikan pertentangan antara orang per orang. Konflik dapat hadir dalam diri sang tokoh dengan dirinya maupun dengan lingkungan di sekitarnya. Hal yang menggerakkan kejadian cerita adalah plot. Suatu kejadian baru dapat disebut cerita kalau di dalamnya ada perkembangan kejadian. Dan suatu kejadian berkembang kalau ada yang menyebabkan terjadinya perkembangan konflik. Adapun kehadiran konlik harus ada sebabnya. Secara sederhana, konflik lahir dari mulai pengenalan hingga penyelesaian konflik. Untuk lebih jelasnya, urutan tingkatan konflik adalah sebagai berikut.

Pengertian Menganalisis Contoh Unsur Intrinsik Cerpen

Unsur Intrinsik Cerpen

Pengenalan konflik > Timbul permasalahan > Permasalahan memuncak > Permasalahan mereda > Penyelesaian masalah

3. Tokoh dan Perwatakan Cara tokoh dalam menghadapi masalah maupun kejadian tentunya berbeda-beda. Hal ini disebabkan perbedaan latar belakang (pengalaman hidup) mereka. Dengan menggambarkan secara khusus bagaimana suasana hati tokoh, kita lebih banyak diberi tahu latar belakang kepribadiannya. Penulis yang berhasil menghidupkan watak tokoh-tokoh ceritanya berarti berhasil pula dalam menghidupkan tokoh. Dalam perwatakan tokoh dapat diamati dari hal-hal berikut: a. apa yang diperbuat oleh para tokoh; b. melalui ucapan-ucapan tokoh; c. melalui penggambaran fisik tokoh; d. melalui pikiran-pikirannya; e. melalui penerangan langsung. 4. Latar (Setting) Latar (setting) merupakan salah satu bagian cerpen yang dianggap penting sebagai penggerak cerita. Setting mempengaruhi unsur lain, semisal tema atau penokohan. Setting tidak hanya menyangkut lokasi di mana para pelaku cerita terlibat dalam sebuah kejadian. Adapun penggolongan setting dapat dikelompokkan dalam setting tempat, setting waktu, dan setting sosial.

5. Sudut Pandang (Point of View) Point of view berhubungan dengan siapakah yang menceritakan kisah dalam cerpen? Cara yang dipilih oleh pengarang akan menentukan sekali gaya dan corak cerita. Hal ini dikarenakan watak dan pribadi si pencerita (pengarang) akan banyak menentukan cerita yang dituturkan pada pembaca. Adapun sudut pandang pengarang sendiri empat macam, yakni sebagai berikut. a. Objective point of view Dalam teknik ini, pengarang hanya menceritakan apa yang terjadi, seperti Anda melihat film dalam televisi. Para tokoh hadir dengan karakter masing-masing. Pengarang sama sekali tidak mau masuk ke dalam pikiran para pelaku. b. Omniscient point of view Dalam teknik ini, pengarang bertindak sebagai pencipta segalanya. Ia tahu segalanya. Ia bisa menciptakan apa saja yang ia perlukan untuk melengkapi ceritanya sehingga mencapai efek yang diinginkannya. c. Point of view orang pertama Teknik ini lebih populer dikenal di Indonesia. Teknik ini dikenal pula dengan teknik sudut pandang “aku”. Hal ini sama halnya seperti seseorang mengajak berbicara pada orang lain.

d. Point of view orang ketiga Teknik ini biasa digunakan dalam penuturan pengalaman seseorang sebagai pihak ketiga. Jadi, pengarang hanya “menitipkan” pemikirannya dalam tokoh orang ketiga. Orang ketiga (“dia”) dapat juga menggunakan nama orang. 6. Gaya Gaya menyangkut cara khas pengarang dalam mengungkapkan ekspresi berceritanya dalam cerpen yang ia tulis. Gaya tersebut menyangkut bagaimana seorang pengarang memilih tema, persoalan, meninjau persoalan, dan menceritakannya dalam sebuah cerpen. 7. Amanat Amanat adalah bagian akhir yang merupakan pesan dari cerita yang dibaca. Dalam hal ini, pengarang “menitipkan” nilai-nilai kehidupan yang dapat diambil dari cerpen yang dibaca. Amanat menyangkut bagaimana sang pembaca memahami dan meresapi cerpen yang ia baca. Setiap pembaca akan merasakan nilai-nilai yang berbeda dari cerpen yang dibacanya. Hal lain yang termasuk unsur sastra adalah unsur ekstrinsik. Unsur ini berada di luar karya sastra itu sendiri. Misalnya, nama penerbit, tempat lahir pengarang, harga buku, hingga keadaan di sekitar saat karya sastra tersebut ditulis. Sekarang, dengarkanlah pembacaan penggalan cerita pendek berikut. Salah seorang teman Anda akan membacakannya. Selama teman Anda membacakan, tutuplah buku.

Peradilan Rakyat Karya Putu Wijaya

Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangat dihormati oleh para penegak hukum. “Tapi aku datang tidak sebagai putramu,” kata pengacara muda itu, “aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini. Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. “Apa yang ingin kamu tentang, anak muda?” Pengacara muda tertegun. “Ayahanda bertanya kepadaku?”

Unsur Intrinsik Cerpen

“Ya, kepada kamu, bukan sebagai putraku, tetapi kamu sebagai ujung tombak pencarian keadilan di negeri yang sedang dicabik-cabik korupsi ini.” Pengacara muda itu tersenyum. “Baik, kalau begitu, Anda mengerti maksudku.” “Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuripencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu.” Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan yang kini seperti macan ompong itu, meskipun sisasisa keperkasaannya masih terasa.

“Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Anda dengan seluruh sejarah kau memang terlalu besar untuk dibicarakan. Meskipun bukan bebas dari kritik. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakankebijakan yang sudah Anda lakukan. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Kau sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih, kau yang selalu berhasil dan sempurna, tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri.” Pengacara tua itu meringis. “Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. Berarti kita bisa bicara sungguhsungguh sebagai profesional, Pemburu Keadilan.” “Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!” Pengacara tua itu tertawa. “Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!” potong pengacara tua. Pengacara muda terkejut. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. “Tidak apa. Jangan surut. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan,” sambung pengacara tua menenangkan, sembari mengangkat tangan, menikmati juga pujian itu, “Jangan membatasi dirimu sendiri.

Unsur Intrinsik Cerpen – Jangan membunuh diri dengan deskripsi-deskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku, mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air, bagai suara alam, karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini.” Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. “Aku datang kemari ingin mendengar suaramu. Aku mau berdialog.” “Baik. Mulailah. Berbicaralah sebebas-bebasnya.” “Terima kasih. Begini. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar, yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya, bahwa pada akhirnya negara cukup adil, karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Kenapa? Karena aku yakin, negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler, bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini, sudah ada kebangkitan baru. Penjahat yang paling kejam, sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson, itu bukan istilahku, aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku, sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani.

Unsur Intrinsik Cerpen