Memberikan Dukungan atau Persetujuan Latar Cerita Rakyat

Memberikan Dukungan atau Persetujuan Latar Cerita Rakyat

Memberikan Dukungan atau Persetujuan Latar Cerita Rakyat

Memberikan Dukungan – Dalam kegiatan diskusi, Anda dituntut untuk berperan aktif. Meskipun Anda hanya sebagai peserta diskusi, Anda bisa menyampaikan tanggapan atas apa yang sedang dibahas di forum diskusi, karena pada dasarnya forum diskusi merupakan suatu bentuk tukar pikiran. Dalam pelajaran ini, Anda akan belajar menyampaikan tanggapan dalam diskusi. Selain itu, Anda akan belajar membaca grafik atau tabel, kemudian merangkum seluruh isinya dengan cara membaca memindai. Andapun akan belajar menulis naskah pidato dan mendengarkan cerita rakyat.

Memberikan Dukungan

Memberikan Dukungan
Memberikan Dukungan

Memberikan Dukungan atau Persetujuan

Memberikan Dukungan – Dalam kehidupan sehari-hari, begitu banyak informasi yang kita dapatkan. Berbagai media, baik itu media cetak atau media elektronik menyediakan informasi dari berbagai belahan penjuru dunia setiap harinya. Informasi yang Anda dapatkan itu kadang ada yang bertentangan dengan pemikiran Anda dan ada juga yang sesuai dengan pemikiran Anda. Jika informasi yang Anda dapat tidak sesuai dengan pemikiran Anda, mungkin sebuah kritik akan langsung keluar dari mulut Anda. Sementara itu, jika informasi yang didapat sudah sesua dengan pemikiran Anda, tentunya Anda akan memberikan dukungan atau persetujuan terhadap informasi yang Anda dapatkan tersebut.

Untuk memberikan dukungan atau persetujuan terhadap sebuah artikel, sebaiknya Anda pahami terlebih dahulu artikel yang disajikan, kemudian datalah setiap informasi yang terdapat pada artikel yang Anda baca, sertakan juga sumbernya. Jika informasi yang Anda data dirasa cukup, rumuskanlah pokok persoalan yang sedang menjadi perbincangan, perdebatan umum di masyarakat. Kemukakan apa isunya, siapa yang memunculkan, kapan dimunculkan, apa latar belakangnya, dan sebagainya. Hal ini dilakukan agar anda dapat memberikan dukungan atau persetujuan secara runtut. Setelah langkah-langkah tadi Anda kerjakan, barulah Anda dapat memberikan dukungan atau persetujuandengan bukti pendukung yang disertai alasan.

Memberikan Dukungan

Membaca Tabel atau Grafik

Pada saat Anda mencari informasi melalui bacaan, mungkin Anda pernah menemukan penjelasan berupa tabel atau grafik. Tabel atau grafik digunakan untuk membantu mempermudah dan memperjelas hal-hal yang diterangkan dalam tulisan. Dengan memahami tabel atau grafik, Anda dapat dengan cepat menyerap informasi lebih banyak dalam waktu yang singkat. Kegiatan membaca tabel atau grafik termasuk ke dalam kegiatan membaca scanning (memindai).

Tabel tersebut berisi data dan keterangannya mengenai absensi (ketidakhadiran) karyawan PT Mega Mendung mulai 2000–2003. Berdasarkan tabel tersebut dapat diperoleh informasi bahwa jumlah absen tertinggi terjadi pada 2000 dan 2002. Hal ini dapat dilihat dari data jumlah karyawan dan jumlah hari efektif sebagai indikasinya.

Latihan Pemahaman

1. Bacalah bacaan berikut dengan cermat.

Sejumlah Buruh di Rungkut Keluhkan Besarnya UMK 

Sore itu, suasana di kawasan industri Rungkut Surabaya, cukup ramai oleh bubaran buruh, yang setelah satu hari bekerja di kawasan industri tersebut. Ada yang berjalan kaki, naik sepeda, motor, dan ada pula yang naik angkutan umum. Di sebuah halte bus, beberapa buruh tampak berincang-bincang. Percakapan yang muncul tidak lain adalah rencana penerapan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) mulai 1 Januari 2004. Perbincangan di antara buruh adalah seputar besar an UMK yang diterapkan untuk Surabaya. “Kok kecil sekali ya, padahal kebutuh an keluarga terus mening kat,” kata Ningsih, buruh pabrik rokok di kawasan industri Surabaya. Kawan Ningsih ber nama Ratna menimpali. “Iya ya, kalau hidup di Surabaya dengan gaji sebesar itu, tidak akan cukup. Belum lagi, kalau ada keperluan lain-lain. Rasanya tidak adil,” ujarnya. Kekecewaan tampak pada Ningsih dan Ratna. Buruh yang lain juga merasakan hal yang sama. UMK Rp550.700,00 adalah nilai yang sangat kecil. Sementara, kebutuhan keluarga terus meningkat. Dia mengaku masih beruntung men dapatkan UMK sebesar itu. Akan tetapi bagaimana dengan daerah lain, seperti Magetan dan Pacitan, yang nilainya sangat jauh dari harapan mereka. “Memang kebutuhan tidak sama antara satu daerah dengan daerah lain, namun kalau melihat kebutuhan keluarga seperti sekarang seharusnya buruh diberikan gaji yang besar,” katanya Berikut data Upah Minimum Kabupaten/ Kota (UMK) di 10 dari 38 Kabupaten di Jawa Timur 2004 berdasarkan Keputusan Gubernur No. 188/273/KPTS/013/2003.

Para buruh hanya dapat merenungi saja. Sebab, tidak mungkin dapat me lakukan protes seperti pada masa se belumnya. Apalagi, UMK ini ditetapkan berdasar kan pertimbangan dari organisasi buruh yang ada di Jawa Timur sehingga buruh hanya dapat menerima. UMK se besar Rp550.700,00 bagi Ningsih yang me miliki satu putra, hanya cukup buat makan. Adapun untuk mem bayar kon tra k an rumah Ningsih me ngaku meng gan tungkan pada suami nya yang bekerja di perusahaan lain. “Kalau tidak didukung dengan suami, gaji sebesar itu jelas tidak mencukupi untuk kebutuhan keluarga. Apalagi, kalau sudah punya anak, dapat dibayangkan. Kita ini se makin hari kok semakin susah,” keluhnya. Baik Ratna maupun Ningsih sangat berharap, pemerintah memerhatikan nasib buruh. Selama ini buruh dianggapnya sebagai pelengkap, padahal buruh merupakan elemen masyarakat yang mam pu menggerakkan roda ekonomi. Jika buruh mogok kerja, kerugian perusaha an cukup besar. Kadangkala perusahaan meng anggap sepele keberadaan mereka. “Sudah saatnya buruh harus diper hitung kan, seperti halnya buruh-buruhnya di negara lain,” katanya. Mereka berharap agar organisasi-organisasi buruh di Indonesia dapat bersatu dalam mem perjuangkan hak-hak buruh. Sebab, ada juga organisasi buruh yang tidak jelas arah dan tujuan. Malah ada yang berusaha mengajak buruh mogok, tetapi isu yang dibawa lebih bermuatan politik. Sumber: Harian Media Indonesia, 30 Desember 2003

2. Setelah membaca bacaan tersebut, ke mukakan lah masalah yang menjadi pokok bahasan. 3. Berdasarkan tabel dalam bacaan, daerah manakah yang memiliki UMK paling tinggi? Selain itu, daerah mana yang memiliki UMK paling rendah? Kemudian, daerah mana sajakah yang memiliki UMK sama dan berapa jumlahnya? 4. Mengapa UMK di setiap daerah di Jawa Timur tersebut berbeda-beda? 5. Buatlah kesimpulan isi tabel yang ada dalam bacaan “Sejumlah Buruh di Rungkut Keluhkan Besarnya UMK”. Kemukakanlah kesimpulan isi tabel tersebut.

Menulis Naskah Pidato

Anda tentu sering melaksanakan upacara bendera di sekolah, bukan? Dalam upacara itu, Anda tentu sering pula mendengarkan arahan-arahan yang disampaikan oleh pembina upacara. Biasanya, orang yang bertindak sebagai pembina upacara itu adalah guru Anda. Nah, kegiatan menyampaikan arahan-arahan yang disampaikan oleh pembina upacara itu disebut sebagai pidato. Berpidato merupakan salah satu kegiatan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemampuan berbicara. Namun, agar pidato tersebut lebih terarah, kita dapat menyusun naskahnya terlebih dahulu. Ada beberapa peristiwa saat akan berpidato dan menulis teks pidato, yakni sebagai berikut.

1. Menentukan topik dan tujuan pidato Pokok atau topik dan tujuan pembicara dalam suatu pidato merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Pokok atau topik pembicaraan merupakan persoalan yang dikemukakan, sedangkan tujuan pembicaraan berhubungan dengan tanggapan yang diharapkan dari para pendengar berkenaan dengan persoalan yang dikemukakan itu. 2. Menganalisis pendengar dan situasi Menganalisis situasi dan pendengar terlebih dahulu jauh sebelum membuat naskah pidato perlu dilakukan agar pembicaraan dapat mencapai tujuannya. Misalnya, menganalisis dahulu maksud pengunjung mendengarkan uraian, susunan acara, tempat pembicaraan berlangsung, usia, pekerjaan, serta pendidikan pendengar. 3. Mengumpulkan bahan Bahan-bahan yang dikumpulkan harus berhubungan dengan persoalan atau topik yang akan dibahas. Lebih lengkap bahan yang diperoleh akan memperlancar pembi cara dalam menyusun suatu naskah. 4. Membuat kerangka uraian Kerangka uraian yang dibuat itu sebaiknya terperinci dan tersusun baik. Dengan demikian, akan memudahkan kita dalam menyusun naskah pidato. 5. Mengembangkan kerangka uraian Naskah pidato disusun berdasarkan kerangka yang telah dibuat sebelumnya. Pergunakanlah kata-kata yang tepat, penggunaan kalimat yang efektif, pemakaian istilah dan gaya bahasa yang dikehendaki sehingga dapat memperjelas uraian.

Menurut sifat isinya, ada pidato pembukaan, pidato laporan, pidato pengarahan, dan pidato peresmian atau sambutan. Pada umumnya, pidato pembukaan singkat sekali dan disampaikan oleh pemandu acara. Pidato laporan juga singkat dan hanya melaporkan hal-hal yang penting, tidak menggunakan basa-basi. Pidato pengarahan bermaksud mengarahkan suatu pertemuan, pengarahan suatu keputusan atau penyusunan suatu program. Pidato peresmian biasanya dilakukan oleh pejabat atau seseorang yang ditokohkan dan berpengaruh. Setelah Anda dapat menentukan topik sesuai dengan tujuan pidatonya, langkah berikutnya adalah membuat kerang ka isi pidato. Seperti yang telah Anda lakukan pada pelajaran menulis cerpen (pembelajaran 8B), ide-ide yang muncul dapat Anda tuangkan dulu dalam bentuk kerangka isi. Hal ini penting untuk memudahkan Anda saat penulisan dan arah pembicaraan lebih terfokus.

Menjelaskan Hal Menarik dari Latar Cerita Rakyat

Pada pembelajaran 6 sub A Anda pernah belajar mendengarkan cerita rakyat kemudian berlatih menjelaskan hal-hal yang menarik tentang tokoh cerita rakyat tersebut. Bagaimanakah watak tokoh Puti Kesumba dalam cerita rakyat tersebut? Tentu Anda sudah tahu jawabannya. Puti Kesumba memiliki watak pemberani dan cerdik, karena keberanian dan kecerdikannya Puti Kesumba mampu mengalahkan ular sawah raksasa. Nah, pada pembelajaran kali ini Anda akan mendengarkan cerita rakyat kembali dengan tujuan agar Anda dapat menjelaskan hal-hal yang menarik tentang latar cerita rakyat Cerita rakyat adalah kisah pendek tentang orang-orang atau kejadian-kejadian yang diwariskan yang turun-temurun secara lisan. Cerita rakyat isinya penuh dengan pesan moral.

Ceritanya terlihat jelas antara tokoh protagonis (tokoh baik) dengan tokoh antagonis (tokoh jahat) dalam cerita rakyat tokoh protagonis adalah tokoh yang pantas ditiru sedangkan tokoh antagonis adalah tokoh yang tidak boleh ditiru. Latar (setting) adalah keterangan tempat, waktu, dan suasana terjadinya cerita dalam karya sastra. Setiap cerita atau peristiwa dalam kehidupan kita pada dasarnya selalu berada di tempattempat tertentu yang berhubungan dengan daerah, misalnya, kota, desa, rumah, taman, pasar, pantai, dll.

Materi Unsur Cerita Sastra Sebuah Cerita

Materi Unsur Cerita Sastra Sebuah Cerita

Materi Unsur Cerita Sastra Sebuah Cerita

Unsur Cerita Sastra
Unsur Cerita Sastra

Unsur Cerita Sastra – Mendengarkan pembacaan cerpen merupakan kegiatan yang menarik. Dengan mendengarkan pembacaan cerpen, kalian dapat memahami berbagai karakter manusia. Di samping itu, kalian juga dapat mengetahui nilai-nilai yang terkandung di dalam cerpen. Karena cerpen merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari, secara tidak langsung nilai-nilai dalam cerita tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan kita. Ketika mendengarkan pembacaan cerpen, perhatikan alur ceritanya. Catat nama-nama tokohnya dengan segala karakternya. Catat latar ceritanya di mana, dan apa pesan yang disampaikan pengarang. Setelah selesai, buatlah ringkasannya. Diskusikan hasil apresiasi tersebut dan samakan persepsi dengan teman sebangku. Setelah itu, salah seorang membahasnya di depan kelas tentang nilainilai cerpen tersebut. Dengarkan pembacaan cerpen berikut!

Unsur Cerita Sastra – Bu Guru Dwita Yanusa Nugroho Hari ini ulangan Bahasa Indonesia. Ah, anak-anak. Mereka begitu tekun mengerjakan tugasnya masing-masing. Anak-anak yang sangat diharapkan orang tua kelak menjadi ”orang”. Dan, ah, lihatlah si Ninin, gadis kecilnya. Anak itu, yang kini serius itu, kemarin atau entah beberapa hari yang lalu datang ke tempat kosnya. ”Bu, saya bingung,” katanya begitu pintu dibuka. ”Ada apa? Kalimat majemuk lagi, ya?” godanya. ”Ah, Ibu,” rengeknya manja. Bu Guru kita membelainya, mengajaknya duduk di kursi plastik hijau. ”Ada apa, sih, Nona Manis?” ”Saya bingung.” ”Bingung apa?” Ninin diam saja, seolah ragu. Muridnya yang satu ini memang begitu dekat dengannya. Dia anak kelas II-C di SMP tempatnya mengajar. ”Ibu tahu si Tony?” tanyanya malu-malu. Sejenak Bu Guru kita terkejut, tetapi secepat itu pula tersenyum, bahkan akhirnya tertawa renyah sekali lewat penuturan gadis kecilnya ini. Oh, alah Ninin, Ninin. Dan memang itulah yang ingin diutarakan. Tony mengiriminya surat, sebenarnya bukan surat, hanya kartu kecil bertuliskan sesuatu. ”Apa, sih, maunya, Bu?” tanyanya beberapa saat kemudian. ”Mau Ninin apa?” balik Bu Guru kita sambil tersenyum. Ninin diam lagi, wajahnya tunduk.

Unsur Cerita Sastra – Bu Guru kita tersenyum dalam hati. Hari ini ulangan Bahasa Indonesia. Hari ini mereka harus membuat karangan singkat. Mengarang tentang apa saja yang dapat mereka ungkapkan. Mereka harus dapat berkata lewat tulisan. Mereka harus dapat jujur pada diri sendiri dengan menulis. Ah, anak-anak manis. Hari ulang tahun Ibu Guru kita dan dia mendapatkan hadiah istimewa: muridnya dapat mengarang dengan tenang. Hari-hari di kelas dilaluinya dengan gairah kerja dan suka-ria bersama anak-anak itu. Tiga puluh lima semuanya, dan dia hafal betul seorang demi seorang karena dialah wali kelas mereka. Dari Amy Suryaningsih, si pemalu yang sederhana, anak seorang pengusaha terkenal, sampai Zamroni si hitam bandel; dia ketua kelas karena yang paling besar badannya. Dia hafal dan ingat bagaimana tingkah, celetuk, dan canda mereka. Ruang kelas saat itu hening sekali. Bu Guru kita duduk di kursi di depan mereka. Memandang sudut kiri tempat si Yusak duduk. Bu Guru kita tersenyum ketika melihat Yusak menggaruk kepalanya karena ketika digaruk, sobekan kertas kecil-kecil berlompatan dari gumpalan rambutnya yang keriting. Anehnya, Yusak tak menyadari itu semua. Anak kelahiran sebuah desa kecil di daerah Kepala Burung itu kembali tekun menuliskan kata-katanya. Itu pasti ulah si Budina atau Lucy karena mereka berdualah yang akrab dengan Yusak. Di sebelahnya duduk Biko. Nama sebenarnya adalah Ahmad Zainuri, entah bagaimana asal mulanya namanya berubah menjadi Biko. Ah, rasanya aku ingat! Kata Bu Guru kita. Kalau tak salah nama Biko muncul setelah ulang tahun Amy tiga bulan lalu. Waktu itu kawan-kawan sekelas diundang datang makan siang. Amy mempunyai seekor burung Betet yang sudah sangat jinak. Begitu jinaknya si Betet ini sehingga dibiarkan lepas bebas berjalanjalan di dalam rumah. Pintu sang-karnya yang dari besi itu selalu terbuka lebar sehingga si Betet dapat ke luar masuk kapan saja. Tubuh burung itu agak bulat, warnanya hijau, paruhnya yang pendek membuat langkahnya menjadi lucu, apalagi jika diberi makanan, ia buru-buru, maka langkahnya jadi kian menggelikan; megal-megol seperti entok. Anehnya hari itu si Betet tidak mau didekati siapa pun, termasuk Amy. Tetapi, lebih aneh lagi, kepada Ahmad Zainuri dia mau, bahkan bertengger manja di pundaknya.

Unsur Cerita Sastra

”Lihat, cuma kepadaku dia mau. Habis, kalian belum mandi!” katanya bangga, dan berdiri tegak mirip si Buta dari gua hantu. Anakanak dan Bu Guru kita tertawa. ”Ya, sudah karena dia jinak sama kamu, sekalian saja pakai namanya,” goda Amy sambil tersenyum. ”Siapa namanya?” tanya Ninin sengaja memancing tawa. ”Biko!” Gelak tawa memenuhi ruangan besar itu. Ahmad Zainuri hanya cengar-cengir salah tingkah, sementara si Betet agaknya senang; menjerit-jerit dengan suaranya yang parau. Sejak hari itu dia dipanggil Biko. Bu Guru kita tersenyum kecil. Sunggingan senyumnya manis sekali. Tetapi, secepat itu pula dia telan bulat-bulat. Apa jadinya jika ketika itu ada murid-muridnya yang tahu dirinya tersenyum seorang diri. Dilihatnya pula si cantik Amy agak diganggu oleh bolpoinnya. Beberapa kali digosok-gosokkannya bolpoin itu pada kertas. Agaknya tintanya habis. Dia melihat ke kiri ke kanan. Pasti cari pinjaman; kata Bu Guru kita dalam hati. Kemudian, didekatinya Amy dan dipinjamkannya bolpoinnya. Amy menerimanya dengan malu-malu. Amy, Amy,… ke mana bolpoinmu yang lain nona manis? Oh, tentu kau pinjamkan pada Ninin atau si ceking Ramadan, biasanya memang mereka yang sering pinjam, kan? Dan kini kau pinjam dariku, Bu Guru kita tertawa dalam hati.

Unsur Cerita Sastra

Amy dulu pernah bercerita padanya tentang keluarganya. Dikatakannya bahwa ia tak betah di rumah, dia lebih senang tidur di rumah eyang di Pasar Minggu karena di sana dia dapat tenang dan tenteram tidak kesepian seperti di rumah orang tuanya. ”Amy takut sepi?” tanya Bu Guru kita waktu itu. ”Sepi, sih, tidak, Bu, tap … Ah, pokoknya nggak enak. Papa memang sering bicara ketika kami semeja makan, tapi …. Pokoknya nggak enak!” ”Apa Amy nggak dapat cerita dengan santai pada Papa atau Mama?” ”Ya, lagi pula Amy harus turut apa kata Papa.” ”Takut, sih, tidak, tapi… Sebenarnya Amy kasihan pada Papa, Bu. Mas Tomy sering pergi dan bertengkar dengan Papa, karenanya Papa sering sakit, Bu, Tapi ….”

”Bu Guru tahu, Amy sayang pada Papa, dan Papa Amy juga sayang pada Amy dan Mas Tomy, hanya saja Amy belum mengerti benar apa yang Papa Amy maksudkan. Yang penting, Amy jangan melawan apalagi bertengkar seperti Mas Tomy. Ibu sarankan sekalisekali ajak Papa Amy piknik.” ”Uuh, mana pernah sempat! Berangkat kerja bareng dengan Amy, pulang kerja sering kali sudah jam sepuluh malam. Minggu ada urusan, Sabtu juga ada urusan, Mama juga begitu.” Bu Guru kita diam, seolah Amy adalah dirinya di masa lalu. Tentu saja orang tua Bu Guru kita tak sekaya orang tua Amy. Dulu Bu Guru kita juga mengalami hal seperti itu. Tak ada tempat mencurahkan perasaan hati selain si Popy, bonekanya. Tiap hari, apalagi jika hari libur, sepanjang hari Bu Guru kita bermain dengan si Popy. Bercerita, menyanyi, menangis, tertawa, semuanya hanya Popy yang tahu. Sejak saat itu, Bu Guru kita membangun dunianya sendiri, dunia yang akrab tanpa banyak kata-kata terhambur; dunia kesendirian yang tenang. ”Nilai-nilaimu bagus, tes IQ-mu memuaskan. Papi sarankan kamu masuk kedokteran.” Padahal waktu itu dia baru saja lulus SMP. Itu artinya Bu Guru kita di SMA harus lebih giat belajar supaya kelak menjadi dokter seperti saran Papi. Tetapi apa hendak dikata, ujian saringan perguruan tinggi tidak meluluskannya dan Bu Guru kita gembira, tetapi sekaligus sedih, karena melihat Papi begitu terpukul. ”Pi,” katanya suatu malam, ”boleh Ita bicara?” Bu Guru kita, waktu itu, melihat wajah Papinya berubah. Wajah itu seolah tak percaya bahwa yang berbicara di depannya adalah anaknya, anaknya yang nomor dua, Dwita! Sorot mata Papi lain sekali. Jika selama ini Papi menganggap anaknya anak bawang, kini Papi terkejut melihat kenyataan anaknya telah gadis dan berani berbicara seperti itu. ”Tentu, kamu mau bicara apa?” kata Papi lembut sekali. Dan semuanya begitu lancar terurai, meluncur lewat lima tahun lalu. Kini Bu Guru kita tengah menghadapi murid-muridnya ulangan. Kini Bu Guru kita tengah menikmati dunia yang sedikit demi sedikit dibangunnya itu. Dunia yang penuh bunga-bunga yang mulai bermekaran, ceria, nakal, dan, ah, anak-anak. Amy manis, kau juga pernah bilang pada Ibu bahwa kau ingin jadi insinyur lapangan terbang, seperti oom, ah, siapa oom-mu yang sering kauceritakan itu? Ah, sudahlah! ”Sudah selesai?” tanya Bu Guru kita memecah keheningan. Kelas pecah, keluhan meletup di sana-sini. Gelisah mulai menggeliat di siang itu. ”Baik, Ibu beri waktu lima menit lagi.” ”Huuuu…!” Itu pasti suara Yusak.

Unsur Cerita Sastra – Bu Guru hanya tersenyum kecil. Si kriting krupuk itu, begitulah kawan-kawan sekelas menjulukinya, memang, selalu begitu. Padahal, sering kali dia sudah selesai mengerjakan tugasnya. ”Baik, kumpulkan!” perintah Bu Guru kita tegas, lima menit kemudian. Tak ada suara. Zamroni dengan cekatan mengumpulkan kertas ulangan dan menumpukkan di meja. Kelas kembali sunyi. Bu Guru kita agak heran melihat seolah menunggu sesuatu. ”Kalian boleh pulang,” perintahnya sambil masih memandangi murid-muridnya. Seisi kelas hanya tersenyum, sambil pandang sesama mereka. ”Ada apa?” Bu Guru kita tersenyum heran. Kemudian mengemasi kertas ulangan. Terbaca olehnya judul karangan milik Ninin ”Ulang Tahun Guruku”. Kelas mulai hidup oleh gelak-gelak kecil tawa mereka. Lembar kedua dibacanya, ”Ulang Tahun Nih, Yee ….” Tulisan Yusak. Kelas makin hidup. Bu Guru gugup, segera dibacanya lembar-lembar ulangan itu, dan, ya, Tuhan! Semua bertuliskan…. ”Panjang umurnya, panjang umurnya, panjang umurnya Bu Guru kita, Bu Guru kitaaa,… dan bahagia…” Mereka menyanyi dan bertepuk tangan. Di luar sana tak ada hujan, bahkan mendung pun tidak, tetapi Dwita Fajarini, Bu Guru kita, pipinya basah, matanya pun begitu.*** Menteng Pulo, Nov. 1986. Sumber: Bulan Bugil Bulat, Grafiti, Jakarta: 1990 (halaman 135–141) dikutip dengan pengubahan seperlunya.

Setelah mendengarkan pembacaan cerpen tersebut, kalian tentu memahami isi cerpen tersebut. Selanjutnya, kalian tentu mampu menceritakan kembali isi cerpen tersebut kepada orang lain. Kalian tentu juga sanggup mengungkapkan hal-hal menarik dalam cerpen tersebut.