Pencemaran Lingkungan dan Upaya Mengatasinya

Pencemaran Lingkungan dan Upaya Mengatasinya

Pencemaran Lingkungan dan Upaya Mengatasinya

Pencemaran Lingkungan
Pencemaran Lingkungan

Pencemaran Lingkungan

Pencemaran lingkungan menimbulkan dampak yang serius bagi kehidupan manusia dan keseimbangan lingkungan. Pencemaran air akibat limbah rumah tangga menyebabkan kematian organisme air, karena limbah tersebut bersifat racun. Akibat buruk yang lain adalah timbulnya penyakit gatal-gatal dan diare, terutama pada masyarakat yang memanfaatkan air sungai untuk kehidupan sehari-hari. Pencemaran air akibat limbah pertanian juga menyebabkan kematian organisme yang hidup di air sungai dan penyakit gatal-gatal pada manusia. Sedangkan limbah industri yang masuk ke perairan, selain menyebabkan kematian bagi organisme air juga menimbulkan penyakit, seperti penyakit minamata yang terjadi akibat manusia mengkonsumsi ikan-ikan yang ternyata mengalamai akumulasi logam merkuri pada tubuhnya. Pencemaran akibat tumpahan minyak di laut juga berdampak buruk bagi organisme laut. Selain itu sampah-sampah organik juga bisa mengakibatkan kematian organisme air, seperti ikan, Crustacea, dan Mollusca.

Pencemaran Lingkungan – Selain pencemaran air, pencemaran udara juga menimbulkan kerugian bagi lingkungan. Gas CO2 dan CO merupakan penyebab gangguan pernapasan, seperti sesak napas dan batuk-batuk. Gas H2S yang keluar dari aktvitas gunung berapi menyebabkan udara terasa panas atau suhu terlalu tinggi dan sesak nafas. Kadar CO2 meningkat menyebabkan efek rumah kaca. Partikel-partikel SO2 dan NO2 mengakibatkan hujan asam. Akibat hujan asam adalah kerusakan hutan, tanaman pertanian dan perkebunan, korosi pada besi atau logam, serta bangunan-bangunan menjadi berwarna kuning. Pemakaian gas CFC juga menyebabkan dampak berupa penipisan lapisan ozon. Dampak negatif dari pencemaran tanah juga merupakan permasalahan lingkungan yang serius. Pencemaran tanah akibat limbah rumah tangga menyebabkan kematian mikroorganisme tanah (bakteri pengurai yang berfungsi sebagai dekomposer), sehingga tanah menjadi tandus dan kesuburannya menurun. Dampak yang sama juga ditimbulkan oleh limbah pertanian dan pertambangan, yang juga menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia, misalnya gangguan pernapasan.

Pencemaran Lingkungan – Pencemaran yang lain seperti pencemaran suara dan pencemaran bahan radioaktif juga perlu diatasi. Suara yang melebihi ambang batas kebisingan dapat menyebabkan gangguan pendengaran atau cacat pendengaran permanen. Sedangkan pencemaran radioaktif dapat menyebabkan mutasi gen yang menimbulkan kanker atau tumor.

Permasalahan lingkungan merupakan masalah yang dihadapi oleh masyarakat di seluruh dunia. Hal itu merupakan konsekuensi dari aktivitas kehidupan manusia yang menimbulkan berbagai dampak pada lingkungan. Dampak tersebut berupa perubahan atau kerusakan dan pencemaran lingkungan yang terjadi di berbagai wilayah, terutama akibat eksploitasi sumber daya alam. Karenanya, kebijakan pemerintah dan peran masyarakat merupakan faktor penting untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Pencemaran Lingkungan

Pelestarian Lingkungan

Dalam ilmu lingkungan kita mengenal istilah polution knows no national boundaries atau polusi tidak mengenal batas-batas negara. Pada kasus kebakaran hutan misalnya, kabut asap yang terjadi akibat terbakarnya hutan di Kalimantan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Pulau Kalimantan saja tetapi masyarakat di negara tetangga, seperti Brunei Darrusalam, Malaysia, dan Singapura juga turut kena getahnya. Contoh lain adalah penggunaan DDT pada perkebunan apel di Amerika yang ternyata dampaknya dirasakan pula oleh burung pinguin di Benua Antartika. Sehingga, untuk menangani berbagai masalah global tersebut, dibutuhkan kerjasama internasional. Lingkungan hidup dalam pengertian ekologi tidak mengenal batas wilayah, baik wilayah negara maupun wilayah administratif. Akan tetapi, lingkungan hidup yang berkaitan dengan pengelolaan harus jelas batas wilayah wewenang pengelolaannya.

Pencemaran Lingkungan – Lingkungan yang dimaksud adalah lingkungan hidup Indonesia. Secara hukum, lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang tempat negara Republik Indonesia melaksanakan kedaulatan dan hak berdaulat serta yurisdiksinya. Dalam hal ini, lingkungan hidup Indonesia tidak lain adalah wilayah yang menempati posisi silang antara dua benua dan dua samudera dengan iklim tropis dan cuaca serta musim yang memberikan kondisi alam dan kedudukan dengan peranan strategis yang tinggi nilainya sebagai tempat rakyat dan bangsa Indonesia menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam segala aspeknya. Dengan demikian, wawasan dalam menyelenggarakan pengelolaan lingkungan hidup Indonesia adalah Wawasan Nusantara.

Dalam usaha mengelola lingkungan hidup, pemerintah Indonesia mengeluarkan berbagai peraturan dan kebijakan untuk mendorong pelestarian lingkungan. Contohnya adalah disusunnya undangundang lingkungan hidup, kebijakan pembangunan berkelanjutan (sustainable development), dan pembangunan berwawasan lingkungan (ecodevelopment). Dalam pelaksanaannya, peran masyarakat merupakan hal yang sangat penting demi tercapainya lingkungan yang lestari. Di Indonesia, dasar hukum pelestarian lingkungan adalah UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya dan UU No. 51 Tahun 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). Penyusunan dokumen AMDAL .

Pencemaran Lingkungan – merupakan kewajiban bagi setiap industri atau kegiatan pembangunan yang berpotensi menimbulkan dampak serius bagi lingkungan. Tujuannya adalah memperkecil pengaruh negatif terhadap lingkungan, memaksimalkan pengaruh positif kegiatan manusia bagi lingkungan, serta mendeteksi secara dini terjadinya pencemaran lingkungan. Dasar hukum yang lain adalah UU No. 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan hidup yang merupakan pengganti UU No. 4 tahun 1982 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup. Pengelolaan lingkungan adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksnaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup. Sasaran pengelolaan lingkungan hidup adalah : 1. Tercapainya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup. 2. Terwujudnya manusia Indonesia sebagai insan lingkungan hidup yang memiliki sikap dan tindak melindungi dan membina lingkungan hidup. 3. Terjaminnya kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan. 4. Tercapainya kelestarian fungsi lingkungan hidup. 5. Terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana. 6. Terlindunginya Negara Kesatuan Republik Indonesia terhadap dampak usaha dan/atau kegiatan di luar wilayah negara yang menyebabkan pencemaran dan/atau perusakan lingkungan hidup.

Dalam berinteraksi dengan lingkungan, kita harus memahami etika lingkungan hidup dan menerapkan konsep pengelolaan lingkungan dalam keseharian kita. Kita menyadari bahwa manusia tidak akan dapat sepenuhnya mencegah terjadinya gangguan keseimbangan lingkungan atau penurunan kualitasnya. Namun setidaknya kita dapat mengurangi kerusakan-kerusakan yang terjadi sehingga lingkungan kita nyaman untuk dihuni dan diwariskan untuk generasi yang akan datang. Di sinilah pentingnya etika lingkungan. Etika lingkungan adalah kebijakan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya. Etika ini diperlukan agar manusia mempertimbangkan setiap aktivitasnya dengan cermat, sehingga tidak merugikan keseimbangan lingkungan.

Dalam menerapkan etika lingkungan, perlu diperhatikan beberapa prinsip, yaitu: 1. Manusia merupakan bagian dari lingkungan yang tidak terpisahkan, sehingga perlu menyayangi semua kehidupan dan lingkungannya. 2. Manusia sebagai bagian dari lingkungan, hendaknya selalu berupaya menjaga kelestarian, keseimbangan, dan keindahan alam. 3. Diperlukan kebijaksanaan dalam menggunakan sumber daya alam yang terbatas, termasuk bahan energi. 4. Lingkungan disediakan bukan untuk manusia saja, melainkan juga untuk makhluk hidup yang lain. 5. Ditetapkannya undang-undang sebagai bentuk kepedulian pemerintah terhadap lingkungan.

Di dalam masyarakat terdapat aturan-aturan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Contohnya adalah pada masyarakat adat tertentu di Indonesia. Di desa-desa terpencil atau sekitar hutan ada wilayah tertentu yang dikeramatkan, sehingga penduduk tidak berani melakukan tindakan yang merusak. Sekedar mengambil kayu bakarpun tidak berani, apalagi melakukan penebangan secara liar. Kita mengenal adanya hutan adat, yaitu suatu kawasan hutan yang dijaga oleh masyarakat dengan aturan-aturan adat yang ketat sehingga keberadaan hutan tersebut tetap lestari. Sikap masyarakat dalam menjaga kelestarian lingku ngannya ini disebut dengan kearifan lokal (local indegenous, local ecological wisdom, atau local ecological knowledge). Sebagai anggota masyakat, di manapun kita berada tetap harus berperan aktif dalam upaya pelestarian lingkungan. Contoh sederha nanya adalah dengan membuang sampah pada tempatnya, memanfaatkan tanah kosong dengan menanam berbagai jenis tumbuhan di halaman rumah ataupun di dalam pot, menggunakan bahan atau produk-produk yang ramah lingkungan, dan tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan lingkungan. Sekecil apapun perankita, akan sangat berarti bagi kelestarian lingkungan hidup kita.

Hutan Adat Wonosadi Wonosadi adalah nama sebuah hutan adat di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Gunung Kidul, DIY. Berbeda dengan daerah Gunung Kidul umumnya, wilayah sekitar Wonosadi tidak pernah mengalami kekeringan pada musim kemarau. Di sana terdapat banyak mata air dan sumur. Masyarakat di sekitar Wonosadi menyadari pentingnya keberadaan hutan ter sebut sebagai sumber air. Sehingga sampai sekarang Wonosadi tetap terjaga, utuh dengan berbagai keanekaragaman flora dan faunanya yang khas. Di puncak hutan berbukit tersebut, ter – dapat pohon munggur (Samanea saman) yang berumur ratusan tahun. Tumbuh pula berbagai jenis liana yang khas, ada yang lebar batangnya mencapai 25 cm.

Telisik

Dalam mempelajari etika lingkungan, kita mengenal apa yang disebut dengan kearifan lokal. Cobalah temukan, adakah hal tersebut di lingkungan tempat tinggal kalian? Temuilah tokoh masyarakat yang dituakan atau dipatuhi, kemudian lakukanlah wawancara. Tanyakanlah hal-hal yang berkaitan dengan aturan-aturan hidup atau etika lingkungan yang mereka pegang teguh atau ajaran dari leluhur. Tulislah hasil wawancara kalian dan presentasikan di depan kelas.

Salah satu upaya menjaga kelestarian lingkungan adalah dengan sedapat mungkin mengurangi limbah atau sampah yang kita hasilkan dalam aktivitas kehidupan. Salah satu upaya mengurangi limbah tersebut adalah melalui daur ulang.

Upaya Manusia Mengatasi Perubahan Lingkungan

Upaya Manusia Mengatasi Perubahan Lingkungan

Upaya Manusia Mengatasi Perubahan Lingkungan

Perubahan Lingkungan – Berbagai dampak perubahan lingkungan ada yang dapat diatasi, namun ada pula yang sulit diatasi. Kerusakan akibat aktivitas manusia dapat diatasi dengan mencegahnya, sedangkan yang terjadi karena faktor alam lebih sulit dihindari. Salah satu usaha manusia untuk mengatasi kerusakan lingkungan adalah dengan tidak melakukan penebangan hutan secara liar. Penebangan harus mengikuti aturan hukum yang telah diatur dan ditentukan oleh pemerintah. Penebangan kayu di hutan harus dilakukan dengan sistem tebang pilih. Misalnya pohon jati boleh ditebang hanya jika telah berumur lebih dari 50 tahun. Konversi lahan pertanian untuk permukiman juga sebisa mungkin dihindari. Pembangunan rumah atau permukiman penduduk dilakukan pada tempat-tempat yang tidak produktif, sehingga tidak mengurangi areal pertanian. Di dalam menerapkan intensifi kasi pertanian, sebaiknya dibarengi dengan penerapan pertanian multikultur. Artinya, selain menanam tanaman utama (padi, jagung, gandum), juga diselingi tanaman sela dengan cara tumpang sari, seperti palawija atau kacang-kacangan. Tanaman kacangkacangan (Suku Leguminoceae) mampu mengembalikan kesuburan tanah karena pada bintil-bintil akarnya terdapat simbiosis Rhizobium sp. yang mampu mengembalikan senyawa nitrogen ke dalam tanah. Pertanian multikultur juga menjaga keanekaragaman hayati, sehingga terciptalah keseimbangan ekosistem.

Perubahan Lingkungan
Perubahan Lingkungan

Perubahan Lingkungan – Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi juga diperlukan untuk mengatasi berbagai perubahan lingkungan. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia mengembangkan berbagai industri bertingkat, yaitu:

a. Industri primer, yaitu industri yang mengupayakan kebutuhan dari alam secara langsung, seperti pertanian, pertambangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, dan perikanan.

b. Industri sekunder, yaitu industri yang mengolah hasil industri primer, seperti industri makanan, industri tekstil, industri kertas, industri pengolahan minyak bumi, dan industri logam.

c. Industri tersier, yaitu industri yang menghasilkan jasa atau pelayanan, seperti industri farmasi dan komunikasi, transportasi, dan perdagangan.

Perubahan Lingkungan – Sistem industri bertingkat tersebut akan mengurangi eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan. Meski demikian, perkembangan industri juga harus dikelola dengan memerhatikan kelestarian lingkungan, karena industri tidak saja mengubah lingkungan, namun juga dapat menimbulkan polusi (pencemaran). Sampai di sini kalian sudah mempelajari berbagai hal berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Kerusakan lingkungan bisa terjadi karena faktor alam maupun akibat aktivitas manusia. Untuk menambah pengetahuan kalian, kerjakan kegiatan dalam rubrik Telisik berikut.

Telisik 

Perubahan Lingkungan – Buatlah kelompok yang terdiri dari 4 orang, kemudian diskusikan hal-hal berikut. 1. Amati kerusakan-kerusakan lingkungan yang ada di sekitar tempat tinggal kalian. Tuliskan contohcontohnya, baik kerusakan yang terjadi secara alami maupun akibat ulah manusia. 2. Bandingkan antara kedua jenis kerusakan tersebut, mana yang lebih berbahaya? 3. Apa penyebab masing-masing kerusakan lingkungan tersebut? Bagaimana upaya mengatasinya? 4. Carilah artikel mengenai kerusakan lingkungan dari surat kabar atau internet. 5. Bandingkan kerusakan lingkungan yang kalian temukan secara langsung dan yang kalian baca dari berbagai artikel tersebut. 6. Dari data hasil pengamatan kalian dan dari informasi di berbagai artikel, tuliskan faktor-faktor penyebab kerusakan lingkungan dan usulkan upaya-upaya untuk mengatasinya. Tuliskan hasil diskusi kalian dalam tabel

Berubahnya tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia atau proses alami dapat menurunkan kualitas lingkungan sampai tingkat tertentu. Lingkungan menjadi kurang atau tidak dapat berfungsi lagi sesuai peruntukannya. Penyebabnya antara lain adalah adanya polutan yang mengakibatkan pencemaran lingkungan.

Pencemaran Lingkungan

Perubahan Lingkungan – Pencemaran lingkungan atau polusi terjadi di suatu tempat, ketika di sana terdapat suatu perubahan yang tidak diinginkan. Perubahanperubahan tersebut meliputi perubahan udara, daratan, dan air secara fi sik maupun kimia. Penyebab pencemaran adalah kegiatan manusia terutama di bidang industri, yang menghasilkan limbah atau hasil buangan sisa produksi (Gambar 10.5). Limbah adalah suatu benda atau zat yang mengandung substansi yang berbahaya bagi makhluk hidup, baik manusia, hewan, tumbuhan, maupun mikroorganisme. Selain aktivitas industri, limbah juga dihasilkan dari kegiatan rumah tangga, bengkel-bengkel, laboratorium, dan penggunaan pupuk yang berlebihan di bidang pertanian. Apabila limbah-limbah tersebut dibuang begitu saja ke lingkungan tanpa didahului proses pengolahan atau dibuang pada tempat-tempat yang tidak seharusnya, maka akan timbul pencemaran. Limbah dan zat-zat lain penyebab pencemaran secara umum disebut sebagai polutan atau zat pencemar.

Perubahan Lingkungan – Polutan atau faktor penyebab polusi bisa berupa makhluk hidup, zat, senyawa, dan energi. Sehingga polutan tersebut dapat kita kelompokkan menjadi polutan biologi, polutan fi sika, dan polutan kimia. Polutan biologi adalah polutan yang berupa makhluk hidup terutama kelompok mikroorganisme, seperti bakteri dan virus yang sering terdapat pada kotoran, sisa-sisa makanan, dan jasad organisme yang lain. Polutan fi sika atau polutan energi adalah polutan yang disebabkan oleh faktor-faktor fi sik seperti panas, dingin, dan radiasi. Sedangkan polutan kimia adalah polutan yang mengandung zat atau senyawa kimia, misalnya limbah yang banyak mengandung logam merkuri (Hg), gas CO2, gas CFC, debu logam berat, asbes, pestisida, gas CO, gas H2S, partikel SO2, NO2, dan batubara.

Suatu bahan disebut polutan apabila jumlahnya melebihi jumlah normal (di atas nilai ambang batas), dan berada pada waktu dan tempat yang tidak seharusnya.

1. Ragam Pencemaran Lingkungan Pencemaran dapat terjadi di semua aspek lingkungan, yaitu meliputi berbagai tempat di bumi. Berdasarkan tempat terjadinya atau lingkungan yang dicemarinya, pencemaran dapat kita kelompokkan menjadi beberapa macam. Ragam atau macam pencemaran tersebut adalah pencemaran air, pencemaran udara, pencemaran tanah, dan pencemaran suara. a. Pencemaran Air Air merupakan salah satu komponen abiotik utama yang sangat diperlukan untuk kehidupan. Semua makhluk hidup memerlukan air, baik itu manusia, hewan, maupun tumbuhan. Air mempunyai berbagai fungsi dan juga merupakan habitat hewan dan tumbuhan tertentu. Oleh manusia air digunakan untuk minum, memasak, mandi, dan untuk mengairi daerah persawahan. Air yang jernih dan tidak tercemar mempunyai tiga kriteria, yaitu tidak berwarna, berbau, dan tidak berasa.

Apabila salah satu kriteria tersebut tidak terpenuhi, maka air dikatakan tercemar atau terkena polusi. Pencemaran air meliputi pencemaran di darat dan di dalam perairan (air tawar dan air laut). Sumber-sumber pencemaran air dapat berasal dari limbah rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian, limbah pertambangan minyaklepas pantai, kebocoran kapal tanker pengangkut minyak,atau sampah-sampah organik. Limbah-limbah tersebut masuk ke lingkungan air dan mengganggu keseimbangan dinamisnya. Limbah rumah tangga dihasilkan dari aktivitas kehidupan seharihari, bisa berupa sampah maupun senyawa-senyawa kimia. Sampah rumah tangga sebagian besar berupa limbah organik (daun, sisa-sisa makanan), kertas, dan sabun serta detergen. Apabila limbah tersebut langsung dibuang ke sungai atau kolam, dapat menyebabkan pencemaran air. Akibatnya, banyak organisme air yang mati atau mengalami gangguan. Apabila sungai digunakan oleh masyarakat untuk mandi, mencuci pakaian, atau untuk memasak, maka pencemaran yang ditimbulkannya akan sangat berbahaya dan dapat menimbulkan berbagai penyakit akibat bakteri dan virus. Selain itu, sampah-sampah yang dibuang ke sungai akan menyumbat aliran air dan dapat menyebabkan banjir, seper ti di lingkungan perkotaan yang sistem pembuangan sampahnya tidak teratur (Gambar 10.6). Limbah industri juga dapat menyebabkan pencemaran air. Polutan tersebut berupa zat-zat buangan yang sangat berbahaya, seperti logam berat (Hg), zat-zat radioaktif, sampah, dan kotoran (dari pengolahan hasil ternak), dan polutan panas (thermal water waste). Sebagian besar industri membuang limbah cairnya langsung ke sungai tanpa diolah terlebih dahulu. Limbah tersebut sangat berbahaya dan pada manusia berpotensi menimbulkan kanker. Bahkan limbah yang sudah diolah sekalipun ternyata masih mengandung bahan yang beracun, seperti Hg, Pb, Cr, Cu, Zn, dan Ni. Contoh kasus pencemaran ini adalah pencemaran air raksa atau merkuri (Hg) di Teluk Minamata, Jepang. Tragedi Minamata tersebut banyak menelan korban jiwa karena logam berat ternyata masuk ke tubuh ikan-ikan yang ada di perairan Teluk Minamata, dan setelah ditangkap para nelayan ikan-ikan tersebut kemudian dikonsumsi oleh manusia. Akhirnya senyawa Hg tersebut sampai di tubuh manusia dan menyebakan gangguan kesehatan yang lantas dikenal dengan penyakit minamata. Penyakit tersebut menyerang sistem saraf dan dapat menimbulkan kematian. Kasus semacam minamata juga pernah terjadi di Teluk Buyat, Minahasa. Pencemaran air juga disebabkan oleh limbah pertanian, misalnya sisa pemakaian pupuk buatan, pestisida, dan herbisida yang berlebihan. Polutan tersebut mengalir ke luar daerah persawahan, terbawa sampai ke sungai dan menyebabkan matinya organisme air, seperti ikan, plankton, siput, serta hewan lain dan juga manusia yang menggunakan air tersebut. Pupuk yang ikut masuk ke aliran sungai atau danau akan menyebabkan blooming Alga dan tanaman air lainnya seperti enceng gondok (Eichorrnia crassipes), yaitu pertumbuhan yang sangat cepat akibat penimbunan pupuk di perairan (Gambar 10.7). Penimbunan pupuk yang menyebabkan blooming ini disebut eutrofi kasi. Kasus ini pernah terjadi di danau Rawa Pening, Jawa Tengah dan di tempattempat lain di Indonesia. Akibat petumbuhan alga dan tanaman air lainnya adalah terjadinya pendangkalan perairan. Contoh limbah pertanian yang juga menimbulkan polusi adalah DDT (dichloro diphenyl trichloroethan), yaitu sejenis pestisida. Bila masuk ke dalam tubuh organisme, zat organoklorin di dalam DDT akan mengalami penumpukkan atau terakumulasi. Proses ini disebut biological accumulation. Di dalam rantai makanan, kadar DDT ini akan semakin meningkat pada tubuh organisme di setiap tingkat trofi k, dan konsentrasi tertinggi berada pada puncak konsumen.

Biological magnifi cation dapat terjadi karena DDT merupakan insektisida yang sangat efektif terhadap serangga, tetapi tidak beracun bagi hewan lain seperti burung dan mammalia. Senyawanya juga sangat stabil. Senyawa tersebut tidak larut dalam air, tetapi dapat larut dalam miyak atau lemak. Dalam dosis besar, DDT bisa membunuh serangga, tetapi dalam dosis kecil ia tidak mematikan. Sehingga serangga tersebut masih bisa bertahan hidup dan akhirnya muncul jenis-jenis yang resisten atau kebal terhadap DDT. Konsentrasi DDT 1 ppm di dalam tubuh serangga bisa berlipat menjadi 2000 kali lebih besar bila serangga-serangga tersebut dimakan oleh katak. Dan dalam tubuh burung yang memakan katak tersebut, konsentrasi DDT bisa jadi 8000 kalinya. Begitu seterusnya, hingga konsentrasi DDT semakin meningkat di dalam rantai makanan. Selain tidak dapat diuraikan dan tidak dapat dikeluarkan dari dalam tubuh, DDT juga merugikan bagi organisme yang memakannya. Selain bersifat merusak jaringan dan berpotensi menimbulkan kanker, senyawa ini juga menghambat proses pengapuran kulit telur pada burung.

Akibatnya, berbagai populasi burung bisa mengalami penurunan akibat telur-telurnya gagal menetas. Bahkan, karena sifatnya yang tidak terurai, DDT bisa terbawa air sampai ke perairan yang jaraknya sangat jauh dari sumber pencemaran. Penggunaan DDT di perkebunan apel di Amerika, misalnya, ternyata mempengaruhi kehidupan burung Pinguin di Benua Antartika, karena DDT tersebut terbawa arus laut melalui Samudera Pasifi k. Polutan pencemaran air yang lain adalah limbah pertambangan. Tambang minyak lepas pantai dan tumpahan minyak mentah dari kapal tanker yang bocor menimbulkan pencemaran di laut. Tumpahan minyak tersebut dapat membunuh organisme laut, seperti ikan, anjing laut, dan berbagai jenis burung laut. Tumpahan minyak tersebut juga bisa menghalangi penetrasi cahaya matahari ke dalam laut, sehingga berbagai jenis tumbuhan laut tidak dapat melakukan proses fotosintesis. Penyebab pencemaran air juga bisa berupa sampah-sampah organik. Kehadiran sampah-sampah organik di perairan menyebabkan pertumbuhan populasi bakteri pembusuk, sehingga meningkatkan kadar BOD (biochemical oxygen demand) dan menurunkan kadar COD (chemical oxygen demand). COD rendah berarti kandungan O2 di dalam air menurun, sehingga mengganggu aktivitas kehidupan air. Akibatnya, banyak organisme air yang mati. Jika pencemaran bahan organik meningkat, kita akan menemui cacing Tubifex sp. bergerombol dan berwarna putih kemerah-merahan. Cacing ini merupakan bioindikator parahnya pencemaran oleh bahan organik dari pemukiman penduduk. Pada rubrik Percobaan berikut, kalian akan mengamati ekosistem sungai dan menentukan kualitas ekosistem tersebut dikaitkan dengan pencemaran air.

Permasalahan Lingkungan Hidup dan Upaya Mengatasinya

Permasalahan Lingkungan Hidup dan Upaya Mengatasinya

Permasalahan Lingkungan Hidup dan Upaya Mengatasinya

Permasalahan Lingkungan Hidup – Masalah-masalah lingkungan sering mengemuka dan menjadi berita hangat dalam keseharian kita. Mungkin kalian pernah mendengar berita kebakaran hutan di Sumatera dan Kalimantan, yang hampir selalu terjadi setiap tahun. Atau berita tentang banjir lumpur panas di Sidoarjo yang terjadi pada akhir bulan Mei 2006 yang lalu. Dua contoh tersebut merupakan permasalahan lingkungan yang terjadi akibat perbuatan manusia. Sebagai konsekuensinya, untuk menghindari dampak yang lebih berbahaya, pelestarian lingkungan merupakan upaya yang sangat penting untuk dilakukan. Nah, untuk mempelajarinya kalian bisa menyimak uraian berikut.

Permasalahan Lingkungan Hidup
Permasalahan Lingkungan Hidup

Permasalahan Lingkungan Hidup – Pada bab ini kalian akan mempelajari berbagai kerusakan dan pencemaran yang terjadi di lingkungan, mendiskusikan penyebabnya, serta menemukan alternatif pemecahannya. Kalian juga akan melakukan pengamatan terhadap pengaruh bahan polutan atas kelangsungan hidup suatu organisme. Setelah itu, kalian akan mempelajari upayaupaya pelestarian lingkungan dan etika berlingkungan. Kalian pun akan menganalisis jenis-jenis limbah dan melakukan daur ulang limbah sebagai salah satu usaha mengatasi permasalahan lingkungan. Tujuan pembelajaran ini adalah kalian mampu menemukan faktor-faktor penyebab kerusakan lingkungan dan membuat usulan alternatif pemecahannya. Selain itu, kalian diharapkan mampu mengenali perilaku manusia yang tidak ramah lingkungan, memberikan contoh bahan-bahan polutan dan dampaknya bagi lingkungan, serta menghayati dan mengamalkan etika lingkungan. Selain itu, kalian juga diharapkan mampu mendata dan mengklasifi kasikan jenis-jenis limbah dan menjelaskan parameter kualitas limbah sebagai polutan, serta mendesain dan membuat produk daur ulang limbah.

Permasalahan Lingkungan Hidup

A. Perubahan Lingkungan

Lingkungan dapat diartikan sebagai suatu kesatuan ruang, dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang memengaruhi kelangsungan hidup dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Sebagai makhluk hi dup, manusia merupakan komponen dalam ekosistem. Dengan begitu, kehidupannya juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan tempat hidupnya. Dalam keadaan normal, lingkungan membentuk suatu keseimbangan yang disebut keseimbangan dinamis (dynamic equilibrium). Dalam kondisi keseimbangan ini, komponen-komponen yang menyusun ekosistem saling mendukung satu sama lain. Komponenkomponen tersebut terdiri atas komponen biotik dan komponen abiotik atau lingkungan. Komponen biotik terdiri atas makhluk hidup, seperti manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroorganisme.

Permasalahan Lingkungan Hidup – Sedangkan lingkungan abiotik terdiri atas benda-benda tidak hidup, seperti tanah, air, udara, kelembab an, dan suhu atau temperatur. Lingkungan abiotik merupakan faktor penting yang mendukung kehidupan. Contoh lingkungan yang seimbang adalah hutan (Gambar 10.1). Di dalam ekosistem hutan yang masih alami, terdapat pohon-pohon atau tumbuhan lain yang berperan sebagai produsen. Sebagai produsen, tumbuhan merupakan penghasil makanan (energi) dan oksigen, karena mampu melakukan fotosintesis. Fotosintesis menghasilkan karbohidrat sebagai sumber energi bagi konsumennya, termasuk manusia. Tumbuhan juga mempunyai fungsi sebagai tempat berlindung atau tempat tinggal bagi berbagai jenis hewan. Selain untuk makanan, sumber daya hutan juga dimanfaatkan manusia untuk memenuhi keperluan lain, seperti aneka jenis kayu dan rotan yang digunakan untuk bahan bangunan dan peralatan rumah tangga.

Permasalahan Lingkungan Hidup – Dengan kecerdasan yang dimiliki, serta ilmu pengetahuan dan teknologinya, manusia mampu membuat peradaban dan mengubah bentang alam. Semua aktivitas tersebut akhirnya memengaruhi keseimbangan lingkungan, dan seringkali menimbulkan kerusakan lingkungan. Meskipun kerusakan lingkungan dapat disebabkan oleh faktor alam dan manusia, tetapi manusialah yang berperan penting karena pada dasarnya manusia sangat bergantung pada lingkungan. Manusia memelihara dan menjaga lingkungan karena mendapatkan berbagai manfaat. Dari lingkungan, semua kebutuhan manusia dapat terpenuhi. Lingkungan juga merupakan sumber air dan oksigen yang merupakan unsur vital dalam kehidupan. Tetapi ironisnya, dalam usaha memenuhi kesejahteraan hidupnya, perilaku manusia justru seringkali menurunkan kualitas lingkungan dan menimbulkan berbagai kerusakan.

1. Perubahan Lingkungan dan Dampaknya

Permasalahan Lingkungan Hidup – Perubahan lingkungan yang disebabkan oleh manusia akan memengaruhi keseimbangan alam. Apabila hal ini terjadi, maka kualitas lingkungan akan menurun, dan pada akhirnya manusia juga yang akan merasakan akibatnya. Berbagai perusakan lingkungan yang sering dilakukan manusia adalah penebangan hutan secara liar, konversi lahan subur menjadi permukiman, serta efek samping intensifi kasi pertanian. Manusia memang bergantung pada alam, sehingga wajar apabila kita meng ambil berba gai sumber daya hutan, seperti menebang pohon untuk diambil kayunya. Penebangan hutan harus memerhatikan kelestarian lingkungan, misalnya dengan sistem tebang pilih dan diikuti reboisasi. Sehingga hutan mampu tumbuh kembali. Namun yang sering dilakukan manusia adalah sebaliknya, yaitu penebangan hutan secara liar (illegal logging). Perhatikan Gambar 10.2. Penebangan liar ini dilakukan oleh oknum-oknum yang hanya berorientasi pada kepenting an pribadi dan mengabaikan kelestarian lingkungan. Eksploitasi alam secara tidak bertanggungjawab ini pada akhirnya akan mengurangi berbagai fungsi hutan, terutama berkurangnya kemampuan hutan sebagai penahan air. Akibatnya, daya dukung hutan menjadi berkurang dan memengaruhi kehidupan satwa liar di dalamnya dan juga kehidupan manusia. Selain itu, akibat penebangan liar, hutan pun menjadi gundul, sehingga apabila musim hujan tiba dapat timbul bencana seperti banjir dan tanah longsor. Selain penebangan hutan, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya manusia juga membangun rumah atau permukiman. Karena pertumbuhan penduduk yang sangat tinggi, maka ketersediaan lahan yang terbatas menyebabkan daya tampung lingkungan menurun. Dan pada akhirnya karena kebutuhan yang sangat tinggi akan rumah tinggal, manusia rela melakukan pembangunan rumah di tanah-tanah yang subur, misalnya sawah, ladang, kebun, bahkan membuka hutan. Konversi lahan subur menjadi area permukiman ini menyebabkan berkurangnya lahan pertanian, sehingga mengancam ketahanan pangan nasional. Sebagai makhluk heterotrof, manusia memerlukan makanan dari tumbuhan dan hewan. Untuk mencukupi kebutuhan pangan tersebut, manusia melakukan budidaya tanaman atau pertanian. Namun, karena lahan pertanian berkurang seiring pertambahan penduduk dan konversi lahan pertanian menjadi perumahan, maka untuk memenuhi kebutuhan pangan tersebut kita melakukan berbagai upaya, misalnya dengan menerapkan intensifi kasi pertanian. Tujuannya adalah peningkatan produksi pertanian tanpa harus menambah luas lahan (ekstensifi kasi pertanian).

Penerapan intensifi kasi pertanian dengan Panca Usaha Tani, di satu sisi dapat meningkatkan ketersediaan pangan, tetapi di sisi lain bisa merugikan manusia sendiri. Pemakaian pupuk dan pestisida yang berlebihan untuk meningkatkan hasil produksi dapat menyebabkan terjadinya polusi atau pencemaran. Pemilihan bibit unggul atau mementingkan komoditas tertentu menyebabkan petani hanya menanam satu jenis tanaman dalam satu lahan (pertanian monokultur). Pertanian monokultur akan menurunkan keanekaragaman organisme sehingga menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem dan berpotensi menyebabkan terjadinya ledakan hama tertentu. Misalnya hama wereng atau tikus yang menyerang area tanaman padi. Selain akibat ulah manusia, perubahan lingkungan juga terjadi karena peristiwa alam. Contoh peristiwa alam yang mengubah lingkungan tersebut adalah letusan gunung berapi, badai, angin, gempa bumi, musim kemarau yang panjang, kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor. Di antara peristiwa tersebut juga ada yang dipengaruhi oleh campur tangan manusia, misalnya kemarau panjang, kebakaran hutan, banjir, dan tanah longsor yang dipicu oleh penebangan hutan. Perubahan akibat faktor alam bersifat mendadak dan sulit diatasi. Umumnya menimbulkan dampak yang serius bagi lingkungan.

Letusan gunung berapi yang disertai muntahan lahar, awan panas, gas, partikel debu, dan hujan abu (Gambar 10.3), menimbulkan kerusakan berupa rusaknya lingkungan dan matinya tumbuhan, hewan, serta manusia. Kemarau panjang juga merupakan peristiwa alam yang menimbulkan perubahan lingkungan. Kemarau me-nimbulkan kekeringan, sehingga banyak tumbuhan yang mati. Di bidang pertanian timbul dampak negatif berupa gagal panen atau penurunan produksi. Di daerah Jawa Barat, misalnya, areal pertanian seluas 1 hektar yang biasanya menghasilkan 3 ton beras, mengalami penurunan produksi menjadi 9 kwintal beras per hektar akibat keke ringan. Namum demikian, terjadinya kemarau panjang dan perubahan iklim yang ekstrim bisa pula terjadi akibat aktivitas manusia, seperti pemanasan global dan penipisan lapisan ozon.

Kemarau panjang juga bisa memicu kebakaran hutan, seper ti yang terjadi di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi (Gambar 10.4). Dampaknya adalah hilangnya keaneka ragaman hayati, terjadi kabut asap, dan pemanasan global atau global warming. Perlu kalian ketahui, kebakaran hutan di daerah tropis seperti negara kita ini bukan murni terjadi akibat peristiwa alam, tetapi dipicu oleh kegiatan manusia seperti pembukaan hutan dengan pembakaran dan kecerobohan manusia meninggalkan sumber api ketika beraktivitas di dalam hutan. Sedangkan di daerah temperate atau daerah empat musim, kebakaran hutan merupakan salah satu kejadian alami yang merupakan ciri ekosistem tersebut. Di sana, kebakaran merupakan salah satu mekanisme alam untuk menjaga kese imbangan dinamisnya.